Infonitas > Feature >

Segarnya Omzet Bisnis Smoothies di Gading Serpong

Rabu, 29 November 2017 | 13:00 WIB

Editor : Galih Pratama

Reporter : Alfriani Anisma Wibowo

Sajian smoothies yang makin digemari masyarakat Gadong Serpong.
Foto : Abdul Rahman

Bisnis smothies di kawasan Gading Serpong terus bermunculan. Omzetnya pun bisa bilang cukup besar, capai ratusan juta.

GADING SERPONG - Kini gaya hidup sehat telah menjadi tren di kalangan masyarakat Tanah Air, terutama kaum urban. Tak heran bila kesadaran akan mengonsumsi makanan dan minuman sehat pun semakin meningkat.

Salah satu jenis minuman sehat yang kini sedang naik daun adalah smoothies, yaitu minuman yang terbuat dari campuran buah, sayuran, susu cair, dan es. Tak hanya menyegarkan, minuman ini juga menyehatkan. Sehingga banyak orang yang menyukainya. Ini tentunya membuka peluang bisnis yang menggiurkan. Tengok saja di Gading Serpong, pemain bisnis ini mulai bermunculan.

Salah satunya adalah Smoothopia yang terletak di Ruko Neo Arcade, Gading Serpong. Dikatakan sang pemilik, Reonard Chandra Effendy, bisnis smoothies cukup menjanjikan di kawasan Gading Serpong. Ini tak lepas dari kesadaran masyarakat di sini akan makanan dan minuman sehat. “Tapi memang harus pelan-pelan, karena di sini belum banyak yang mengenal smoothie. Ini artinya pasar di Gading Serpong masih besar,” katanya.

Menurutnya, respons masyarakat Gading Serpong akan smoothies cukup menggembirakan. Beberapa pelanggan di sini, menganggap smoothies sebagai menu sarapan. “Buktinya, kami belum buka, tapi sudah ada pelanggan yang nunggu kami buka,” akunya.

Smoothopia menjual beragam jenis smoothie bowl dan drink. Khusus smoothie bowl ada 7 varian menu yang bisa dipilih pelanggan. Sedangkan smoothie drink ada 5 menu. “Favorit di sini smoothie bowl will you berry me? Dan man-go-loco. Uniknya, penyajian smoothie bowl di sini bisa dikreasikan berdasarkan keinginan pelanggan. Harganya berkisar 43 ribu – Rp 61 ribu,” ujarnya.

Pemain lain di bisnis ini, Pricillia Nataly yang menggeluti bisnis smoothies sejak 2016 lalu bersama rekannya Linawati dengan bendera Oranje Juicery di Ruko Golden 8, Gading Serpong. Selain smoothie bowl, tempatnya mennyajikan cold pressed juice, chia pudding dan rice bowl.

Smoothie bowl di sini disajikan menggunakan mangkok dan sendok kayu. Ada enam menu smoothie bowl ala Oranje Juicery yang bisa dipilih pelanggan. Bahkan setiap bulannya, tempat ini selalu menghadirkan menu yang berbeda. Cara tersebut, kata Pricillia dilakukan untuk mengantisipasi persaingan bisnis smoothie di Gading Serpong. “Kami terus berinovasi dan belajar melihat apa yang terbaru. Agar tidak ketinggalan dengan tren,” katanya.

Dalam sehari, Pricillia mengaku mampu menjual 30 porsi smoothie bowl. Sedangkan pelanggannya sendiri datang dari kalangan anak-anak hingga orang dewasa. “Kalau weekday biasanya ibu-ibu yang mengantar anak sekolah. Kalau weekend malah ada yang datang dari Jakata,” ungkapnya.

Sementara Port Five Six, yang terletak di kawasan Gading Serpong ini juga menyajikan menu acai bowl dan musseli bowl, yang lebih mengarah ke smoothies. Penyajian menu ini tetap menggunakan buah-buahan sega dengan tambahan granola dan madu. “Lebih banyak buah-buah segar. Ada juga musseli bowl kita menggunakan vsoy multi gran yang lebih sehat dari vsoy biasa,” ujar Silvana Maylinda, Manager Port Five Six.

