Infonitas > Feature >

Perjuangan Warga Bekasi Ikut Program Rumah Tidak Layak Huni

Rabu, 22 November 2017 | 17:00 WIB

Editor : Muhamad Ibrahim

Reporter : Yusuf Bachtiar

Kondisi rumah milik Budi yang roboh dimakan usia.
Foto : Yusuf Bachtiar

Tiga kali mengajukan permohonan rumah tidak layak huni namun tak kunjung mendapatkan hasil. Sampai akhirnya, rumah milik warga Bekasi ini roboh.

BEKASI - Budi Arianto, salah satu warga Gang Saimun, RT 02/08 Kelurahan Jatimulya, Kecamatan Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi harus menahan pilu ketika rumah yang didiaminya mulai lapuk dimakan usia.

Bagian atap bangunan rumah miliknya mulai roboh lantaran kuda-kuda penyangga atap tak mampu lagi menahan beban.

Menurutnya, tanda-tanda kerusakan sudah muncul sejak Juli tahun lalu, namun pada, Selasa (21/11) kemarin kerusakan semakin parah. Alhasil, bagian belakang rumah tepatnya ruangan dapur rusak, atap bangunan amblas.

“Rusaknya sudah lama karena memang bangunan tua. Mau dibenerin tetapi tak ada uang," bebernya kepada Infonitas.com, Rabu (22/11/2017).

Diakunya, sejak 2014 sudah mengajukan persyaratan untuk mengikuti program bantuan Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu).  Segala persyaratan pun sudah diajukan ke pihak RT untuk kemudian diteruskan ke Kelurahan. Namun sayang, usahanya tak menuai hasil lantaran terkendala administratif.

"2014 mengajukan tapi waktu itu tidak ada Akte Jual Beli jadi tidak bisa diurus," bebernya.

Tak menyerah, setahun kemudian dia kembali mengajukan program yang sama. Berharap, rumah tempat tinggal yang sekarang dihuni bersama satu orang keponakan bisa dipugar agar lebih layak.

"Tahun 2015 mengajukan lagi, tapi lagi-lagi enggak bisa karna kendala administratif lagi padahal sudah ada AJB saat itu," akunya.

Tak pantang arang, di tahun 2016 diapun kembali mengajukan program bantuan rutilahun. Lagi-lagi dia harus gigit jari, pasalnya di tahun 2016 program tersebut sudah diajukan ke Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bekasi.

Hingga akhirnya di tahun ini, rumah tua peninggalan neneknya tak mau lagi berkompromi. Atap yang mulai usang akhirnya roboh dimakan usai, dia pun berharap pihak Pemkab Bekasi mau melihat kondisi rumahnya

 


 
 
 
Infonitas > Feature >

Menakar Kebutuhan Hotel di Serpong

Kamis, 7 Desember 2017 | 14:30 WIB

Editor : Galih Pratama

Reporter : Alfi Dinilhaq

Tipe kamar yang disediakan di Hotel Santika BSD.
Foto : Geri B

Tingginya aktivitas bisnis di kawasan Serpong dan sekitarnya jadi salah satu faktor makin tingginya kebutuhan akan hunian hotel.

SERPONG - Pertumbuhan hotel di kawasan Serpong dan sekitarnya bisa dibilang cukup menggeliat. Setiap tahunnya, selalu ada saja hotel baru, baik hotel berbintang ataupun budget yang meramaikan peta persaingan bisnis hotel.

Berdasarkan data Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia Kota Tangerang Selatan, pada 2016 lalu tercatat ada 20 hotel yang berdiri di kawasan ini. Di tahun ini, terbaru ada Amaris Hotel Serpong. Nantinya, akan ada juga Swiss-belhotel yang siap beroperasi.

Ya, kehadiran mereka memang tak lepas dari kebutuhan hotel di Serpong yang semakin tinggi. Beberapa hotel yang telah lama berdiri pun merasakan peningkatannya. Hotel Santika BSD contohnya.

Menurut Riama Susanti, Sales & Marketing Manager Hotel Santika BSD City, “Meski hotel makin banyak berdiri, tetap kita mampu merebut pasar. Bahkan ada peningkatan jumlah tamu dari tahun sebelumnya,” katanya beberapa waktu lalu kepada Infonitas.com.

Selain aktivitas bisnis, kata Santi, kehadiran Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD juga menjadi faktor pendorong permintaan hotel di Serpong.

“Kehadiran ICE BSD membuat kompetisi hotel di sini lebih luar biasa. ICE punya dampak signifikan terhadap okupasi kami. Setelah ada ICE, okupasi naik 40 persen. Sebab, banyak event besar setingkat nasional dan internasional. Pesertanya mencari hotel untuk akomodasi,” ungkapnya.

Dilihat dari okupasi per bulannya, Hotel Santika BSD yang terdiri dari 150 kamar ini mampu mencetak okupasi 90 persen. “Penyumbang terbesar okupasinya dari sektor atau aktivitas bisnis,” ujarnya.

Sama halnya dengan Santika Hotel BSD, Amaris Hotel Serpong yang baru berdiri awal tahun lalu juga membidik segmen corporate di kawasan Serpong dan sekitarnya.

Menurut Hotel Manager Amaris Hotel Serpong M. Hanafiah, “Penyumbang okupasi terbesar kami adalah corporate. Okupasi kami sudah di level 75 persen,” katanya.

Menurutnya, banyak berdiri perkantoran di kawasan ini berdampak pada pertumbuhan bisnis hotel di area ini. Jangan heran bila kebutuhan hotel makin tinggi. Sedangkan dari segi persaingan bisnis pun, Hanafiah menilai, persaingan bisnis ini memang makin ketat, tapi masih dalam batas wajar.

“Saat ini masih dalam toleransi wajar. Belum terlihat adanya persaingan ke level bawah untuk kategori masing-masing hotel,” ungkapnya.

Amaris Hotel Serpong yang terletak di Jalan Raya Serpong ini mengusung konsep Bed and Breakfast. Hotel bintang ini, menyediakan 102 kamar dengan berapa pilihan tipe.

Bergeser ke Hotel Aryaduta Lippo Village, hotel ini tiap tahunnya juga merasakan peningkatan jumlah tamu yang datang. Menurut Sumiyati Director of Sales Hotel Aryaduta Lippo Village, tahun lalu di hotelnya mampu mencetak okupasi 73 persen. Sedangkan okupasi tahun ini sudah mencapai 79 persen.

“Ada peningkatan 6 persen dari tahun sebelumnya. Sedangkan okupasi per bulannya, rata-rata 83 persen,” ungkapnya.

Hotel Aryaduta Lippo Village mengusung konsep businnes and leisure. Tamunya memang didominasi para pebisnis dari perusahaan ternama yang berasal dari berbagai daerah. Selain Tangerang, ada juga dari Karawang, Cilegon, Serang, dan lainnya.

“Kebanyakan long stay di sini. Kalau lagi ada proyek besar, para pebisnis itu bisa nginap 1 bulan atau bahkan lebih,” katanya.

Hotel Aryaduta Lippo Village sendiri menyediakan 188 kamar. Pilihan kamarnya tersebut sangat bergam, ada deluxe room, villa deluxe, signature room, business suite dan lainnya. Sedangkan range harga untuk menginap di sini mulai dari Rp 825 ribu.

Pintar Atur Strategi Pemasaran

Kebutuhan hotel di kawasan Serpong dan sekitarnya memang cukup tinggi. Namun bukan berarti hotel-hotel yang berada di kawasan ini terlena. Mereka juga dituntut untuk mengatur strategi untuk merebut pasar.

Salah satu yang kerap dilakukan sebagian hotel adalah menjaga hubungan baik dengan pelanggan. Seperti Hotel Aryaduta Lippo Village, mereka kerap kali melakukan kunjungan ke perusahaan yang pernah menggunakan jasa hotel ini.

“Cara ini untuk menjaga hubungan kita dengan klein,” kata Sumiyati, Director of Sales Hotel Aryaduta Lippo Village.

