Infonitas > Feature >

Pemandangan Calon Danau Jenewa dari Jakarta Utara

Kamis, 7 Desember 2017 | 14:30 WIB

Editor : Nurul Julaikah

Reporter : R Maulana Yusuf

Danau Sunter
Foto : R Maulana Yusuf

Danau Sunter yang berada di Kecamatan Tanjung Priok, Jakarta Utara sebagai calon Jenewa-nya Indonesia terlihat pemandangan sampah berserakan.

TANJUNGPRIOK - Danau Sunter yang berada di kecamatan Tanjung Priok, Jakarta Utara belakangan ini menjadi perbincangan hangat. Ini semua lantaran Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti menantang Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menyulap Danau Sunter seindah danau di Jenewa, Swiss.

Letak Danau Sunter berada di Jalan Sunter Selatan dan Jalan Danau Permai Timur. Dalam sehari-hari, biasanya kebanyakan masyarakat menghabis kegiatan di Jalan danau sunter selatan dengan memancing.  Bukan hanya itu saja, para pengendara yang mayoritas driver ojek online kerap berteduh untuk istrirahat di pinggir danau.

Keramaian itu, dimanfaarkan oleh Pedagang Kaki Lima (PKL) untuk menjajakan dagangan mereka yang berupa makanan dan minuman.

Pada Rabu (7/12/2017) Sore, infonitas.com  menyambangi salah satu lokasi wisata di Jakarta Utara terlihat hamparan sampah yang bertebaran di pinggir danau. Hal ini, masih membuktikan kurangnya kesadaran masyarakat akan kebersihan lingkungan. Padahal, Peraturan Daerah nomor 3 Tahun 2013 telah melarang membuang sampah di sungai/kali/kanal,waduk,situ, saluran air limbah, jalan, taman atau tempat umum dan apabila dilanggar akan dikenakan sanksi denda sebesar Rp 500 ribu.

Belum lagi, minim tempat pembuangan sampah di sisi kanan kiri danau. Hal ini menyebabkan, warga dan pedagang untuk membuang sampah sembarangan di sekitar danau.

Seperti yang diungkapkan Ali, pedagang minuman yang sehari-hari berjualan di area danau sunter selatan, menurutnya tak adanya tempat sampah menjadi salah satu faktor para pengunjung danau membuang sampah sembarangan.

"Disini tak ada tempat sampah mas, banyak warga yang bawa bekal makanan dan makan disini lalu sampahnya dibuang saja di pinggir danau,"ungkapnya.

Selain itu, kata Ali,  banyak juga para pedagang kaki lima yang tidak menyiapkan wadah sampah untuk dagangannya terutama pada malam hari. "Banyak para pedagang nakal tidak menyiapkan tempat sampah dan asal buang saja apalagi kalau malam,"tambahnya.

Tak Ada Jaminan Keamanan Tempat Sampah

Sementara itu,  Kepala Suku Dinas lingkungan Hidup Jakarta Utara Slamet Riyadi memiliki alasan tersendiri mengapa tidak menyiapkan tempat sampah di sepanjang  Danau Sunter yang berada disisi Jalan Danau Sunter Selatan. Menurutnya tidak ada jaminan keamanan jika ditaruh tempat sampah dilokasi tersebut, dikhawatirkan jika ditaruh maka akan hilang diambil pemulung.

Selain itu para petugas kebersihan rutin setiap pagi membersihkan sampah yang ada di jalan tersebut. "Setiap hari sekitar pukul 07.00 WIB ada 5 petugas membersihkan dan mengangkut sampah yang ada di lokasi, rata-rata setiap hari bisa mengakut 2 meter kubik sampah  yang terdiri dari sampah bekas para pedagang seperti botol, plastik kemasan dan lainnya,"kata slamet saat dihubungi infonitas.com.

Hingga berita ini diturunkan, pada hari ini atau pagi tadi, petugas Sudin Lingkungan Hidup Jakarta Utara berbondong-bondong memasang tempat sampah.

Pemandangan di sisi Jalan Danau Permai Timur Lebih Tertata

Pemandangan berbeda terlihat  di sisi Jalan Danau Permai Timur yang lebih tertata rapi. Terdapat warung- warung seafood, warung makan dan pedagang kelapa muda yang bisa dinikmati sambil melihat pemandangan danau. Perahu bebek dan jetski juga disediakan bagi mereka yang mau mengelilingi danau. Di dekat danau juga terdapat apartemen, hotel dan gelanggang olahraga

Kebersihan di Jalan Danau Permai Timur lebih terjaga, meski tak terlihat adanya tempat sampah yang disediakan tetapi para pedagang selalu membersihkan area yang dikelola oleh Koperasi Pembina Profesi dan Olahraga Perairan (KPPOP) sejak tahun 2014.

"Selalu dibersihkan mas agar pengunjung nyaman dan sampahnya dimasukan wadah plastik, besok pagi diangkut petugas kebersihan,"kata Imron, salah satu pedangang.

Pemandangan tak kalah indah juga terlihat di waduk Sunter barat yang tidak jauh lokasinya dari danau Sunter.  Pantauan dilokasi, terlihat lebih rapi karena sudah dipasangi sheet pile, nyaris tidak ada sampah yang menonjol dan terlihat oleh mata. trotoar dibuat lebih lebar dan tersedia jalur hijau bagi pesepeda.Bangku di sepanjang jalan dipayungi pepohonan bisa menjadi alternatif untuk sekadar bersantai.

Pasukan oranye dari Unit Pengelola Kebersihan (UPK) Badan Air Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Sesekali terlihat membersihkan Waduk. Area Waduk terlihat minim sampah. Namun airnya masih hijau pekat.

Kepala Suku Dinas lingkungan Hidup Jakarta Utara, Slamet Riyadi mendukung ide Menteri Susi untuk mempercantik Danau Sunter sehingga menjadi seperti danau di Jenewa. "Hal tersebut bisa dilakukan atas kerjasama seluruh stakeholder dan juga masyarakat,"tutupnya.


 
 
 
Infonitas > Feature >

Mengintip Calon Hotel Syariah di JIC Koja

Senin, 27 November 2017 | 09:30 WIB

Editor : Nurul Julaikah

Reporter : Muhammad Azzam

Penampakan depan atau lobi calon hotel syariah
Foto : Muhammad Azzam

Mengintip Calon hotel syariah yang berdiri di sekitaran JIC Koja sejak 2015 lalu. Namun, pertama beroperasi, peruntukkannya sementara untuk wisma peserta Diklat PNS Pemprov DKI.

KOJA - Wacana pembangunan Hotel Syariah oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta muncul setelah adanya penutupan Hotel Alexis. Nantinya penginapan tersebut, bertujuan untuk mendukung wisata syariah di Jakarta.

Rencananya hotel syariah berada pada bangunan milik aset Dinas Sosial DKI di sekitar Jakarta Islamic Center (JIC) Koja, Jakarta Utara.

Pada Jumat (24/11/2017) lalu, infonitas.com mendapatkan kesempatan untuk melihat lebih dekat fasilitas bangunan yang akan menjadi hotel syariah itu. Bangunan itu terdiri dari 11 lantai dan 150 kamar dengan standar hotel pada umunya.

Pada lantai pertama, peruntukkannya untuk resepsionis, kantor managemen, ruang kontrol, ruang makan dan kantin. Lantai kedua, terdapat kantor managemen, ruang-ruang rapat maupun ruang pertemuan dan juga ruang makan. Kemudian lantai tiga hingga 10 terhampar kamar tidur dan lantai sebelas ada dua kolam renang.

