Infonitas > Feature >

Terminal Tanjung Priok Masih Jadi Primadona Masyarakat Ibu Kota

Jumat, 1 Sepember 2017 | 19:15 WIB

Editor : Nurul Julaikah

Reporter : Adi Wijaya

Situasi Terminal Tanjung Priok, Jakarta Utara saat libur Idul Adha
Foto : Adi Wijaya

Pemprov DKI Jakarta telah menetapkan Terminal Pulogebang sebagai sentra pemberangkatan bus AKAP, tetapi masyarakat Ibu Kota justru memilih terminal Tanjung Priok sebagai tujuan untuk berpergian ke luar kota.

TANJUNG PRIOK – Hari Raya Idul Adha 1438 Hijriah pada Jumat (1/9/2017) membuat sebagian warga Ibu Kota menghabiskan waktu untuk berlibur. Hal ini lantaran, Sabtu dan Minggu libur kerja.

Berbagai jenis sarana transportasi, baik udara, laut dan darat menjadi sasaran masyarakat untuk berpergian ke luar kota maupun ke luar negeri. Bahkan, tak jarang yang melakukan mudik ke kampung halaman seperti saat momen Idul Fitri pada beberapa bulan lalu.

Salah satu, transportasi yang masih diminati oleh para pemudik adalah bus. Contohnya, Terminal Tanjung Priok, Jakarta Utara masih menjadi primadona warga. Terbukti, tiket bus jurusan Purwokerto, Purbalingga, Pekalongan, Semarang, Yogya, Tasikmalaya, Bogor, Cikampek, dan Karawang ludes terjual.

Berdasarkan data Pengelola Terminal Tanjung Priok, tercatat ada lonjakan penumpang sekitar 80 persen atau 400 ketimbang hari biasanya. Lonjakan penumpang itu, tercatat Kamis (31/8/2018) sore hingga perayaan Idul Adha, Jumat (1/9/2017).

“Ada lonjakan penumpang sekitar 400 orang,” ujar Kepala Terminal Tanjung Priok, Mulya.

Untuk mengantisipasi penumpang terlantar akibat tidak kebagian bus, pengelola terminal melakukan koordinasi dengan pemilik Perusahaan Otobus (PO) untuk menyediakan armada tambahan.

"Kita sudah antisipasi dengan baik. Koordinasi pengamanan dilakukan petugas baik petugas terminal, Dishub, Polsek, dan Koramil," jelas Mulya, Kepala Terminal Tanjung Priok.

Jarak Jadi Alasan Penumpang Enggan ke Terminal Pulogebang

Saat ini, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta telah memusatkan bus Antar Kota Antar Provinsi (AKAP) di Terminal Pulogebang, Jakarta Timur. Namun, keberadaan terminal terbesar se-Asia Tenggara tersebut tidak menarik calon penumpang untuk berangkat dari sana.

Salah satunya Rohim (36), warga Kebon Jeruk ini, memilih Terminal Tanjung Priok sebagai tujuan menuju kampung halamannya di Karawang, Jawa Barat. Alasanya, jarak tempuh dari kediaman Rohim menuju Terminal Pulogebang terlalu jauh.

"Kalau ke Terminal Pulogebang terlalu jauh mas," kata Rohim saat ditemui di Terninal Tanjung Priok, Jakarta Utara.

Tingginya lonjakan penumpang di Terminal Tanjung Priok, membuat Rohim harus bersabar menunggu giliran antrean bus. Selain itu, adanya kemacetan di Tol Cipularang mengakibatkan lamanya bus tiba di sana.

"Katanya sih bus nya kena macet di tol. Ya kita sih sabar aja dulu," ucap dia.

Saat ini, Terminal Tanjung Priok mengalami lonjakan penumpang mencapai Kepala Terminal Tanjung Priok, Mulya mengatakan bus yang mengalami lonjakan penumpang, yakni tujuan Momen libur panjang lebaran Haji ini, warga memanfaatkan untuk pulang ke kampung halaman pada Kamis Sore atau seusai menunaikan shalat Idul Adha pada pagi tadi. 


 
 
 
Infonitas > Feature >

Ragam Kebudayaan Makassar Di Festival Kuliner Bekasi 2017

Rabu, 20 Sepember 2017 | 18:45 WIB

Editor : Fauzi

Reporter : Indah Mulyanti

Festival Kuliner Bekasi 2017.
Foto : Indah Mulyanti

Festival Kuliner Bekasi tahun ini mengusung ragam kebudayaan Makassar, termasuk kekayaan kuliner khas Kota Angin Mamiri ini.

BEKASI – Festival Kuliner Bekasi (FKB) kembali hadir dengan kuliner lezat khas Nusantara. Di tahun kelima, kali ini pengunjung diajak untuk menikmati beragam kuliner khas Kota Makassar, dengan tagline ‘Nganreki Sanggena Bassoro’ yang artinya ‘Yuk Makan Sampai Kenyang’. Tak hanya kuliner, FKB pun mengajak masyarakat mengenal kebudayaan Makassar.

Ugi Cahyono selaku Center Director Summarecon Mal Bekasi mengatakan, "Setiap tahunnya kami berusaha untuk memberikan hal baru di FKB. Selain tema masakan Makassar yang membedakan dengan tahun sebelumnya, di tahun ini FKB juga menghadirkan permainan anak-anak dan Gyro Rider. Di dalam FBK kali ini juga hadir Festival Kopi dan The Downtown Walk Festival dengan menghadirkan sederetan penyanyi ternama Indonesia. Untuk menambahkan nilai edukasi bagi pengunjung, pada tahun ini kami bekerjasama dengan Taman Mini Indonesia Indah menampilkan mini museum yang didalamnya terdapat berbagai kebudayaan khas Makassar," ujarnya, Rabu (20/9).

