Infonitas > Feature >

Silat Palang Pintu, Tradisi Betawi yang Sarat Makna

Selasa, 22 Mei 2018 | 17:00 WIB

Editor : Ichwan Hasanudin

Reporter : Ichwan Hasanudin

Silat Palang Pintu.
Foto : Ichwan

Palang Pintu dalam tradisi budaya Betawi terbagi atas tiga bagian yakni pantun, silat, dan selawat yang setiap bagiannya memiliki makna tersendiri.

KEBAYORAN - Selain Lenong, Tari Topeng atau kuliner khas Betawi, masih ada kesenian khas Kota Jakarta yang bisa dilihat sampai sekarang, yaitu Silat Palang Pintu.

Tradisi ini merupakan salah satu upacara dalam acara akad nikah gaya Betawi dimana rombongan calon tuan mantu sampai di depan rumah calon nona mantu.  

Pada saat calon pengantin laki-laki dan para pengiringnya sudah mendekati tempat kediaman calon pengantin perempuan, mereka disambut dengan bunyi petasan serenceng.

Kemudian pihak rombongan calon tuan mantu dicegat oleh pihak calon nona mantu dengan melarang masuk. Dari kedua juru bicara masing-masing pihak terjadi dialog yang diselingi dengan balas pantun.

lsi dialog dan pantun berkisar sekitar maksud tujuan rombongan datang. Di dalam acara buka palang pintu tersebut juga ada balas pantun, adu jago, serta baca sike.

Setelah selesai rombongan calon mantu dipersilahkan masuk ke dalam rumah. Acara membuka palang pintu selesai dan calon pengantin laki-laki duduk di tempat yang telah disediakan, disaksikan ayah serta kerabatnya, para ulama dan undangan khusus lainnya.

Dahulu setelah acara buka palangrombongan calon tuan mantu disambut lagi dengan taburan kembang tujuh rupa yang dicampur dengan beras kuning dan uang recehan.

Dalam sejarahnya, tradisi Palang Pintu sebenarnya terbagi atas tiga bagian yakni pantun, silat, selawat. Ketiga memiliki makna yang mendalam.

Ensklopedia Jakarta menuliskan setiap bagian itu memiliki makna yang harus dipegang oleh sang calon pengantin pria.

Makna pantun memiliki arti sang suami harus bisa membahagiakan istri dan anaknya. Pantun juga dilambangkan sebagai keluarga yang harus ceria.

Kemudian silat yang bermakna sang suami harus mampu menjaga dan melindungki keluarga dan anaknya. Baik dari gangguan dari dalam maupun dari luar.

Terakhir adalah selawat yang melambangkan suami harus mempu mendi panutan dan tuntunan yang baik bagi istri dan anaknya. Selawat juga bisa diartika sebagai suami harus menjadi imam yang baik untuk keluarganya.