Untuk fasilitas kamar tidur ada jenis twin bed dan triple bed lengkap dengan ruang tamu. Penghubung antar lantai menggunakan lift dan tangga darurat.

Menurut Kepala Sekretariat JIC Ahmad Juhandi, bangunan ini memang sudah memiliki konsep syariah terlihat dari gaya arsitekturnya, di dalam kamar terdapat arah Kiblat maupun kolam renang yang terpisah antara laki-laki dan perempuan.

Bangunan yang pengerjaannya konstruksinya mulai 2010 lalu, baru rampung pada 2013, dan mulai dimanfaatkan pada 2013 sebagai wisma untuk peserta Diklat Badan Pengembangan SDM Provinsi DKI Jakarta.

"Sementara digunakan untuk diklat PNS. Karena gedung diklat yang di Kuningan, Rasuna Said sedang dibangun. Nanti kalau gedung itu sudah rapi, selesai dibangun, PNS pindah ke sana. Nanti kabarnya akan dijadikan hotel halal atau hotel syariah," jelas Juhandi.

Meski begitu, masih ada beberapa bagian yang terlihat tidak terawat, bahkan cenderung rusak. Juhadi menyebut, tidak ada biaya perbaikan lantaran pemasukan dari wisma diklat PNS tersebut nihil.

"Kita dapat 10 Miliar rupiah itu untuk perawatan operasional dan kegiatan di Jakarta Islamic Center (JIC) secara keseluruhan, terus juga gaji-gaji para karyawan keamanan maupun kebersihan, kalau khusus untuk hotel tidak ada,"ungkapnya.

SEGERA DIOPERASIKAN

Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Anies Baswedan dan Sandiaga Uno, akan mengembangkan wisata halal atau halal tourism di berbagai wilayah di DKI Jakarta.

Rencana itu mendapat respon dan dukungan dari berbagai kalangan. Salah satunya ustad Fairuz Al-Amin, pendakwah dan juga warga Koja Jakarta Utara. Ia mendukung rencana tersebut mengingat berbagai negara telah menerapkan dan mengembangkan konsep wisata halal.

"Negara yang mayoritas non muslim saja mereka giat menerapkan wisata halal masa kita sebagai mayoritas muslim tempat wisatanya jauh dari konsep syariah. Ya semoga cepat dikembangkan khususnya di hotel syariah di JIC ini,"ungkapnya.

Sementara Ahmadkhudaibi (30), warga Jakarta Utara yang rutin berkunjung ke JIC, mendukung rencana pembangunan atau penerapan hotel syariah di wisma JIC itu.

"Ya jadinya lengkap JIC sebagai pusat kajian dan kebudayaan Islam kalau ada hotel syariah nya jadi ketika ada acara mereka bisa menginap di hotel itu, jadi jadi sebagai wisata halal wisata rohani gitu. Semoga cepat terealisasi,"tutupnya.


 
 
 
Infonitas > Feature >

Kepuasan Konsumen Motto Utama Penyedia Jasa Desain Interior

Rabu, 8 November 2017 | 15:00 WIB

Editor : Nurul Julaikah

Reporter : Muhammad Azzam

Konsep desain dari Cipta Graha
Foto : istimewa

Pelaku usaha penyedia jasa desain interior di kawasan Kelapa Gading dan Sunter lebih mengutamakan kepuasan konsumen. Caranya, mengikuti segala permintaan klien dengan rutin menjalin komunikasi pada setiap detail pengerjaan.

KELAPA GADING - Perkembangan desain interior memang tak akan berhenti sampai disini. Tren desain interior akan selalu melahirkan sesuatu yang baru dan segar. Juga tak dapat dipungkiri bahwa tren desain interior yang lebih ramah lingkungan akan terus mendominasi hingga waktu yang sangat lama. Lantas bagaimana dengan perusahaan yang menyediakan jasa desain interior di Kelapa Gading dan Sunter.

Cipta Graha

Cipta Graha perusahaan yang bergerak di bidang arsitektur, desain interior, dan pembangunan selalu ingin memberikan kepuasan kepada klien saat menggunakan jasanya. Selalu memberikan desain yang eksklusif dengan bangunan berkualitas dan harga yang pantas, menjadi sebuah komitmen sang pemilik Cipta Graha Bambang Ekajaya.

Agar hasil sesuai selera dan diharapakan klien, maka dibutuhkan komunikasi yang baik. Terkadang interpretasi orang berbeda terkait bentuk desain. Terlebih ada klien belum tahu wujudnya seperti apa, hanya bayang-bayang. Untuk itu, tugas penyedia jasa desain interior adalah menjelaskan komposisi desain dengan detail agar klien tidak memahaminya sepotong-potong.

Toh pada akhirnya klien kan melihat hasil akhir desain itu sendiri," kata ungkap pria yang aktif selama 21 tahun di Perusahaan Persatuan REI DKI Jakarta.

Sebagai penyedia jasa desain interior wajib memberikan kepuasan kepada konsumen. Yakni memberikan hasil desain dari setiap pengerjaannya dengan detail. Sehingga tidak sekadar dibangun tetapi memperhatikan proporsi, komposisi, keseimbangan dan kesatuan secara rinci, serta memiliki keindahan. Tentu saja kualitas yang baik dan harga pantas. Komitmen kepada klien dan kepemilikan modal yang cukup.

Tantangan penyedia jasa desain interior ke depan lebih besar. Yakni mengembangkan bisnis serta menghadapi persaingan. Pastikan pengetahuan dan skill tentang bisnis desain interior agar tidak terlindas oleh para pesaing.

Alucraf Architectural Product

Sopheline Suparman, owner Alucraf Architectural Product mengatakan, masyarakat sudah meninggalkan kayu dan besi untuk bahan eksterior dan interior pada rumah mereka. Hampir 90 persen masyarakat beralih menggunakan bahan alumunium untuk rumahnya. Sejak awal hadir pada 2010, minat masyarakat semakin tinggi menggunakan alumunium sebagai bahan eksterior dan interior. Seperti kusen pintu, jendela, pintu panel, atap buka tutup, swing jungkit, pagar, dan lainnya. Untuk harga memang terbilang lebih mahal dari pada besi maupun kayu tapi kalau dilihat untuk jangka panjang, tentunya aluminium akan terasa lebih murah.

“Kalau kayu sulit mendapatkannya, cepat rusak juga. Karena rayap. Besi pun demikian, cepat keropos, karatan, dan catnya mudah kusam. Beda dengan alumunium. Kuat, tahan lama, tidak keropos ataupun catnya pudar. Bisa dibilang no maintenance. Bisa awet selamanya. Bahkan, kalau pindahan pun masih bisa dipakai. Tinggal cabut, lalu pasang lagi,” ungkap pemilik perusahaan yang bergerak di bidang produksi, penjualan, dan pemasangan alumunium ini.

Perusahan yang berdiri sejak 2010 dan bergerak di bidang produksi, penjualan, dan pemasangan alumunium. Fokus market pada penjualan bahan alumunium untuk keperluan eksterior maupun interior. Seperti kusen pintu, jendela, pintu panel, swing jungkit dan pagar.

