Infonitas > Feature >

Pasar Tanah Abang, Dari Preman Pasar hingga Kontes Pakaian

Jumat, 24 November 2017 | 18:00 WIB

Editor : Muhamad Ibrahim

Reporter : Chandra Purnama

Kondisi semrawutnya Pasar Tanah Abang
Foto : Chandra Purnama

Pasar Tanah Abang menjadi tempat mencari mencari makan. Di sana, banyak terdapat preman pasar hingga kontes pakaian.

JAKARTA - Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat menjadi destinasi belanja pakaian yang sudah tersohor dipelosok Ibu Kota. Namun, siapa sangka, dibalik ramainya pertemuan antara penjual dan pembeli ada kisah pelik yang harus diatasi aparat kepolisian dan pemerintah setempat.

Seperti yang diungkapkan Anton, bukan nama sebenarnya, pria asal Cilegon, Banten tersebut sudah berjualan di Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat sejak tahun 2009 memiliki cerita sendiri dalam berjualan. Seperti cerita 'jatah preman' yang wajib dibayarkan pada awal bulan.

Anton bercerita, sejak tahun 2009, jumlah uang yang wajib dibayarkan terus naik. Awalnya, dia hanya membayarkan sebesar Rp 5 ribu pada tahun tersebut. Tapi pada 2017 ini, besaran uang yang harus dikeluarkan mencapai Rp 20 ribu hingga Rp 50 ribu perbulannya. Tergantung dari besar lapak jualannya.

"Beda-beda bayarnya, kalau saya kena Rp 35 ribu," cerita Anton yang memiliki lapak jualan baju anak-anak di Blok A Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat saat Infonitas.com berkunjung, Jumat (24/11/2017).

Berbanding terbalik dengan penjual makanan, Anton menambahkan, ada jatah makan perhari yang harus diberikan kepada para penguasa Pasar Tanah Abang. 

"Kalau teman saya yang jualan makanan, tiap hari pasti kena satu atau dua piring makanan buat ngasih preman Pasar Tanah Abang," bebernya.

Trotoar Jadi Ajang Kontes Jualan Pakaian

Selain sisi kelam para penguasa Pasar Tanah Abang, ternyata baru-baru ini para pedagang kembali nekat berjualan ditrotoar. Bahkan, trotoar di sana dijadikan ajang kontes pakaian yang dijual oleh para pedagang.

Pantauan Infonitas.com di Pasar Tanah Abang, meskipun Satpol PP berkeliaran dikawasan tersebut, nampaknya tidak berpengaruh dengan ketertiban trotoar. Bahkan, ada yang terang-terangan menggunakan trotoar untuk ajang jualan meskipun lokasi pos pengawasan Satpol PP tepat disebrangnya.

Seperti yang diungkapkan Tarno, bukan nama sebenarnya, dirinya mulai kembali berani memajang barang dagangannya ditrotar selepas Operasi Bulan Tertib Trotoar. Bahkan dia tidak segan-segan mengambil lahan pejalan kaki agar dagangannya bisa diperjualbelikan.

"Habis mau gimana lagi, udah kebiasaan disini," jelas Tarno.

Memang, pemandangan trotoar di Pasar Tanah Abang sudah lazim dengan pelanggaran. Padahal, dalam UU No 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (UU LLAJ) Pasal 275 ayat (1) jo pasal 28 ayat (2) dijelaskan tentang fungsi trotoar.

Bukan hanya itu, dalam Undang-undang Nomor 38 Tahun 2004 serta Peraturan Pemerintah Nomor 34 Tahun 2006 tentang Jalan dijelaskan juga besaran denda bagi para pelanggar fungsi trotoar.

 


 
 
 
Infonitas > Feature >

Pemandangan Calon Danau Jenewa dari Jakarta Utara

Kamis, 7 Desember 2017 | 14:30 WIB

Editor : Nurul Julaikah

Reporter : R Maulana Yusuf

Danau Sunter
Foto : R Maulana Yusuf

Danau Sunter yang berada di Kecamatan Tanjung Priok, Jakarta Utara sebagai calon Jenewa-nya Indonesia terlihat pemandangan sampah berserakan.

