Infonitas > Feature >

Pasar Tanah Abang, Dari Preman Pasar hingga Kontes Pakaian

Jumat, 24 November 2017 | 18:00 WIB

Editor : Muhamad Ibrahim

Reporter : Chandra Purnama

Kondisi semrawutnya Pasar Tanah Abang
Foto : Chandra Purnama

Pasar Tanah Abang menjadi tempat mencari mencari makan. Di sana, banyak terdapat preman pasar hingga kontes pakaian.

JAKARTA - Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat menjadi destinasi belanja pakaian yang sudah tersohor dipelosok Ibu Kota. Namun, siapa sangka, dibalik ramainya pertemuan antara penjual dan pembeli ada kisah pelik yang harus diatasi aparat kepolisian dan pemerintah setempat.

Seperti yang diungkapkan Anton, bukan nama sebenarnya, pria asal Cilegon, Banten tersebut sudah berjualan di Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat sejak tahun 2009 memiliki cerita sendiri dalam berjualan. Seperti cerita 'jatah preman' yang wajib dibayarkan pada awal bulan.

Anton bercerita, sejak tahun 2009, jumlah uang yang wajib dibayarkan terus naik. Awalnya, dia hanya membayarkan sebesar Rp 5 ribu pada tahun tersebut. Tapi pada 2017 ini, besaran uang yang harus dikeluarkan mencapai Rp 20 ribu hingga Rp 50 ribu perbulannya. Tergantung dari besar lapak jualannya.

"Beda-beda bayarnya, kalau saya kena Rp 35 ribu," cerita Anton yang memiliki lapak jualan baju anak-anak di Blok A Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat saat Infonitas.com berkunjung, Jumat (24/11/2017).

Berbanding terbalik dengan penjual makanan, Anton menambahkan, ada jatah makan perhari yang harus diberikan kepada para penguasa Pasar Tanah Abang. 

"Kalau teman saya yang jualan makanan, tiap hari pasti kena satu atau dua piring makanan buat ngasih preman Pasar Tanah Abang," bebernya.

Trotoar Jadi Ajang Kontes Jualan Pakaian

Selain sisi kelam para penguasa Pasar Tanah Abang, ternyata baru-baru ini para pedagang kembali nekat berjualan ditrotoar. Bahkan, trotoar di sana dijadikan ajang kontes pakaian yang dijual oleh para pedagang.

Pantauan Infonitas.com di Pasar Tanah Abang, meskipun Satpol PP berkeliaran dikawasan tersebut, nampaknya tidak berpengaruh dengan ketertiban trotoar. Bahkan, ada yang terang-terangan menggunakan trotoar untuk ajang jualan meskipun lokasi pos pengawasan Satpol PP tepat disebrangnya.

Seperti yang diungkapkan Tarno, bukan nama sebenarnya, dirinya mulai kembali berani memajang barang dagangannya ditrotar selepas Operasi Bulan Tertib Trotoar. Bahkan dia tidak segan-segan mengambil lahan pejalan kaki agar dagangannya bisa diperjualbelikan.

"Habis mau gimana lagi, udah kebiasaan disini," jelas Tarno.

Memang, pemandangan trotoar di Pasar Tanah Abang sudah lazim dengan pelanggaran. Padahal, dalam UU No 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (UU LLAJ) Pasal 275 ayat (1) jo pasal 28 ayat (2) dijelaskan tentang fungsi trotoar.

Bukan hanya itu, dalam Undang-undang Nomor 38 Tahun 2004 serta Peraturan Pemerintah Nomor 34 Tahun 2006 tentang Jalan dijelaskan juga besaran denda bagi para pelanggar fungsi trotoar.