H’afele Indotama

H’afele Indotama, perusahaan penyedia jasa interior di kawasan Sunter ini merupakan pelopor dalam dunia furnitur teknologi. Mengedepankan riset bidang teknologi furniture, sehingga setiap meter persegi dari ruang yang tersedia dapat mereprentasikan inovasi dan teknologi kualitas Jerman. Managing Director H'afele lndotama Roland Poehlmann mengatakan, Hafele hadir di Indonesia sejak 1995 dan dikenal oleh para desain interior, perusahaan furnitur hingga dealer. Fokus sales di tahap awal kepada toko retail, produsen furniture hingga pengelola hotel dan apartemen.

“Selama ini kami mendukung industri furnitur lokal hingga mampu menghasilkan produk kualitas premium dan mampu bersaing di pasar global,” kata Roland.

Salah satu teknologi yang paling ditonjolkan adalah sistem laci berkualitas premium yang dirancang khusus, NovaPro Scala. Berbagai desain disesuaikan dengan keinginan pengguna. Ragam pilihan yang diberikan Scala menawarkan solusi yang sederhana dan dapat digunakan dalam waktu yang lama. Hafele  memberikan solusi untuk ruang terbatas dengan fungsi maksimalis. Desain ruangan tetap nyaman, terasa lega, tampil chic, dengan memanfaatkan seoptimal mungkin fungsi dari tiap furnitur. Dengan slogan ‘More life per m2’, menawarkan solusi furnitur untuk rumah tangga abad ke-21. 


 
 
 
Infonitas > Feature >

Mengintip Tren Desain Interior 2018

Rabu, 8 November 2017 | 13:45 WIB

Editor : Nurul Julaikah

Reporter : R Maulana Yusuf

Desain Interior PT Cipta Graha (Ist)
Foto : istimewa

Desain interior pada 2018 masih akan berlaku konsep gaya minimalis. Namun, gaya america classic bakal mewarnai market pada tahun depan.

KELAPA GADING - Bangunan tempat tinggal tanpa penerapan detail interior, seakan kurang nyaman dihuni. Pada saat ini, masyarakat mulai sadar tentang pentingnya desain interior. Lantaran memiliki beragam manfaat. Seperti tampilan rumah terlihat fungsional dan tertata rapi. Kemudian, menambah rasa nyaman dan memberikan kesan positif pada setiap tamu. Serta, nilai jual dari rumah akan meningkat.

Pada 2017 komposisi tren interior 60% didominasi oleh Neo Classic dan 40% minimalis. Neo classic merupakan perubahan dari classic yang banyak ukiran dan warna lebih berani. Seperti emas menuju modifikasi arsitektur dan ornamen yang lebih simpel serta warna lebih kalem.

Dikutip dari hsbc.co.id, prediksi tren 2018 untuk desain interior akan mengarah ke rumah lengkap dengan home appliances yang bisa bekerja otomatis menyesuaikan kebutuhan. Misalnya, lampu otomatis yang diatur agar menyala perlahan untuk memastikan bangun pada waktu yang ditentukan,  hingga peralatan dapur yang saling terhubung dan dapat diatur melalui smartphone.

Kemudian, dari sisi dapur ada sentuhan elegan melalui warna hitam. Tak hanya pada rak dan meja, namun juga hitam metalik pada wastafel. Marmer sebagai penutup meja juga kembali hadir. Namun marmer menggunakan warna gelap dan tipis untuk memmberi kesan trendi dan modern pada dapur.

Tren warna interior di tahun 2018 akan didominasi warna-warni terang dengan kilau lembut dan cat jenis satin atau sheer. Beberapa warna yang diprediksi akan mendominasi interior adalah warna-warna alam seperti biru telur asin, ungu berry, kuning dan hijau limau, coklat muda almond, warna tanah, serta warna metalik, gemstone, dan emas.

Menurut salah satu penyedia jasa desain interior Elle Dacor, ada tiga motif wallpaper yang akan trend di 2018. Pertama, Pattern Clash, menggabungkan beragam pola dan warna dengan kontras dalam satu wallpaper. Kedua, Geometrics atau pola persegi empat dan persegi banyak, dan terakhir Art Forms, mencetak lukisan dan menjadikannya wallpaper. Seru kan, dinding rumahmu pun jadi seperti kanvas lukisan raksasa.

Furnitur era 1950an akan kembali ngetren pada tahun depan. Selamat tinggal furnitur minimalis bersudut khas Skandinavia. Milan Furniture Fair 2017 memprediksi gaya dekade 1950an akan hadir di tahun 2018, salah satunya lewat sofa panjang yang tebal dengan bentuk meliuk. Untuk pelapis sofa, materi beludru atau suede akan kembali, menggantikan pelapis linen atau kulit.

Sementara, Timothy Purnomo, Manajer Pemasaran Hafele Indotama mengatakan, 2018 tren desain interior akan mengarah ke American Classic. Ini sebagai bentuk transformasi dari Neo Classic. Banyak rumah di Amerika didominasi dari kayu dan batu serta permainan bahan kain pada gorden. Untuk warna menggunakan american classic, yakni agak sedikit lebih gelap seperti cokelat. 

“American classic ialah hampir sama dengan neo Classic hanya menggunakan budaya Amerika,” kata Timothy.

Berbeda halnya dengan Bambang Ekajaya. Pemilik Cipta Graha ini mengatakan tren 2018 akan tetap sama dengan tahun ini, yaitu minimalis. Sebab, konsep minimalis sejak 2005 hingga sekarang terus eksis. Tetapi desain minimalis tiap tahunnya berubah-ubah, lebih kreatif, dan banyak variasi.

Alasan masyarakat memilih desain rumah minimalis daripada gaya arsitektur lain, lantaran model rumah dengan gaya ini bisa membantu penghuni mendapatkan hasil yang maksimal dengan dana yang terbatas. Namun, model desain lainnya tidak menutup kemungkinan tetap menjadi pilihan masyarakat. Sebab, market untuk gaya Klasik, Kubisme, maupun Mediterania masih ada.

“Tetapi semua tren itu bebas si tergantung pemilik rumah, ditambah saat ini keterbukaan informasi semua tren dunia akan terbaca dan tren arsitektur dunia pun demikan, memang untuk saat ini tren masih Minimalis yang lebih ke arah modern," jelas Bambang.


 
 
 
Infonitas > Feature >

Berselancar di Pasar Pemukiman Elite Jakarta Utara

Senin, 25 Sepember 2017 | 15:30 WIB

Editor : Nurul Julaikah

Reporter : Nurul Julaikah

Mau belanja buah atau sayur mayur atau daging segar? Atau sekadar nyari kuliner atau tempat ini bisa juga untuk hangout bareng keluarga. Ya, di sini, di Fresh Market di PIK, Jakarta Utara
Foto : Nurul Julaikah

Jalan-jalan ke Pantai Indah Kapuk atau kawasan yang terkenal dengan pemukiman elite di Jakarta Utara tentu tak afdol jika tak melihat pasar modern Fresh Market.

PENJARINGAN - Pantai Indah Kapuk atau lebih enak dilafalkan dengan kata PIK, kawasan kota mandiri di pesisir utara Jakarta. Kawasan pemukiman elite ini, merupakan hasil reklamasi pulau pada 1992 lalu oleh pegembang kenamaan Agung Sedayu Group.

Berada di Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara, jika masuk ke PIK maka jangan terkejut dengan pemandangan berbagai jenis rumah dengan konsep mediterania. Deretan tempat kuliner dari menu nusantara hingga western tumplek blek di sini.