Sesuai dengan tema FKB kali ini, nuansa Kota Makassar langsung terasa begitu pengunjung memasuki area parkir barat the Downtown Walk, Summarecon Mall Bekasi. Berbagai replika dari Balla menghiasi dekorasi dari puluhan booth makanan di Festival Kuliner Bekasi. Pengunjung bisa menikmati menu utama, di antaranya coto makassar, mie kering, sop konro karebosi, nasi goreng merah.

Berlangsung selama 26 hari, mulai 20 September – 15 Oktober mendatang, jam buka festival ini pada hari Senin sampai Kamis mulai pukul 16.00 WIB - 22.00 WIB. Sedangkan untuk hari Jumat mulai pukul 16.00 WIB - 23.00 WIB. Sementara,Hari Sabtu dan hari libur mulai pukul 11.00 WIB - 23.00 WIB dan Hari Minggu mulai pukul 11.00 WIB - 22.00 WIB.

Hiburan – Festival Kopi

Menariknya, FKB bukan hanya sekadar festival kuliner semata. Tahun ini, gelaran FKB bersamaan dengan rangkaian event The Downtown Walk Festival yang menghadirkan hiburan musik spesial. Setelah puas menikmati ragam kuliner, pengunjung dapat menyajikan hiburan spesial dari sejumlah penyanyi ternama Indonesia, di antaranya Harvey Malaiholo, Once Mekel, Ruth Sahanaya, serta Vidi Aldiano yang berlangsung di panggung utama The Downtown Walk setiap pukul 20.00 WIB pada setiap akhir pekan.

Untuk membuat pengunjung lebih nyaman dan dapat menikmati waktu lebih lama di area FKB, sejumlah hiburan kebudayaan, musik dan permainan pun telah dipersiapkan. Bagi anak-anak sejumlah permainan menarik seperti mini train, jumbo train animal safari riders, mini bianglala, serta mobil gowes. Sementara untuk orang dewasa perlu mencoba permainan baru yaitu Gyro Rider. Anda akan diajak duduk di dalam sebuah besi berbentuk bundar dan diputar ke berbagai arah.

Sementara, bagi Anda pecinta kopi pun patut bersiap dengan adanya Festival Kopi yang hadir di area Festival Kuliner Bekasi tahun ini. Sebanyak 10 gerai kopi siap membawa beragam kopi nusantara yang nikmat. Berbagai kompetisi juga memeriahkan Festival Kopi ini, mulai dari kompetisi fun brewing dan latte art thowdown dengan babak penyisihan pada 29 sampai 30 September 2017. Babak final akan dilaksanakan pada tanggal 1 Oktober 2017 yang bertepatan dengan Hari Kopi Nasional. So, jangan lewatkan kemeriahan Festival Kuliner Bekasi dengan ragam kebudayaan Makassar.


 
 
 
Infonitas > Feature >

Lika – Liku Pendirian Bank Sampah Kelurahan Pluit

Rabu, 20 Sepember 2017 | 15:30 WIB

Editor : Nurul Julaikah

Reporter : Farid Hidayat

Bank Sampah Kelurahan Pluit
Foto : Farid Hidayat

Pendirian Bank Sampah di Kelurahan Pluit mengalami kesulitan dalam menjual saat memasarkan hasil produksi pada awal pendirian 2013 lalu.

PENJARINGAN – Sampah di Ibu Kota menjadi persoalan klasik bagi warga maupun Pemerintah. Akhirnya, untuk mengatasinya Pemprov DKI Jakarta berinisiatif agar setiap kelurahan memiliki Bank Sampah. Tujuannya, mereduksi sisa limbah rumah tangga menjadi barang bermanfaat dan memberikan penghasilan bagi warga.

Namun, ada cerita menarik dibalik Bank Sampah. Seperti, Bank Sampah Kelurahan Pluit yang berdiri sejak 2013 lalu memiliki cerita tersendiri saat awal pendirian. Hal ini, terkait penjualan hasil cacahan produksi yang telah dipisahkan oleh para anggota.

Akhirnya Bank sampah yang terletak di Jalan Pluit Karang Permai. Kelurahan Pluit, Kecamatan Penjaringan, Jakarta utara ini mendapatkan bantuan dari PT. Pembangkitan Jawa Bali, dan Aksi Cepat Tanggap (ACT). Perusahaan pelat merah tersebut memberikan mesin pencacah, motor bak serta pelatihan sistem bank sampah.

“Awalnya kami agak tersendat dalam menjual hasil cacahan produksi kita. Tetapi atas pendampingan ACT kami hingga sekarang masih terus berjalan,” kata Risnandar, Ketua Karang Taruna Kelurahan Pluit saat berbincang dengan infonitas.com, Rabu (20/9/2017).

Untuk nasabah, Risnandar mengatakan kebanyakan berasal dari warga Muara Angke terutama di 4 RW, zona kelurahan pluit ada tiga zona muara angke, muara karang dan pluit. Akan tetapi, untuk saat ini, pihaknya fokus merekrut warga RW 01, 11, 20 dan 21 yang masuk dalam kategori masyarakat dengan tingkat ekonomi menengah ke bawah menjadi nasabah bank sampah.

Bagi nasabah baru, dapat mengambil uang tabungan setelah tiga bulan. Nantinya para nasabah akan mendapatkan uang kas

"Kedepannya program kita hasilnya itu tidak uang nantinya kita mau sembako. Jadi hasil dengan nilai tabungan uang itu bisa ditukarkan sembak,”kata dia.

Cara Daftarkan Diri Jadi Nasabah

Bank sampah kelurahan pluit memiliki sub unit di setiap RW. Sehingga, nasabah pun tidak perlu jauh-jauh datang ke kantor karang taruna kelurahan pluit. Warga bisa menabung lewat perwakilan di setiap rw yaitu dikelola oleh ibu-ibu PKK, dan  setiap sabtu akan mengambil sampah di setiap unit-unit yang ada.

Lanjut Risnandar, saat ini bank sampah baru bisa menerima sampah seperti botol plastik, gelas plastik, kardus, dan alumunium.

