Infonitas > Kebayoran > Laporan Utama >

Haji Nawi, Orang Terkaya yang Abadi Jadi Nama Jalan

Selasa, 3 April 2018 | 13:15 WIB

Editor : Ichwan Hasanudin

Reporter : Ichwan Hasanudin

Nisan makam Haji Nawi
Nisan Makam Haji Nawi. (foto: merdeka.com)
Foto : istimewa

Haji Nawi merupakan sosok terkenal di kawasan Gandaria. Sebagai orang terkaya, dia juga dikenal dermawan sehingga diabadikan menjadi nama jalan.

CILANDAK – Bagi warga Jakarta Selatan, Jalan Haji Nawi sudah tidak asing didengar. Jalan ini menghubungkan antara Jalan Raya Fatmati dengan Jalan Radio Dalam. Namun, banyak orang mengenal Haji Nawi hanya sebagai nama jalan. Siapa sebenarnya sosok Haji Nawi ini?

Dikutip dari merdeka.com, sosok Haji Nawi memang benar adanya. Ayahnya bernama Haji Ta’min. Haji Nawi merupakan tokoh masyarakat yang lahir di Jakarta pada tahun 1877 dan meninggal dunia di tahun 1934. Sosoknya sangat tersehor karena menjadi salah satu tuan tanah dan orang terkaya di kawasan Gandaria pada waktu itu.

Jika ingin membuktikan, makam Haji Nawi berada di Masjid Nurul Huda yang berada di Jalan Haji Nawi. Masjid itu juga merupakan wakaf dari keluarga besar Haji Nawi.

Ahmad Yani, cicit Haji Nawi menceritakan, sosok Haji Nawi semasa hidupnya adalah orang yang dermawan dan murah hati.
“Haji Nawi orangnya dermawan. Kalau orang pinjam uang pasti dikasih. Tapi kalau ada orang pinjem uang untuk ngawinin dia nggak kasih. Kalau duitnya untuk nyekolahin anak atau masukin pesantren anak baru deh dia kasih,” kata Ahmad.

Pada zaman dahulu orang yang ditokohkan oleh masyarakat adalah orang yang paling kaya atau jagoan. Haji Nawi adalah salah satunya dimana dia menjadi orang terkaya di kawasan Cilandak.

Ahmad menceritakan Haji Nawi mempunyai kakek bernama Haji Jahran (Bek Jahrah) yang asli dari daerah Cirebon yang sangat memegang teguh tradisi Islam. Bahkan dia menjadi salah satu tokoh yang berjuang melawan penjajah Jepang.

Kembali pada sosok Haji Nawi, ada cerita menarik yang disampaikan Ahmad. Pada masa itu, untuk mengontrol kondisi dari kampung ke kampung dan bertemu masyarakat, Haji Nawi selalu menggunakan kuda.

“Kalau kontrol ke kampung-kampung selalu pakai Kuda warna putih. Karena kan zaman itu belum ada kendaraan. Saya tahu dia berkuda dari juru tulisnya, Haji Jadit," tutur Ahmad.