Hiburan pun demikian. Pusat perbelanjaan yang lokasinya berhadapan dengan sebuah sekolah yayasan Budha Tzu Chi berdiri megah. Mal tersebut tak pernah sepi pengunjung karena berbagai event kerap terselenggara di sini, salah satunya Taste of The World yang berlangsung 21 September hingga 1 Oktober.

Lantas bagaimana dengan kebiasaan warga setempat yang mayoritas keturunan Tionghoa dan memiliki kantong tebal atau bisa dibilang tingkat ekonomi berlebih. Untuk belanja kebutuhan sehari-hari, kenyataannya Fresh Market, pasar tradisional yang berkonsep modern ala mal menjadi pilihan mereka.

Harga lebih terjangkau dan barang-barang selalu segar menjadi alasan mereka belanja di Pasar yang lokasinya tak jauh dari Taman Wisata Hutan Mangrove. Seperti Tasya (22), gadis yang ditemui infonitas.com di salah satu kios pedagang buah ini sejak awal tinggal di PIK lebih memilih belanja kebutuhan sehari-hari di sini.

"Dari dulu saya sama mama kalau belanja ke sini. Harga lebih murah dan serba fresh," ujar Tasya, Minggu (24/9/2017).

Tasya yang masih menempuh pendidikan di salah satu Perguruan Tinggi (PT) ternama di Ibu Kota ini terlihat sedang memilih buah pisang. Sedangkan, sang ibunda sedang memilah buah jeruk yang akan ditimbang oleh pedagang.

Kemarin, aktivitas jual beli di sini tidak begitu ramai karena waktu sudah menunjukkan pukul 13.00 WIB. Jam operasional di pasar ini mulai dari 06.00-14.00 WIB.

Ada tiga lantai di bangunan yang luasnya hampir mirip pusat perbelanjaan. Di lantai dasar akan dijumpai kios basah untuk jualan ikan segar atau aneka hasil laut, daging segar dan ayam potong. Kios pedagang hasil laut dengan daging serta ayam terpisah atau di dalam ruangan yang saling berhadap-hadapan.

Untuk lantai dua di sebelah barat terdapat kios para pedagang buah, dan sebelah timur ada penjual sayur mayur serta sembako. Sementara, di lantai tiga terhampar aneka sajian makanan dan minuman siap saji atau biasa disebut dengan food court.

Harga Barang Dagangan

Terkait harga jual barang dagangan di Fresh Market tidak jauh berbeda dengan pasar tradisional, bisa dikatakan kompetitif. Seperti buah, pisang satu sisir dijual dengan harga rata-rata Rp 5 ribu hingga Rp 15 ribu atau tergantung jenisnya, baik lokal maupun impor.

Sayur mayur pun demikian. Satu ikat sawi hijau dijual dengan harga Rp 2 ribu tetapi jika beli  tiga ikat maka cukup membayar Rp 5 ribu. Bawang putih juga sama, Rp 35 ribu per kilogram.

Namun, resiko berdagang sayur mayur lebih terhadap ketahanan dari barang. Dalam sehari, jika barang tidak laku maka penjual harus memilah-milah kembali mana yang layu dan masih segar. Bahkan, kalau tak layak jual, maka pedagang tak segan-segan membuangnya ke tempat sampah.

"Pembeli di sini kalau enggak seger itu enggak mau beli, apalagi kalau kita jual mahal beda seratus rupiah saja, bisa lari ke supermarket. Jadi ya gini, kita harus pilah-pilah lagi. Paling kalau enggak laku ya kita akalin masukin ke box trs dikasih es batu," kata Tisna, pria asal Bogor yang sehari-hari berjualan sayur mayur.

Bagaimana dengan telur. Untuk lauk pauk nabati ini, per kilogram Rp 23 ribu. Berbeda halnya dengan hasil laut, salah seorang pedagang sebut saja Hari mengaku menjual lebih mahal daripada pasar tradisional. Misal ikan segar bisa dipatok harga lebih tinggi Rp 10 ribu dari harga jual di pasar tradisional.

"Kita jual lebih mahal, karena ikan kita segar, langsung diambil dari tempat pelelangan ikan di Muara Angke. Jadi ikan enggak sampai berhari-hari," ucap Hari.

Naik ke lantai atas atau tiga, akan terlihat seabreg penjual makanan dan minuman. Sajian menu nusantara dan western pun tersedia di sini.

Khusus lantai ini, pemimpin Ibu Kota terpilih Anies Baswedan pernah melakukan kunjungan untuk kegiatan kampanye pada beberapa bulan lalu, tepatnya di kedai kopi Bahagia. Sayang sekali, saat infonitas ke sana, kios sudah tutup.

Bukan hanya food court. Di sini juga ada tempat perawatan bulu mata dan tato. Letaknya berada di tengah atau antara penjual minuman dan makanan. Kemarin siang, ada beberapa orang yang menikmati seni rajah dan extention eyelash.

Menurut salah satu pekerja di rumah makan Manado, Harti ada salah satu stan makanan Sedap Malam kerap dikunjungi oleh salah seorang pelawak kenamaan Azis Gagap.

"Di sini ramainya pagi kalau Sabtu Minggu. Hari-hari biasa paling jam makan siang. Biasanya karyawan kantor sekitar sini yang makan di sini," terang wanita asal Banjarnegara, Jawa Tengah ini.

Kondisi di pasar ini super bersih, ada puluhan petugas kebersihan yang rajin membersihkan area pasar dari lantai satu hingga tiga setiap harinya. Keamanan pun, ada petugas keamanan atau satpam yang bertugas di setiap lantai.

Ada tangga berjalan atau eskalator yang menghubungkan antara lantai satu ke lantai lainnya. Lift pun juga tersedia di sini, bagi orang penyandang disabilitas.

Di bawah atau basement ada parkiran untuk kendaraan roda dua dan roda empat. Seperti biasa, area parkiran juga berlaku layaknya mal, mesin parkir meteran dan dikenakan tarif per jamnya.

Untuk sampai ke sini, tak perlu khawatir. Sebab, ada berbagai sarana transportasi umum yang menjangkau Fresh Market. Seperti Transjakarta koridor Monas-PIK yang turun langsung depan pasar ini. Kemudian Angkot KWK Muara Barau-Muara Angke juga melewati pasar modern ini. Atau tidak ingin bersusah payah, bawa kendaraan bermotor sendiri. Selain bisa berbelanja juga dapat menikmati aneka hiburan di PIK, misal Wisata Hutan Mangrove yang lokasinya cukup dekat atau jarak tempuh hanya sekira 10 menit.


 
 
 
Infonitas > Feature >

Kerja Keras dan Kesabaran yang Terbalut Seragam Oranye

Jumat, 21 Juli 2017 | 16:45 WIB

Editor : Ivan

Reporter : Muhammad Azzam

Petugas PPSU
Foto : Muhammad Azzam

Salah seorang pasukan oranye bilang, menjadi petugas PPSU bukan hanya soal kerja keras, melainkan kesabaran serta keikhlasan.

KELAPA GADING - Pagi belum lama datang. Namun, Sarkam (35) sudah siap dan bergegas keluar rumahnya. Berbekal sapu lidi dengan gagang tongkat, serokan, serta kantong plastik sampah di tangan, pria berbalut seragam oranye itu kemudian menyisir jalan dan saluran air yang ada di wilayah Kelurahan Pegangsaan Dua, Kecamatan Kelapa Gading, Jakarta Utara.