TANJUNGPRIOK - Danau Sunter yang berada di kecamatan Tanjung Priok, Jakarta Utara belakangan ini menjadi perbincangan hangat. Ini semua lantaran Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti menantang Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menyulap Danau Sunter seindah danau di Jenewa, Swiss.

Letak Danau Sunter berada di Jalan Sunter Selatan dan Jalan Danau Permai Timur. Dalam sehari-hari, biasanya kebanyakan masyarakat menghabis kegiatan di Jalan danau sunter selatan dengan memancing.  Bukan hanya itu saja, para pengendara yang mayoritas driver ojek online kerap berteduh untuk istrirahat di pinggir danau.

Keramaian itu, dimanfaarkan oleh Pedagang Kaki Lima (PKL) untuk menjajakan dagangan mereka yang berupa makanan dan minuman.

Pada Rabu (7/12/2017) Sore, infonitas.com  menyambangi salah satu lokasi wisata di Jakarta Utara terlihat hamparan sampah yang bertebaran di pinggir danau. Hal ini, masih membuktikan kurangnya kesadaran masyarakat akan kebersihan lingkungan. Padahal, Peraturan Daerah nomor 3 Tahun 2013 telah melarang membuang sampah di sungai/kali/kanal,waduk,situ, saluran air limbah, jalan, taman atau tempat umum dan apabila dilanggar akan dikenakan sanksi denda sebesar Rp 500 ribu.

Belum lagi, minim tempat pembuangan sampah di sisi kanan kiri danau. Hal ini menyebabkan, warga dan pedagang untuk membuang sampah sembarangan di sekitar danau.

Seperti yang diungkapkan Ali, pedagang minuman yang sehari-hari berjualan di area danau sunter selatan, menurutnya tak adanya tempat sampah menjadi salah satu faktor para pengunjung danau membuang sampah sembarangan.

"Disini tak ada tempat sampah mas, banyak warga yang bawa bekal makanan dan makan disini lalu sampahnya dibuang saja di pinggir danau,"ungkapnya.

Selain itu, kata Ali,  banyak juga para pedagang kaki lima yang tidak menyiapkan wadah sampah untuk dagangannya terutama pada malam hari. "Banyak para pedagang nakal tidak menyiapkan tempat sampah dan asal buang saja apalagi kalau malam,"tambahnya.

Tak Ada Jaminan Keamanan Tempat Sampah

Sementara itu,  Kepala Suku Dinas lingkungan Hidup Jakarta Utara Slamet Riyadi memiliki alasan tersendiri mengapa tidak menyiapkan tempat sampah di sepanjang  Danau Sunter yang berada disisi Jalan Danau Sunter Selatan. Menurutnya tidak ada jaminan keamanan jika ditaruh tempat sampah dilokasi tersebut, dikhawatirkan jika ditaruh maka akan hilang diambil pemulung.

Selain itu para petugas kebersihan rutin setiap pagi membersihkan sampah yang ada di jalan tersebut. "Setiap hari sekitar pukul 07.00 WIB ada 5 petugas membersihkan dan mengangkut sampah yang ada di lokasi, rata-rata setiap hari bisa mengakut 2 meter kubik sampah  yang terdiri dari sampah bekas para pedagang seperti botol, plastik kemasan dan lainnya,"kata slamet saat dihubungi infonitas.com.

Hingga berita ini diturunkan, pada hari ini atau pagi tadi, petugas Sudin Lingkungan Hidup Jakarta Utara berbondong-bondong memasang tempat sampah.

Pemandangan di sisi Jalan Danau Permai Timur Lebih Tertata

Pemandangan berbeda terlihat  di sisi Jalan Danau Permai Timur yang lebih tertata rapi. Terdapat warung- warung seafood, warung makan dan pedagang kelapa muda yang bisa dinikmati sambil melihat pemandangan danau. Perahu bebek dan jetski juga disediakan bagi mereka yang mau mengelilingi danau. Di dekat danau juga terdapat apartemen, hotel dan gelanggang olahraga

Kebersihan di Jalan Danau Permai Timur lebih terjaga, meski tak terlihat adanya tempat sampah yang disediakan tetapi para pedagang selalu membersihkan area yang dikelola oleh Koperasi Pembina Profesi dan Olahraga Perairan (KPPOP) sejak tahun 2014.