“Harapannya kegiatan bank sampah bisa menjadi satu kegiatan yang pertama bisa diandalkan dan bermanfaat oleh masyarakat dalam segi ekonomi dan kedua berdampak mengurangi pencemaran sampah di lingkungan. Kegiatan ini bisa bermanfaat buat kita dan masyarakat,” tutupnya.


 
 
 
Infonitas > Feature >

Klenteng Hok Lay Kiyong Bekasi Sakral dan Berkah

Selasa, 19 Sepember 2017 | 15:15 WIB

Editor : Muhammad Saiful Hadi

Reporter : Leny Kurniawati

Klenteng Hok Lay Kiong di Mayor Oking, Kelurahan Margahayu, Kecamatan Bekasi Timur.
Foto : Leny Kurniawati

Klenteng Hok Lay Kiong di Mayor Oking, Kelurahan Margahayu, Kecamatan Bekasi Timur, merupakan salah satu Cagar Budaya yang di miliki Kota Bekasi.

BEKASI  – Jika anda berkunjung ke Klenteng Hok Lay Kiong, mungkin suasana pertama kali yang dirasakan adalah kesakralan yang begitu terasa, apalagi aroma dupa menyengat menyeruak ke setiap penjuru, hal ini membuat hikmat para pengunjung yang bersembayang di bangunan peribadatan umat Kong Hu Chu tertua di Bekasi yang berlokasi di Kelurahan Margahayu, Bekasi Timur, Kota Bekasi.

Memang hingga kini belum diketahui data pasti kapan sejarah Klenteng Hok Lay Kiong didirikan, karena bervariasi lantaran ada yang menyebut 300 tahun, bahkan 350 tahun serta rata-rata menyebut 300-400 tahun yang cukup lama.

Cerita tentang klenteng kerap kali diucapkan secara lisan dari generasi ke generasi. Misalnya, klenteng ini berdiri sangat dekat dengan laut utara jawa, melalui nama-nama daerah di Bekasi yang mengunakan kata teluk dan rawa di depannya.

Ketua Yayasan Pancaran Tri Dharma selaku pengurus Klenteng Hok Lay Kiong, Ronny Hermawan, menegaskan, saat ini penanda sejarah ditandai oleh ornamen klenteng dari mulai atap, pintu, patung dewa-dewa, altar persembayangan, tiang penyanga masih asli sejak pertama kali didirikan, meski telah berulangkali di renovasi.

Asal mula Nama Hok Lay Kiong sendiri diambil dari bahasa Cina yang berarti istana pembawa berkah. Bangunan dengan ornamen merah menyala ini terbuka selama 24 jam, penjaga klenteng atau yang biasa disebut Biokong, yakni orang yang memimpin palayanan terhadap umat serta memiliki pengetahuan yang luas tentang ritual keagamaan Kong Hu Chu. Pada masa lalu, Biokong dipilih secara kolektif oleh para jamaah, baru pada tahun 1984 ketika Yayasan Tri Darma yang berdiri, keberadaan Biokong ditunjuk oleh Pengurus Yayasan.

“Jumlah pengunjung klenteng setiap harinya tidak tentu. Sebab Klenteng tidak memiliki aturan waktu persembayangan, tidak seperti lazimnya umat Islam atau Nasrani,” tutur Ronny kepada infonitas.com, Selasa, (19/9/2017).

Tak hanya itu, Umat Kong Hu Chu yang datang ke klenteng dengan beragam keperluan, mereka akan melakukan sembayang dan membakar dupa pada dewa yang dipercayai akan membantu mengabulkan permintaanya atau memberikan petunjuk melalui ritual Ciam Se, yaitu ritual kocok bilah bambu yang sudah diberi nomor. Setiap nomor memiliki arti atau petuah yang dapat dilihat di kertas petunjuk atau Pasang Ho.

Sedangkan untuk keperluan pengobatan, sehingga dewa yang dituju yaitu Dewa Po Seng Tay Tee, ada juga patung Dewa Tjay Sen Loya yang sedang membawa bongkahan uang emas, dipercaya akan memudahkan rezeki apabila memohon padanya. Para perempuan atau orang yang belum mendapatkan jodoh biasanya akan bersimpuh di altar Dewi Kwan Im Posat (Dewi Cinta Kasih). Bagi yang berkecimpung di dunia pertanian maka yang wajib di datangi yaitu altar Dewa Hok Tek Ceng Sin atau dewa bumi. Sedangkan yang mengharapkan keadilan maka Dewa Kwan Seng Tekun (dewa keadilan) dipercaya akan mengabulkannya.

Tapi, wajib untuk disembayangi adalah TIEN memiliki arti yakni, Tuhan Yang Maha Esa.  Kemudian untuk hikmat kepada Sam Kwan Tay Tee (Dewa penguasa bumi, laut dan langit), Dewa Hian Tian Siang Tee (dewa langit) dan altar Budha.

Ciri khas tempat ini, klenteng ini tidak saja disambangi oleh mereka yang meyakini aliran kepercayaan Kong Hu Chu atau beragama Budha saja, ada juga yang berasal dari umat beragama lain.

“Kong Hu Chu merupakan aliran kepercayaan, sama halnya seperti aliran kejawen, jadi pengunjungnya beragam, yang penting mereka percaya pada keyakinan mereka masing-masing,” tutup Ronny.

 


 
 
 
Infonitas > Feature >

Saat Menhub Budi Karya Sumadi Jajal Bus TJ Premium

Selasa, 19 Sepember 2017 | 13:00 WIB

Editor : Fauzi

Reporter : Yatti Febriningsih

Menhub Budi Karya Sumadi saat menjajal Bus TJ Premium.
Foto : Yatti Febriningsih

Meski Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi tetap membayar penuh traf bus TJ Premium sebesar Rp 20 ribu.

