Infonitas > Feature >

Segarnya Omzet Bisnis Smoothies di Gading Serpong

Rabu, 29 November 2017 | 13:00 WIB

Editor : Galih Pratama

Reporter : Alfriani Anisma Wibowo

Sajian smoothies yang makin digemari masyarakat Gadong Serpong.
Foto : Abdul Rahman

Bisnis smothies di kawasan Gading Serpong terus bermunculan. Omzetnya pun bisa bilang cukup besar, capai ratusan juta.

GADING SERPONG - Kini gaya hidup sehat telah menjadi tren di kalangan masyarakat Tanah Air, terutama kaum urban. Tak heran bila kesadaran akan mengonsumsi makanan dan minuman sehat pun semakin meningkat.

Salah satu jenis minuman sehat yang kini sedang naik daun adalah smoothies, yaitu minuman yang terbuat dari campuran buah, sayuran, susu cair, dan es. Tak hanya menyegarkan, minuman ini juga menyehatkan. Sehingga banyak orang yang menyukainya. Ini tentunya membuka peluang bisnis yang menggiurkan. Tengok saja di Gading Serpong, pemain bisnis ini mulai bermunculan.

Salah satunya adalah Smoothopia yang terletak di Ruko Neo Arcade, Gading Serpong. Dikatakan sang pemilik, Reonard Chandra Effendy, bisnis smoothies cukup menjanjikan di kawasan Gading Serpong. Ini tak lepas dari kesadaran masyarakat di sini akan makanan dan minuman sehat. “Tapi memang harus pelan-pelan, karena di sini belum banyak yang mengenal smoothie. Ini artinya pasar di Gading Serpong masih besar,” katanya.

Menurutnya, respons masyarakat Gading Serpong akan smoothies cukup menggembirakan. Beberapa pelanggan di sini, menganggap smoothies sebagai menu sarapan. “Buktinya, kami belum buka, tapi sudah ada pelanggan yang nunggu kami buka,” akunya.

Smoothopia menjual beragam jenis smoothie bowl dan drink. Khusus smoothie bowl ada 7 varian menu yang bisa dipilih pelanggan. Sedangkan smoothie drink ada 5 menu. “Favorit di sini smoothie bowl will you berry me? Dan man-go-loco. Uniknya, penyajian smoothie bowl di sini bisa dikreasikan berdasarkan keinginan pelanggan. Harganya berkisar 43 ribu – Rp 61 ribu,” ujarnya.

Pemain lain di bisnis ini, Pricillia Nataly yang menggeluti bisnis smoothies sejak 2016 lalu bersama rekannya Linawati dengan bendera Oranje Juicery di Ruko Golden 8, Gading Serpong. Selain smoothie bowl, tempatnya mennyajikan cold pressed juice, chia pudding dan rice bowl.

Smoothie bowl di sini disajikan menggunakan mangkok dan sendok kayu. Ada enam menu smoothie bowl ala Oranje Juicery yang bisa dipilih pelanggan. Bahkan setiap bulannya, tempat ini selalu menghadirkan menu yang berbeda. Cara tersebut, kata Pricillia dilakukan untuk mengantisipasi persaingan bisnis smoothie di Gading Serpong. “Kami terus berinovasi dan belajar melihat apa yang terbaru. Agar tidak ketinggalan dengan tren,” katanya.

Dalam sehari, Pricillia mengaku mampu menjual 30 porsi smoothie bowl. Sedangkan pelanggannya sendiri datang dari kalangan anak-anak hingga orang dewasa. “Kalau weekday biasanya ibu-ibu yang mengantar anak sekolah. Kalau weekend malah ada yang datang dari Jakata,” ungkapnya.

Sementara Port Five Six, yang terletak di kawasan Gading Serpong ini juga menyajikan menu acai bowl dan musseli bowl, yang lebih mengarah ke smoothies. Penyajian menu ini tetap menggunakan buah-buahan sega dengan tambahan granola dan madu. “Lebih banyak buah-buah segar. Ada juga musseli bowl kita menggunakan vsoy multi gran yang lebih sehat dari vsoy biasa,” ujar Silvana Maylinda, Manager Port Five Six.