Tak hanya sekadar berkunjung, lanjutnya, pihaknya juga memberikan kejutan-kejutan menarik bagi pelanggannya. “Misalnya coffee break surprise di perusahaan yang kita kunjungi. Kami ingin membuat beda, agar perusahaan ingat dengan hotel kami,” tambahnya.

Menurutnya, ada 100 perusahaan lebih yang telah menjalin kerja sama dengan Hotel Aryaduta Lippo Village. Kunjugan pelanggan tersebut sudah terjadwal dengan baik.

“Dalam seminggu, ada tiga kunjungan klien. Cara ini memiliki dampak yang sangat signifikan untuk mendatangkan tamu datang lagi ke hotel,” katanya.

Pun demikian yang dilakukan oleh Hotel Santika BSD. Selain memberikan pelayanan servis yang terbaik, hotel bintang 3 ini juga selalu menjaga hubungan baik dengan pelanggannya. Caranya pun sama Hotel Aryaduta, yakni berkunjung ke perusahaan yang telah bekerja sama dengan hotelnya.

“Penting sekali menjaga hubungan dan berkunjung ke klien kita. Visit klien bertujuan mengetahui kebutuhan pelanggan seperti apa. Terlebih, klien kami 70 persennya adalah perusahaan,” kata Riama Susanti, Sales & Marketing Hotel Santika BSD.

Selain menjaga hubungan baik pelanggan, satu hal penting yang tak boleh dilupakan adalah kualitas Sumber Daya Manusia (SDM). Hal tersebut dikatakan oleh Hotel Manager Amaris Hotel Serpong M. Hanafiah.

“Strategis bisnis merebut pasar harus diimbangi kualitas SDM. Makanya, kami selalu menggelar training secara berkesinambungan. Karena pelayanan adalah hal penting di dunia hospitalty,” katanya.

 

 

 


 
 
 
Infonitas > Feature >

Pemandangan Calon Danau Jenewa dari Jakarta Utara

Kamis, 7 Desember 2017 | 14:30 WIB

Editor : Nurul Julaikah

Reporter : R Maulana Yusuf

Danau Sunter
Foto : R Maulana Yusuf

Danau Sunter yang berada di Kecamatan Tanjung Priok, Jakarta Utara sebagai calon Jenewa-nya Indonesia terlihat pemandangan sampah berserakan.

TANJUNGPRIOK - Danau Sunter yang berada di kecamatan Tanjung Priok, Jakarta Utara belakangan ini menjadi perbincangan hangat. Ini semua lantaran Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti menantang Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menyulap Danau Sunter seindah danau di Jenewa, Swiss.

Letak Danau Sunter berada di Jalan Sunter Selatan dan Jalan Danau Permai Timur. Dalam sehari-hari, biasanya kebanyakan masyarakat menghabis kegiatan di Jalan danau sunter selatan dengan memancing.  Bukan hanya itu saja, para pengendara yang mayoritas driver ojek online kerap berteduh untuk istrirahat di pinggir danau.

Keramaian itu, dimanfaarkan oleh Pedagang Kaki Lima (PKL) untuk menjajakan dagangan mereka yang berupa makanan dan minuman.

Pada Rabu (7/12/2017) Sore, infonitas.com  menyambangi salah satu lokasi wisata di Jakarta Utara terlihat hamparan sampah yang bertebaran di pinggir danau. Hal ini, masih membuktikan kurangnya kesadaran masyarakat akan kebersihan lingkungan. Padahal, Peraturan Daerah nomor 3 Tahun 2013 telah melarang membuang sampah di sungai/kali/kanal,waduk,situ, saluran air limbah, jalan, taman atau tempat umum dan apabila dilanggar akan dikenakan sanksi denda sebesar Rp 500 ribu.

Belum lagi, minim tempat pembuangan sampah di sisi kanan kiri danau. Hal ini menyebabkan, warga dan pedagang untuk membuang sampah sembarangan di sekitar danau.

Seperti yang diungkapkan Ali, pedagang minuman yang sehari-hari berjualan di area danau sunter selatan, menurutnya tak adanya tempat sampah menjadi salah satu faktor para pengunjung danau membuang sampah sembarangan.

"Disini tak ada tempat sampah mas, banyak warga yang bawa bekal makanan dan makan disini lalu sampahnya dibuang saja di pinggir danau,"ungkapnya.

Selain itu, kata Ali,  banyak juga para pedagang kaki lima yang tidak menyiapkan wadah sampah untuk dagangannya terutama pada malam hari. "Banyak para pedagang nakal tidak menyiapkan tempat sampah dan asal buang saja apalagi kalau malam,"tambahnya.

Tak Ada Jaminan Keamanan Tempat Sampah

Sementara itu,  Kepala Suku Dinas lingkungan Hidup Jakarta Utara Slamet Riyadi memiliki alasan tersendiri mengapa tidak menyiapkan tempat sampah di sepanjang  Danau Sunter yang berada disisi Jalan Danau Sunter Selatan. Menurutnya tidak ada jaminan keamanan jika ditaruh tempat sampah dilokasi tersebut, dikhawatirkan jika ditaruh maka akan hilang diambil pemulung.

Selain itu para petugas kebersihan rutin setiap pagi membersihkan sampah yang ada di jalan tersebut. "Setiap hari sekitar pukul 07.00 WIB ada 5 petugas membersihkan dan mengangkut sampah yang ada di lokasi, rata-rata setiap hari bisa mengakut 2 meter kubik sampah  yang terdiri dari sampah bekas para pedagang seperti botol, plastik kemasan dan lainnya,"kata slamet saat dihubungi infonitas.com.

Hingga berita ini diturunkan, pada hari ini atau pagi tadi, petugas Sudin Lingkungan Hidup Jakarta Utara berbondong-bondong memasang tempat sampah.

Pemandangan di sisi Jalan Danau Permai Timur Lebih Tertata

Pemandangan berbeda terlihat  di sisi Jalan Danau Permai Timur yang lebih tertata rapi. Terdapat warung- warung seafood, warung makan dan pedagang kelapa muda yang bisa dinikmati sambil melihat pemandangan danau. Perahu bebek dan jetski juga disediakan bagi mereka yang mau mengelilingi danau. Di dekat danau juga terdapat apartemen, hotel dan gelanggang olahraga

Kebersihan di Jalan Danau Permai Timur lebih terjaga, meski tak terlihat adanya tempat sampah yang disediakan tetapi para pedagang selalu membersihkan area yang dikelola oleh Koperasi Pembina Profesi dan Olahraga Perairan (KPPOP) sejak tahun 2014.

"Selalu dibersihkan mas agar pengunjung nyaman dan sampahnya dimasukan wadah plastik, besok pagi diangkut petugas kebersihan,"kata Imron, salah satu pedangang.

Pemandangan tak kalah indah juga terlihat di waduk Sunter barat yang tidak jauh lokasinya dari danau Sunter.  Pantauan dilokasi, terlihat lebih rapi karena sudah dipasangi sheet pile, nyaris tidak ada sampah yang menonjol dan terlihat oleh mata. trotoar dibuat lebih lebar dan tersedia jalur hijau bagi pesepeda.Bangku di sepanjang jalan dipayungi pepohonan bisa menjadi alternatif untuk sekadar bersantai.

Pasukan oranye dari Unit Pengelola Kebersihan (UPK) Badan Air Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Sesekali terlihat membersihkan Waduk. Area Waduk terlihat minim sampah. Namun airnya masih hijau pekat.

Kepala Suku Dinas lingkungan Hidup Jakarta Utara, Slamet Riyadi mendukung ide Menteri Susi untuk mempercantik Danau Sunter sehingga menjadi seperti danau di Jenewa. "Hal tersebut bisa dilakukan atas kerjasama seluruh stakeholder dan juga masyarakat,"tutupnya.


