Infonitas > Kelapa Gading > Properti >

Dua Proyek Besar di Kelapa Gading Selama 2017

Senin, 25 Desember 2017 | 14:00 WIB

Editor : Nurul Julaikah

Reporter : Nurul Julaikah

Proyek pembangunan tol dalam kota Jakarta di kawasan Kelapa Gading.
Proyek pembangunan tol dalam kota Jakarta di kawasan Kelapa Gading.
Foto : Muhammad Azzam

Dua proyek besar, yakni Ruas Tol Dalam Kota Samanan-Pulogebang dan LRT koridor Kelapa Gading-Velodrome berlangsung pembangunannya selama 2017.

KELAPA GADING – Sepanjang 2017 ini, kawasan Kelapa Gading harus akrab dengan kemacetan, kesemrawutan bahkan jalanan rusak akibat adanya pembangunan infrastruktur. Sebut saja, Light Rail Transit atau LRT sebagai penunjang transportasi saat Asian Games 2018. Kemudian, proyek enam ruas jalan tol dalam kota untuk Samanan-Pulogebang, sesi pertama Kelapa Gading - Pulo Gebang.

Pembangunan enam ruas Tol dalam kota termasuk dalam program strategis nasional, berdasarkan Peraturan Presiden (Perpres) No 58 tahun 2017. keenam ruas Tol itu, diantaranya Sunter-Pulo Gebang, Semanan-Sunter, Kampung Melayu-Cassablanca, Pasar Minggu-Kampung Melayu, Kemayoran-Cassablanca, hingga ke Tanah Abang. Pembangunan itu, dipastikan dapat mempermudah akses perekonomian disejumlah wilayah DKI Jakarta.

Megaproyek enam ruas tol senilai Rp 42 triliun itu dimulai tahun ini untuk tahap pertama, yaitu ruas Semanan-Sunter (20,23 kilometer) dan Sunter-Pulo Gebang (9,44 km). Tol ini ditargetkan selesai 2018 menjelang Asian Games. Tahap kedua ruas Duri Pulo-Kampung Melayu (12,65 km) dan Kemayoran-Kampung Melayu (9,60 km). Tahap ketiga Ulujami-Tanah Abang (8,7 km) dan terakhir Pasar Minggu-Casablanca (9,15 km).

Ruas Tol Semanan - Pulo Gebang masuk ke dalam pembangunan tahap pertama, yakni dimulai pada sesi pembangunan Kelapa Gading - Pulo Gebang. Untuk sesi A, Kelapa Gading-Pulogebang telah rampung pada Oktober 2017 lalu. Sebab bagian ini (Seksi A) hanya dua kilometeran. Dari arah Bundaran La Piazza, sampai di depan Sekolah Swasta Don Bosco, Pegangsaan Dua.

Sedangkan, sesi B Pulogebang-Sunter sempat terkendala pembebasan lahan. Namun, enam bidang lahan milik warga telah dibebaskan dengan anggaran Rp 29 miliar. Keenam lahan tersebut di antaranya milik Hery Susanto seluas 18 meter persegi, dua lahan milik Robin Kurniawan seluas 195 dan 115 meter persegi, Denan seluas 73 meter persegi, Evi Rusli seluas 33 meter persegi, dan PT Lotte Shoping Indonesia seluas 556 meter persegi.

Divisi Pengadaan Tanah Jakarta Tollroad Development Hery Hartawan mencatat, sebanyak 65 bidang tanah dibebaskan di kawasan Kelurahan Pegangsaan Dua, Kelapa Gading, Jakarta Utara. 18 bidang tanah diantaranya telah dibebaskan sejak periode Agustus 2017.

"Kami menargetkan pembebasan bidang tanah tersebut rampung pada Desember 2017,” kata Hery, Kamis (2/11/2017).

Keduanya memang dua proyek terpisah. Jalan layang dikerjakan pihak swasta, menghubungkan Jalan Boulevard Timur dan Jalan Pegangsaan Dua. Proyek jalan lainnya bagian dari proyek enam ruas tol, seksi Sunter-Pulo Gebang, oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. Pada bagian Tol Sunter-Pulo Gebang dikerjakan PT Pembangunan Jaya.