Menurut Silvana, untuk peminat healthy food di kawasan Gading Serpong memang masih kurang. Sebab, kata dia, masyarakat jauh lebih memilih makanan yang bisa membuat mereka kenyang dan banyak cita rasa. Meski begitu, peluang bisnis ini tetap ada. Terbukti di tempatnya bisa mampu meraih omzet ratusan juga. “Omzet kita per bulannya capai sekitar 150 juta,” akunya.

Menjaga Kebersihan dan Kesegaran Bahan Baku

Bahan baku jadi hal penting yang harus diperhatikan dalam bisnis makanan ataupun minuman sehat. Pemain usaha ini, harus jeli memilih, menjaga kehigienisan dan kesegaran bahan baku yang akan diolah. Bisnis smoothies misalnya, bahan baku buah-buahan yang gunakan tentunya harus dijaga kesegarannya.

“Sangat penting untuk menjaga kesegaran dan kebersihan bahan baku buah-buahan. Makanya untuk penyimpanannya kita gunakan chilller. Upayakan jauh dari sinar matahari,” kata Silvina Maylinda, Manager Port Five Six, Gading Serpong. Bahkan, lanjutnya, ada beberapa buah-buahan yang memang diimpor seperti buah acai berry. Sedangkan bahan baku lain, pihaknya mengandalkan belanja di supermarket ternama. 

Tak jauh berbeda, di Oranje Juicery juga mengandalkan beberapa buah-buahan yang impor. Seperti yang diungkapkan sang pemilik Pricilla, “Untuk buah pir dan apel memang kami impor. Karena kualitasnya memang berbeda. Namun sebisa mungkin kami menggunakan produk lokal, selain mudah dijumpai, harganya juga terjangkau,” katanya.

Untuk menjaga kesegaran bahan baku buah yang digunakan di Oranje Juicery, kata Pricilla, beberapa buah disimpan di dalam frozen. “Misalnya mangga kami masukkan ke dalam frozen, bisa bertahan selama 6 bulan. Dan sejauh ini selalu habis,” katanya.

Sementara menurut Reonard Chandra Effendy, Pemilik Smoothopia, kesegaran buah jadi hal penting yang harus diperhatikan. Terlebih, menu yang disajikan di sini murni menggunakan buah-buahan saja, tanpa ada campuran lain. “Smoothie bowl yang kami sajikan memang tanpa gula, air, dan es batu, hanya mengandalkan buah yang fresh. Makanya, kesegaran buah memang harus dijaga,” katanya.

Menyebarkan Virus Healthy Food

Tak hanya semata-mata ingin mendapatkan keuntungan dari menjual produknya, para pelaku usaha bisnis smoothies juga memiliki kampanye ingin mengenalkan makanan dan minuman sehat. Mereka menyebarkan virus healthy food dengan mengedukasikan pelanggan yang datang ke tempatnya.

Seperti yang dilakukan Smoothopia. Menurut sang pemilik, Reonard Chandra Effendy, mereka selalu mengedukasikan pelanggannya perihal makanan sehat. Terlebih, kata dia banyak konsumen di Gading Serpong belum mengerti atau mengenal smoothies. “Tentunya kami edukasi pelanggan. Masih banyak yang belum mengerti akan smoothies bowl,” katanya.

Diakuinya, berkat kehadiran usahanya, respons masyarakat sangat positif. Bahkan ada sebagian pelanggan yang ketagihan smoothie bowl miliknya. “Ada yang datang coba-coba karena belum tahu, namun setelah mencoba ketagihan,” ujarnya.

Hal serupa juga dilakukan oleh Oranje Juicery. Tempat ini juga selalu mengedukasikan ke pelanggan tentang makanan dan minuman sehat yang ditawarkan. “Kalau edukasi pasti. Tapi kalau kampanye healthy food belum terlalu spesifik. Ke depannya, kami ingin lalukan kampanye healthy food agar banyak orang aware akan healthy food,” kata Pricilla Nataly, Pemilik Oranje Juicery.