"Selalu dibersihkan mas agar pengunjung nyaman dan sampahnya dimasukan wadah plastik, besok pagi diangkut petugas kebersihan,"kata Imron, salah satu pedangang.

Pemandangan tak kalah indah juga terlihat di waduk Sunter barat yang tidak jauh lokasinya dari danau Sunter.  Pantauan dilokasi, terlihat lebih rapi karena sudah dipasangi sheet pile, nyaris tidak ada sampah yang menonjol dan terlihat oleh mata. trotoar dibuat lebih lebar dan tersedia jalur hijau bagi pesepeda.Bangku di sepanjang jalan dipayungi pepohonan bisa menjadi alternatif untuk sekadar bersantai.

Pasukan oranye dari Unit Pengelola Kebersihan (UPK) Badan Air Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Sesekali terlihat membersihkan Waduk. Area Waduk terlihat minim sampah. Namun airnya masih hijau pekat.

Kepala Suku Dinas lingkungan Hidup Jakarta Utara, Slamet Riyadi mendukung ide Menteri Susi untuk mempercantik Danau Sunter sehingga menjadi seperti danau di Jenewa. "Hal tersebut bisa dilakukan atas kerjasama seluruh stakeholder dan juga masyarakat,"tutupnya.


 
 
 
Infonitas > Feature >

Meneropong Prospek Bisnis Online di Jakarta Barat

Selasa, 5 Desember 2017 | 13:45 WIB

Editor : Waritsa Asri

Reporter : M Nashrudin Albaany

Ilustrasi Bisnis Online di Jakarta Barat
Foto : Reggy Prawoso

Bisnis online atau e-commerce disebut-sebut akan terus melejit seiring dengan meningkatnya penggunaan internet di Indonesia

PURI - Mungkin kata bisnis online sudah tidak asing lagi di telinga kita. Tak bisa dipungkiri, bisnis online atau yang biasa di sebut e-commerce sudah menjadi tren saat ini. Transaksi dengan sistem online kini tengah menjadi primadona di kalangan masyarakat yang gemar belanja. Hal ini terlihat dari makin maraknya toko online yang bermunculan, mulai dari usaha kecil yang dikelola perorangan hingga perusahan korporasi besar.

Pengamat Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (UI), Rhenald Kasali mengatakan, potensi bisnis online kian melejit seiring dengan meningkatnya pengguna internet di Indonesia. Hal ini terbukti dengan meningkatnya jumlah transaksi e-commerce dari tahun ke tahun, ini juga membuktikan bahwa bisnis online memiliki banyak keunggulan di bandingkan dengan bisnis konvensional atau offline. 

"Dari segi waktu, biaya dan tenaga, sudah jelas bisnis online jauh lebih menguntungkan. Kita lihat saja sekarang, masyarakat sudah banyak yang beralih menggunakan transaksi online dari pada transaksi manual yang menggunakan uang pecahan. Apalagi, ketika masyarakat membeli barang-barang secara online, mereka bisa dapat lebih banyak dibanding harus belanja langsung ke tempat perbelanjaan, misalnya mall," kata dia saat dihubungi melalui sambungan telepon beberapa waktu lalu.

Menurut dia, masyarakat kini cenderung lebih suka transaksi secara online. Sebab, selain cepat dan mudah, transaksi online juga dinilai lebih efisien daripada transaksi manual di pasar-pasar dan toko. Berbagai kemudahan yang ditawarkan itulah yang kemudian membuat banyak pedagang akhirnya membuka bisnis secara online. 

"Kan kalau berjualan di toko, selalu terjadi pasang surut, kita tidak pernah tahu kapan pembeli datang. Tapi kalau online, kita tidak perlu jaga toko terus-terusan. Tinggal menunggu notifikasi di layar smartphone, baru siapkan barang. Apalagi, bisnis online ini juga tidak perlu menguras biaya sebanyak membuka toko ritel," timpalnya.