Menurut Silvana, untuk peminat healthy food di kawasan Gading Serpong memang masih kurang. Sebab, kata dia, masyarakat jauh lebih memilih makanan yang bisa membuat mereka kenyang dan banyak cita rasa. Meski begitu, peluang bisnis ini tetap ada. Terbukti di tempatnya bisa mampu meraih omzet ratusan juga. “Omzet kita per bulannya capai sekitar 150 juta,” akunya.

Menjaga Kebersihan dan Kesegaran Bahan Baku

Bahan baku jadi hal penting yang harus diperhatikan dalam bisnis makanan ataupun minuman sehat. Pemain usaha ini, harus jeli memilih, menjaga kehigienisan dan kesegaran bahan baku yang akan diolah. Bisnis smoothies misalnya, bahan baku buah-buahan yang gunakan tentunya harus dijaga kesegarannya.

“Sangat penting untuk menjaga kesegaran dan kebersihan bahan baku buah-buahan. Makanya untuk penyimpanannya kita gunakan chilller. Upayakan jauh dari sinar matahari,” kata Silvina Maylinda, Manager Port Five Six, Gading Serpong. Bahkan, lanjutnya, ada beberapa buah-buahan yang memang diimpor seperti buah acai berry. Sedangkan bahan baku lain, pihaknya mengandalkan belanja di supermarket ternama. 

Tak jauh berbeda, di Oranje Juicery juga mengandalkan beberapa buah-buahan yang impor. Seperti yang diungkapkan sang pemilik Pricilla, “Untuk buah pir dan apel memang kami impor. Karena kualitasnya memang berbeda. Namun sebisa mungkin kami menggunakan produk lokal, selain mudah dijumpai, harganya juga terjangkau,” katanya.

Untuk menjaga kesegaran bahan baku buah yang digunakan di Oranje Juicery, kata Pricilla, beberapa buah disimpan di dalam frozen. “Misalnya mangga kami masukkan ke dalam frozen, bisa bertahan selama 6 bulan. Dan sejauh ini selalu habis,” katanya.

Sementara menurut Reonard Chandra Effendy, Pemilik Smoothopia, kesegaran buah jadi hal penting yang harus diperhatikan. Terlebih, menu yang disajikan di sini murni menggunakan buah-buahan saja, tanpa ada campuran lain. “Smoothie bowl yang kami sajikan memang tanpa gula, air, dan es batu, hanya mengandalkan buah yang fresh. Makanya, kesegaran buah memang harus dijaga,” katanya.

Menyebarkan Virus Healthy Food

Tak hanya semata-mata ingin mendapatkan keuntungan dari menjual produknya, para pelaku usaha bisnis smoothies juga memiliki kampanye ingin mengenalkan makanan dan minuman sehat. Mereka menyebarkan virus healthy food dengan mengedukasikan pelanggan yang datang ke tempatnya.

Seperti yang dilakukan Smoothopia. Menurut sang pemilik, Reonard Chandra Effendy, mereka selalu mengedukasikan pelanggannya perihal makanan sehat. Terlebih, kata dia banyak konsumen di Gading Serpong belum mengerti atau mengenal smoothies. “Tentunya kami edukasi pelanggan. Masih banyak yang belum mengerti akan smoothies bowl,” katanya.

Diakuinya, berkat kehadiran usahanya, respons masyarakat sangat positif. Bahkan ada sebagian pelanggan yang ketagihan smoothie bowl miliknya. “Ada yang datang coba-coba karena belum tahu, namun setelah mencoba ketagihan,” ujarnya.

Hal serupa juga dilakukan oleh Oranje Juicery. Tempat ini juga selalu mengedukasikan ke pelanggan tentang makanan dan minuman sehat yang ditawarkan. “Kalau edukasi pasti. Tapi kalau kampanye healthy food belum terlalu spesifik. Ke depannya, kami ingin lalukan kampanye healthy food agar banyak orang aware akan healthy food,” kata Pricilla Nataly, Pemilik Oranje Juicery.

Sementara Port Five Six lebih mengampanyekan healthy food melalui media sosial. Melalui media sosial seperti Instagram, jauh lebih efektif mengampanyekannya. Sekaligus untuk menggaet pelanggannya. “Sasaran kami sebenarnya anak muda dan keluarga muda. Mereka mayoritas menggunakan media sosial. Jadi cukup efektif,” kata Silvana Maylinda, Manager Port Five Six