Sementara Port Five Six lebih mengampanyekan healthy food melalui media sosial. Melalui media sosial seperti Instagram, jauh lebih efektif mengampanyekannya. Sekaligus untuk menggaet pelanggannya. “Sasaran kami sebenarnya anak muda dan keluarga muda. Mereka mayoritas menggunakan media sosial. Jadi cukup efektif,” kata Silvana Maylinda, Manager Port Five Six

 


 
 
 
Infonitas > Feature >

Menakar Kebutuhan Hotel di Serpong

Kamis, 7 Desember 2017 | 14:30 WIB

Editor : Galih Pratama

Reporter : Alfi Dinilhaq

Tipe kamar yang disediakan di Hotel Santika BSD.
Foto : Geri B

Tingginya aktivitas bisnis di kawasan Serpong dan sekitarnya jadi salah satu faktor makin tingginya kebutuhan akan hunian hotel.

SERPONG - Pertumbuhan hotel di kawasan Serpong dan sekitarnya bisa dibilang cukup menggeliat. Setiap tahunnya, selalu ada saja hotel baru, baik hotel berbintang ataupun budget yang meramaikan peta persaingan bisnis hotel.

Berdasarkan data Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia Kota Tangerang Selatan, pada 2016 lalu tercatat ada 20 hotel yang berdiri di kawasan ini. Di tahun ini, terbaru ada Amaris Hotel Serpong. Nantinya, akan ada juga Swiss-belhotel yang siap beroperasi.

Ya, kehadiran mereka memang tak lepas dari kebutuhan hotel di Serpong yang semakin tinggi. Beberapa hotel yang telah lama berdiri pun merasakan peningkatannya. Hotel Santika BSD contohnya.

Menurut Riama Susanti, Sales & Marketing Manager Hotel Santika BSD City, “Meski hotel makin banyak berdiri, tetap kita mampu merebut pasar. Bahkan ada peningkatan jumlah tamu dari tahun sebelumnya,” katanya beberapa waktu lalu kepada Infonitas.com.

Selain aktivitas bisnis, kata Santi, kehadiran Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD juga menjadi faktor pendorong permintaan hotel di Serpong.

“Kehadiran ICE BSD membuat kompetisi hotel di sini lebih luar biasa. ICE punya dampak signifikan terhadap okupasi kami. Setelah ada ICE, okupasi naik 40 persen. Sebab, banyak event besar setingkat nasional dan internasional. Pesertanya mencari hotel untuk akomodasi,” ungkapnya.

Dilihat dari okupasi per bulannya, Hotel Santika BSD yang terdiri dari 150 kamar ini mampu mencetak okupasi 90 persen. “Penyumbang terbesar okupasinya dari sektor atau aktivitas bisnis,” ujarnya.

Sama halnya dengan Santika Hotel BSD, Amaris Hotel Serpong yang baru berdiri awal tahun lalu juga membidik segmen corporate di kawasan Serpong dan sekitarnya.

Menurut Hotel Manager Amaris Hotel Serpong M. Hanafiah, “Penyumbang okupasi terbesar kami adalah corporate. Okupasi kami sudah di level 75 persen,” katanya.

Menurutnya, banyak berdiri perkantoran di kawasan ini berdampak pada pertumbuhan bisnis hotel di area ini. Jangan heran bila kebutuhan hotel makin tinggi. Sedangkan dari segi persaingan bisnis pun, Hanafiah menilai, persaingan bisnis ini memang makin ketat, tapi masih dalam batas wajar.

“Saat ini masih dalam toleransi wajar. Belum terlihat adanya persaingan ke level bawah untuk kategori masing-masing hotel,” ungkapnya.

Amaris Hotel Serpong yang terletak di Jalan Raya Serpong ini mengusung konsep Bed and Breakfast. Hotel bintang ini, menyediakan 102 kamar dengan berapa pilihan tipe.

Bergeser ke Hotel Aryaduta Lippo Village, hotel ini tiap tahunnya juga merasakan peningkatan jumlah tamu yang datang. Menurut Sumiyati Director of Sales Hotel Aryaduta Lippo Village, tahun lalu di hotelnya mampu mencetak okupasi 73 persen. Sedangkan okupasi tahun ini sudah mencapai 79 persen.

“Ada peningkatan 6 persen dari tahun sebelumnya. Sedangkan okupasi per bulannya, rata-rata 83 persen,” ungkapnya.

Hotel Aryaduta Lippo Village mengusung konsep businnes and leisure. Tamunya memang didominasi para pebisnis dari perusahaan ternama yang berasal dari berbagai daerah. Selain Tangerang, ada juga dari Karawang, Cilegon, Serang, dan lainnya.