BEKASI – Jarum jam menunjukkan tepat pukul 07.00 WIB, saat Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi tiba di kawasan Mega City Bekasi, Selasa (19/9) pagi. Semula, Menteri Budi direncanakan tiba di lokasi tersebut pukul 06.30 WIB untuk melakukan ujicoba TransJabodetabek TJ Premium rute Mega City Bekasi – Plaza Senayan. Apa daya, lantaran ia menggunakan angkutan umum (taksi), jadilah ia terlambat tiba di lokasi. Padahal, ia berangkat dari kediamannya di Jakarta Selatan sekira pukul 05.30 WIB.

“Saya membuktikan, bahwasanya tidak mudah mencapai tempat pada waktunya,” kata Menteri Budi yang pagi tadi tampil kasual dengan menggunakan kemaja putih panjang dengan bagian lengan digulung sebagian, dipadu dengan celana hitam.

Tak membuang waktu, mantan Dirut PT Angkasa Pura II ini pun bergegas menaiki bus TJ Premium dan duduk di bangku penumpang paling depan. Nampak mendampinginya adalah Kepala Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) Bambang Prihartono. Menariknya, meski berstatus menteri, Budi Karya tetap membayar tarif bus premium ini, yakni Rp 20 ribu. Setelahnya, ia menggunakan sabuk pengaman yang memang disediakan di setiap kursi dan memulai perjalanan tepat pukul 07.34 WIB.

Dalam perjalanan dari Mega City Bekasi menuju Plaza Senayan, Menteri Budi bercengkrama dengan staf, warga serta awak media yang turut dalam ujicoba kali ini. Ia mengatakan, bus yang muai diujicobakan pada 7 September lalu ini menyasar kelas menengah atas, agar mereka mau beralih ke transportasi massal."Saya pikir gini, kami targetnya adalah mengurangi kendaraan pribadi, karena yang membuat padat daripada lalu lintas ini adalah kendaraan," jelasnya.

Lantaran menyasar kalangan menengah atas tersebut, konfigurasi tempat duduk TJ Pemium pun berbeda dengan TransJabodetabek biasa. Adapula fasilitas free WiFi, reclaining seat hingga charger.

Sesuai rencana operasi awal TransJabodetabek TJ Premium, perjalanan kali ini pun menggunakan jalur khusus angkutan umum (JKAU) dan mendapatkan pengawalan voorijder yang disediakan oleh BPTJ. Selain Menteri Budi dan Bambang Prihartono, turut pula dalam perjalanan ini Dirut PT Transjakarta Budi Kaliwono, serta Direktur Operasional Transjakarta Daud Joseph. Tak hanya itu, ujicoba perjalanan ini juga diikuti armada baru Transjakarta, yakni Royal Trans milik PT Transportasi Jakarta.

Dan, setelah satu jam perjalanan dan singgaj di shelter Semanggi, Gelora Bung Karno, FX Sudirman dan Bundaran Senayan, bus TJ Premium yang membawa Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi dan rombongan pun tiba di Plaza Senayan. Menteri Budi pun bergegas turun sambil tersenyum.

 


 
 
 
Infonitas > Feature >

Jangan Lewatkan 3 Thai Resto Ini Saat Wisata Kuliner Di Bekasi

Senin, 18 Sepember 2017 | 15:15 WIB

Editor : Fauzi

Reporter : Indah Mulyanti

Thai Alley.
Foto : istimewa

Ketiga Thai Resto di Bekasi ini menawarkan sensasi wisata kuliner yang berbeda. Terutama dari segi citarasa. Suasananya pun dibuat mendukung agar konsumen betah.

BEKASI – Seiring dengan perkembangan zaman, kuliner di Bekasi semakin banyak pilihannya. Tak hanya resto dan cafe, kedai makanan khas mancanegara pun tumbuh subur. Seperti Thai resto di Bekasi, yang tidak ingin kalah dengan restoran yang menawarkan menu Korea atau Jepang. Jika Anda menggemari masakan Thailand, berikut tiga Thai resto yang wajib Anda coba.

1. Thai Alley

Kali pertama hadir di mal papan atas Pacific Place Mall Jakarta pada tahun 2012 silam, Thai Alley juga hadir di Bekasi, tepatnya di Downton Walk, ground floor, Summarecon Mall Bekasi. Mengusung konsep kasual dinning, cabang ke-5 Thai Alley di Tanah Air ini menyajikan beragam menu street food khas Thailand. Misalnya Khao Niew Mamuang atau Manggo Sticky Rice alias potongan mangga dengan ketan yang disiram dengan fla kelapa. Ada juga Tom Yam Talay, Neu Yang (beef grill), hingga menu spesial Ghay Ohb tha Alley Sauce, ayam dengan bumbu rahasia khas Thai Alley dengan citarasa khas Negeri Gajah Putih. Ada pula kerupuk kulit sapi khas Thailan dengan lumuran saus manis pedas ala Tom Yum, Nang Krob Pad Heng. Untuk menjaga otentisitas citarasa dan tampilannya, tak hanya bahan baku, juru masaknya pun didatangkan langsung dari Thailand. Soal harga, menu di sini dibanderol mulai dari Rp 32 ribu – Rp 350 ribu untuk berempat.

2. Thai Street

Resto yang satu ini menawarkan otentisitas salah satu kuliner khas Thailand, Tom Yum. Ya resto yang terletak di Grand Metropolitan Mall Bekasi ini Tom Yum yang menggunakan resep dan bahan baku asli Thailand. Iron Chef-nya pun didatangkan dari Thailand. Namun demikian, untuk bahan dasar seperti daging dan seafood tetap menggunakan kualitas terbaik yang ada, untuk menjaga kualitas dan kesegaran, sehingga tidak bisa distok seperti bumbu dasar. Unggulan di sini sudah barang tentu Tom Yum Seafood. Namun ada pula Craw Claws with Asian Hot Chili Sauce, Papaya Salad dan Prawn with Vermicelli Noodle. Total ada 50 jenis makanan dan 2 minuman yang bisa Anda pilih dengan harga mulai dari Rp 15 ribu – 69 ribu.