Sarkam tidak sendiri, ia bekerja bersama 62 rekannya di wilayah tersebut. Warga sekitar pun mengenal Sarkam dan kelompoknya sebagai Pasukan Oranye, atau petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU).

Ya, menjadi anggota PPSU adalah pekerjaan yang dilakoni Sarkam sejak Juli 2015. Pekerjaan ini selalu memaksanya bangun lebih pagi dari biasanya. Sebab sebagai koordinator petugas PPSU, ia harus memastikan 'wilayah kekuasaannya' sedap dipandang sejak mentari mulai menyinari kawasan Pegangsaan Dua.

Dalam bekerja, Sarkam dan pasukannya tidak hanya mengumpulkan sampah yang berserakan di jalan, tapi juga membersihkan sampah yang menghalangi laju air di selokan. Ini luar biasa, mengingat saat ini tidak semua orang mau bekerja 'dekat' dengan sampah. Karena hal ini pula, Sarkam menganggap pekerjaannya bukan sebuah beban, melainkan tugas mulia yang harus dijalani dengan ikhlas dan penuh tanggung jawab.

"Nggak gampang jadi petugas PPSU. Nggak cuma tenaga, tapi pikiran dan hati juga dipakai," ujarnya saat berbincang dengan Infonitas.com di sela-sela waktu istirahatnya, Jumat (21/7/2017).

Sarkam mengaku, butuh kerja keras untuk membuat kawasan Pegangsaan Dua selalu terlihat bersih setiap saat. Sebab, wilayah ini termasuk kawasan padat penduduk. Terlebih, kata Sarkam, sebagian warga di kawasan ini masih memiliki kesadaran yang minim terhadap kebersihan lingkungan.

“Pekerjaan ini bukan Cuma soal tenaga, tapi juga kesabaran. Sering kami terjun ke selokan demi mengambil sampah yang tersangkut, atau naik tembok karena letak selokan yang penuh sampah itu ada di belakang bangunan. Terlebih, masih ada saja warga yang sengaja menumpukkan sampahnya dipinggir jalan, selokan, atau tembok rumah, tidak membuang pada tempatnya. Jadi bau tidak sedap juga seolah sudah jadi 'sarapan pagi’ buat kami,” beber Sarkam.

Dari pengalamannya itu, terselip harapan agar warga Pegangsaan Dua semakin sadar dan ikut ambil bagian dalam menjaga kebersihan lingkungan. Ia juga ingin agar warga tidak hanya mengandalkan petugas kebersihan yang kerap dipandang sebelah mata.

"Buang sampah di tempat yang sudah disediakan. Janganlah lempar sampah ke selokan sebab bikin susah kami. Kan itu juga sebab utama banjir, karena aliran air tersumbat," pungkasnya.


 
 
 
Infonitas > Feature >

Kebangkitan Pemuda RW 02 Pegangsaan Dua

Rabu, 19 Juli 2017 | 14:00 WIB

Editor : Ivan

Reporter : Muhammad Azzam

Pemuda yang merupakan anggota Karang Taruna RW 02 Pegangsaan Dua saat menghias tembok di wilayahnya.
Foto : Muhammad Azzam

Perhimpunan pemuda atau Karang Taruna RW 02 Kelurahan Pegangsaan Dua bangkit dari tidur panjang. Beragam kegiatan pun siap digelar.

KELAPA GADING - Mulanya ini adalah pertanyaan pribadi, 'bagaimana cara membangunkan Karang Taruna di RW 02 Kelurahan Pegangsaan Dua?’. Pertanyaan itu terlontar karena perhimpunan pemuda di RW tersebut telah lama koma.

Pertanyaan tersebut terus bergulir dari mulut ke mulut. Mengarungi waktu hingga tanpa sadar telah tertanam di benak setiap pemuda yang ada di sana. Akhirnya, tiba masa di mana pertanyaan itu berubah menjadi pembahasan umum yang diperbincangkan oleh para pemuda, beserta para tokoh dan pengurus RT/RW di RW 02 Pegangsaan Dua.

“Dalam salah satu perbincangan yang dilakukan, kami para pemuda mengaku tetap bertahan. Bahkan kami memiliki keinginan untuk lebih mengaktifkan karang taruna.  Namun, kita terkendala banyak hal. Mulai dari kurangnya partisipasi anak muda dalam kegiatan RW, hingga kesulitan mencari generasi penerus yang memiliki passion untuk berkecimpung dalam kegiatan kepemudaan,” papar Abdul Maruf, Wakil Ketua Karang Taruna RW 02 Pegangsaan Dua menceritakan awal kebangkitan perhimpunan pemuda di wilayahnya.

Dari perbincangan dengan para tokoh dan pengurus RT/RW tersebut, lanjut Maruf, disepakati ada pemilihan ketua karang taruna baru. Selain itu, perekeutan anggota karang taruna juga dilakukan secara besar-besaran di wilayah RW 02 Pegangsaan Dua.

“Saat itu, para pengurus berharap ketua baru dan regenerasi yang dilakukan dapat membangkitkan Karang Taruna RW 02 Dari ‘tidur panjang’. Sehingga ke depannya, banyak kegiatan positif yang bisa digelar di lingkungan RW 02 ini,” tambahnya.

Maruf juga tidak memungkiri, ada tujuan lain dari kegiatan perekrutan anggota karang taruna secara besar-besaran itu. Tujuan ‘terselubung’ tersebut adalah mendorong pemuda lain agar turut berkecimpung dalam kegiatan kepemudaan. Sebab tidak dipungkiri, kehadiran karang taruna sangat dibutuhkan di lingkungan RW 02 Pegangsaan Dua.

"Kan enggak mungkin kegiatan yang berkaitan dengan anak-anak muda, tapi orang yang tua-tua yang mengurusnya. Tidak nyambung dunianya. Kita kita ini kan yang lebih paham," tuturnya.

Organisasi Sosial, Bukan Komersial

Dalam masa perekrutan, Maruf mengaku pihaknya selalu mengingatkan kepada calon anggota tentang satu hal, yakni karang taruna merupakan perhimpunan yang ada untuk melaksanakan beragam kegiatan sosial, bukan untuk mencari untung atau apapun. Ini dilakukan sebagai bentuk rasa kepedulian sosial para pemuda terhadap lingkungannya.

"Banyak yang nanya ke kita, kenapa masih tetap bertahan di Karang Taruna? Kita jawab, kalau aja anak mudanya seperti kalian (pemuda pasif), siapa lagi yang mau berkarya? dan siapa lagi mau bergerak jiwa sosialnya? mau jadi apa RW 02 ini?” kata Maruf membalikkan pertanyaan yang dilontarkan banyak orang kepadanya.

“Kalau ditanya, pasti banyak dukanya menjadi anggota karang taruna. Tapi, lebih banyak senangnya. Terlebih saat kita bikin acara, terus sukses dan ramai, warga antusias sehingga bermanfaat buat mereka. Itu kesenangan dan kepuasan yang dirasa dalam hati," sambung pria yang masih kuliah di UNJ Jurusan Sosial ini.

Banyak Program Segera dilaksanakan

Kini, perekrutan telah selseai. Karang taruna RW 02 Pegangsaan Dua pun bangkit dengan formasi baru. Perhimpunan pemuda ini juga tidak lagi sebatas perkumpulan saat momen 17 Agustus yang menggelar berbagai perlombaan.

