Infonitas > Serpong > Pendidikan >

Siswa dan Guru SMP Tangsel Mendongeng Sejarah

Kamis, 29 November 2018 | 18:14 WIB

Editor : Oktaviani

Reporter : Alfi Dinilhaq

Kegiatan mendongeng sejarah guru dan siswa SMP Tangsel.
Kegiatan mendongeng sejarah guru dan siswa SMP Tangsel.
Foto : istimewa

Dongeng sejarah bertujuan agar anak-anak sekolah bisa mengetahui dan mengenal bahwa di Kota Tangsel ada tempat bersejarah.

TANGERANG SELATAN - Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Kota Tangerang Selatan (Tangsel) menggelar Lomba Mendongeng Kesejarahan di Rumah Makan Saepisan, Serpong, Kota Tangsel Kamis, (29/11). 

Iis Nur Asig, Kabid Kebudayaan Dindikbud Tangsel mengatakan kegiatan ini diikuti oleh 50 peserta terdiri dari satu guru dan dua siswa SMP se-Kota Tangsel.

"Lomba ini di bawakan secara kolaborasi oleh guru dan siswa yang menceritakan tentang sejarah-sejarah yang ada di Kota Tangsel," jelasnya.

Materi sejarah yang dibawakan yaitu tentang Situ Gintung, sejarah Serpong, sejarah Daan Mogot dan sejarah Makam Kramat Tajug.

"Tujuannya dengan dongeng sejarah ini, anak-anak sekolah bisa mengetahui dan mengenal bahwa di Kota Tangsel ada tempat bersejarah. Agar lebih menarik, cerita sejarah ini di ekspresikan melalui dongeng" ungkap Iis.

Sementara, Kepala Dindikbud Tangsel Taryono mengatakan bahwa mendongeng kepada anak adalah hal yang sangat komunikatif dan memudahkan anak menerima nilai-nilai positif. Mendongeng dapat membentuk karakter anak menjadi mandiri, cerdas, dan memiliki kepemimpinan yang baik.

"Dongeng sangat baik untuk menanamkan nilai-nilai positif dari budaya, agama, sosial, dan lainnya. Dengan mendongeng semua nilai itu lebih cepat masuk dan terekam dalam memori anak," paparnya.

Adapun Wali Kota Tangsel Airin Rachmi Diany menyambut baik lomba dongeng kesejarahan guru dan siswa SMP se-Kota Tangsel. Dengan kegiatan ini, Dindikbud Tangsel memberikan fasilitas untuk melestarikan budaya dongeng yang sudah mulai hilang.

"Saya menyadari bahwa anak-anak zaman sekarang sudah tidak tertarik lagi dengan sejarah. Mereka lebih tertarik dengan film kartun atau musik dari luar. Dengan adanya lomba dongeng kesejarahan, saya berharap, anak-anak mampu kembali mengenal dan mencintai sejarah lewat dongeng," pungkasnya.