Infonitas > Feature >

Sejarah Panjang Mudik Lebaran di Indonesia

Rabu, 13 Juni 2018 | 08:00 WIB

Editor : Ichwan Hasanudin

Reporter : Ichwan Hasanudin

Kepadatan pemudik terasa di stasiun kereta di Jakarta.
Foto : Rendy MR

Mudik memiliki sejarah panjang di Nusantara. Meski belum ada catatan pasti, mudik diperkirakan sudah ada sejak zaman Majapahit dan Mataram Islam.

KEBAYORAN – Kapan mudik? Tanya seorang tetangga kepada tetangga lainnya. Ya, mudik di Indonesia sudah bisa dikatakan menjadi sebuah tradisi tahunan, utamanya saat Lebaran. Para pemudik rela mengantri tiket pulang kampung, menghabiskan banyak tenaga dan uang untuk bisa sampai di kampung halaman saat Lebaran tiba.

Lebaran menjadi momen yang pas untuk kembali ke ‘asal’ (kampung halaman) dan melepas rindu pada orang tua dan sanak saudara. Mudik bukan hanya menjadi rutinitas saat Lebaran, tapi punya makna mendalam dari sejarah dan tradisi, sisi hubungan sosial, dan punya dampak ekonomi yang besar.

Dari sisi sejarah dan tradisi, mudik punya kisah yang panjang. Memang belum ada catatan yang pasti mengenai kapan istilah atau kegiatan mudik ada di Indonesia. Diperkirakan kegiatan mudik ini sudah berlangsung puluhan bahkan ratusan tahun yang lalu.

Hal itu diungkapkan oleh Sejarahwan Universitas Sanata Dharma Yogyakarta Silverio Raden Lilik Aji Sampurno. Dikutip dari Kompas.com, Silverio memperkirakan mudik sudah dilakukan pada masa kerajaan Majapahit dan Mataram Islam.

“Tetapi ada yang menyebutkan sejak zaman Majapahit dan Mataram Islam, " katanya. Menurutnya, kegiatan mudik itu dilakukan oleh para pejabat kerajaan Majapahit yang ditugaskan menjaga keamanan wilayah taklukannya seperti Srilangka dan Semenanjung Malaya.

Para pejabat itu melakukan mudik ke pusat kerajaan untuk menemui sang raja sekaligus mengunjungi kampung halamannya.

"Selain berawal dari Majapahit, mudik juga dilakukan oleh pejabat dari Mataram Islam yang berjaga di daerah kekuasaan. Terutama mereka balik menghadap Raja pada Idul Fitri," jelas Silverio.

Hal serupa juga dikatakan oleh Sejarahwan dari Universitas Gajah Mada Djoko Suryo. Sepakat dengan Silverio, Djoko juga mengakui belum ada catatan yang pasti mengenai kapan pertama kali mudik dilakukan di Nusantara ini.

Namun, dirinya memperkirakan fenomena mudik sangat erat kaitannya dengan kondisi sosial ekonomi dan infrastruktur jalan di Tanah Air.

“Memang belum ada catatannya. Tapi saya kira fenomena mudik ini mulai ada di sekitar tahun 1920-an, sejak zaman kolonial, ” katanya seperti dikutip dari CNN Indonesia.

Pada masa itu, kegiatan mudik mulai dilakukan oleh orang-orang yang tinggal di Batavia (Jakarta saat ini). Dahulu, Batavia sudah menjadi pusat kota di zaman kolonial dan dihuni oleh banyak suku penadatang.

Dikutip dari buku Hindia Belanda: Studi tentang Ekonomi Majemuk karya J.S Furnivall, Batavia melting pot berbagai macam suku dan juga budayanya. Sejak akhir abad ke-17, penduduk Batavia setidaknya terbagi menjadi Belanda atau Eropa, Indo, China, Hadramaut atau Arab, Jawa, Melayu, dan Bali.

“Saat akhir zaman kolonial, saat Lebaran, para kaum urban ini kemudian ingin pulang ke kampung halamannya untuk melepas rindu dan silaturahmi dengan keluarga. Saya kira ini menjadi awal ritual mudik Lebaran di Indonesia,” tutur Djoko.

Silverio menerangkan istilah mudik mulai dikenal pada tahun 1970-an. Para pemudik kembali ke kampung halaman berkumpul bersama keluarga dan sanak saudara.

"Mudik menurut orang Jawa itu kan dari kata Mulih Disik yang bisa diartikan pulang dulu. Hanya sebentar untuk melihat keluarga setelah mereka menggelandang (merantau)," ujar Silverio.

Masayarakat Betawi juga mengenal istilah mudik. Mereka mengartikannya sebagai “kembali ke udik”. Kalimat itu berasal dari kata “udik” yang dalam bahasa Betawi berarti kampung.

Orang Betawi menyebut para perantau dari Jawa saat mudik disebut “mereka akan kembali ke udik”. Kata “udik” dalam klimat itu mengalami penyedehanaan menjadi “mudik”. Kata mudik inilah yang hingga saat ini sering pakai orang untuk menyatakan pulang ke kampung halaman.