3. Raa Cha Suki & Barbeque

Berasal dari Bahasa Thailand yang berarti Raja, Raa Cha menawarkan kuliner Thailand dengan menyajikan menu rebusan dan bakaran yang segar, sesuai dengan tagline mereka, Fresh and Tasty. Mengusung konsep self service dengan alat makan personal yang unik, tentu Anda akan memiliki pengalaman bersantap yang tidak terlupakan. Di resto yang terletak di Grand Metropolitan Mall ini, Anda bisa memilih berbagai jenis makanan yang masih mentah untuk kemudian diolah, baik direbus maupun dibakar sendiri. Untuk daging dan ayam, ada pilihan rasa spicy, salt dan sweet. Untuk suki ada daging, jamur, pangsit, siomat, tahu khs Thailand, berbagai jenis bakso hingga sayur. Untuk minuman, sudah pasti ada thai tea dan thai coffee, serta green tea dan lemon tea. Untuk sauce, tersedia enam pilihan, yakni suki sauce, soy sauce, garlic sauce, Raa Cha sauce, chili sauce dan tomato sauce.

Menarik bukan? So, jika Anda gemar wisata kuliner, jangan lewatkan ketiga Thai Resto Di Bekasi tersebut ya.


 
 
 
Infonitas > Feature >

Dikala Direksi Transjakarta Menjajal Kerja Lapangan

Jumat, 15 Sepember 2017 | 13:45 WIB

Editor : Dany Putra

Reporter : Yatti Febriningsih

Direktur Operasional Daud Joseph menjadi petugas layanan bus
Foto : Yatti Febriningsih

Dalam rangka Hari Pelanggan Nasional direksi PT Transjakarta bertugas menjadi kondektur, sopir, dan kasir. Cara ini untuk mengetahui kekurangan dilapangan.

JAKARTA – Memiliki jabatan tinggi tidak membuat jajarang direksi PT Transjakarta canggung saat terjun langsung melayani para penumpang, di Halte Harmoni, Jakarta Pusat, Kamis (14/9/2017). Kesempatan untuk mendekatkan diri dengan masyarakat di Hari Pelanggan Nasional ini menjadi memomentum perbaikan pelayanan bus Transjakarta.

"Kita turun ke bawah untuk bisa melayani. Kami ada karena bapak/ibu sekalian,” ujar direktur utama PT Transjakarta, Budi Kaliwono di Halte Harmoni Jakarta, Kamis (14/9/2017).

Dalam kegiatan ini Direktur Utama Transjakarta Budi Kaliwono berperan menjadi kondektur bus. Selain itu Direktur Keuangan Widi Widananto bertugas sebagai kasir, Direktur Teknik dan Fasilitas Wijanarko menjadi pengemudi bus, dan Direktur Operasional Daud Joseph menjadi petugas layanan bus.

“Kalau di halte saya sering.  Kalau di dalam bus saya baru sekali ini.  Jadi saya tahu jika melayani orang banyak ternyata lebih bahagia,” kata Direktur Operasional PT Transjakarta Daud Joseph kepada Infonitas.com.

Direktur Utama Transjakarta Budi Kaliwono juga mengaku senang bisa terjun langsung melayani masyarakat. Saat berbaur dengan warga dia mengaku banyak mendapat komplain dari masyarakat pengguna Transjakarta.

“Yang lebih menarik adalah saya justru banyak mendapat complain langsung dari penumpang kami. Disitu juga kami berkesempatan bisa menjelaskan langsung kepada mereka,” ceritanya.

Pengalaman seru juga dialami oleh Direktur Keuangan Transjakarta Widi Widananto yang bertugas sebagai kasir. Widi juga ikut mendapat komplain, bahkan dirinya tidak menyangka pelanggan akan mengomentrainya seperti itu. “Tadi saya kan berperan jadi kasir. Terus ada yang komplain, katanya saya anak magang kok nggak pakai baju hitam-putih,” kata Widi.

Mendengar komplain tadi, Widi yang mengenakan pakaian batik saat jadi kasir cuma bisa tersenyum dan tetap memberikan pelayanan. Meski mendapat komplain, dia justru ketagihan menjadi seorang petugas kasir. “Rasanya pengen mengulangi lagi ini mah, nagih malah ini,” selorohnya.

Direktur Teknik dan Fasilitas Wijanarko menjadi pengemudi bus

Sekaligus Belajar

Turun langsung kelapangan juga dimanfaatkan untuk belajar dan menganalisa pekerjaan petugas yang langsung bersentuhan dengan masyarakat. Dirtur Operasional Daud Joseph yang berperan menjadi Petugas Layanan Bus (PLB) mengaku banyak mendapatkan pelajaran, terutama menjadi seorang onboard.

“Ada dua sisi yah. Yang pertama ada banyak yang bisa kita improvisasi dari seorang onboard yah,  misalnya ada orang-orang yang ada di bus yang bisa disapa. Ini perlu saya kaji sih, apakah orang di bus itu pengen ngobrol nggak sih.  Karena belum tentu juga orang senang di ajak ngobrol loh,” ucapnya.

Dari pengalaman menjadi seorang petugas onboard juga bukan merupakan tugas yang mudah, pasalnya mereka lah garda terdepan layanan bus kebanggaan Jakarta ini. Oleh karena itu dirinya mengapresiasi para karyawan yang turun langsung melayani masyarakat terutama para petugas onboard.

”Sebetulnya, aspek-dari seorang onboard bisa kita olah juga.  Misalnya, mengangkat papan tadi lumayan pegel juga, mungkin salah satu halnya saya tidak biasa kan.  Tapi, onboard yang setiap hari mengangkat itu, bisa dicarikan alternatif lain untuk dia bisa lebih mudah, sehingga bekerjanya bisa lebih nyaman lagi,” katanya.