Hal senada juga diakui oleh Rahmat. Pemilik bisnis elektronik online di kawasan Kembangan, Jakarta Barat ini menilai, untuk memulai bisnis online tak perlu menyediakan modal yang besar untuk keperluan pengadaan toko. Dengan adanya bisnis online, seorang pengusaha dapat memulai usahanya melalui website atau sosial media yang bisa didaftarkan secara gratis. "Apalagi kan jangkauan bisnis online ini tidak terbatas dan jam kerjanya juga lebih fleksibel. Jadi kita bisa menjangkau pasar yang sangat luas jika dibandingkan dengan toko offline," ungkapnya. 

Selama hampir setahun menjalankan bisnis online, Rahmat mengaku diuntungkan dengan makin banyaknya masyarakat yang membeli produk elektroniknya. Disisi lain, masyarakat juga menjadi dimudahkan karena mereka tidak perlu lagi repot keluar rumah dan terkena macet di jalan untuk bisa memiliki kebutuhan yang diinginkan, karena sudah bisa dilakukan dengan cara online.

"Kunci untuk memulai bisnis online adalah pelayanan yang maksimal, karena jika pembeli puas dengan barang yang kita jual, maka akan meningkatkan kepercayaan calon pembeli lain terhadap kita. Selain itu, kita juga harus rajin mempromosikan barang yang kita jual. Paling mudah itu melalui sosial media, karena sekarang kan banyak pengguna sosmed di masyarakat," pungkasnya.

Meskipun belum bisa memprediksi seberapa besar masyarakat yang akan melakukan transaksi online, ia yakin tahun depan masyarakat khususnya di Jakarta Barat akan banyak beralih pada transaksi online dan juga melakukan pemasaran melalui online.

 Dampak Bisnis Online Terhadap Ritel Konvensional

Dengan berbagai kemudahan yang ditawarkan, membuat bisnis yang mengandalkan jaringan internet ini berkembang cukup pesat dan memberikan dampak nyata bagi bisnis ritel konvensional. Ketua DPW Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI) DKI Jakarta, Sespentri menilai, pengaruh bisnis online terhadap bisnis ritel konvensional cukup besar. Menurut dia, yang paling terkena dampaknya adalah para pedagang kecil. "Dengan adanya bisnis online, daya beli masyarakat terhadap ritel konvensional menjadi menurun. Penurunannya sekitar 20 sampai 25 persen," katanya. 

Pria yang akrab disapa Pepen ini mencontohkan, ritel konvensional khususnya industri elektronik terkena dampak langsung dengan hadirnya bisnis online, seperti yang terlihat di Pasar Glodok City. Sentra penjulan barang-barang elektronik yang terletak di Jalan Pancoran, Glodok, Tamansari, Jakarta Barat kini menjadi sepi pengunjung. "Kalau elektronik ini kita lihat kan kompetisinya luar biasa, apalagi kan sekarang e-commercenya juga luar biasa. Tapi ini sebenarnya masalah global, karena dialami semua pedagang," ungkapnya.

Sepinya Pasar Glodok dibuktikan dengan banyaknya kios elektronik yang tutup. Bahkan beberapa kios di lantai 3 keatas banyak yang disewakan atau justru hanya dijadikan sebagai gudang. Menurut data, dari total okupansi Pasar Glodok sebanyak 1.880 kios, ada sebanyak 564 kios kios yang tutup, itu belum termasuk jumlah kios yang hanya buka sewaktu-waktu. "Tercatat hampir 30 persen kios saat ini tutup karena berbagai alasan," ujar Asisten Manajer Usaha dan Pengembangan Pasar Glodok City, Aswan saat ditemui diruang kerjanya.

Pria yang sudah 27 tahun bekerja di PD Pasar Jaya ini mengatakan bahwa penggunaan internet menjadi indikator banyaknya pembeli yang sudah meninggalkan Pasar Glodok City. Dikarenakan, saat ini dengan mudahnya masyarakat membeli segala kebutuhan di internet. Bahkan, bisa diantar hingga ke rumah. "Itu dampak dari sebagian yang punya uang dibelanjakan lewat online, ini untuk masalah yang elektronik. Di luar itu, beli baju, alat kosmetik, aksesoris, mesti di toko, jarang di online. Tapi kalau elektronik, malah ada diskon di online, otomatis mendingan beli online daripada di Glodok," terangnya.

