Infonitas > Kebayoran > Pendidikan >

Ini Efek Jika Suka Membentak Anak

Rabu, 13 Juni 2018 | 15:00 WIB

Editor : Ichwan Hasanudin

Reporter : Ichwan Hasanudin

Ilustrasi
Ilustrasi membentak anak.
Foto : istimewa

Orangtua zaman sekarang mungkin sudah jarang yang memukul anak, tapi tidak sedikit yang menyalukan amarahnya dengan cara membentak atau berteriak.

KEBAYORAN - Seorang anak menangis ingin meminta dibelikan mainan. Orangtuanya secara perlahan menolak permintaan sang anak. Namun, anak terus menangis bahkan memukul. Lepas kontrol, orangtua dengan nada keras membentak agar anaknya diam.

Sebenarnya tidak ada orangtua yang punya niat atau mendidik anak dengan cara berteriak atau membentak. Komunitas Parenting menjelaskan anak yang tumbuh dalam lingkungan yang penuh dengan teriakan dan bentakan ternyata bisa mengganggu kesehatan mental anak. Apa efeknya jika sering membentak anak?

Pertama, anak akan agresif. Jika anak terlalu sering dibentak hingga usia 4-5 tahun, kemungkinan menunjukkan perilaku agresif. Anak biasanya suka menyerang, dorong, memukul, bahkan mengigit temannya.

Kedua, anak yang sering dibentak cenderung menjadi penakut. Anak menjadi sulit menjalani pertemanan, juga mengganggu kemampuannya untuk mengatasi konflik sehingga menarik diri dari situasi yang sulit dan bukan mengatasinya.

Ketiga, anak yang menjadi korban kekerasan verbal jarang melihat diri mereka sebagai individu yang berharga. Rasa percaya diri tumbuh ketika melihat diri sebagai individu yang bernilai dan dicintai.

Keempat adalah anak yang kekerasan emosional berefek pada kurangnya konsentrasi. Kondisi ini bisa menjadi masalah ketika masuk dalam dunia sekolah.

Lantas, apa yang bisa dilakukan orangtua untuk mengurangi sikap membentak anak? Cobalah ayah dan ibu menyesuaikan harapan dengan kemampuan sang anak sesuai umurnya.

Patut diingat, bahwa anak mencontoh orangtua. Jadikan ini sebagai motivasi orang tua untuk bisa menjadi contoh yang baik untuk anak.

“Saat anak bikin bunda marah, minta ayah atau siapapun untuk mengambil alih dan bunda bisa menenangkan diri,” tulis Komunitas Parenting. Kemudian, bayangkan jika teriakan orangtua didengar oleh banyak orang.

Saat anak berperilaku yang memancing marah, coba bayangkan tetangga atau nenek kakek berada di dalam rumah. Pasti ayah atau bunda tidak akan mau membentak anak di depan mereka.

Bagaimana jika sudah terlanjur membentak anak? Bila itu sudah terjadi, jelaskan kepada anak kalau kadang ayah atau ibu tidak bisa mengontrol diri dan ucapkan kata maaf sebagai tanda menyesal.

Namun, jangan lupa juga menjelaskan bahwa marah yang dilakukan ayah ibu bukan karena perilaku si kecil tapi karena perilaku ayah ibunya.