“Karang Taruna RW 02 Pegangsaan Dua sudah jadi tumpuan. Organisasi ini juga diharapkan banyak pihak dapat memberdayaan masyarakat, khususnya anak muda yang nganggur,” kata Maruf.

Ke depan, lanjutnya, banyak hal yang akan dilakukan Karang Taruna RW 02 Pegangsaan Dua. Beberapa di antaranya adalah mengaktifkan kembali kegiatan menjahit, reopening usaha cuci steam, dan memberdayakan bakat tiap anggota karang taruna dalam kegiatan masyarakat, maupun program pemerintah. Sehingga, para pemuda di RW ini tidak benar-benar menganggur saat belum mendapatkan pekerjaan.

 "Terkadang kan masih banyak pemuda di sini yang pengangguran, tidak bekerja. Dari pada mereka tidak jelas, tidak ada kegiatan, mending gabung aktif di karang taruna. Dijamin dapat manfaatnya,” ajak Maruf.

“Kami juga pastinya akan selalu membantu dan memberdayakan, sehingga mereka (pemuda) juga ke depannya dapat memiliki penghasilan dari program yang akan kami kembangkan. Selain itu, dengan seringnya berkumpul dan berorganisasi, akan memperbanyak teman sehingga memperluas jaringan. Hal ini tentunya dapat dimanfaatkan untuk mencari pekerjaan,"pungkasnya.


 
 
 
Infonitas > Feature >

Jelajahi Kecantikan Trotoar Sepanjang Rawamangun

Jumat, 14 Juli 2017 | 15:15 WIB

Editor : Nurul Julaikah

Reporter : Amin Hayyu Al Bakki

Trotoar di Kawasan Rawamangun
Foto : Amin Hayyu Al Bakki

Trotoar yang membentang sepanjang kawasan Rawamangun, Jakarta Timur terlihat cantik dan nyaman bagi pejalan kaki.

PULOGADUNG- Salah satu faktor penunjang sebuah kota yang layak dikatakan kota ramah pejalan kaki harus ada fasilitas trotoar.  Tentu saja, pedestrian yang nyaman akan membuat masyarakat menanggalkan kendaraan pribadi dan memilih berjalan kaki.

Di Indonesia sendiri, trotoar yang ramah pejalan kaki terdapat di Kota Bandung, Jawa Barat. Hal tersebut terlihat, dari berbagai kesan para wisatawan lokal maupun mancanegara yang kerap mengabadikan momen pribadi dengan cara swa foto, kemudian dipampang pada media sosial (Medsos).

Lantas, bagaimana dengan kondisi trotoar di Ibu Kota Jakarta?, saat infonitas.com menjelejahai kawasan Rawamangun, Jakarta Timur, terbentang pedestrian yang menarik perhatian mata. Berlokasi di Jalan Perserikatan dan Jalan Paus yang telah memiliki fasilitas tersebut dan memiliki warna trotoar yang lebih cerah dan variatif.

Berdasarkan pengamatan, di trotoar yang berada di Jalan Perserikatan dan Jalan Paus, trotoar-trotoar ini juga telah dilengkapi kursi bagi pejalan kaki. Kursi tersebut juga dibuat dari bahan alumunium yang dicat berwarna hitam di kedua sisinya.

Salah satu pejalan kaki, Andri Julian (26) menyampaikan, dirinya mengaku nyaman melewati trotoar di Jalan Paus lantaran memiliki lebar yang luas dan dilengkapi kursi. Ia menyebut, kursi tersebut sangat bermanfaat bagi pejalan kaki untuk melakukan singgah atau sekadar beristirahat apabila lelah.

"Saya setiap hari pasti lewat trotoar sini, mas. Yang jelas trotoarnya teduh dan udah banyak tempat sampahnya juga, jadi tetap terjaga kebersihannya," ujarnya saat berbincang dengan infonitas.com, di lokasi, Jumat (14/7/2017).

Pedestrian Tak Ramah Kaum Difabel

Berbeda halnya dengan trotoar di Jalan Pemuda atau yang berada di sekitar kawasan Arion Mall, Rawamangun. Pedestrian di sini memang terlihat lebih lebar dengan tanaman dan kursi taman berbahan alumunium dan kayu. Sayangnya, di trotoar ini belum dilengkapi garis kuning yang berfungsi sebagai fasilitas ramah disabilitas.

Namun, bangku taman terlihat tak pernah sepi dari masyarakat yang ingin beristrirahat dari aktivitas ataupun hanya ingin bersantai ria. Seperti seorang pejalan kaki yang asyik memainkan gadget dalam genggaman sembari duduk dengan kaki yang sebelah kanan dinaikan di atas kursi.

Mereka terlihat menikmati suasana tanpa menghiraukan keramaian kendaraan yang berlalu lalang di sepanjang jalan tersebut.

"Bagusnya memang trotoar dibuat seperti ini semua, jadi pejalan kaki gak kesusahan dan nyaman saat lewat," ujar Risma (33) salah satu pejalan kaki kepada infonitas.com.


 
 
 
Infonitas > Feature >

Berbagi Cerita dengan ‘Wonder Women’ Jakarta Utara

Jumat, 14 Juli 2017 | 14:00 WIB

Editor : Nurul Julaikah

Reporter : Adi Wijaya

Wonder Women Jakarta Utara
Foto : Adi Wijaya

Polres Metro Jakarta Utara sengaja mengisi jajaran Tim Tiger dengan para Polwan untuk membasmi kejahatan jalanan. Bak Wonder Woman.

KOJA - Ketenaran karakter Wonder Woman yang diambil dari cerita milik DC Comics tak diragukan lagi. Ketangguhannya, selalu mampu menumpas aksi kejahatan dengan ilmu bela dirinya. Tak hanya itu, parasnya yang aduhai memanah bagi siapapun yang memandangnya.

Karakter itu setidaknya pantas disematkan pada Polwan Tim Tiger (Tindak Tegas Reaksi Cepat) besutan Polres Metro Jakarta Utara. Paras ayu tak mengendorkan tekadnya dalam menumpas kejahatan jalanan.

"Mereka (Polwan Tim Tiger) tak diragukan lagi ketangguhannya," ungkap Fahrudin, warga Kelurahan Koja, Koja, Jakarta Utara, Jumat (14/7/2017).

Si Cantik Nan Tangguh dari Utara

Jago bela diri, piawai menggunakan senjata dan dapat mengendarai motor gede (Moge) merupakan syarat dasar untuk menjadi Tim Tiger. Tentu, paras cantik sebagai pelengkap para Polwan Tim Tiger dalam menjalankan tugas khusus untuk melindungi masyarakat dari tindak kriminalitas.

Entah secara kebetulan atau sengaja, tim khusus ini diisi enam Polwan berparas cantik. Mereka di antaranya, Bripda Linda, Bripda Joana Melvira, Bripda Naning Eka Indra Rahayu, Bripda Mutiara Ayu Rahmawati, Bripda Alifah Rizka Chania, dan Bripda Vellycia Gita Mentari. Seluruhnya telah lulus persyaratan dan dapat menunaikan tugas sebagai Tim Tiger.

"Totalnya ada enam Polwan. Untuk bergabung di tim ini, terpenting mereka memiliki kemauan tinggi dan mampu bekerja ekstra," kata Komisaris Besar Polisi Dwiyono, saat ditemui di Mapolsek Cilincing, Jakarta Utara, Kamis (13/7/2017).

