Infonitas > Kelapa Gading > Kesehatan >

Mengapa Penderita Kanker Terus Meningkat?

Kamis, 6 Desember 2018 | 11:19 WIB

Editor : Wahyu AH

Reporter : Wahyu

RS Gading Pluit
Seminar ilmiah bertajuk “Scientific Symposium & Workshop, 9th Current Update in Cancer Management” di RS Gading Pluit, Sabtu (17/11).
Foto : istimewa

Penderita kanker di Indonesia terus meningkat. Penyebabnya beragam, antara lain ketidakpedulian masyarakat terhadap kanker.

KELAPA GADING – Kanker masih menjadi momok menakutkan. Penyakit pembunuh terbesar di Indonesia, bahkan dunia, setidaknya dalam satu abad terakhir. Organisasi Kesehatan Dunia WHO mengestimasi ada 18,1 juta kasus kanker baru dengan 9,6 juta kematian tahun ini. Mayoritas kanker paru, kolorektal, lambung, hati, dan payudara.

Tak berbeda jauh dengan Indonesia. Anggota Bidang Pelayanan Sosial YKIP dr Siti Annisa Nuhonni menyebut ada 100 kasus baru per 100 ribu penduduk setiap tahun. Kesimpulannya, dari sekitar 240 juta penduduk Indonesia, berarti ada 240 ribu penderita kanker baru setiap tahun.

Mengapa kanker semakin populer hingga mengalahkan penyakit jantung dan stroke? Prof. Dr. dr. Soehartati Argadikoesoema menengarai, itu karena kurangnya pemahaman dan kepedulian masyarakat terhadap kanker.

Kanker tidak mematikan bila ditangani sedari dini. “Yang terjadi, pasien kanker yang datang ke rumah sakit mayoritas sudah dalam kondisi stadium 3 dan 4. Pengobatannya tentu akan lebih sulit,” tuturnya.

Alhasil, bila ingin terhindar dari kematian akibat kanker, masyarakat harus peduli diri. “Semisal agar terhindar dari kanker payudara. Rutin lakukan Sadari, periksa payudara sendiri. Juga, hindari gaya hidup yang bisa berakibat kanker, seperti merokok, dan sebagainya. Mulai saat ini, terapkan gaya hidup sehat dengan rutin berolahraga dan mengonsumsi makanan sehat,” tuturnya saat ditemui di RS Gading Pluit, Sabtu (17/11/2018).

Di lokasi yang sama, Principal Investigator Stem Cell and Cancer Institute Ahmad Rusdan Handoyo Utomo, Phd juga memberikan contoh lain, kanker serviks.

Bila ingin terhindar, rutin melakukan vaksinasi HPV. Namun, tidak cukup itu saja. Sebab, tipe HPV semakin berkembang sedangkan tipe vaksin yang digunakan belum mencakup seluruhnya. “Kalau HPV sudah masuk ke dalam sel, vaksin tidak bisa bantu. Vaksin hanya bisa mencegah jangan sampai HPV masuk ke sel,” ucap Ahmad.

Ketika masih muda, daya tahan tubuh biasanya masih kuat menghalau HPV. Namun, setelah usia 30 tahun, vaksin harus dikombinasikan dengan pap smear dan tes HPV untuk mencegah infeksi.

“Bisa jadi, selnya mungkin normal tapi sudah ada virusnya. Kalau ada virus dokter pasti langsung bertindak. Bila ketahuan pada fase yang sangat dini bisa dibilang 100 persen sembuh,” imbuh Ahmad.

Alhasil, masyarakat harus peduli dengan tubuhnya. Kanker bukanlah penyakit keturunan. “Faktor genetik hanya 10 persen. Sisanya disebabkan faktor-faktor dari luar, seperti gaya hidup tidak sehat,” tandasnya.