Infonitas > Kebayoran > Pendidikan >

Ini Solusi Atasi Perilaku Anak Menyimpang di Sekolah

Jumat, 12 Oktober 2018 | 09:26 WIB

Editor : Muhamad Ibrahim

Reporter : Adi Wijaya

Ilustrasi (Ist)
Ilustrasi (Ist)
Foto : istimewa

Anak yang mengalami perilaku meyimpang di sekolah kerap mengalami stres lantaran tak mampu mengikuti pelajaran .

KEBAYORAN - Penelitian Komisi Nasional Perlindungan Anak menyebutkan, salah satu perilaku menyimpang anak diakibatkan ketidakmampuan mengikuti segudang pelajaran di sekolah formal. Anak kerap mencari pelampiasan untuk menghindari stress.

Untuk itu, Sekertaris Jenderal Komnas Perlindungan anak memberikan solusi permasalahan tersebut. Yakni dengan memasukan anak ke dalam pendidikan non formal atau informal. Kedua jenis pendidikan tersebut berkedudukan setara dengan pendidikan formal, yang telah diatur dalam Undang-Undang Nomor 23 tahun 2003 tentang Sunter Pendidikan Nasional.

"Dulu memang pendidikan non formal dan informal hanya sebagai pendidikan alternatif. Tapi sekarang sudah pilihan masyarakat. Kalau memang tidak mampu pendidikan formal, masyarakat semakin berani mengambil keputusan pendidikan informal dan non formal. Dikarenakan sudah banyak berdiri lembaga-lembaga, komunitas belajar, dan home schooling," kata Dhanang, saat dikonfirmasi, Kamis (11/10/2018).

Dijelaskannya, pendidikan non formal dan informal justru lebih mengedepankan potensi dan bakat anak. Sehingga, anak lebih fokus untuk dapat hidup di masa mendatang.

Meski begitu, pemerintah memang membatasi sosialisasi terhadap dua jalur pendidikan tersebut, lantaran menghindari eksodus atau perpindahan besar-besaran dari jalur pendidikan formal ke non formal atau informal.

"Pendidikan bukan menyamaratakan anak, tapi bagaimana menghargai bakat potensi anak. Yang terjadi di jalur pendidikan formal saat ini bagaimana guru mengajarkan semua mata pelajaran dan menuntut anak agar dapat mengikutinya. Padahal kan ngga semua anak punya bakat yang sama," jelasnya.

Lanjutnya, anak yang merasa terdiskriminasi, intimidasi, dan tak terlayani kebutuhan belajarnya akan mencari ruang tersendiri. Sehingga mereka berpotensi melakukan tindakan yang tidak diharapkan. Apalagi, jika anak tersebut sudah menemukan kelompok yang dianggap memiliki kesamaan rasa.

"Ada dua kemungkinan jika anak dipaksakan di jalur pendidikan formal, antara sembuh bisa mengikuti, ada juga yang justru setress. Pemerintah dan sekolah ngga bisa egois bahwa anak harus cocok formal," tutupnya.