Rencana Terintegrasi BRT

Rencana Pemerintah Pusat membangunan enam ruas Tol Dalam Kota untuk segmen Kelapa Gading-Pulo Gebang akan terintegrasi dengan Bus Rapid Transit (BRT). Tempat pemberhentian atau Shelter BRT ini menjadi kelebihan untuk jalan bebas hambatan yang menghubungkan ke Terminal Terpadu Pulogebang, Jakarta Timur.

"Shelter BRT itu melayani para penumpang jarak menengah ataupun jauh, dengan jarak interval 3-4 kilometer. Jauh lebih efektif dibanding yang saat ini, dengan jarak satu kilometer," tutur Pejabat Pembuat Komitmen dari Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Republik Indonesia Asih Nirbiyanti saat dikonfirmasi infonitas.com, Senin (13/3/2017).

Ia menerangkan, demi menambah kenyamanan perjalanan penumpang, nantinya BRT itu akan difasilitasi ekskalator setinggi 11,5 meter. Keenam ruas tol itu pun terintegrasi langsung dengan moda transportasi umum lainnya. "Saat ini pembangunan Seksi A Kelapa Gading-Pulo Gebang telah berjalan. Keenam ruas Tol ditargetkan rampung 2019 mendatang," jelasnya.

Light Rail Transit atau LRT

Megaproyek Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta dengan Pemerintah Pusat berupa transportasi berbasis rel, yakni Light Rail Transit (LRT). Untuk jalur Kelapa Gading – Velodrome akan terdapat enam stasiun.

Menurut Direktur Utama PT. Jakarta Propertindo (Dirut Jakpro) Satya Heragandi, titik-titik stasiun kereta ringan tersebut, antara lain Depo Kelapa Gading, Stasiun Mal Kelapa Gading, Stasiun Boulevard, Stasiun Pulomas, Stasiun Equestrain, dan Stasiun Velodrome.

“Ada enam stasiun nantinya di sana,” ujar Satya saat dihubungi infonitas.com, Kamis (13/7/2017).

Satya menambahkan, pada tahun 2018 nanti, proyek kereta ringan ini difokuskan pada pengerjaan jalur dan pengadaan kereta. Sedangkan, rencana pembelian rangkaian mulai dilakukan pada April 2018.

 “Pengerjaan konstruksi ditargetkan bisa rampung akhir 2017 ini. Testing and Commissioning ditargetkan mulai Mei dan Agustus 2018 sudah pengoperasian," ucapnya.

Dalam pengerjaan proyek yang baru saja mendapatkan suntikan dana sebesar Rp 3,5 triliun ini mengerahkan sebanyak 1.900 pekerja dikerahkan untuk mengebut pengerjaan pembangunan lintasan tersebut. Saat ini, pada pembangunan lintasan kereta ringan tersebut tengah memasang grider box.

Adapun wilayah Kelapa Gading sebagai lokasi pembuatan depo proyek kereta cepat Light Rapid Transit (LRT) Velodrome - Kelapa Gading. Lahan tersebut merupakan tanah bekas kantor Dinas Pekerjaan Umum DKI.

"Karena sekarang kalau cari lahan seluas 12 Hektar ditengah kota Jakarta udah nggak ada. Jadi, kebetulan ada lahan bekas kantor penyimpanan alat berat dinas pekerjaan umum DKI. Jadi yah kebetulan ada tanah seluas itu tengah kota Jakarta,” jelasnya.

Untuk diketahui, berdasarkan data yang diukutip dari general information WIKA, lintasan sepanjang 5,8 kilometer (km) ini nantinya akan menghubungkan Kelapa Gading hingga arena balap sepeda Velodrome di Jakarta Timur.  Rute yang dilewati antara lain Jalan Pegangsaan Dua sebagai depot, Jalan Raya Kelapa Nias, Jalan Kelapa Gading Boulevard, Jalan Kayu Putih Raya, dan Jalan Balap Sepeda Velodrome, Rawamangun, Jakarta Timur.

