Infonitas > Kelapa Gading > Laporan Utama >

Dibalik Pemenjaraan Ahok dengan Penghargaan Pemikir Ulung

Kamis, 7 Desember 2017 | 20:15 WIB

Editor : Nurul Julaikah

Sumber : Foreignpolicy.com

ahokBasuki Tjahaja Purnama (Ahok)
Basuki Tjahaja Purnama (Ahok).
Foto : istimewa

Andreas Harsono dari Human Rights Watch mengatakan dibalik pemenjaraan Ahok ternyata mantan Gubernur DKI Jakarta itu dapat penghargaan pemikir ulung.

KELAPA GADING – Pada tahun ini, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) mendapatkan penghargaan dunia berupa Global reThinkers 2017 alias 'Pemikir Ulang Global' 2017 hasil pilihan majalah Foreign Policy, Amerika Serikat. Predikat tersebut membuktikan pemenjaraan Ahok sebagai seruan untuk menyadarkan rakyat Indonesia, tentang diskriminasi terhadap kaum minoritas.

“Pemenjaraan Ahok dianggap sebagai seruan yang menyadarkan rakyat Indonesia, bahwa ada masalah serius soal kebebasan beragama dan diskriminasi terhadap kaum minoritas di tanah air. Astaga Indonesia. Malunya tuh dimana-mana. Dunia tahu lho ternyata,” kata Andreas Harsono dari Human Rights Watch dikutip dari gt.foreignpolicy.com pada Kamis (7/12/2017).

Ia juga mengatakan, penghargaan pemikir ulung pernah diraih oleh presiden Joko Widodo (Jokowi) pada 2013. Mantan Gubernur DKI Jakarta itu, masuk dalam daftar The Leading Global Thinkers of 2013 versi Foreign Policy. Kala itu, Ahok menjadi wakilnya.

“Jadi baru ada 2 orang Indonesia yang mampu meraih penghargaan dunia Global Thinkers ini. Mereka adalah Jokowi dan Ahok,” kata Andreas.

Mengacu pada hasil penghargaan ini, menurut Andreas, Jokowi-Ahok adalah kolaborasi yang sangat cocok untuk membawa perubahan positif di Indonesia. Hanya karena ada pihak-pihak yang tidak senang dengan keberadaan mereka, maka berusaha keras untuk menjatuhkan kedua politisi itu.

“Apa mau dikata. Inilah wajah Indonesia yang sekarang. Wajah cantik Indonesia yang tercoreng oleh aksi-aksi terorisme, radikalisme, intoleransi dan separatisme yang tambah hari semakin parah. Dunia pasti juga akan kaget saat mengetahui bahwa dengan nyoblos Pilkada, warga negara Indonesia bisa dijamin dapat masuk surga plus bonus 72 bidadari,” jelasnya.

Ia juga mengakui bagaimana Ahok berjuang melawan kebobrokan sistem birokrasi di Ibu Kota. Berbagai terobosan dilakukan, mulai dari e-budgeting, penataan transportasi hingga pembangunan ruang publik berupa RPTRA.

“Selamat Pak Ahok. Di penjara ataupun tidak, ternyata tak ada bedanya. Emas tetaplah emas dimanapun dia berada, termasuk dalam kubangan lumpur sekalipun. Kubangan lumpur kebencian dari orang-orang yang mengaku ber-Tuhan dan beragama, sekaligus yang mengakui secara sepihak sebagai pemilik surga. Dirimu tetap menginspirasi dan menjadi berkat seperti biasanya,” katanya.