“Kebanyakan long stay di sini. Kalau lagi ada proyek besar, para pebisnis itu bisa nginap 1 bulan atau bahkan lebih,” katanya.

Hotel Aryaduta Lippo Village sendiri menyediakan 188 kamar. Pilihan kamarnya tersebut sangat bergam, ada deluxe room, villa deluxe, signature room, business suite dan lainnya. Sedangkan range harga untuk menginap di sini mulai dari Rp 825 ribu.

Pintar Atur Strategi Pemasaran

Kebutuhan hotel di kawasan Serpong dan sekitarnya memang cukup tinggi. Namun bukan berarti hotel-hotel yang berada di kawasan ini terlena. Mereka juga dituntut untuk mengatur strategi untuk merebut pasar.

Salah satu yang kerap dilakukan sebagian hotel adalah menjaga hubungan baik dengan pelanggan. Seperti Hotel Aryaduta Lippo Village, mereka kerap kali melakukan kunjungan ke perusahaan yang pernah menggunakan jasa hotel ini.

“Cara ini untuk menjaga hubungan kita dengan klein,” kata Sumiyati, Director of Sales Hotel Aryaduta Lippo Village.

Tak hanya sekadar berkunjung, lanjutnya, pihaknya juga memberikan kejutan-kejutan menarik bagi pelanggannya. “Misalnya coffee break surprise di perusahaan yang kita kunjungi. Kami ingin membuat beda, agar perusahaan ingat dengan hotel kami,” tambahnya.

Menurutnya, ada 100 perusahaan lebih yang telah menjalin kerja sama dengan Hotel Aryaduta Lippo Village. Kunjugan pelanggan tersebut sudah terjadwal dengan baik.

“Dalam seminggu, ada tiga kunjungan klien. Cara ini memiliki dampak yang sangat signifikan untuk mendatangkan tamu datang lagi ke hotel,” katanya.

Pun demikian yang dilakukan oleh Hotel Santika BSD. Selain memberikan pelayanan servis yang terbaik, hotel bintang 3 ini juga selalu menjaga hubungan baik dengan pelanggannya. Caranya pun sama Hotel Aryaduta, yakni berkunjung ke perusahaan yang telah bekerja sama dengan hotelnya.

“Penting sekali menjaga hubungan dan berkunjung ke klien kita. Visit klien bertujuan mengetahui kebutuhan pelanggan seperti apa. Terlebih, klien kami 70 persennya adalah perusahaan,” kata Riama Susanti, Sales & Marketing Hotel Santika BSD.

Selain menjaga hubungan baik pelanggan, satu hal penting yang tak boleh dilupakan adalah kualitas Sumber Daya Manusia (SDM). Hal tersebut dikatakan oleh Hotel Manager Amaris Hotel Serpong M. Hanafiah.

“Strategis bisnis merebut pasar harus diimbangi kualitas SDM. Makanya, kami selalu menggelar training secara berkesinambungan. Karena pelayanan adalah hal penting di dunia hospitalty,” katanya.

 

 

 


 
 
 
Infonitas > Feature >

Masih Banyak “PR” yang Belum Diselesaikan Pemkot Tangsel

Selasa, 7 November 2017 | 11:20 WIB

Editor : Galih Pratama

Reporter : Galih Pratama

Ilustrasi Pusat Pemerintahan Kota Tangsel.
Foto : Geri B

Ke depannya diharapkan PR seperti masalah seperti regulasi infrastruktur hingga pengelolaan pasar tradisional, pusat perekonomian warga agar lebih diperhatikan lagi Pemkot Tangsel.

TANGSEL - Tepat 26 November 2017, Kota Tangerang Selatan (Tangsel) genap berusia 9 tahun. Di usianya tersebut, kota hasil pemekeran dari Kabupaten Tangerang ini, tumbuh menjadi magnet baru di sektor investasi, perdagangan, dan jasa di Provinsi Banten.

Kondisi tersebut memang tak lepas dari pembangunan infrastruktur yang hampir 60 persen dikuasai oleh pihak swasta. Dari sisi pengelolaan keuangan daerah pun, kota yang dipimpin untuk kedua kalinya oleh Wali Kota Tangsel Airin Rachmi Diany dan Wakil Walikota Tangsel Benyamin Davnie ini terus menunjukkan grafik positif.