 
 
 
Infonitas > Feature >

Meneropong Prospek Bisnis Online di Jakarta Barat

Selasa, 5 Desember 2017 | 13:45 WIB

Editor : Waritsa Asri

Reporter : M Nashrudin Albaany

Ilustrasi Bisnis Online di Jakarta Barat
Foto : Reggy Prawoso

Bisnis online atau e-commerce disebut-sebut akan terus melejit seiring dengan meningkatnya penggunaan internet di Indonesia

PURI - Mungkin kata bisnis online sudah tidak asing lagi di telinga kita. Tak bisa dipungkiri, bisnis online atau yang biasa di sebut e-commerce sudah menjadi tren saat ini. Transaksi dengan sistem online kini tengah menjadi primadona di kalangan masyarakat yang gemar belanja. Hal ini terlihat dari makin maraknya toko online yang bermunculan, mulai dari usaha kecil yang dikelola perorangan hingga perusahan korporasi besar.

Pengamat Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (UI), Rhenald Kasali mengatakan, potensi bisnis online kian melejit seiring dengan meningkatnya pengguna internet di Indonesia. Hal ini terbukti dengan meningkatnya jumlah transaksi e-commerce dari tahun ke tahun, ini juga membuktikan bahwa bisnis online memiliki banyak keunggulan di bandingkan dengan bisnis konvensional atau offline. 

"Dari segi waktu, biaya dan tenaga, sudah jelas bisnis online jauh lebih menguntungkan. Kita lihat saja sekarang, masyarakat sudah banyak yang beralih menggunakan transaksi online dari pada transaksi manual yang menggunakan uang pecahan. Apalagi, ketika masyarakat membeli barang-barang secara online, mereka bisa dapat lebih banyak dibanding harus belanja langsung ke tempat perbelanjaan, misalnya mall," kata dia saat dihubungi melalui sambungan telepon beberapa waktu lalu.

Menurut dia, masyarakat kini cenderung lebih suka transaksi secara online. Sebab, selain cepat dan mudah, transaksi online juga dinilai lebih efisien daripada transaksi manual di pasar-pasar dan toko. Berbagai kemudahan yang ditawarkan itulah yang kemudian membuat banyak pedagang akhirnya membuka bisnis secara online. 

"Kan kalau berjualan di toko, selalu terjadi pasang surut, kita tidak pernah tahu kapan pembeli datang. Tapi kalau online, kita tidak perlu jaga toko terus-terusan. Tinggal menunggu notifikasi di layar smartphone, baru siapkan barang. Apalagi, bisnis online ini juga tidak perlu menguras biaya sebanyak membuka toko ritel," timpalnya.

Hal senada juga diakui oleh Rahmat. Pemilik bisnis elektronik online di kawasan Kembangan, Jakarta Barat ini menilai, untuk memulai bisnis online tak perlu menyediakan modal yang besar untuk keperluan pengadaan toko. Dengan adanya bisnis online, seorang pengusaha dapat memulai usahanya melalui website atau sosial media yang bisa didaftarkan secara gratis. "Apalagi kan jangkauan bisnis online ini tidak terbatas dan jam kerjanya juga lebih fleksibel. Jadi kita bisa menjangkau pasar yang sangat luas jika dibandingkan dengan toko offline," ungkapnya. 

Selama hampir setahun menjalankan bisnis online, Rahmat mengaku diuntungkan dengan makin banyaknya masyarakat yang membeli produk elektroniknya. Disisi lain, masyarakat juga menjadi dimudahkan karena mereka tidak perlu lagi repot keluar rumah dan terkena macet di jalan untuk bisa memiliki kebutuhan yang diinginkan, karena sudah bisa dilakukan dengan cara online.

"Kunci untuk memulai bisnis online adalah pelayanan yang maksimal, karena jika pembeli puas dengan barang yang kita jual, maka akan meningkatkan kepercayaan calon pembeli lain terhadap kita. Selain itu, kita juga harus rajin mempromosikan barang yang kita jual. Paling mudah itu melalui sosial media, karena sekarang kan banyak pengguna sosmed di masyarakat," pungkasnya.

Meskipun belum bisa memprediksi seberapa besar masyarakat yang akan melakukan transaksi online, ia yakin tahun depan masyarakat khususnya di Jakarta Barat akan banyak beralih pada transaksi online dan juga melakukan pemasaran melalui online.

 Dampak Bisnis Online Terhadap Ritel Konvensional

Dengan berbagai kemudahan yang ditawarkan, membuat bisnis yang mengandalkan jaringan internet ini berkembang cukup pesat dan memberikan dampak nyata bagi bisnis ritel konvensional. Ketua DPW Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI) DKI Jakarta, Sespentri menilai, pengaruh bisnis online terhadap bisnis ritel konvensional cukup besar. Menurut dia, yang paling terkena dampaknya adalah para pedagang kecil. "Dengan adanya bisnis online, daya beli masyarakat terhadap ritel konvensional menjadi menurun. Penurunannya sekitar 20 sampai 25 persen," katanya. 

Pria yang akrab disapa Pepen ini mencontohkan, ritel konvensional khususnya industri elektronik terkena dampak langsung dengan hadirnya bisnis online, seperti yang terlihat di Pasar Glodok City. Sentra penjulan barang-barang elektronik yang terletak di Jalan Pancoran, Glodok, Tamansari, Jakarta Barat kini menjadi sepi pengunjung. "Kalau elektronik ini kita lihat kan kompetisinya luar biasa, apalagi kan sekarang e-commercenya juga luar biasa. Tapi ini sebenarnya masalah global, karena dialami semua pedagang," ungkapnya.

Sepinya Pasar Glodok dibuktikan dengan banyaknya kios elektronik yang tutup. Bahkan beberapa kios di lantai 3 keatas banyak yang disewakan atau justru hanya dijadikan sebagai gudang. Menurut data, dari total okupansi Pasar Glodok sebanyak 1.880 kios, ada sebanyak 564 kios kios yang tutup, itu belum termasuk jumlah kios yang hanya buka sewaktu-waktu. "Tercatat hampir 30 persen kios saat ini tutup karena berbagai alasan," ujar Asisten Manajer Usaha dan Pengembangan Pasar Glodok City, Aswan saat ditemui diruang kerjanya.

Pria yang sudah 27 tahun bekerja di PD Pasar Jaya ini mengatakan bahwa penggunaan internet menjadi indikator banyaknya pembeli yang sudah meninggalkan Pasar Glodok City. Dikarenakan, saat ini dengan mudahnya masyarakat membeli segala kebutuhan di internet. Bahkan, bisa diantar hingga ke rumah. "Itu dampak dari sebagian yang punya uang dibelanjakan lewat online, ini untuk masalah yang elektronik. Di luar itu, beli baju, alat kosmetik, aksesoris, mesti di toko, jarang di online. Tapi kalau elektronik, malah ada diskon di online, otomatis mendingan beli online daripada di Glodok," terangnya.

Sementara itu, Ketua Paguyuban Pedagang Glodok City H Umar menyebutkan, beberapa pedagang memilih hengkang dari Glodok City dan pindah ke lokasi lain yang harga sewanya lebih murah. Sebagian lagi mengurangi jumlah karyawan. "Pedagang banyak yang mengeluh karena omsetnya turun, itu terlihat dari sepinya pengunjung dan penurunan pembeli. Bisa dilihat, beberapa kios sekarang banyak yang tutup dan disewakan oleh pemiliknya," ucap H Umar.

 

Ritel Konvensional Harus Terus Berinovasi

Rhenald Kasali menilai, sepinya pengunjung di Pasar Glodok City disebabkan karena para pedagang tidak bisa berinovasi. Karena tidak melakukan terobosan baru, mereka akhirnya tergerus oleh toko-toko online. Padahal, saat ini adalah era disruption yang mengharuskan setiap pedagang melakukan inovasi yang dapat menciptakan pasar baru.

Agar dapat menghadapi era disruption tersebut, menurut dia, pedagang di Pasar Glodok City harus terbuka terhadap perubahan dan mengikuti perkembangan teknologi. Tidak hanya menyangkut perubahan bentuk, ukuran atau desain tapi juga mengubah seluruh metode, cara kerja dan bahkan produk yang tidak lagi relavan. "Mereka harus memperbaiki diri. Memperbarui pelayanan, fasilitas dan cara promosinya. Semua mesti diperbarui. Kalau tidak, bagi konsumen, buat apa ke sana tapi macet, parkir susah, AC enggak dingin dan enggak nyaman. Mendingan buka internet, langsung pesan," jelasnya. 

