Infonitas > Puri > Pendidikan >

Kenali Tantrum dan Antisipasinya Pada Anak

Rabu, 25 April 2018 | 13:16 WIB

Editor : Ichwan Hasanudin

Reporter : Ichwan Hasanudin

Ilustrasi anak tantrum
Ilustrasi anak tantrum. (foto: fatherly.com)
Foto : istimewa

Tantrum merupakan sikap anak untuk menampilkan ekspresi emosi yang berlebihan yang kerap dianggap orang tua sebagai sikap anak yang tengah marah.

PURI - Tantrum merupakan sikap emosi anak yang berlebihan dan sering dianggap orang tua sebagai bentuk kemarahan anak. Namun, tidak semudah itu memahaminya, meskipun tantrum merupakan hal yang wajar ditemukan pada setiap anak.

Psikolog Keluarga dan Pernikahan sekaligus Co-Fouder Rumah Dendelion, Nadya Pramesrani menjelaskan, tantrum dan marah itu punya perbedaan.

“Jadi yang membedakan tantrum dengan marah biasa ketika ekspresi dan emosinya itu ditampilkan secara berlebihan. seringkali juga dilengkapi dengan perilaku agresif,” katanya.

Tantrum merupakan salah satu bagian dari perkembangan anak. Hal ini terjadi karena anak-anak belum matang meregulasi emosi dan kemampuan berbahasa.

"Jadi normal atau tidak itu adalah hal yang jamak terjadi di perkembangan anak. Ini hal yang jamak terjadi di perkembangan anak, jadi ini hal yang umum ditemui," jelas Nadya.

Lantas apa yang menyebabkan anak tantrum? Nadya menerangkan ada 4 hal penyebabnya, yaitu anak merasa gagal melakukan sesuatu, ingin mendapatkan sesuatu, ingin menghindari sesuatu, dan sedang mencari perhatian. Keempat hal tersebut harus dipahami orang tua agar bisa mencari solusi yang tepat untuk mengatasinya.

"Seringkali kita lihat anak tantrum itu karena frustrasi, misalnya anaknya lagi suka puzzle tapi gak bisa dan dia kesal dia tantrum.Orang tau harus membantu anak meningkatkan kemampuan dia," katanya.

Artinya, lanjut Nadya, orang tua tidak harus memenuhi permintaan si anak tersebut. Namun, orang tua harus melihat kebutuhan atas permintaan anak tersebut.

Suatu hal yang membuat tantrum itu bertahan justru ketika anak minta sesuatu dan menangis lalu mendapatkan apa yang dia mau. Anak akan bisa belajar dengan cara meminta sesuatu itu dengan cara marah-marah atau tantrum.

“Itu bukan pendekatan yang tepat juga, yang tepat adalah anaknya minta sesuatu orang tuanya refleksi dulu, tidak bolehnya itu karena apa, karena memang tidak baik untuk anaknya atau karena kenyamanan orang tua aja bilang engga," bebernya.

Nadya menyarakan orang tua harus tetap konsisten menetapkan aturan kepada sang anak. Jangan sampai aturan yang sudah disepakati itu dilanggar oleh orang tua, hal tersebut yang akan membiasakan anak menjadi tantrum.

"Jadi ada konsisten, ketika bilang enggak, ya akan terus engga, bukannya setelah anak nangis, orang tua menyerah, karena dengan spt itu anak akan terus mengulang," pungkasnya.