Di mana Pendapatan Asli Daerah (PAD) terus mengingkat. Saat ini PAD Tangsel menembus angka Rp 1 triliun lebih. PAD tersebut bersumber dari pajak dan retribusi daerah. Melihat angkat tersebut, tentunya cukup menggembirakan bagi masyarakat Tangsel yang telah mencapai lebih dari 1,5 juta jiwa ini.

Lalu timbul pertanyaan, apakah Tangsel sudah sejahtera? Salah satu indikator kesejahteraaan masyarakat adalah peningkatan taraf hidup dan kemudahan untuk mengakses kebutuhan sehari-hari. Sayangnya, kedua indikator tersebut belum sepenuhnya dirasakan masyarakat. Masih banyak pekerjaan rumah (PR) belum diselesaikan oleh Pemkot Tangsel.

Masih Banyak PR

Seperti yang diungkapkan oleh Pengamat Politik dari Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Zaki Mubarak. Dia menilai bahwa pembangunan di Kota Tangsel masih banyak yang belum teralisasi.

“Masih banyak pekerjaan rumah yang belum teralisasi,” kata Zaki lewat sambungan telepon.

Dia mencontohkan soal pengelolaan pasar tradisional yang tersebar di Tangsel. Menurutnya, pengelolaan pasar tradisional kurang maksimal. Padahal pasar tradisional merupakan salah satu pusat transaksi ekonomi masyarakat Tangsel.

“Penataan pasar tradisional memang sudah mulai terlihat. Namun pengelolaannya belum maksimal,” tegasnya.

Belum lagi masalah infrastruktur, menurutnya, perlu ada kebijakan yang komperhensif terkait pembangunan yang dilakukan pengembang di Tangsel. Akibat pembangunan yang agresif, kemacetan tak terhidarkan.

“Bisnis mereka harus berkontribusi untuk kelancaran transportasi. Karena perumahan yang dibangun pengembang justru kurang dirasakan dampaknya oleh masyarakat Tangsel,” katanya.

Pemkot Tangsel juga harus transparan terhadap penggunaan dana CSR dari para pengembang. Alangkah baiknya, kata dia, di-publish di ruang partisipasi publik.

“Di Jakarta, kontribusi mereka lebih jelas. Di Tangsel juga semestinya begitu,” imbuhnya.

Dana tersebut bisa dimanfaatkan untuk memperbaiki fasilitas publik. Misalnya di Tangsel memiliki banyak situ, Pemkot Tangsel harus merawat dan mengaturnya supaya lebih bernilai ekonomis, serta layak menjadi pusat pariwisata masyarakat.

“Saya perhatikan situ-situ tersebut belum diperhatikan serius oleh Dinas Pariwisata, masih semerawut,” tegasnya.

Sementara untuk mengatasi pengangguran di Tangsel, Zaki menyarankan Pemkot Tangsel harus fokus mengembangkan balai latihan kerja (BLK) untuk meningkatkan skill dan keterampilan kerja kelompok.

“Jadi bagi pemuda, bisa dapat kerjaan dan penghasilan yang lebih baik. Jangan senang dengan makin banyaknya anak muda yang terserap menjadi ojek atau driver online, . Karena itu hanya memberikan solusi dan fenomena jangka pendek,” tutupnya.

 


 
 
 
Infonitas > Feature >

Cerita Damayanti, Mantan Anggota DPR dari Balik Sel Tahanan Tangerang

Minggu, 11 Juni 2017 | 12:30 WIB

Editor : Ivan

Reporter : Handrian

Damayanti saat menjalani pemeriksaan KPK.
Foto : istimewa

Mantan Anggota DPR Damayanti yang tersandung kasus korupsi tengah menjalani masa tahanan di Lapas Klas IIB Anak dan Wanita Kota Tangerang.

TANGERANG - Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Klas II B Anak dan Wanita Kota Tangerang, menggelar acara buka puasa bersama pada Sabtu (10/6/2017) sore. Ratusan warga binaan ikut dalam kegiatan itu, salah satunya adalah Damayanti Wisnu Putranti, mantan anggota Dewan Perwakilan Raykat (DPR) yang divonis 4,5 tahun penjara karena terlibat tindak pidana korupsi (Tipikor).