Selain itu, pedagang ritel konvensional juga harus lebih memanfaatkan teknologi ketika ingin bisnis mereka tetap bertahan. Apalagi, dengan berkembangnya bisnis online juga menciptakan pasar baru di mana saat ini ketika masyarakat membeli produk elektronik melalui sistem online, masyarakat akan dapat lebih murah. "Mau tak mau, kuncinya adalah inovasi. Konsepnya tak bisa lagi sekadar selling, tapi offline harus bisa menyediakan experience bagi konsumennya, baik berupa konsep toko, penawaran menarik, dan bahkan bisa juga melebarkan sayap dengan promosi melalui online," paparnya.

Seperti yang dikatakan oleh Rhenald, salah satu kunci agar ritel konvensional dapat bertahan dari gempuran bisnis online adalah dengan melek teknologi dan melebarkan usaha ke sistem online. Hal ini juga diakui oleh Adi, pemilik toko elektronik Star Jaya di Pasar Glodok City ini mengaku menyiasatinya dengan melebarkan sayap membuka bisnis online. Ia pun memberdayakan pegawai toko untuk mengelola bisnis online dan promosi di media sosial.

"Daripada harus memecat pegawai, lebih baik saya berdayakan mereka untuk mengelola bisnis online,". Menurut dia, hal ini mau tidak mau harus dilakukan agar tidak kalah dengan pesaingnya dalam bisnis di era modern ini. Selain membuka toko di Pasar Glodok City, Adi pun kini juga berdagang via online dengan memanfaatkan berbagai platform e-commerce yang ada, seperti Bukalapak, Tokopedia dan Shoppe.


 
 
 
Infonitas > Feature >

Rahasia Titiek Puspa dalam Membuat Lagu

Senin, 4 Desember 2017 | 20:45 WIB

Editor : Ichwan Hasanudin

Reporter : Wildan Kusuma

Titiek Puspa bersama Fariz RM dilaunching single 'Dansa Yo Dansa' dari band Java Jive. Lagu itu merupakan salah satu dari sekian banyak lagu ciptaannya.
Foto : Wildan Kusuma

Nama Titiek Puspa dan karya-karyanya di jagad hiburan sudah tidak perlu diragukan lagi. Lantas apa rahasianya Rahasia Titiek Puspa dalam membuat lagu?

KEBAYORAN - Siapa yang tak kenal Titiek Puspa. Penyanyi legendaris memiliki daya tarik sendiri dalam berkaya di belantika musik Indonesia. Siapa sangka, caranya dalam membuat lagu sangat sederhana. Apa rahasianya?

Sumarti atau yang sangat dikenal dengan Titiek Puspa merupakan salah satu legenda penyanyi perempuan di Indonesia. Wanita kelahiran 1 November 1937 ini mendapatkan penghargaan dari Rolling Stone Indonesia dalam kategori lagu terbaik sepanjang masa.

Berkarya sejak 1954, tentunya lagu-lagu penyanyi kelahiran Tanjung, Kalimantan Selatan ini mampu menghipnotis kuping masyarakat Indonesia untuk mendengarkannya. Ternyata, rahasianya dalam membuat lagu sangat sederhana, yaitu dari apa yang dilihat dan dirasakannya.

"Saya sebenarnya orang bodoh, les aja gak pernah. Kalau buat saya lagu itu apa yang saya lihat dan saya rasakan," ujar Titiek dalam konferensi pers lagu terbaru Java Jive Dansa Yo Dansa di Essence Apartemen, Darmawangsa, Kebayoran, Jakarta Selatan, Senin (4/12/2017).

Miris Melihat Keadaan Anak Muda Indonesia
Setelah sekian lama berkaya, Titiek merasa sangat miris dengan keadaan anak muda Indonesia. Lagu anak-anak mulai banyak ditinggalkan dan minim karya. 

Melihat hal itu, dia saat ini bekerja sama dengan Kementerian Pertahanan Indonesia berupaya untuk membuat lagu anak. Namun, lagu anak yang dibuatnya memiliki tujuan agar anak-anak Indonesia bisa lebih mecintai Tanah Air. 

"Saya menangis, di Indonesia ini sudah tidak ada tata krama. Saya nangis sama Tuhan, apa yang bisa buat untuk anak-anak Indonesia. Akhirnya saya bikin lagu 2014 dan sampai akhirnya selesai 2016, saya tawarkan kepada Menhan yang jurusnya bela negara," katanya.

Lagu anak tersebut didasari oleh kekhawatiran dengan moral anak-anak Indonesia. Selain itu, melalui lagu anak ini agar masyarakat juga bisa mencintai cinta.

"Jadi saya khawatir dengan anak-anak, akhirnya saya bikin lagu untuk anak. Untuk membuat lagu ya begitu adanya, karena rasa cinta saya kepada negeri ini," tandasnya.

Lagu Kupu-Kupu Malam
Tentunya, masyarakat Indonesia sudah familiar dengan lagu ‘Kupu-kupu Malam’. Itu salah satu karya Titiek Puspa yang tak lekang oleh waktu.

Tak sedikit penyanyi dan grup musik di Indonesia menyanyikan lagi tersebut. Ternyata, lagu tersebut memiliki misteri yang menggugah hati Titiek Puspa.

"Kupu-KUpu malam itu true story. Dia seorang istri (janda), dia punya hutang dan gak punya uang, dia disuruh bayar dan harus bayar dengan badannya. Dia cerita sama saya. Dia ingin dapat jodoh, dan Alhamdulillah seminggu kemudian anak itu dapat jodoh," katanya.

 


 
 
 
Infonitas > Feature >

Kisah Para Pebisnis Muda di Pluit Mulai Bertualang

Senin, 4 Desember 2017 | 11:15 WIB

Editor : Wahyu AH

Reporter : Farid Hidayat

Alvin Tanudjaya
Foto : Malik Maulana

Hampir setiap orang memiliki keinginan berbisnis. Termasuk, para kalangan muda di kawasan Pluit, Penjaringan, Jakarta Utara. Mereka mengisahkan awal mula menjadi pebisnis.

PLUIT - Setinggi apapun pangkat yang Anda miliki, Anda tetaplah karyawan. Sekecil-kecilnya apapun usaha, Anda adalah bosnya. Keinginan berbisnis pasti dimiliki oleh setiap orang. Alasannya jelas, seperti pernyataan Bob Sadino tersebut. Prosesnya memang tidak mudah. Ada banyak karyawan yang sudah mencoba tetapi berujung kegagalan. Namun, banyak pula yang berhasil. Paling tidak, berjalan stabil.

Pantauan Infonitas mayoritas yang bisa langgeng adalah yang menyesuaikan bisnis dengan hobinya. Misal, Alvin Tanudjaya. Dia lebih memilih bisnis kuliner karena pengalamannya sebagai chef dessert selama 2 tahun di salah satu restoran di Sydney.

“Sebelumnya, saya hanya karyawan biasa. Part time sambil kuliah di sana. Total, 6 tahun saya menjadi karyawan. Sudah cukuplah. Skill sudah ada. Jadi, kenapa enggak dipakai buat bisnis sendiri,” ucapnya.

Sesampainya di Tanah Air, pria berusia 24 tahun ini langsung meminta restu orangtua. Namun, yang didapat justru pertentangan. Sebab, orangtua lebih menginginkan Alvin meneruskan bisnis keluarga.

Alvin teguh. Dia terus berusaha meyakinkan orangtuanya. “Saya coba jelaskan detail mengenai bisnis yang akan saya jalankan. Mulai dari ide, hingga pemasarannya. Jadi, seperti karyawan persentasi dulu. Ya, akhirnya modal nekat. Kebetulan, saya masih punya tabungan hasil kerja keras di Sydney. Saya ajak beberapa teman join. Saya megang produk dan dapur, ada yang bagian marketing, dan ada yang accounting,” tuturnya.

Berawal dari berjualan dessert di bazar-bazar. Namun, gagal. Berlanjut ke burger. Usaha yang kedua ini lebih meningkat dari sebelumnya. Alvin bisa membuka gerai di Bogor. Sayangnya, hanya bertahan singkat. Lagi-lagi, dia harus merasakan kegagalan.