Sebut saja, Bripda Mutiara Ayu Rahmawati (21). Wanita asal Jakarta ini tak menyangka dapat bergabung ke dalam Tim Tiger. Namun, jiwa reserse yang telah terbentuk sejak pendidikan di Diktuk Brigadir Polwan dirasa pas untuk bergabung dalam tim khusus penumpas kejahatan jalanan.

"Saya lulus pendidikan tahun 2014. Awal berdinas di Polsek Koja sebagai penyidik pembantu. Dibentuk sebagai reserse dapat lebih banyak menikmati tantangan," terang wanita disapa Muti.

Soal kecantikan para Polwan Tim Tiger, dia mengaku tak begitu mempersoalkan. Bagi dia, bagaimanapun kondisi yang dimilikinya, soal penumpasan kejahatan harus tetap menjadi prioritas. "Saya pikir Polwan tak ada bedanya dengan polisi pria. Sama-sama bertugas menjaga ketertiban masyarakat," tegasnya.

Tantangan Bertugas Tim Tiger

Dwiyono menegaskan, keberadaan Polwan Tim Tiger dipersiapkan untuk melakukan pemeriksaan kepada pelaku perempuan. Ini merupakan standar operasional pemeriksaan kepolisian.

"Kita kan melakukan tugas preventif dan penegakan hukum. Alangkah baiknya, pemeriksaan pelaku perempuan saat di lapangan dilakukan oleh Polwan," paparnya.

Meski Tim Tiger masih seumur jagung, namun pergerakan tim di lapangan sungat lincah. Tim khusus ini bertugas selama 24 jam untuk menjaga keamanan dan ketertiban di lingkungan masyarakat.

Ditakan oleh Muti, dalam tim bentukan Polres Metro Jakarta Utara ini terbagi menjadi dua. Yakni, tim Alpha dan Bravo.

"Nah, pembagian tugasnya bergantian siang dan malam," imbuh Muti.

Berbagai pengalaman di lapangan telah dirasakan para Polwan Tim Tiger. Mulai dari proses penyidikan, penyelidikan, hingga penangkapan yang dilakukan saat berpatroli.

"Pernah saat membubarkan balap liar. Saya sempat kejar-kejaran dengan pelaku menggunakan Moge. Setelah tertangkap dan digeledah, ternyata terdapat Narkotika jenis sabu di jok motor pelaku," ungkapnya.

Baca Juga : Begini Desain LRT Kelapa Gading - Velodrome

Tim Tiger Jadi Dambaan Masyarakat

Bak Superhero, keberadaan Tim Tiger seakan menjadi dambaan masyarakat. Mereka dinilai dapat menekan aksi kejahatan yang kerap beraksi di wilayah.

"Harapan kami dengan adanya tim ini bisa menekan aksi kejahatan. Bisa berpatroli di wilayah, khususnya Kelapa Gading," kata Winata Halim, Ketua RW 07 Kelurahan Kelapa Gading Barat.

Dukungan masyarakat pun beragam, mulai dari penyampaian kalimat simpatik hingga pemberian Moge. Tak tanggung-tanggung, tercatat sekitar 11 unit Moge diberikan dari warga asal Penjaringan dan Kelapa Gading.

"Pemberian Moge ini dilakukan guna mendukung kinerja kepolisian untuk mengatasi dan mencegah adanya aksi kriminal yang dapat terjadi setiap saat," tutupnya.


 
 
 
Infonitas > Feature >

ASKA dan Kotak Ajaib Pengubah Nasib

Rabu, 12 Juli 2017 | 10:50 WIB

Editor : Ivan

Reporter : Adi Wijaya

Ilustrasi - ASKA
Foto : Adi Wijaya

Setiap orang pasti memiliki keinginan. Makanya mereka menabung untuk mewujudkan cita-citanya. Tapi, tidak semua warga bisa melakukan kebiasaan menabung.

CILINCING –Lirik lagu ‘Menabung’ karangan Titiek Puspa masih menempel di kepala. Tapi, kebiasaan menabung sendiri sudah jarang diterapkan oleh kebanyakan masyarakat Indonesia. Padahal sudah jelas, di salah satu bait lirik tersebut tersirat bahwa jika ingin beruntung, maka kita harus menabung.

Selain dari lagu Titiek Puspa, kebanyakan orang juga sudah paham bahwa menabung adalah cara ampuh untuk menikmati penghasilan secara berkesinambungan. Cara itu pun dianggap mampu membuat orang mewujudkan keinginan atau cita-citanya masa depan.

Namun kembali disayangkan, berdasarkan fakta, kebiasaan menabung di negeri ini kebanyakan diterapkan oleh mereka yang berstatus ekonomi menengah ke atas. Padahal sejatinya, masyarakat kalangan menengah ke bawah lah yang harus memiliki kebiasaan menabung untuk meningkatkan taraf hidupnya.

Banyak alasan yang melatari warga dari kalangan ekonomi menengah ke bawah tidak menerapkan kebiasaan menabung. Seperti diungkapkan Rahayu misalnya. Warga RT015/05 Kelurahan kali Baru, Cilincing, Jakarta Utara ini bilang, ia tidak bisa menambung karena uangnya hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

"Untuk kehidupan sehari-hari saja sudah susah, apalagi untuk bisa menabung," ungkapnya kepada Infonitas.com, Selasa (11/7/2017).

Kendati sulit, bukan berarti masyarakat dari kalangan ekonomi menengah ke bawah tidak memiliki keinginan untuk memperbaiki taraf hidupnya dengan menabung. Maka untuk mewujudkan keinginan itu, biasanya mereka mengandalkan koperasi simpan-pinjam. Sebab selain bisa menabung, koperasi jenis ini juga bisa dimanfaatkan untuk mengembangkan atau bahkan membangun usaha baru.

Seperti yang dilakukan Rusmini, tetangga Rahayu. Ia mengaku pernah beberapa kali melakukan transkasi simpan-pinjam melalui koperasi. Hal tersebut ia lakukan untuk menambah modal usaha warung yang dimilikinya. Namun, warga seperti Rusmini tetap merasa terbebani dengan persentase pembagian keuntungan dengan perserikatan tersebut.

"Koperasi milik pemerintah sih memang kecil (pembagian keuntungannya). Tapi, tetap saja punya syarat persenan pengembalian uang," katanya.

Lahirnya ASKA

Melihat banyak masyarakat yang kondisinya serupa dengan Rahayu dan Rusmini, sebuah organisasi non-profit hadir. Organisasi bernama Wahana Visi Indonesia (WVI) ini kemudian meluncurkan program Asosiasi Simpan Pinjam untuk Kesejahteraan Rakyat (ASKA).

Lahir pada 2011, ASKA terus berkembang dan dikenal masyarakat sebagai alternatif koperasi.  Sebab sangat berpedoman pada UU Nomor 25 tahun 1992 tentang Perkoperasian, ASKA memiliki kelebihan lain di mata masyarakat. Beberapa kelebihan itu di antaranya keanggotaan yang bersifat sukarela dan terbuka, demokratis, adil, mengutamakan prinsip kemandirian, serta membangun karakter dan budaya menabung untuk kesejahteraan anggotanya.

"Di sini, kami membangun karakter masyarakat berekonomi lemah untuk menabung, untuk dapat hidup sejahtera," kata Margareth Wahyu, Spesialis Pengembangan Ekonomi WVI.