Sementara itu, Ketua Paguyuban Pedagang Glodok City H Umar menyebutkan, beberapa pedagang memilih hengkang dari Glodok City dan pindah ke lokasi lain yang harga sewanya lebih murah. Sebagian lagi mengurangi jumlah karyawan. "Pedagang banyak yang mengeluh karena omsetnya turun, itu terlihat dari sepinya pengunjung dan penurunan pembeli. Bisa dilihat, beberapa kios sekarang banyak yang tutup dan disewakan oleh pemiliknya," ucap H Umar.

 

Ritel Konvensional Harus Terus Berinovasi

Rhenald Kasali menilai, sepinya pengunjung di Pasar Glodok City disebabkan karena para pedagang tidak bisa berinovasi. Karena tidak melakukan terobosan baru, mereka akhirnya tergerus oleh toko-toko online. Padahal, saat ini adalah era disruption yang mengharuskan setiap pedagang melakukan inovasi yang dapat menciptakan pasar baru.

Agar dapat menghadapi era disruption tersebut, menurut dia, pedagang di Pasar Glodok City harus terbuka terhadap perubahan dan mengikuti perkembangan teknologi. Tidak hanya menyangkut perubahan bentuk, ukuran atau desain tapi juga mengubah seluruh metode, cara kerja dan bahkan produk yang tidak lagi relavan. "Mereka harus memperbaiki diri. Memperbarui pelayanan, fasilitas dan cara promosinya. Semua mesti diperbarui. Kalau tidak, bagi konsumen, buat apa ke sana tapi macet, parkir susah, AC enggak dingin dan enggak nyaman. Mendingan buka internet, langsung pesan," jelasnya. 

Selain itu, pedagang ritel konvensional juga harus lebih memanfaatkan teknologi ketika ingin bisnis mereka tetap bertahan. Apalagi, dengan berkembangnya bisnis online juga menciptakan pasar baru di mana saat ini ketika masyarakat membeli produk elektronik melalui sistem online, masyarakat akan dapat lebih murah. "Mau tak mau, kuncinya adalah inovasi. Konsepnya tak bisa lagi sekadar selling, tapi offline harus bisa menyediakan experience bagi konsumennya, baik berupa konsep toko, penawaran menarik, dan bahkan bisa juga melebarkan sayap dengan promosi melalui online," paparnya.

Seperti yang dikatakan oleh Rhenald, salah satu kunci agar ritel konvensional dapat bertahan dari gempuran bisnis online adalah dengan melek teknologi dan melebarkan usaha ke sistem online. Hal ini juga diakui oleh Adi, pemilik toko elektronik Star Jaya di Pasar Glodok City ini mengaku menyiasatinya dengan melebarkan sayap membuka bisnis online. Ia pun memberdayakan pegawai toko untuk mengelola bisnis online dan promosi di media sosial.

"Daripada harus memecat pegawai, lebih baik saya berdayakan mereka untuk mengelola bisnis online,". Menurut dia, hal ini mau tidak mau harus dilakukan agar tidak kalah dengan pesaingnya dalam bisnis di era modern ini. Selain membuka toko di Pasar Glodok City, Adi pun kini juga berdagang via online dengan memanfaatkan berbagai platform e-commerce yang ada, seperti Bukalapak, Tokopedia dan Shoppe.


 
 
 
Infonitas > Feature >

Klimisnya Bisnis Barbershop di Jakarta Barat

Selasa, 7 November 2017 | 09:15 WIB

Editor : Waritsa Asri

Reporter : Ronald P. Gerson

Bisnis Barbershop semakin meningkat di Jakarta Barat (Fotografer : Reggy Prawoso)
Foto : Reggy Prawoso

Pentingnya penampilan kini tidak hanya terbatas pada kaum wanita saja. Para pria seolah tidak mau kalah terutama saat berbincang mengenai tatanan rambut.