Dengan begitu, koridor ini akan memiliki 6 stasiun, yakni Stasiun depot di Jalan Pegangsaan Dua Kelapa Gading, stasiun Mal Kelapa Gading, stasiun Kelapa Gading Boulevard, stasiun Pulomas, Stasiun Pacuan Kuda hingga Stasiun Velodrome di arena balap sepeda Velodrome di Rawamangun, Jakarta Timur.

Jalur LRT Kelapa Gading-Velodrome sendiri seluruhnya berada di jalan eksisting. Sehingga, masalah pengadaan lahan tidak menjadi hambatan dalam pengerjaan proyek ini.

Jadwal Pengoperasian LRT Molor

Direktur Utama PT Jakarta Propertindo (Jakpro) Satya Heragandhi membantah kabar jika kereta cepat Light Rail Transit (LRT) Fase I (Kelapa Gading - Velodrome) molor dari jadwal.

"Begini, mandatnya Jakpro membangun tiga (LRT, Velosrome, Equistrian) yang diberikan sesuai jadwal Agustus 2018. Itu yang sekarang masih menjadi target kami, bahkan Pak Sandi minta lebih cepat, jadi kami masih terus fokus mencapai target itu," katanya saat dihubungi Infonitas.com lewat telpon, Senin (4/11/2017).

Sebelumnya diberitakan jika kementrian perhubungan akan menggunakan bus untuk moda perpindahan para atlet. Terkait ini, Satya mengatakan itu menjadi hal diluar kewenangan Jakpro. "Tapi ada di Inasgoc dan Kementrian Perhubungan (Kemenhub) dan Dinas Perhubungan (Dishub). Intinya, saat ini, kami berusaha menbangun tepat waktu, dan kami terus fokus melakukan itu," tegasnya.

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi sempat merasa pesimistis jika LRT Fase I sepanjang 5,8 KM tersebut tidak bisa digunakan saat perhelatan Asian Games 2018 mendatang. Pasalnya, Menhub melihat ada beberapa kendala dalam proses pembangunannya seperti masalah lahan dan perkembangan proyek. Saat ini progres pembangunan LRT Fase I sudah mencapai 46,09 persen dan sudah mulai melakukan pemasangan rel kereta.

Harga Tiket Ditetapkan Rp 12 Ribu

 Proses pembangunan kereta cepat Light Rail Transit (LRT) Jabodetabek masih terus dikerjakan. Namun, Menteri Perhubungan (Menhub), Budi Karya Sumadi telah menetapkan besaran tarif untuk LRT tersebut.

"Untuk harga tiket kira-kira Rp 12 ribu, PSO-nya (Public Service Obligtion) nanti dihitung dengan satu jumlah tertentu di mana sebagian dibebankan kepada penumpang dan yang lain akan ditanggung pemerintah," ujar Menhub dalam siaran berita yang diterima Infonitas.com, Senin (11/12/2017).

Menhub melanjutkan, harga tiket ini akan terus mengalami kenaikkan setiap tahunnya. Menhub menyebut pembangunan (Transit Oriented Development) TOD akan menjadi sumber pendapatan setelah LRT resmi beroperasi pada 2019 mendatang.

"Rencananya harga tiket akan naik sekitar 5 persen pertahunnya. Dimana porsi pendapatannya dari tiket penumpang dan TOD. Namun sementara ini kita belum memperhitungkan secara detail tentang TOD, kita baru memperhitungkan income (pemasukan) dari pembayaran tiket," lanjut Menhub.

Untuk diketahui, proyek LRT ini sendiri menggelontorkan dana sebesar Rp 29,9 triliun yang terdiri dari sarana, prasarana dan IDC (interest during construction). Pembangunan LRT ini juga didukung penuh oleh pemerintah dengan Penyertaan Modal Negara (PMN) sebesar Rp 1,4 triliun kepada PT Adhi Karya dan Rp 7,6 triliun kepada PT KAI (Persero).