Infonitas > Kelapa Gading > Laporan Utama >

Polda Metro Jaya Minta Peraturan Vape Elektrik Ditinjau Ulang

Kamis, 8 November 2018 | 17:38 WIB

Editor : Fauzi

Reporter : Adi Wijaya

Vape Electric Narkotika
Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Raden Argo Yuwono, saat melakukan konferensi pers pengungkapan pabrik liquid vape electric mengandung narkotika di Kelapa Gading, Jakarta Utara.
Foto : Adi Wijaya

Sejauh ini, sudah ada 18 orang yang diamankan Polda Metro Jaya terkait vape elektrik mengandung narkotika. Empat orang di antaranya berstatus narapidana.

KELAPAGADING - Direktorat Reserse Narkoba Polda Metro Jaya kembali mengungkap pabrik liquid vape electric berkandungan narkotika, di kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara. Kali ini, polisi menyiduk pasangan suami istri (pasutri) pemilik pabrik vape elektrik cair dengan kandungan narkotika berinisial TY (28) dan DW (25). 

Terkait hal ini, Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Raden Prabowo Argo Yuwono mendesak pemerintah, untuk meninjau ulang aturan peredaran vape elektrik. Terutama pada aturan bahan baku yang berasal dari luar negeri.

"Kami mengharpakan agar pemerintah meninjau ulang peraturan masuknya vape elektrik ini. Kalau bisa ini ditinjau ulang peraturannya bisa masuk ke Indonesia. Jangan sampai ini malah membuat resah di masyarakat," kata Argo, saat ditemui di Jalan Janur Elok VII QH5 Nomor 12, Kelapa Gading, Jakarta Utara, Kamis (8/11).

Bila perlu, dijelaskannya, pemerintah tidak mengizinkan keberadaan pabrik vape elektrik di Indonesia. Sebab, rentan disalahgunakan sebagai lahan baru peredaran Narkotika. "Bahwa ternyata kegiatan pembutan vape elektrik yang mengandung narkoba ini sangat rapi. Terbukti tetangga tidak tahu kegiatan-kegiatan ini," jelasnya.

Sebelumnya, aturan Vape elektrik telah dikeluarkan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai terkait pemberian izin Nomor Pokok Pengusaha Barang Kena Cukai (NPPBKC) ke beberapa pengusaha pabrik liquid vape, sejak 1 Oktober 2018. 

Dalam aturan tersebut, pemerintah lewat Undang - Undang Cukai menetapkan cukai liquid vape sebesar 57 persen dari harga produk. Peraturan ini juga bisa diartikan merestui dan melegalkan peredaran liquid vape produksi impor maupun domestik yang memiliki izin dari Kementerian Perdagangan.

Ditambahkan olehnya, dari berbagai kasus vape elektri yang diungkap Polda Metro Jaya, sebanyak 18 orang dijadikan tersangka, termasuk empat tersangka yang berstatus narapidana. Tersangka mendirikan pabrik sekaligus laboratorium peracikan liquid vape berkandungan Narkotika. "Total ada 18 tersangka. Semuanya dijerat Pasal 114 ayat 2 subsider Pasal 112 ayat 2 juncto Pasal 132 ayat 1 UU RI Nomor 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika," tutupnya.