PURI - Menjaga penampilan agar kelihatan rapih bersih dan juga menarik tidak hanya dilakukan oleh kaum hawa, namun kini para pria juga mulai memikirkan bagaimana agar bisa lebih kelihatan menarik dengan melakukan perubahan tatatnan rambut juga cara berpakaian. Untuk bisa mendapatkan semuanya, seorang wanita biasanya akan pergi ke salon, namun bagaimana jika seorang pria juga menginginkan hal yang sama. Dengan pertanyaan tersebut, kini mulai banyak bermunculan tempat potong rambut khusus bagi para pria, yang biasa di kenal dengan barbershop. 

Bisnis Barbershop sendiri, saat ini memang sedang tumbuh dengan pesat. Hal tersebut dilihat dari mulai banyaknya barbershop, yang hadir dengan menawarkan berbagai konsep, fasilitas serta promo-promo menarik untuk para konsumennya. Perkembangan tersebut juga diakui oleh pemilik Roadside Barbershop yang ada di daerah Meruya, Jakarta Barat. Menurutnya, diwilayah Jakarta Barat khususnya Meruya masih sedikit barbershop. "Dulu di wilayah sini masih jarang barbershop hanya sedikit saja, namun sekarang sudah mulai banyak yang buka," ungkap Luthfan Akbar, Pemilik Roadside Barbershop.

Hal senada juga diungkapkan oleh Sandy Adriatin, pemilik D'Bageur Barbershop di daerah Sukabumi Utara, Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Ia mengatakan, perkembangan barbershop tidak lepas dari bagusnya prospek kedepannya. "Bisnis ini perkembangannya cukup pesat, karena prospeknya cukup bagus, sehingga mulai banyak yang membuka bisnis barbershop ini,"  katanya. Peluang bisnis tersebutpun juga dilirik oleh para pebisnis, Seperti yang dilakukan oleh Ricky Andi Wardana berserta Bob Christoper yang mulai merintis Gentology Barbershop sejak November 2014  di daerah Tanjung Duren, Jakarta Barat.

Pilihan tersebut bukan tanpa alasan, mereka berdua melihat bahwa jumlah pria cukup banyak dan mereka juga sudah mulai memikirkan penampilan mereka sebagai sebuah kebutuhan. jumlah pria cukup banyak, dan mereka juga sudah mulai bagaimana memikirkan tampil rapih dan menarik dan itu sudah seperti menjadi sebuah kebutuhan bagi mereka, ujar Ricky Andi Wardana, pemilik dari Gentology Barbershop.

Dengan mulai banyak bermunculan barbershop, diharapkan kedepannya sendiri masyarakat bisa tahu apa yang berbeda dari hadirnya bisnis ini. Karena Barbershop sendiri bukan sebuah tempat cukur rambut biasa, tetapi sebuah tempat yang bisa memberikan sebuah nilai lebih untuk sebuah penampilan. "Mudah-mudah kedepannya, kami ingin masyarakat tahu bahwa kami para pebisnis barbershop memberikan sesuatu yang berbeda," terangnya kembali.


 
 
 
Infonitas > Feature >

Perpisahan Djarot Dengan Wartawan Balaikota Diiringi Tangis dan Lagu Berpisah Untuk Kembali

Jumat, 13 Oktober 2017 | 13:45 WIB

Editor : Muhammad Saiful Hadi

Reporter : Yatti Febriningsih

Djarot berfoto bersama wartawan Balikota.
Foto : Yatti Febriningsih

Acara perpisahan Djarot dengan awak media di rumah dinas Gubernur Jakarta dikemas dengan intim dengan makan bersama dan canda tawa sembari menyanyikan lagu Ello yang berjudul pergi untuk kembali.

JAKARTA - Gubernur DKI Jakarta, Djarot Saiful Hidayat menggelar acara halal bihalal bersama wartawan di rumah dinasnya di Taman Suropati, Menteng, Jakarta Pusat tadi malam, Kamis (12/10). Acara tersebut digelar sekaligus mengucapkan perpisahan kepada awak media yang bertugas di Balaikota Jakarta.

Dalam acara tersebut Djarot mengundang semua awak media datang, salah satunya adalah Infonitas.com. Dalam acara tersebut dikemas dengan intim dengan makan bersama dan bercengkrama.

"Ini silaturahmi saja dengan teman-teman media. Yah istilahnya yang telah bekerjasama selama ini baik dirumah maupun dikantor. Terimakasih banyak," ujar sang isteri, Happy Djarot kepada Infonitas.com di lokasi.