Tidak ada kata menyerah. Alvin kembali mencoba. Kali ini, dia lebih detail. Mengevaluasi hasil kerja sebelumnya. Kekurangan yang terjadi coba diperbaiki. Hingga lahirlah Latteria Gelato, kedai dessert yang berlokasi di Rukan Crown Golf Blok D, nomor 39 Pantai Indah Kapuk, Penjaringan, Jakarta Utara.

“Sudah jalan 2 tahun.  Saya juga punya brand lain, kedai Up To Date yang sudah punya 3 cabang, Sabore, baru satu cabang, dan coffee shop Kakolaite di Serpong,” kata Alvin.

Jelas, ada perbedaan pola pikir ketika menjadi karyawan dan pebisnis. “Dulu, saya tidak pernah berpikir untung-rugi. Perusahaan mau untung atau tidak, saya enggak pernah terlalu peduli. Yang penting kerja serius. Pulang ke rumah bisa leha-leha. Kalau sekarang, pulang ke rumah pusing mikirin bon, mikirin complain customer, dan hal-hal lain. Ketemu keluarga paling sarapan dan makan malam,” ungkapnya.

Serupa dengan Maria Anggraini owner Engs Resto dan Founder desain baju This Is April. Semasa menjadi karyawan di satu toko roti, restoran chinese food, dan hotel di Sydney, dia pun tidak pernah memikirkan profit perusahaan. “Datang kerja yang penting mengerjakan tugas dengan sebaik-baiknya. Tidak pernah berpikir usaha mau dibawa kemana, bulan ini profit atau tidak, gimana cara menaikkan profit, tidak pernah sama sekali.”

Namun, saat menjajal membuka kuliner, Maria merasakan level stres berbeda. “Harus mengerjakan tugas harian, memikirkan masalah operasional, harga sewa, kenaikan harga bahan baku, pemasaran, pengembangan bisnis, hingga kebijakan pemerintah yang berhubungan dengan bisnis kita. Jadi, tidak ada istilah 9-5, pastinya beban pekerjaan ada setiap saat,” ungkap Maria.

Namun, kata dia, tetap enjoy. Sebab, bisnis yang digeluti yakni di bidang kuliner dan fashion merupakan passion-nya. “Apalagi, suami dan keluarga saya sangat mendukung. Jadi, bisa terus semangat. Malah, semakin tertantang untuk lebih besar lagi.”

Caroline Wong, owner Diverse Movement Crew dan Diverse Muaythai Crew sependapat. Merintis bisnis memang lebih nyaman dari hobi. Wajar, bila Caroline lebih memilih mendirikan tempat berlatih dance.

“Berawal dari berkeliling mengajar dance. Lalu, di rumah sendiri. Lambat laun, jumlah muridnya semakin banyak tidak tertampung lagi di rumah.” Akhirnya, pada Oktober 2014 lahirlah Diverse Movement Crew. Lokasinya pindah ke  Muara Karang Blok O 6 Barat No. 3, RT.2/RW.8, Pluit, Penjaringan, Jakarta Utara.

Proyeksi 2018

Menurut Caroline, bisnis ini seperti mimpi yang terwujud. Tidak pernah terpikir akan sebesar sekarang. Dari hanya 4 murid hingga 180 murid hanya dalam waktu 2 tahun. Kini, tantangan terbesar adalah menjaga agar terus langgeng. Caranya, dengan menjaga kualitas dan fokus. “Nantinya, kita juga akan buat the art of dance, menambah genre, muaythai, dan fitness studio.

Maria Anggraini juga sudah menyiapkan langkah jitu untuk pengembangan bisnis tahun depan. Dia percaya pertumbuhan ekonomi Indonesia akan membaik dan berdampak baik bagi perkembangan bisnis. “Saat ini, saya sudah memiliki team business development yang kerjaannya survey tempat, survey demografi dan segala macamnya. Sebab, untuk retailer dan restoran, location is king.”

Pasalnya, Maria sudah berencana akan membuka 20 gerai baru This is April dan dua restoran lagi. “Kita tidak boleh puas diri. Harus terus belajar mengikuti perubahan.”

Begitupun Alvin, pada 2018, dia akan mencoba mewaralabakan bisnisnya. Serta, mau mencari lokasi baru di mal-mal Jakarta. “Tapi, kita masih survey untuk lokasi. Kita harus lihat dulu traffic mal saat weekday dan weekend atau saat dinner maupun lunch. Terus, kita juga harus pelajari target market mal yang kita incar, dan lain-lain. Semua masih dalam proses.”


 
 
 
Infonitas > Feature >

Grup WhatsApp, Cara Berkomunikasi Praktis Namun Rentan Hoax

Senin, 4 Desember 2017 | 11:00 WIB

Editor : Ari Astriawan

Reporter :

Ilustrasi WhatsApp Messenger.
Foto : istimewa

Dengan grup WhatsApp, membangun networking dan menjalin silaturahmi jadi lebih praktis. Di sisi lain, penyebaran hoax bisa menjadi lebih cepat dan masif bila penggunanya tak bijaksana.

JAKARTA – Di sebuah coffee shop, jemari seorang perempuan sibuk mengetik di atas keyboard touchscreen ponsel pintarnya. Wanita tersebut ternyata tengah berdiskusi dengan rekan-rekan seprofesinya lewat grup pesan instan WhatsApp Messenger. Pekerjaan sebagai public relation mengharuskannya selalu update soal perkembangan informasi terbaru. Koordinasi terkait pekerjaan pun banyak dilakukan lewat smartphone. Begitulah gambaran sebagian besar pekerja era sekarang. Semua pekerjaan tak luput dari yang namanya smartphone. 

Perkembangan teknologi memang telah membawa kita ke sebuah era baru. Digitalisasi membuat pola dan perilaku manusia mengalami perubahan. Tak terkecuali cara berkomunikasi. Komunikasi tak lagi hanya dilakukan secara verbal dan bertatap muka. Aplikasi instant messenger seperti WhatsApp (WA) kini mengambil porsi besar dalam komukasi kita sehari-hari. Baik dalam kehidupan personal maupun profesional.

Di aplikasi WA, kita dimungkinkan untuk membuat grup. Kita dapat memanfaatkan group tersebut sebagai basis utama komunikasi dengan customer atau relasi. Komunikasi melalui grup WA dinilai banyak orang lebih efektif. Karena semua sudah terkoneksi di smartphone. Jadi dimana saja orang tetap bisa mengakses atau update pesan di WA. Beda halnya dengan cara berkomunikasi di forum atau mailing list di mana kita harus login terlebih dahulu. Di grup WA, semua anggota grup akan mendapat notifikasi langsung begitu ada pesan baru.

“Aplikasi seperti WA sangat praktis dan membantu pekerjaan. Banyak sisi positifnya. Kita bisa tetap terkoneksi di mana pun kita berada. Koordinasi pekerjaan menjadi lebih mudah. Begitu pun dengan membangun networking. WA bisa melampaui keterbatasan jarak dan waktu,” terang Rizka Septiana, S.Sos, M.Si. IAPR, Ketua Bidang PERHUMAS Muda, Perhimpunan Hubungan Masyarakat (PERHUMAS) Indonesia kepada infonitas.com.

Wanita yang juga merupakan Executive Board of ASEAN Public Relations Network (APRN) ini melanjutkan, aplikasi WA juga terus berusaha menambahkan atau menyesuaikan fitur-fiturnya demi memenuhi kebutuhan pengguna.

“Misalnya saat kita sedang sibuk dan tidak sempat mengetik pesan, kita bisa menggunakan voice note. Bagi saya aplikasi WA ini sangat membantu. Saya sendiri saat ini tergabung di puluhan grup WA dan itu membuat pekerjaan kita jadi lebih praktis. Kita juga bisa mendapat informasi dengan lebih cepat,” kata Deputy Head of Media Relation, Corporate Reputation Department London School of Public Relation (LSPR) Jakarta tersebut.

