Infonitas > Kebayoran > Pendidikan >

Ketidakmampuan Mengikuti Pendidikan Formal Picu Penyimpangan Anak

Rabu, 10 Oktober 2018 | 16:06 WIB

Editor : Muhamad Ibrahim

Reporter : Adi Wijaya

Ilustrasi (Ist)
Ilustrasi (Ist)
Foto : istimewa

Penyebab kasus penyimpangan anak dipicu ketidakmampuan dalam mengikuti pendidikan formal.

KEBAYORAN - Komisi Nasional Perlindungan Anak meneliti berbagai kasus penyimpangan anak cukup kompleks. Dalam artian, tak bisa selalu menyalahi anak sebagai dalang kasus penyimpangan tersebut.

Sekretaris Jenderal Komnas Perlindungan Anak, Dhanang Sasongko menerangkan, salah satu penyebab kasus penyimpangan anak adalah ketidakmampuan dalam mengikuti pendidikan formal. Anak terlalu dipaksakan mengikuti berbagai agenda belajar padat yang justru tak sesuai dengan bakat dan minatnya.

"Anak yang tidak dapat mengikuti alur pendidikan formal ini merasa stress sehingga memicu adanya perilaku menyimpang dalam hidupnya," kata Dhanang, saat ditemui di kantor Komisi Nasional Perlindungan Anak, Jalan TB. Simatupang No 33, Jakarta Selatan, Rabu (10/10/2018).

Menurutnya, kurikulum pendidikan formal masih menuntut penyamarataan anak. Bukan pada bakat potensi anak itu sendiri. Para pendidik, guru, yang selalu menilai anak pada sisi kelemahan. Sehingga orang tua pun kerap memarahi anak karena dianggap memiliki penilaian belajar buruk di sekolah.

"Kalau guru menyadari setiap anak berbeda maka yang dilaporkan guru ke orangtua bukan tentang kelemahan anak, tapi keunggulan anak. Dengan laporan keunggulan anak, motivasi orangtua di rumah akan sejalan dengan keunggulan anak itu. Sebaliknya, jika yang dilaporkan guru ke orangtua soal kekurangan anak, maka motivasi yang dirumah menghukum anak. Akhirnya terjadi konflik batin antara orang tua dan anak," jelasnya.

Dengan kondisi tertekan, lanjutnya, memicu anak berperilaku menyimpang. Mulai dari penggunaan gadget berlebihan, Narkotika, hingga kekerasan fisik maupun psikologi. Kenyataan itu lah yang terjadi pada pelaku penganiayaan suporter klub sepakbola Persija.

"Saya pikir kasus itu dorongan emosional, dendam, rasa tertekan sehingga melakukan tanpa sadar. Ada kelompok yang nasib sama," tutupnya.