'Kotak Ajaib' Wujudkan Masa Depan Sejahtera

Ada cara unik yang dilakukan WVI untuk melancarkan program mirip koperasi simpan-pinjamnya itu. Cara tersebut adalah dengan membuatkan sebuah kotak berbahan besi. Kotak berukuran 40x20 centimeter itu akan dimiliki satu kelompok yang beranggotakan sekitar empat orang. Kotak itu pun dilengkapi empat kunci gembok berbeda, yang dipegang masing-masing anggota.

"Jadi kotak di simpan di rumah salah satu anggota. Namun dengan adanya tiga anggota pemegang kunci gembok, dipastikan tak ada satu anggota yang melakukan kecurangan," jelas Margareth.

Sama halnya koperasi, lanjutnya, keputusan berada pada masing-masing anggota. Sementara terkait siklus masa tabungan, denda, total pinjaman dan cara pengembalian, pembelian saham, serta dana sosial, keputusannya ada pada kesepakatan seluruh anggota.

"Kami menyerahkan seluruhnya pada kesepakatan masing-masing anggota kelompok. Tugas kami, hanya memberikan pemahaman awal dan mengawasi proses berjalannya tabungan. Kami juga tak memberi dan menerima uang dari anggota kelompok," imbuhnya.

Pembelian Saham Hingga Pembagian Hasil Tabungan Dibagi Rata

Koperasi yang ditawarkan WVI mengharuskan anggota membeli saham. Namun, saham itu bukanlah seperti pada layar Bursa Efek Indonesia. Saham ini merupakan istilah poin tabungan anggota. Misalkan, satu saham yang disepakati seluruh anggota senilai Rp 20 ribu, dan rentan pembelian saham tiap pertemuan berkisar antara satu sampai lima saham.

"Jadi tiap pertemuan, anggota menabung sesuai rentan saham yang telah disepakati bersama," tegas Margareth.

Terkait simpan-pinjam, dia menjelaskan, anggota dapat meminjam dua kali senilai total saham yang telah dibelinya. Sedangkan, untuk pengembaliannya, lagi-lagi sesuai dengan kesepakatan bersama dalam kelompok itu. Bisa tiap pertemuan, tiap semester, atau pada akhir siklus (satu siklus, sekitar sembilan bulan atau satu tahun).

"Kami sepakati penambahan 10 persen tiap pinjaman. Itu pun, akan dinikmati bersama oleh seluruh anggota kelompok saat akhir masa siklus," bebernya.

Pada masa akhir siklus, seluruh anggota akan menikmati hasil tabungan saham, simpan-pinjam, denda, dan tabungan sosial yang terdapat dalam kotak. Keseluruhannya akan dibagi rata, kecuali tabungan saham anggota.

"Semuanya dapat menikmati hasil tabungannya sendiri. Ini efektif untuk membantu perekonomiannya," katanya.

Hasilkan Ratusan Juta per Siklus

 

Awalnya WVI sulit untuk memperkenalkan program ASKA kepada masyarakat. Namun setelah dicoba, justru hasil tabungan dalam kotak mampu menghasilkan uang hingga ratusan juta rupiah.

Seorang anggota kelompok, Kartini, mengungkapkan kebenarannya. Dia yang awalnya tak percaya, justru merasa ketagihan untuk kembali mengikuti siklus demi siklus dalam tabungan dalam kotak.

"Saya sudah empat kali siklus. Lumayan jadi bisa menabung," ungkapnya.

Bahkan, dia mengaku bisa membiayai umroh yang selama ini dicita-citakannya. Menurutnya, mengikuti program ASKA justru dapat memicunya benar-benar menabung daripada menabung sendiri dalam celengan atau di bank.

"Kalau nabung di dalam celangan kan bisa dicongkel sendiri. Kalau di bank juga bisa kita pakai dan ada pajaknya. ASKA ini tanpa ada pajak dan hasilnya sesuai dengan tabungan sepanjang siklus," tutupnya.


 
 
 
Infonitas > Feature >

Gundah Ayah dari Teror Ananda

Rabu, 10 Mei 2017 | 16:30 WIB

Editor : Dany Putra

Reporter : Wahyu Muntinanto

Johanes (60) saat menunggu sidang di Pengadilan Negeri Jakarta Utara, beberapa waktu lalu.
Foto : Wahyu Muntinanto

Anak dan menantu mengerahkan puluhan orang (preman) untuk menjaga dan menduduki lahan milik ayahnya sendiri.

PENJARINGAN – Johanes (60) nampaknya belum bisa hidup tenang. Di usia yang renta dia justru menjadi musuh bagi anak dan menantunya. Ketulusan hati Johanes tak membuat sang anak dan mantunya tobat, justru menebar teror bagi ayahnya dan hendak menguasai aset sang ayah.

Padahal, Johanes baru saja menghela nafas lega setelah di vonis bebas pada akhir April 2017 oleh majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Utara terkait gugatan perdata dan pidana penggelapan 3 sertifikat oleh anak dan mantunya,

Nampaknya sang anak tidak puas dengan putusan hakim tersebut. Bahkan, tanah milik Johanes seluas 1.700 meter per segi di Jalan Adi Sucipto No 7, RT 03/10, Belendung, Benda, Kota Tangerang, diserobot menantunya Jessica.

Karena tidak bisa menguasai tanah tersebut secara hukum, diduga Jessica mengerahkan puluhan orang (preman) untuk menjaga dan menduduki lahan itu. "Saya juga heran tanah milik saya juga mau diambil, tapi tidak bisa karena saya punya dokumennya. Makanya dia buat preman jaga lahan itu, biar saya gak bisa gunakan," ujar Johanes kepada Infonitas.com, Rabu (10/5/2017).

Empat Bulan Dikuasai Preman

Kegiatan premanisme itu nampaknya sudah berlangsung sekitar empat bulan, saat karyawan Johanes, Eman (37) membuat laporan penyerobotan lahan dan ancaman kekerasan ke SPK Polda Metro Jaya, pada 12 Januari 2017.  Namun, oleh penyidik Polda  Metro Jaya kasus tersebut dilimpahkan ke Polres Tangerang Kota. 

"Kata penyidik Polres Tangerang Kota, saya akan di BAP hari Jumat (12/5) besok. Saya sekarang baru sadar, apa yang sudah diperbuat mereka (Robert dan Jessica). Mereka benar-benar mau ambil semua harta saya. Saya hanya ingin hidup tenang, dan sekarang harus kembali mengurusi permasalahan hukum," tuturnya.

Lapang Dada

Johanes pun mengaku sudah berulangkali berlapang dada dan rela memberikan maaf pada Robert dan Jessica. Namun, hingga saat ini anak dan mantunya tersebut tidak diketahui keberadaannya. Padahal dirinya hanya ingin hidup tenang diusia senja dan bermain bersama cucunya.

Oleh karena itu pengelolaan perusahan, hingga asetnya selama ini dia percayakan dan serahkan kepada anak dan mantunya untuk menjalankannya. Namun, perusahaan yang dirintisnya tersebut justru disalahgunakan, hingga beberapa perusahaan bangkrut dan asetnya diambil.

"Saya sudah maafkan mereka (anak dan mantu), saya rindu cucu saya. Sampai saat ini tidak tahu kabar mereka. Sayang Ayah terhadap anaknya dan Kakek dengan cucu tidak akan bisa dibayar dengan apapun. Saya kira, saya sudah bisa tenang disisi umur saya," pungkas Johanes.