Dalam acara itu, Infonitas.com berkesempatan untuk bertemu dan melakukan sedikt perbincangan santai dengan Damayanti. Perempuan berkecamata dan berambut panjang itu pun mengaku cukup senang dengan acara buka puasa bersama yang digelar lapas. Terlebih dalam acara itu, ia mendapat kunjungan dari keluarganya.

"Di Lapas Klas II B Tangerang ini, paling manusiawi sikap para petugasnya," ujar Damayanti yang kala itu didampingi puterinya.

Mantan anggota DPR dari fraksi PDIP ini juga tak segan menceritakan suka-dukanya dalam menjalani masa tahanan. Mulai dari Rutan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), hingga Lapas Klas II B Kota Tangerang yang baru ditempatinya sekitar satu bulan ini.

"Saya sudah menjalani tahanan 1,5 tahun. Ini puasa yang kedua yang saya lalui di tahanan. Puasa pertama di KPK, dan sekarang disini saya merasa sangat humanis petugasnya," ungkapnya.

Sebelum menempati Lapas yang saat ini dihuni, perempuan kelahiran Jakarta, 2 November 1970 penah menempati Lapas Suka Miskin Bandung selama enam bulan, Lapas Paledang Bogor enam bulan, dan satu bulan di Pondok Bambu Tangerang.

Bersyukur Huni Lapas Tangerang

Damayanti mengaku bahwa  beberapa lapas sebelumnya tidak dikelola dengan cukup baik. Petugasnya juga tidak sebaik di lapas Klas IIB Kota Tangerang yang ia tempati sekarang.

"Kalau di Suka Miskin baik-baik saja. Tapi waktu sebulan Pondok Bambu, saya tidak bisa bertemu anak. Tanggal merah juga tidak bisa. Kalau mau besuk harus antre 2 jam. Terlalu kaku. Apalagi di Paledang. Ada kesalahan napi, petugas langsung memukul kepala napi dengan palu," beber ibu empat anak tersebut.

Peraturan dan pengelolaan pun, lanjutnya, sangat berbeda dengan lapas yang saat ini ia huni. Damayanti merasa bahwa di Lapas Klas IIB Kota Tangerang ini ia lebih mudah untuk bertemu dengan buah hatinya.

"Contohnya, jika kangen atau anak sedang sakit, diperbolehkan besuk dan mengasuh disini (lapas) sampai sembuh kembali," ungkapnya.

Sementara terkait vinos 4,5 tahun, Damayanti mengaku bahwa ia mendapat berbagai remisi. Sehingga dati total waktu hukuman tersebut, ia hanya menjalaninya selama 2,6 tahun. "Jika keluar nanti saya ingin fokus ngurus anak. Tetapi tetap tidak meninggalkan PDIP," ucapnya.

Kini, perempuan yang sempat membidangi departement pertanian tengah menjalani sisa hukumannya. Ia pun mengaku sering menghabiskan waktu dengan berkebun di area lapas.

"Kita ingin membut bayem organik yang bisa dijual ke supermarket, yang keuntungannya untuk Lapas ini," katanya.

Diketahui, Damayanti tersandung kasus suap sebesar Rp 8,1 miliar dari Direktur Utama PT Windu Tunggal Utama Abdul Khoir. Ia pun divonis majelis hakim dengan hukuman pidana 4,5 tahun penjara atas perbuatannya itu. Vonis terhadap Damayanti sendiri jatuh pada September tahun lalu.


 
 
 

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Trying to get property of non-object

Filename: pages/article_feature_page.php

Line Number: 181

Backtrace:

File: /nfs/shared/public/infonitas.com/mobile/application/modules/mobile/views/pages/article_feature_page.php
Line: 181
Function: _error_handler

File: /nfs/shared/public/infonitas.com/mobile/application/third_party/MX/Loader.php
Line: 357
Function: include

File: /nfs/shared/public/infonitas.com/mobile/application/third_party/MX/Loader.php
Line: 300
Function: _ci_load

File: /nfs/shared/public/infonitas.com/mobile/application/libraries/General.php
Line: 21
Function: view

