Infonitas > Kebayoran > Properti >

Biometric Neuromarketing untuk Analisa Konsumen Properti

Senin, 21 Mei 2018 | 15:00 WIB

Editor : Ichwan Hasanudin

Reporter : Rachli Anugrah Rizky

Ilustrasi
Ilustrasi.
Foto : istimewa

Teknologi biometric neuromarketing mampu menjawab bagaimana pengambilan keputusan konsumen membeli properti secara lebih akurat.

KEBAYORAN - Banyak hasil riset menunjukkan konsumen mengambil keputusan membeli properti secara irasional. Padahal, ada banyak hal di luar dugaan sebelumnya yang ternyata menjadi pertimbangan konsumen saat menentukan pilihan properti.

Di kalangan industriawan, teknologi untuk melacak selera pembelian properti terus dikembangkan. Salah satu teknologi yang muncul saat ini bernama biometric neuromarketing  yang mulai banyak digunakan dalam sektor properti.

Teknologi ini memanfaatkan kemampuan eye-tracking, yakni proses mengukur gerakan mata untuk menentukan letak dan jenis informasi yang dilihat seseorang, urutan informasi, dan berapa lama pandangan mereka berada di tempat tertentu.

Dengan menggunakan algoritma canggih, teknologi ini memungkinkan penggunanya mengukur posisi mata dan menentukan dengan tepat di mana fokusnya.

Teknologi eye-tracking ini dapat menghasilkan insight dan perspektif baru mengenai perilaku konsumen yang tidak dapat diberikan oleh berbagai metode riset konvensional lain seperti survei, interview, bahkan focus group discussion (FGD).

Country General Manager Rumah123 Ignatius Untung dalam keterangan pers yang diterima Infonitas.com mengatakan penggunaan teknologi biometric ini mampu menjawab lebih akurat terkait bagaimana pengambilan keputusan pembelian.

"Kami mengundang beberapa responden untuk menjadi partisipan sebagai property seeker. Responden diperlihatkan beberapa template gambar properti dari komputer yang sudah dihubungkan dengan teknologi eye-tracking untuk kemudian direkam dan dianalisis," ujarnya. Setelah itu, konsumen diberikan beberapa pertanyaan kuantitatif terkait gambar tersebut untuk mendapatkan insight yang lebih dalam.

Aspek yang akan diukur di antaranya project awareness, quality perception, price perception, favorability, dan project interest. Project dengan skor tertinggi di setiap indikator tersebutlah pemenangnya.

Hasil riset biometric neuromarketing  ini lebih bersifat kualitatif dan cocok bagi bisnis yang menjual produk kepada konsumen, bukan antarlembaga.