Peter Leeansyah, Pengusaha Kuliner di Kelapa Gading mengamini hal yang sama. Pria yang mengaku tergabung dalam hampir seratus WA Groups ini mengatakan, keberadaan aplikasi ini sangat menunjang pekerjaannya sebagai pengusaha. Ia mempunyai WA Group internal perusahaan yang terbagi dalam berbagai divisi. Jadi meski dia sedang berada di luar negeri sekalipun, ia dengan mudah bisa memantau atau memberikan instruksi kepada karyawannya.

“Komukasi jadi jauh lebih mudah. Tak hanya untuk keperluan internal perusahaan, group WA juga bisa efektif untuk membangun jaringan. Kita bisa bergabung di banyak group WA guna memperluas jaringan pertemanan maupun relasi bisnis,” kata Peter.

Menangkal Hoax

Keberadaan aplikasi WA bukannya tanpa cela. Lazimnya kemajuan teknologi seperti yang lain, aplikasi ini juga bak pedang bermata dua. Di satu sisi sangat positif, di sisi lain bisa membawa dampak negatif. Berita palsu alias hoax contohnya. Di era digital sekarang, penyebaran hoax sangat cepat. Tak terkecuali lewat group-group WA. Maka itu, pengguna dituntut untuk tetap selektif dan cermat menyaring informasi.

“Ya kadang ada anggota group WA yang entah sengaja atau tidak membagikan informasi yang belum jelas kebenarannya. Ini sih tergantung kitanya. Jangan cepat percaya apa yang di-share. Kalau perlu kita cek atau verifikasi lagi. Jangan sampai group WA yang untuk menjalin silaturahmi dan mengembangkan networking malah jadi sarana penyebar hoax,” terang Peter.

Sebagai praktisi PR, Rizka membagi beberapa kiat agar komunikasi di group WA terbebas dari hoax. Menurutnya, sebuah group WA tetap harus mempunyai aturan. Kemudian para anggotanya juga harus bisa menahan ego masing-masing.

“Aturan paling standar misalnya No SARA, No Pornografi. Terkait penyebaran hoax, kita sebagai pengguna harus membiasakan diri untuk melakukan cek dan ricek terlebih dahulu. Jangan asal share informasi yang belum jelas. Memang dengan adanya group WA informasi dari mana pun bisa kita dapat degnan lebih cepat. Tapi tetap kita harus menyaring informasi yang layak di-share,” imbuhnya.

Aplikasi WA, kata Rizka, hanya alat. Maka penggunanya harus bijaksana. Jangan bila ada hoax, tools-nya yang disalahkan. Penggunanya lah yang memainkan peran utama, mau digunakan secara positif atau negatif.   


 
 
 
Infonitas > Feature >

Red Velvet dan Fruit Cake Bakal Jadi Tren Natal 2017

Senin, 4 Desember 2017 | 10:45 WIB

Editor : Wahyu AH

Reporter : Nurul Julaikah

Dynamic Bakery
Foto : Ferico Anaska

Momen Natal tentu selalu dihiasi dengan penganan-penganan khas. Tahun ini, Red Velvet dan Fruit Cake bakal menjadi tren Natal 2017.

KELAPA GADING - Masyarakat yang merayakan Natal tentu telah melakukan berbagai persiapan untuk menyambutnya. Ada yang telah menghias rumahnya dengan beragam aksesori bernuansa Natal, ada yang sudah menyiapkan busana, bahkan ada sudah yang sibuk menyusun daftar penganan yang akan disajikan. Tujuannya hanya satu, tampil sempurna pada hari penuh keberkahan itu.

Juli contohnya. Dia lebih memilih memprioritaskan menyusun daftar penganan terlebih dahulu dibanding harus mempersiapkan dekorasi dan busana. Sebab, hidangan yang tersaji dapat diartikan sebagai bentuk jamuan penghormatan kepada tamu. Terlebih, ketika Natal, saudara, rekan-rekan, dan para karyawannya kerap berkunjung.

Bagaimanapun, Natal adalah momen istimewa. Di setiap negara, Natal identik dengan makanan. Selalu ada menu khusus yang tersedia. “Itulah alasannya mengapa saya menganggap hidangan merupakan hal penting yang harus tersedia dan tidak boleh seadanya," jelas dia.

Hal sama diungkapkan Sendy. Setiap momen Natal, hal pertama yang harus dipersiapkan adalah hidangan.

Terutama, kata dia, untuk hidangan berat. Berdasarkan tradisi keluarga, harus didominasi dengan menu-menu khas Kalimantan Barat.

Bagi dia dan keluarga, menu-menu itu memiliki makna tersendiri. Simbol untuk mempererat tali kekeluargaan. "Kebetulan, keluarga saya memang berasal dari sana. Melalui hidangan, kita ingin menjadikan hari raya Natal sebagai ajang keakraban. Juga, pengingat kenangan. Ada kenikmatan tersendiri ketika kita bisa duduk bersama di meja makan sambil menikmati hidangan-hidangan khas tanah kelahiran," tutur dia.

Selain hidangan berat khas Kalimantan Barat, tradisi lain yang telah boleh ditinggalkan adalah menyediakan kue. Minimal harus sepuluh jenis, baik kue-kue kering, roti, maupun cake. Adapun maknanya hanya sebagai bentuk penghormatan kepada para tamu yang datang. "Untuk penganan ini, saya tidak terlalu pusing. Sebab, banyak dijual di toko-toko kue. Lazimnya, memang kita pesan. Namun, terkadang, kami sengaja membuatnya sendiri," kata warga Kelapa Kopyor, Kelapa Gading ini.

Soal penganan, Chef Ririn Marinka masih memperkirakan Red Velvet dan Fruit Cake menjadi tren Natal karena warna merah dan hijau masih identik dengan Natal tahun ini.

Sedangkan rainbow cake, Marinka memastikan tidak akan sepopuler tahun sebelumnya. Sebab, selain warna merah dan hijau, ada salju yang identik dengan hari besar umat Nasrani ini. Oleh karenanya, permintaan cookies di setiap toko roti akan mengalami peningkatan pada Desember hingga menjelang 2018.

Tentu saja, cookies dengan hiasan sugar dan cake yang menggunakan spices seperti kayu manis banyak terjual di pasaran jelang Natal ini.

“Jadi carrot cake itu masih bisa jadi tren juga. seperti yang saya sebutkan sebelumnya, fruit cake juga masih menjadi idola karena mengandung bahan rempah rempah juga,” kata dia.

Kebiasaan masyarakat Indonesia yang belum menempatkan cake and bakery sebagai makanan utama menyebabkan menu dessert ini kurang begitu populer. Namun, sejak artis-artis merintis usaha roti dalam beberapa tahun terakhir, sangat membantu cake dan bakery mengalami peningkatan yang signifikan. 

“Jadi kalau seperti Rainbow Cake atau kue artis nampaknya tidak masuk ke tren Ntal deh,” kata dia.

Resep Membuat Fruit Cake Ala Chef Ririn Marinka

Bahan :

Tepung terigu 250 gram

Baking powder 15 gram

Campuran buah kering 150 gram

Mentega 200 gram

Gula pasir 250 gram

Telur 5 butir

Cara membuat:

1. Campur mentega, gula pasir dan telur dalam satu mangkuk. Kocok merata dengan mixer hingga lembut dan gula larut.

2. Masukkan sedikit demi sedikit tepung terigu yang sudah diayak dan baking powder. Aduk merata dengan spatula.

3. Terakhir campurkan buah kering dan aduk lagi hingga merata.

4. Tuang adonan ke Loyang yang sudah diolesi dengan mentega dan ditaburi tepung terigu. Masukkan ke dalam oven dengan suhu 180 derjat Celcius kurang lebih selama 45-50 menit. Sesudah matang, angkat dan biarkan agak dingin sebelum dipotong.


 
 
 
Infonitas > Feature >

Segarnya Omzet Bisnis Smoothies di Gading Serpong

Rabu, 29 November 2017 | 13:00 WIB

Editor : Galih Pratama

Reporter : Alfriani Anisma Wibowo

Sajian smoothies yang makin digemari masyarakat Gadong Serpong.
Foto : Abdul Rahman

Bisnis smothies di kawasan Gading Serpong terus bermunculan. Omzetnya pun bisa bilang cukup besar, capai ratusan juta.

