Infonitas > Kebayoran > Hiburan >

Melihat Industri Film dari Peran Penting Penulis

Rabu, 21 Februari 2018 | 17:20 WIB

Editor : Waritsa Asri

Reporter : Ichwan Hasanudin

Diskusi Peran Penting Penulis dalam Industri Perfilman Indonesia dalam Gerak Strategi Budaya Nasional
Diskusi Peran Penting Penulis dalam Industri Perfilman Indonesia dalam Gerak Strategi Budaya Nasional
Foto : Ichwan

Membangun industri perfilman tak hanya dilihat dari kuantitas judul, tapi juga harus dilihat kualitas film yang ditentukan oleh penulis skenario yang baik.

THAMRIN - Wahana Kreator Indonesia bersama Esensi, Imprint dari Penerbit Erlangga menerbitkan sebuah buku penulisan skenario berjudul Kelas Skenario yang ditandari dengan peluncuran dan diskusi "Peran Penting Penulis dalam Industri Perfilman Indonesia dalam Gerak Strategi Budaya Nasional", Rabu (21/2/2018). 

Diskusi dan peluncuran buku yang Salman Aristo dan Arief Ash Shiddiq ini berlangsung di Galeri Indonesia Kaya dihadiri oleh Triawan Munaf (Kepala Bekraf), Maman Wijaya (Kepala Pusbang Film), Abduh Aziz (Direktur Utama Perum Produksi Film Negara), Maudy Koesnadi, dan para pelaku industri film Indonesia. 

Menurut Triawan Munaf, industri perfilman Indonesia menyumbang PDB masih kecil. Namun untuk nilai ekonomi bukan hanya jumlah film yang diproduksi, tapi juga harus dilihat dari nilai efek atau multiplier effect. "Saya senang film yang laku itu bagus-bagus dengan segala keterbatasan dari film itu sendiri," katanya. 

Indonesia dihadapi oleh kuantitas film dan juga kualitas. Skenario menjadi sangat penting karena dengan naskah yang baik akan memunculkan film-film yang berkualitas. "Film masih menjanjikan dan itu harus dimulai dari penulisan skenario yang baik," ucap Triawan. 

Kemajuan perfilman Indonesia diterangkan Abduh Aziz membutuhkan ekosistem. Pembentukan ekosistem perfilman harus didukung oleh kebijakan pemerintah. "Tahun ini kita punya 1.500 layar, sedangkan populasi 250 juta jiwa. Pertanyaannya mengapa investasi perfilman di Indonesia belum menarik?" jelasnya. Jumlah layar di Indonesia masih jauh dibandingkan China yang sudah mencapai lebih dari 5.000 layar.

Pelaku film Maudy Koesnadi menuturkan peran penting skenario bagi pemain film. "Skenario adalah kitab untuk memproduksi film," jelasnya. Meski begitu, Maudy mengakui, keberhasilan sebuah film banyak hal yang menentukan, bukan hanya skenario. 

Bagi Maudy, terlibat dalam sebuah film, bukam hanya dilihat dari skenario yang baik dan bagus. Value dari skenario film juga jadi salah satu pertimbangannya. "Sekarang saya mulai melihat value apa yang bisa saya dapat dari film," terangnya. 

Salman Aristo mengakui banyak negara di dunia masih memiliki masalah dalam penulisan skenario film. "Industri film di India pernah memproduksi film lebih dari 600 judul dalam setahun. Jika dilihat dari kuantitas itu luar biasa. Tetapi masalah terbesarnya adalah skenario," ungkapnya. 

Dia melihat cerita jadi alat yang sangat luat biasa yang bisa menghipnotis. Hal itu menunjukkan kekuatan cerita yang baik untuk menciptakan film yang berkualitas baik.