Infonitas > Kebayoran > Laporan Utama >

Bijak Dampingi Anak Mulai Berpacaran

Selasa, 9 Oktober 2018 | 14:58 WIB

Editor : Muhamad Ibrahim

Sumber : Harianjogja.com

Ilustrasi (Ist)
Ilustrasi (Ist)
Foto : istimewa

Orangtua harus bijak mendampingi buah hati saat mereka mulai menjalin hubungan dengan lawan jenis.

KEBAYORAN - Saat memasuki remaja dan mendapati sang anak mulai berpacaran, orangtua tentu mengalami kecemasan. Bahkan, ada orangtua yang tidak siap menghadapi perubahan tersebut. 

Psikolog Anak Barbara Greenberg mengungkapkan, orangtua kini perlu memahami definisi berpacaran yang mungkin berbeda daripada pada masa mereka muda dulu. Pada masa lampau, laki-laki biasanya berkunjung ke rumah perempuan dan mengajaknya jalan berdua untuk sekadar nonton.

Namun, anak-anak saat ini memahami pacaran sebagai hal yang berbeda. Saat memiliki teman spesial komunikasi mereka intens dengan berkirim pesan lewat telepon pintar atau sosial media bisa jadi mulai disebut pacaran.

“Pastikan dulu definisi pacaran menurut anak apa? Lantas baru diskusikan aturan boleh dan tidaknya,” ujar Greenberg seperti dikutip dari Psychologytoday.com.

Menurutnya, tingkat kematangan anak untuk mulai menjalin hubungan spesial dengan lawan jenis paling ideal pada usia 16 tahun. Selanjutnya, baru tentukan aturan boleh dan tidaknya selama berpacaran.

Artikel Caring for Your Teenager yang dirilis American Academy of Pediatrics juga menyebut pentingnya keterbukaan anak-orangtua saat buah hati mulai berkencan.

Dokter anak Ron Eagar dari Denver Health Medical Center menyebut anak zaman sekarang memiliki kecenderungan jalan bareng pacar beramai-ramai dengan teman satu grupnya.

“Kencan berkelompok lebih ‘sehat’ buat remaja. Bisa menghindarkan pasangan dari kecanggungan atau mengurangi ketegangan seksual ketimbang saat kencan berduaan,” jelasnya.

Eagar juga sependapat dengan Greenberg usia paling pas bagi anak mulai berpacaran sebenarnya mulai 16 tahun. Ada perbedaan besar antara anak berusia 14, 15, 16, atau 17 tahun dalam hal pengalaman hidup.

“Orangtua bisa menambah atau menguranginya berdasarkan tingkat kedewasaan, tanggung jawab anak, serta norma sekitar,” tutupnya.