File: /nfs/shared/public/infonitas.com/mobile/application/modules/mobile/views/layout/default.php
Line: 86
Function: load_page

File: /nfs/shared/public/infonitas.com/mobile/application/third_party/MX/Loader.php
Line: 357
Function: include

File: /nfs/shared/public/infonitas.com/mobile/application/third_party/MX/Loader.php
Line: 300
Function: _ci_load

File: /nfs/shared/public/infonitas.com/mobile/application/libraries/General.php
Line: 26
Function: view

File: /nfs/shared/public/infonitas.com/mobile/application/modules/mobile/controllers/Mobile.php
Line: 1270
Function: _render_page

File: /nfs/shared/public/infonitas.com/mobile/index.php
Line: 315
Function: require_once

Infonitas > Feature >

Saatnya Bisnis Secondary Property Berkibar

Sabtu, 12 Desember 2015 | 17:13 WIB

Editor : Fauzi

Reporter : Chandra Purnama

Ignasius Untung saat memberikan sambutan dalam Comsumer Choice Award yang diadakan rumah123.com, Kamis (10/12/2015).
Foto :

Kian berkurangnya pasokan lahan baru hingga ketidakstabilan perekonomian, membuat bisnis secondary property diprediksi mengkilat tahun depan.

JAKARTA – Sebagai salah satu jenis industri yang tidak pernah lekang dimakan zaman dan selalu dibutuhkan, industri properti dari waktu ke waktu terus berevolusi dan bergerak dinamis, berlomba-lomba memenuhi kebutuhan manusia modern akan hunian yang menarik, aman, nyaman dan sesuai dengan gaya hidup mereka.

Tidak heran jika perkembangan desain dan jenis hunian pun terus berkembang pesat. Tak hanya di situ, industri ini pun berkembang dengan adanya transaksi secondary properti dan sewa.

"Semua konsumen yang hendak membeli pasti menginginkan konsep sesuai dengan kemauan dan kemampuan mereka," ujar Ignasius Untung selaku Country General Manager rumah123.com kepada Infonitas.com, Kamis (10/12/2015).

Lebih lanjut Ignasius menerangkan, pada tahun 2016 mendatang bisnis di bidang ini diprediksi akan mengalami pertumbuhan kembali, setelah sebelumnya sempat mengalami perlambatan pasca booming pada tahun 2012-2013.

Ignasius mendasarkan prediksinya pada meningkat tajamnya permintaan properti pada semester akhir tahun ini.

"Tidak bisa diingkari lagi, kebutuhan properti akan meningkat. Saya prediksi di 2016 meningkat 30%," tambah Ignasius.

Sementara itu, pemerhati bisnis properti dalam negeri Hendriansyah mengatakan, peningkatan permintaan properti pada tahun depan diprediksi terjadi pada sektor secondary. Menurutnya, di tengah belum stabilnya kondisi perekonomian global dan nilai tukar Rupiah hingga kian berkurangnya lahan, sementara kebutuhan akan hunian terus bertambah setiap tahunnya. Membuat masyarakat kian melirik secondary property.

“Pasar secondary tahun depan diprediksi akan ramai. Kenapa? Orang terus butuh hunian, sementara pasokan baru berkurang, lahan kurang. Mau beli baru? Ekonomi dan Rupiah juga masih enggak stabil. Jadi orang pilih ke secondary,” paparnya.

Ia pun lantas menyebutkan sejumlah lokasi pasar secondary property yang diprediksi banyak diminati masyarakat, baik di Ibu Kota mau pun kawasan sekitarnya.

“Tradisionalnya itu ya di Kelapa Gading, Kebayoran, Menteng, Pondok Kelapa sampai Cibubur. Kalau yang agak ke pinggir itu selatan Jakarta, Depok, Tangerang. Kawasan-kawasan itu memiliki pasar secondary property yang sudah lama terbentuk,” ungkap pria yang akrab disapa Hendri ini.

Baik Ignasius maupun Hendri sama-sama meyakini bisnis secondary property tahun depan akan semakin menggeliat. Terlebih, menilik kawasan-kawasan yang diprediksi di atas, harga jual secondary property di kawasan tersebut hampir sampa dengan harga primary property di kawasan pinggiran Ibu Kota.