Penuh Canda Tawa

Suasana dalam acara halal bihalalal ini terasa sangat hangat dan penuh canda tawa. Dimana acara dimulai dengan makan bersama, kemudian berfoto bersama.

Djarot yang mengedakan batik bewarna merah terlihat sangat menikmati momen kebersamaan dengan awak media. Bahkan, Djarot juga ikut berkumpul dengan awak media tanpa ada pengawalan ketat dan santai.

"Sebelumnya terimakasih semuanya yah kepada rekan media yang tidak ada rasa capeknya selalu mengawal saya dan kadang juga menjengkelkan. Bukan apa-apa kebanyakan ngoceh," ujar Djarot

Setelah menikmati santap bersama, Djarot kemudian langsung menyapa awak media. Tidak hanya itu, mantan Wali Kota Bilitar ini juga menghibur awak mesia dengan berdendang bersama sang isteri.
Dimana Djarot menyanyikan beberapa lagu seperti pergi untuk kembali milik Ello, Kopi Dandut milik dan lainnya sembari diikuti rekan media.

Kenangan Bersama Awak Media

Dalam pertemuan tersebut, Djarot juga mempersilahkan media untuk mencurahkan keluhkesahnya langsung kepada Djarot. Dimana salah satu wartawan sampai menitikkan air mata ketika menurahkan salam perpisahannya langsung kepada Djarot.

"Saya sendiri punya pengalaman yang sangat luar biasa yah ketika kita sedang mengikuti Pilkada khususnya di TMII bagaimana saat itu ada kata-kata kasar yang keluar saat itu dan bapak tetep sabar layaknya seorang bapak yang sabar mengahdapi orang yang sedang emosi," cerita Leni salah satu reporter senior Balaikota.

Untuk diketahui, Djarot sendiri akan mengakhiri masa jabatannya pada 15 Oktober mendatang. Kepemimpinan selanjutnya akan dilanjutkan oleh Gubernur dan wakil gubenur terpilih Anies Baswedan dan Sandiaga Uno untuk periode 2017-2022.


 
 
 
Infonitas > Feature >

Berselancar di Pasar Pemukiman Elite Jakarta Utara

Senin, 25 Sepember 2017 | 15:30 WIB

Editor : Nurul Julaikah

Reporter : Nurul Julaikah

Mau belanja buah atau sayur mayur atau daging segar? Atau sekadar nyari kuliner atau tempat ini bisa juga untuk hangout bareng keluarga. Ya, di sini, di Fresh Market di PIK, Jakarta Utara
Foto : Nurul Julaikah

Jalan-jalan ke Pantai Indah Kapuk atau kawasan yang terkenal dengan pemukiman elite di Jakarta Utara tentu tak afdol jika tak melihat pasar modern Fresh Market.

PENJARINGAN - Pantai Indah Kapuk atau lebih enak dilafalkan dengan kata PIK, kawasan kota mandiri di pesisir utara Jakarta. Kawasan pemukiman elite ini, merupakan hasil reklamasi pulau pada 1992 lalu oleh pegembang kenamaan Agung Sedayu Group.

Berada di Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara, jika masuk ke PIK maka jangan terkejut dengan pemandangan berbagai jenis rumah dengan konsep mediterania. Deretan tempat kuliner dari menu nusantara hingga western tumplek blek di sini.

Hiburan pun demikian. Pusat perbelanjaan yang lokasinya berhadapan dengan sebuah sekolah yayasan Budha Tzu Chi berdiri megah. Mal tersebut tak pernah sepi pengunjung karena berbagai event kerap terselenggara di sini, salah satunya Taste of The World yang berlangsung 21 September hingga 1 Oktober.

Lantas bagaimana dengan kebiasaan warga setempat yang mayoritas keturunan Tionghoa dan memiliki kantong tebal atau bisa dibilang tingkat ekonomi berlebih. Untuk belanja kebutuhan sehari-hari, kenyataannya Fresh Market, pasar tradisional yang berkonsep modern ala mal menjadi pilihan mereka.