 
 
 
Infonitas > Feature >

Menguak “Mistis” di Makam Keramat Mbah Kranggan

Kamis, 14 Sepember 2017 | 18:45 WIB

Editor : Muhamad Ibrahim

Reporter : Ronald

Makam Mbah Kranggan. (Ist)
Foto : istimewa

Makam Mbah Kranggan dikenal memiliki sisi mistis oleh warga setempat. Di sana, banyak pengunjung datang untuk berziarah dan menggelar ritual tertentu.

KRANGGAN –  Kecamatan Jatisampurna merupakan salah satu Kecamatan di Kota Bekasi yang  masih memiliki tempat yang dianggap keramat oleh masyarakat setempat. Salah satunya, sebuah makam yang terletak di Jalan Lurah Namat, Kelurahan Jatisampurna, Kecamatan Kranggan. 

Makam ini dikenal dengan nama Kraton Pasarean Selamiring Embah Uyut Kranggan atau Makam Mbah Kranggan. Berdiri diatas pekarangan seluas 1000 meter. Di sana, terdapat 3 bangunan yang terkesan tua dengan ukuran berbeda. 

Meski suasana sekitar makam begitu asri dengan rindangnya pepohonan besar, namun tidak memudarkan kesan mistik di dalamnya. Makam yang berusia hampir ratusan tahun ini begitu dikeramatkan oleh warga sekitar.

Kesan mistik begitu terasa ketika memasuki perkarangan komplek pemakaman. Di salah satu sudut perkarangan, terdapat sebuah pohon beringin tua berusia ratusan tahun. Pohon tersebut ditutupi kain hitam berwarna putih.

Suasana mistis Makam Mbah Kranggan semakin menjadi dengan mitos adanya harimau putih yang menjaga komplek pemakaman. Sesekali harimau tersebut menampakan wujudnya kepada pengunjung.

Keberadaan makam keramat Mbah Kranggan telah dikenal masyarakat luas. Mereka bahkan kerap berziarah dan melakukan ritual pada waktu tertentu.

“Ada saja beberapa warga yang datang ke makam untuk melakukan ritual. Biasanya malam Senin dan malam Jumat,” ujar Jajang, warga sekitar yang ditemui Info Cibubur.

Dia mengatakan, selain makam Mbah Kranggan, ada juga salah satu makam seorang bangsawan dari Banten. Beliau adalah adik seperguruan dari seorang Pangeran Sa’uf yang merupakan satu seperguruan (padepokan) dengan putera Sultan Banten Syeh Maulana Mansyur. 

“Dulunya disini ada semacam tempat petilasan dan tempat dikuburnya barang-barang pusaka milik dari Syanghyang Senopati Raden Rangga,” tandasnya.

Besarnya energi magis di lingkungan makam Mbah Kranggan bukan isapan jempol semata. Hal tersebut yang dirasakan langsung oleh tim Info Cibubur. Selama berada di sana, bulu kuduk dibuat merinding.

Bahkan, salah satu juru kunci makam mengingatkan untuk menjaga lisan dan perbuatan selama berada di sana. Hal tersebut untuk mencegah hal yang tidak diinginkan.

“Jika berkunjung ke sini sebaiknya tidak berpikiran macam-macam. Jangan bicara sembarangan,” pesan sang juru kunci. Bahkan, dirinya pun meminta kepada Info Cibubur untuk tidak mengambil gambar menggunakan kamera demi kebaikan bersama.

 

 

 

 

 

 

 


 
 
 
Infonitas > Feature >

Ini Pasar Burung Yang Wajib Dikunjungi Kicau Mania di Jabodetabek

Kamis, 14 Sepember 2017 | 15:15 WIB

Editor : Fauzi

Reporter :

Ilustrasi pasar burung.
Foto : istimewa

Di pasar burung yang ada di beberapa daerah ini, Anda bisa belajar merawat burung hingga bertukar pengalaman mencetak burung-burung juara.

JAKARTA – Anda penggemar burung alias kicau mania dan tinggal di kawasan Jabodetabek? Jika iya, berarti Anda termasuk beruntung. Lantaran ada beberapa pusat penjualan beragam kebutuhan untuk hobi kicau mania Anda. Tak hanya burung, sangkar serta panganan dan vitamin. Di pasar burung Anda juga bisa bertukar informasi seputar burung kesayangan hingga bergabung dengan komunitas dan mengikuti kompetisi. Berikut daftarnya;

1.Pasar Burung Pramuka (Jakarta)

Pasar burung yang satu ini boleh jadi paling populer di Tanah Air. Bahkan, sering pula diliput oleh berbagai  media dari mancanegara. Terletak di gedung dua lantai tepat di belakang gedung PD Pasar Jaya Pramuka. Total ada 300 kios burung di pasar ini. Di sini, Anda bisa menemukan beragam burung hias, mulai dari Burung Kenari, Murai Batu, Love Bird, Cucak Hijau, Pleci, Dara, Jalak, hingga unggas lain seperti ayam hias. Namun, jangan harapkan Anda bisa menemukan burung yang dilindungan pemerintah dan dunia internasional di sini. Soal harga, sangat variatif. Mulai dari Rp 100 ribu untuk Kenari lokal bakalan, Rp 250 – Rp 800 ribu untuk Love Bird, Rp 2,5 juta untuk Jalak Putih hingga Rp 4 juta untuk Murai Batu.

2.Pasar Burung Pasar Anyar (Bogor)

Sejatinya, ada beberapa tempat penjualan burung hias di Kota Hujan. Namun, Pasar Burung Pasar Anyar dipilih lantaran sudah ada sejak medio 1990-an, menjajakan burung-burung jadi dan berkualitas, serta dekat dengan Stasiun Bogor. Awalnya, pedagang burung di pasar ini berada di sekitar Gang Mekah, tak jauh dari Pasar Anyar, menghubungkan Jl. Dewi Sartika dan Jl. Gedong Sawah. Setelah kebakaran hebat dan renovasi Pasar Anyar, para pedagang pun dipindahkan ke kios-kios yang terletak di lantai 1 pasar ini. Burung yang banyak diburu di sini adalah Jalak Suren, Kenari hingga Murai Batu. Enaknya lagi, di lantai bawah pasar ini, terdapat kios-kios yang menjual beragam ikan hia air tawar maupun laut beserta kebutuhannya. Ada pula kios yang menjajakan hewan peliharaan lainnya, seperti ayam hias.