GADING SERPONG - Kini gaya hidup sehat telah menjadi tren di kalangan masyarakat Tanah Air, terutama kaum urban. Tak heran bila kesadaran akan mengonsumsi makanan dan minuman sehat pun semakin meningkat.

Salah satu jenis minuman sehat yang kini sedang naik daun adalah smoothies, yaitu minuman yang terbuat dari campuran buah, sayuran, susu cair, dan es. Tak hanya menyegarkan, minuman ini juga menyehatkan. Sehingga banyak orang yang menyukainya. Ini tentunya membuka peluang bisnis yang menggiurkan. Tengok saja di Gading Serpong, pemain bisnis ini mulai bermunculan.

Salah satunya adalah Smoothopia yang terletak di Ruko Neo Arcade, Gading Serpong. Dikatakan sang pemilik, Reonard Chandra Effendy, bisnis smoothies cukup menjanjikan di kawasan Gading Serpong. Ini tak lepas dari kesadaran masyarakat di sini akan makanan dan minuman sehat. “Tapi memang harus pelan-pelan, karena di sini belum banyak yang mengenal smoothie. Ini artinya pasar di Gading Serpong masih besar,” katanya.

Menurutnya, respons masyarakat Gading Serpong akan smoothies cukup menggembirakan. Beberapa pelanggan di sini, menganggap smoothies sebagai menu sarapan. “Buktinya, kami belum buka, tapi sudah ada pelanggan yang nunggu kami buka,” akunya.

Smoothopia menjual beragam jenis smoothie bowl dan drink. Khusus smoothie bowl ada 7 varian menu yang bisa dipilih pelanggan. Sedangkan smoothie drink ada 5 menu. “Favorit di sini smoothie bowl will you berry me? Dan man-go-loco. Uniknya, penyajian smoothie bowl di sini bisa dikreasikan berdasarkan keinginan pelanggan. Harganya berkisar 43 ribu – Rp 61 ribu,” ujarnya.

Pemain lain di bisnis ini, Pricillia Nataly yang menggeluti bisnis smoothies sejak 2016 lalu bersama rekannya Linawati dengan bendera Oranje Juicery di Ruko Golden 8, Gading Serpong. Selain smoothie bowl, tempatnya mennyajikan cold pressed juice, chia pudding dan rice bowl.

Smoothie bowl di sini disajikan menggunakan mangkok dan sendok kayu. Ada enam menu smoothie bowl ala Oranje Juicery yang bisa dipilih pelanggan. Bahkan setiap bulannya, tempat ini selalu menghadirkan menu yang berbeda. Cara tersebut, kata Pricillia dilakukan untuk mengantisipasi persaingan bisnis smoothie di Gading Serpong. “Kami terus berinovasi dan belajar melihat apa yang terbaru. Agar tidak ketinggalan dengan tren,” katanya.

Dalam sehari, Pricillia mengaku mampu menjual 30 porsi smoothie bowl. Sedangkan pelanggannya sendiri datang dari kalangan anak-anak hingga orang dewasa. “Kalau weekday biasanya ibu-ibu yang mengantar anak sekolah. Kalau weekend malah ada yang datang dari Jakata,” ungkapnya.

Sementara Port Five Six, yang terletak di kawasan Gading Serpong ini juga menyajikan menu acai bowl dan musseli bowl, yang lebih mengarah ke smoothies. Penyajian menu ini tetap menggunakan buah-buahan sega dengan tambahan granola dan madu. “Lebih banyak buah-buah segar. Ada juga musseli bowl kita menggunakan vsoy multi gran yang lebih sehat dari vsoy biasa,” ujar Silvana Maylinda, Manager Port Five Six.

Menurut Silvana, untuk peminat healthy food di kawasan Gading Serpong memang masih kurang. Sebab, kata dia, masyarakat jauh lebih memilih makanan yang bisa membuat mereka kenyang dan banyak cita rasa. Meski begitu, peluang bisnis ini tetap ada. Terbukti di tempatnya bisa mampu meraih omzet ratusan juga. “Omzet kita per bulannya capai sekitar 150 juta,” akunya.

Menjaga Kebersihan dan Kesegaran Bahan Baku

Bahan baku jadi hal penting yang harus diperhatikan dalam bisnis makanan ataupun minuman sehat. Pemain usaha ini, harus jeli memilih, menjaga kehigienisan dan kesegaran bahan baku yang akan diolah. Bisnis smoothies misalnya, bahan baku buah-buahan yang gunakan tentunya harus dijaga kesegarannya.

“Sangat penting untuk menjaga kesegaran dan kebersihan bahan baku buah-buahan. Makanya untuk penyimpanannya kita gunakan chilller. Upayakan jauh dari sinar matahari,” kata Silvina Maylinda, Manager Port Five Six, Gading Serpong. Bahkan, lanjutnya, ada beberapa buah-buahan yang memang diimpor seperti buah acai berry. Sedangkan bahan baku lain, pihaknya mengandalkan belanja di supermarket ternama. 

Tak jauh berbeda, di Oranje Juicery juga mengandalkan beberapa buah-buahan yang impor. Seperti yang diungkapkan sang pemilik Pricilla, “Untuk buah pir dan apel memang kami impor. Karena kualitasnya memang berbeda. Namun sebisa mungkin kami menggunakan produk lokal, selain mudah dijumpai, harganya juga terjangkau,” katanya.

Untuk menjaga kesegaran bahan baku buah yang digunakan di Oranje Juicery, kata Pricilla, beberapa buah disimpan di dalam frozen. “Misalnya mangga kami masukkan ke dalam frozen, bisa bertahan selama 6 bulan. Dan sejauh ini selalu habis,” katanya.

Sementara menurut Reonard Chandra Effendy, Pemilik Smoothopia, kesegaran buah jadi hal penting yang harus diperhatikan. Terlebih, menu yang disajikan di sini murni menggunakan buah-buahan saja, tanpa ada campuran lain. “Smoothie bowl yang kami sajikan memang tanpa gula, air, dan es batu, hanya mengandalkan buah yang fresh. Makanya, kesegaran buah memang harus dijaga,” katanya.

Menyebarkan Virus Healthy Food

Tak hanya semata-mata ingin mendapatkan keuntungan dari menjual produknya, para pelaku usaha bisnis smoothies juga memiliki kampanye ingin mengenalkan makanan dan minuman sehat. Mereka menyebarkan virus healthy food dengan mengedukasikan pelanggan yang datang ke tempatnya.

Seperti yang dilakukan Smoothopia. Menurut sang pemilik, Reonard Chandra Effendy, mereka selalu mengedukasikan pelanggannya perihal makanan sehat. Terlebih, kata dia banyak konsumen di Gading Serpong belum mengerti atau mengenal smoothies. “Tentunya kami edukasi pelanggan. Masih banyak yang belum mengerti akan smoothies bowl,” katanya.

Diakuinya, berkat kehadiran usahanya, respons masyarakat sangat positif. Bahkan ada sebagian pelanggan yang ketagihan smoothie bowl miliknya. “Ada yang datang coba-coba karena belum tahu, namun setelah mencoba ketagihan,” ujarnya.

Hal serupa juga dilakukan oleh Oranje Juicery. Tempat ini juga selalu mengedukasikan ke pelanggan tentang makanan dan minuman sehat yang ditawarkan. “Kalau edukasi pasti. Tapi kalau kampanye healthy food belum terlalu spesifik. Ke depannya, kami ingin lalukan kampanye healthy food agar banyak orang aware akan healthy food,” kata Pricilla Nataly, Pemilik Oranje Juicery.