3.Pasar Burung Plenongan (Depok)

Lokasinya di sepanjang Jalan Baru Plenongan, menuju ke arah Stasiun Depok Baru. Belum lama didirikan, di lokasi ini kini ada sekira 20 kios burung hias. Awalnya, lokasi ini hanya dijadikan tempat mangkal sejumlah pedagang burung keliling yang menggunakan sepeda. Hingga akhirnya ada pemilik lahan yang menawarkan lahannya untuk disewa, jadilah satu per satu pedagang burung membuka kios permanen maupun semi permanen dengan cara sewa. Kualitas burungnya tidak kalah dengan pust-pusat penjualan burung lainnya. Di hari libur Sabtu-Minggu, banyak pecinta burung yang datang ke lokasi ini sejak pagi – sore hari. Lokasinya yang dekat dengan Stasiun Depok Baru juga menjadi keuntungan bagi kicau mania.

4.Pasar Burung Curug (Tangerang)

Terletak di Jl. Raya Curug, Tangerang, ini merupakan satu-satunya pasar burung di Kota dan Kabupaten Tangerang. Awalnya, lokasi ini diperuntukkan sebagai sarana olahraga, lantaran memang berbentuk lapangan. Namun, seiring berjalannya waktu, kawasan tersebut mulai ramai dengan penjaja burung, terutama di hari Sabtu-Minggu. Bahkan, hari biasa pun kini mulai ada yang ikut berdagang. Aktivitas pasar burung di sini dimulai pada pukul 6 pagi sampai 5 sore. Tak hanya aktivitas jual beli, pasar burung ini pun menjadi lokasi kopdar kicau mania di Tangerang.

5.Pasar Burung Rawalumbu

Terletak di Jl. Pariwisata, Rawa Lumbu, Kota Bekasi, pasar burung yang satu ini banyak melahirkan burung-burung kontes yang mampu meraih juara. Jadi, bukan hanya jual-beli, pasar burung ini menyediakan ajang untuk latihan bersama para pemilik burung kicau dan kontes. Biasanya latihan bersama ini dihelat setiap Hari Kamis. Jadi, di sini juga tepat untuk menimba ilmu seputar burung peliharaan. Enaknya lagi, pasar burung ini juga satu lingkungan dengan pasar ikan hias. Dan, setiap tahun tempat ini menggelar lomba kicau.

So, bagi Anda kicau mania yang ada di Jabodetabek, tidak ada salahnya jika menyempatkan waktu mendatangi pasar-pasar burung di atas.


 
 
 
Infonitas > Feature >

Gedung Papak Saksi Bisu Perjuangan Rakyat Bekasi

Senin, 11 Sepember 2017 | 16:30 WIB

Editor : Muhammad Saiful Hadi

Reporter : Leny Kurniawati

Gedung Papak Bekasi.
Foto : istimewa

Gedung Papak atau Gedong Papak, adalah salah satu bangunan yang menjadi saksi bisu Perjuangan rakyat Bekasi melawan penjajah.

BEKASI  - Jika Mendengar kisah heroik para pejuang kota Patriot melawan penjajah, maka kita akan teringat kembali jika melihat sebuah bangunan yang terletak Jalan Insinyur Haji Juanda No. 100, Desa Margahayu, Kecamatan Bekasi Timur, di atas tanah seluas 1,5 hektar. Luas bangunannya mencapai 2.500 meter persegi.

Bangunan yang oleh masyarakat sekitar disebut Gedong Papak ini dibangun tahun 1930. Gedong berarti rumah. Sedangkan kata papak berasal dari istilah pak-pak yang bermakna rumah yang atapnya tidak menggunakan genteng melainkan dibuat rata. Hal itulah yang menjadi ciri khas Gedung Papak.

Dahulu gedung ini dijadikan markas perjuangan rakyat yang dipimpin oleh KH. Noer Ali, bangunan ini dibangun tahun 1930 Oleh seorang saudagar Cina yang bernama Lee Guan Chin yang merupakan orang kaya didaerah tersebut, karena kedekatan Lee Guan Chin dengan KH. Noer Ali dan juga rakyat setempat maka ia dengan sukarela menyerahkan Gedung Papak kepada Kyai Haji Noer Ali untuk dijadikan markas para pejuang.

Usai perang kemerdekaan, pemerintah mengambil alih Gedung Papak dan menjadikannya sebagai rumah dinas walikota mulai tahun 1982. Sejak tahun 2004, pemerintah Bekasi menjadikan gedung tersebut sebagai tempat publik.

Lantai kedua menjadi Kantor Komisi Pemberantasan AIDS Bekasi.  Sedangkan lantai pertama dijadikan mushola sekaligus pusat kegiatan keagamaan. Tempat yang mampu menampung hingga 50 jamaah itu biasanya ramai saat bulan suci Ramadhan. Namun saat ini digunakan untuk kantor Dinas Kependudukan Dan Catatan Sipil (DUKCAPIL) Pemda Kota Bekasi

Untuk menuju gedung berhias keramik hijau tersebut, Anda cukup mengakses bus P9B dari Terminal Bekasi. Kendaraan umum tersebut melintasi Jalan Insinyur Haji Juanda tempat Gedung Papak berada.

Wacana renovasi kembali muncul setelah sebelumnya pernah diwacanakan akan direnovasi kemudian dijadikan museum digital, oleh Wakil Wali Kota Ahmad Syaikhu. Menurutnya supaya warga masyarakat dapat mengakses sejarah Bekasi secara cepat, mudah dan murah.

"Kita kaji dan diskusi dengan pak Walikota dulu, kalo beliau setuju bisa saja kita sulap jadi gedung museum digital tanpa mengurangi sejarahnya," tutup Syaikhu.

Kali ini renovasi akan dilakukan setelah Wali Kota Bekasi Rahmat Effendi mengunjungi gedung papak yang dijadikan Kantor Disdukcapil,  pada hari ini, Senin (11/9/2017). Menurutnya, dengan adanya renovasi akan memaksimalkan pelayanan kepada masyarakat.

“Gunanya yang pertama untuk memaksimalkan pelayanan dan tidak membuat penuh kantor,” ujar Rahmat Effendy, Senin (11/9/2017).

 

 


 
 
 
Infonitas > Feature >

Mengintip Belasan Anak 'Titipan' di RPATKI Cikeas

Senin, 11 Sepember 2017 | 16:00 WIB

Editor : Nurul Julaikah

Reporter : Ronald

RPATKI Cikeas
Foto : Lulus Nurhadi

Tak sedikit para TKW yang bekerja di Timur Tengah harus membawa ‘oleh-oleh’ berupa buah hati dari hasil hubungan gelap dengan majikan saat di perantauan.

CIKEAS - Sekitar belasan anak yang memiliki paras dan perawakan asal Timur Tengah menjadi penghuni Rumah Peduli Anak Tenaga Kerja Indonesia (RPATKI) Cikeas, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Anak-anak tidak berdosa yang harus hidup tanpa figur ayah tersebut, menjalani kehidupan dari bayi atau sejak lahir di tempat penampungan.

Anak-anak yang menempati rumah penampungan ini berasal dari berbagai belahan dunia, umumnya Timur Tengah. Tidak hanya berasal dari Arab Saudi, banyak para lelaki yang tidak bertanggung jawab dari negara lainnya juga ikut meninggalkan jejak haram di dalam rahim para pembantu rumah tangga (PRT) asal Indonesia itu. Sebut saja seperti Oman, Iran, Bangladesh, Uni Emirat Arab dan Pakistan. Alhasil, sekitar belasan anak itu terlahir dari hasil hubungan gelap dan bahkan akibat dari korban pemerkosaan.

Dari belasan anak itu, jumlah (15 anak) diantaranya paling dominan adalah anak laki-laki, sisanya adalah perempuan. Demi kepentingan privasi, pihak penitipan anak tidak menyebutkan satu persatu identitas dari anak-anak ini. Hanya saja kebanyakan dari anak-anak ini masih dalam kategori usia bayi dan balita. Mulai dari usia setengah tahun sampai usia 4 tahunan.

Kulit tubuhnya yang putih, berhidung agak mancung dan memiliki perawakan yang agak tinggi besar, belasan anak keturunan Arab Saudi ini merupakan sekumpulan bocah penghuni kamar di sebuah RPATKI Cikeas.

“Kebanyakan memang anak yang dititipkan disini masih usia balita dan merupakan hasil dari hubungan gelap orang tuanya bahkan ada juga yang mengaku diperkosa,” ujar Yudi Ramdhani, Manager Program RPATKI kepada infonitas.com, Senin (11/9/2017).

RPATKI berdiri sejak Februari 2009. Berlokasi di Jalan Letda Nasir, Cikeas, Gunung Putri, Kabupaten Bogor. Letaknya yang tidak jauh dari tempat tinggal mantan presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Puri Cikeas, Nagrak. Tepat di depan bangunan RPATKI ini berdiri di satu perkarangan dengan Rumah Sehat Cikeas (RSC). Kedua tempat ini dikelola oleh Yayasan Bhakti Suratto (YBS), hanya saja posisi rumah penitipan ini, dibelakangnya.

Berbagai Fasilitas Tersedia untuk Anak-Anak

Pada plang berwarna putih tertulis, ‘Rumah Peduli Anak Tenaga Kerja Indonesia’. Perlu diketahui, selain dikelolah YBS, RPATKI ini merupakan hasil kerjasama Gerakan Nasional Kepedulian Sosial (GNKS) dengan Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) dan juga Kementrian Sosial Republik Indonesia.

Rumah penitipan ini memiliki bangunan dua lantai dengan cat berwarna biru dan putih. Di lantai satu, terdiri dari ruangan tempat bermain dan ruangan bagi para karyawan rumah penitipan ini. Disamping itu juga, untuk menciptakan suasana yang lebih akrab, tersedia juga tempat bermain mereka dan rumput hijau hasil buatan pada halaman belakangnya.

Sedangkan untuk lantai duanya, terdapat beberapa ranjang untuk beristirahat. Di ruangan ini, juga dilengkapi dengan mainan anak, serta delapan perawat asal Banten, Jawa Barat. Para pengasuh anak-anak ini rata-rata berusia sekitar 30 tahunan yang setia mengasuh mereka sepanjang harinya.

Sebut saja, Nina, wanita paruh baya ini mengatakan, hampir rata-rata anak-anak tersebut ditinggalkan oleh ibunya begitu saja disini dan tak pernah mengunjunginya lagi. Mungkin karena mereka merasa malu jika pulang ke kampung halamannya dengan ‘oleh-oleh’ dari hasil merantaunya. “Meskipun kadang mereka (para ibu dari anak-anak ini) hanya menelepon sekedar untuk menanyakan kabar anaknya,” ungkapnya.

Sementara itu, Yudi mengatakan bahwa fondasi didirikannya tempat penampungan ini karena anak-anak pahlawan devisa ini memiliki orang tua yang bermasalah. Diakui olehnya, sebelum berdirinya tempat ini, hampir sebagian besar anak dari para pahlawan devisa itu ditelantarkan begitu saja. Bahkan adapula yang sampai dibuang oleh ibunya. "Kita juga prihatin dengan adanya kasus penjualan anak yang kerap kali terjadi dan belakangan sedang marak terjadi, semoga tempat seperti bisa menjadi solusi dari masalah tersebut," katanya.