Sementara Port Five Six lebih mengampanyekan healthy food melalui media sosial. Melalui media sosial seperti Instagram, jauh lebih efektif mengampanyekannya. Sekaligus untuk menggaet pelanggannya. “Sasaran kami sebenarnya anak muda dan keluarga muda. Mereka mayoritas menggunakan media sosial. Jadi cukup efektif,” kata Silvana Maylinda, Manager Port Five Six

 


 
 
 
Infonitas > Feature >

Mengintip Calon Hotel Syariah di JIC Koja

Senin, 27 November 2017 | 09:30 WIB

Editor : Nurul Julaikah

Reporter : Muhammad Azzam

Penampakan depan atau lobi calon hotel syariah
Foto : Muhammad Azzam

Mengintip Calon hotel syariah yang berdiri di sekitaran JIC Koja sejak 2015 lalu. Namun, pertama beroperasi, peruntukkannya sementara untuk wisma peserta Diklat PNS Pemprov DKI.

KOJA - Wacana pembangunan Hotel Syariah oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta muncul setelah adanya penutupan Hotel Alexis. Nantinya penginapan tersebut, bertujuan untuk mendukung wisata syariah di Jakarta.

Rencananya hotel syariah berada pada bangunan milik aset Dinas Sosial DKI di sekitar Jakarta Islamic Center (JIC) Koja, Jakarta Utara.

Pada Jumat (24/11/2017) lalu, infonitas.com mendapatkan kesempatan untuk melihat lebih dekat fasilitas bangunan yang akan menjadi hotel syariah itu. Bangunan itu terdiri dari 11 lantai dan 150 kamar dengan standar hotel pada umunya.

Pada lantai pertama, peruntukkannya untuk resepsionis, kantor managemen, ruang kontrol, ruang makan dan kantin. Lantai kedua, terdapat kantor managemen, ruang-ruang rapat maupun ruang pertemuan dan juga ruang makan. Kemudian lantai tiga hingga 10 terhampar kamar tidur dan lantai sebelas ada dua kolam renang.

Untuk fasilitas kamar tidur ada jenis twin bed dan triple bed lengkap dengan ruang tamu. Penghubung antar lantai menggunakan lift dan tangga darurat.

Menurut Kepala Sekretariat JIC Ahmad Juhandi, bangunan ini memang sudah memiliki konsep syariah terlihat dari gaya arsitekturnya, di dalam kamar terdapat arah Kiblat maupun kolam renang yang terpisah antara laki-laki dan perempuan.

Bangunan yang pengerjaannya konstruksinya mulai 2010 lalu, baru rampung pada 2013, dan mulai dimanfaatkan pada 2013 sebagai wisma untuk peserta Diklat Badan Pengembangan SDM Provinsi DKI Jakarta.

"Sementara digunakan untuk diklat PNS. Karena gedung diklat yang di Kuningan, Rasuna Said sedang dibangun. Nanti kalau gedung itu sudah rapi, selesai dibangun, PNS pindah ke sana. Nanti kabarnya akan dijadikan hotel halal atau hotel syariah," jelas Juhandi.

Meski begitu, masih ada beberapa bagian yang terlihat tidak terawat, bahkan cenderung rusak. Juhadi menyebut, tidak ada biaya perbaikan lantaran pemasukan dari wisma diklat PNS tersebut nihil.

"Kita dapat 10 Miliar rupiah itu untuk perawatan operasional dan kegiatan di Jakarta Islamic Center (JIC) secara keseluruhan, terus juga gaji-gaji para karyawan keamanan maupun kebersihan, kalau khusus untuk hotel tidak ada,"ungkapnya.

SEGERA DIOPERASIKAN

Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Anies Baswedan dan Sandiaga Uno, akan mengembangkan wisata halal atau halal tourism di berbagai wilayah di DKI Jakarta.

Rencana itu mendapat respon dan dukungan dari berbagai kalangan. Salah satunya ustad Fairuz Al-Amin, pendakwah dan juga warga Koja Jakarta Utara. Ia mendukung rencana tersebut mengingat berbagai negara telah menerapkan dan mengembangkan konsep wisata halal.

"Negara yang mayoritas non muslim saja mereka giat menerapkan wisata halal masa kita sebagai mayoritas muslim tempat wisatanya jauh dari konsep syariah. Ya semoga cepat dikembangkan khususnya di hotel syariah di JIC ini,"ungkapnya.

Sementara Ahmadkhudaibi (30), warga Jakarta Utara yang rutin berkunjung ke JIC, mendukung rencana pembangunan atau penerapan hotel syariah di wisma JIC itu.

"Ya jadinya lengkap JIC sebagai pusat kajian dan kebudayaan Islam kalau ada hotel syariah nya jadi ketika ada acara mereka bisa menginap di hotel itu, jadi jadi sebagai wisata halal wisata rohani gitu. Semoga cepat terealisasi,"tutupnya.


 
 
 
Infonitas > Feature >

Pasar Tanah Abang, Dari Preman Pasar hingga Kontes Pakaian

Jumat, 24 November 2017 | 18:00 WIB

Editor : Muhamad Ibrahim

Reporter : Chandra Purnama

Kondisi semrawutnya Pasar Tanah Abang
Foto : Chandra Purnama

Pasar Tanah Abang menjadi tempat mencari mencari makan. Di sana, banyak terdapat preman pasar hingga kontes pakaian.

JAKARTA - Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat menjadi destinasi belanja pakaian yang sudah tersohor dipelosok Ibu Kota. Namun, siapa sangka, dibalik ramainya pertemuan antara penjual dan pembeli ada kisah pelik yang harus diatasi aparat kepolisian dan pemerintah setempat.

Seperti yang diungkapkan Anton, bukan nama sebenarnya, pria asal Cilegon, Banten tersebut sudah berjualan di Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat sejak tahun 2009 memiliki cerita sendiri dalam berjualan. Seperti cerita 'jatah preman' yang wajib dibayarkan pada awal bulan.

Anton bercerita, sejak tahun 2009, jumlah uang yang wajib dibayarkan terus naik. Awalnya, dia hanya membayarkan sebesar Rp 5 ribu pada tahun tersebut. Tapi pada 2017 ini, besaran uang yang harus dikeluarkan mencapai Rp 20 ribu hingga Rp 50 ribu perbulannya. Tergantung dari besar lapak jualannya.

"Beda-beda bayarnya, kalau saya kena Rp 35 ribu," cerita Anton yang memiliki lapak jualan baju anak-anak di Blok A Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat saat Infonitas.com berkunjung, Jumat (24/11/2017).

Berbanding terbalik dengan penjual makanan, Anton menambahkan, ada jatah makan perhari yang harus diberikan kepada para penguasa Pasar Tanah Abang. 

"Kalau teman saya yang jualan makanan, tiap hari pasti kena satu atau dua piring makanan buat ngasih preman Pasar Tanah Abang," bebernya.

Trotoar Jadi Ajang Kontes Jualan Pakaian

Selain sisi kelam para penguasa Pasar Tanah Abang, ternyata baru-baru ini para pedagang kembali nekat berjualan ditrotoar. Bahkan, trotoar di sana dijadikan ajang kontes pakaian yang dijual oleh para pedagang.

Pantauan Infonitas.com di Pasar Tanah Abang, meskipun Satpol PP berkeliaran dikawasan tersebut, nampaknya tidak berpengaruh dengan ketertiban trotoar. Bahkan, ada yang terang-terangan menggunakan trotoar untuk ajang jualan meskipun lokasi pos pengawasan Satpol PP tepat disebrangnya.

Seperti yang diungkapkan Tarno, bukan nama sebenarnya, dirinya mulai kembali berani memajang barang dagangannya ditrotar selepas Operasi Bulan Tertib Trotoar. Bahkan dia tidak segan-segan mengambil lahan pejalan kaki agar dagangannya bisa diperjualbelikan.

"Habis mau gimana lagi, udah kebiasaan disini," jelas Tarno.

Memang, pemandangan trotoar di Pasar Tanah Abang sudah lazim dengan pelanggaran. Padahal, dalam UU No 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (UU LLAJ) Pasal 275 ayat (1) jo pasal 28 ayat (2) dijelaskan tentang fungsi trotoar.

Bukan hanya itu, dalam Undang-undang Nomor 38 Tahun 2004 serta Peraturan Pemerintah Nomor 34 Tahun 2006 tentang Jalan dijelaskan juga besaran denda bagi para pelanggar fungsi trotoar.