Harga lebih terjangkau dan barang-barang selalu segar menjadi alasan mereka belanja di Pasar yang lokasinya tak jauh dari Taman Wisata Hutan Mangrove. Seperti Tasya (22), gadis yang ditemui infonitas.com di salah satu kios pedagang buah ini sejak awal tinggal di PIK lebih memilih belanja kebutuhan sehari-hari di sini.

"Dari dulu saya sama mama kalau belanja ke sini. Harga lebih murah dan serba fresh," ujar Tasya, Minggu (24/9/2017).

Tasya yang masih menempuh pendidikan di salah satu Perguruan Tinggi (PT) ternama di Ibu Kota ini terlihat sedang memilih buah pisang. Sedangkan, sang ibunda sedang memilah buah jeruk yang akan ditimbang oleh pedagang.

Kemarin, aktivitas jual beli di sini tidak begitu ramai karena waktu sudah menunjukkan pukul 13.00 WIB. Jam operasional di pasar ini mulai dari 06.00-14.00 WIB.

Ada tiga lantai di bangunan yang luasnya hampir mirip pusat perbelanjaan. Di lantai dasar akan dijumpai kios basah untuk jualan ikan segar atau aneka hasil laut, daging segar dan ayam potong. Kios pedagang hasil laut dengan daging serta ayam terpisah atau di dalam ruangan yang saling berhadap-hadapan.

Untuk lantai dua di sebelah barat terdapat kios para pedagang buah, dan sebelah timur ada penjual sayur mayur serta sembako. Sementara, di lantai tiga terhampar aneka sajian makanan dan minuman siap saji atau biasa disebut dengan food court.

Harga Barang Dagangan

Terkait harga jual barang dagangan di Fresh Market tidak jauh berbeda dengan pasar tradisional, bisa dikatakan kompetitif. Seperti buah, pisang satu sisir dijual dengan harga rata-rata Rp 5 ribu hingga Rp 15 ribu atau tergantung jenisnya, baik lokal maupun impor.

Sayur mayur pun demikian. Satu ikat sawi hijau dijual dengan harga Rp 2 ribu tetapi jika beli  tiga ikat maka cukup membayar Rp 5 ribu. Bawang putih juga sama, Rp 35 ribu per kilogram.

Namun, resiko berdagang sayur mayur lebih terhadap ketahanan dari barang. Dalam sehari, jika barang tidak laku maka penjual harus memilah-milah kembali mana yang layu dan masih segar. Bahkan, kalau tak layak jual, maka pedagang tak segan-segan membuangnya ke tempat sampah.

"Pembeli di sini kalau enggak seger itu enggak mau beli, apalagi kalau kita jual mahal beda seratus rupiah saja, bisa lari ke supermarket. Jadi ya gini, kita harus pilah-pilah lagi. Paling kalau enggak laku ya kita akalin masukin ke box trs dikasih es batu," kata Tisna, pria asal Bogor yang sehari-hari berjualan sayur mayur.

Bagaimana dengan telur. Untuk lauk pauk nabati ini, per kilogram Rp 23 ribu. Berbeda halnya dengan hasil laut, salah seorang pedagang sebut saja Hari mengaku menjual lebih mahal daripada pasar tradisional. Misal ikan segar bisa dipatok harga lebih tinggi Rp 10 ribu dari harga jual di pasar tradisional.

"Kita jual lebih mahal, karena ikan kita segar, langsung diambil dari tempat pelelangan ikan di Muara Angke. Jadi ikan enggak sampai berhari-hari," ucap Hari.

Naik ke lantai atas atau tiga, akan terlihat seabreg penjual makanan dan minuman. Sajian menu nusantara dan western pun tersedia di sini.

Khusus lantai ini, pemimpin Ibu Kota terpilih Anies Baswedan pernah melakukan kunjungan untuk kegiatan kampanye pada beberapa bulan lalu, tepatnya di kedai kopi Bahagia. Sayang sekali, saat infonitas ke sana, kios sudah tutup.

Bukan hanya food court. Di sini juga ada tempat perawatan bulu mata dan tato. Letaknya berada di tengah atau antara penjual minuman dan makanan. Kemarin siang, ada beberapa orang yang menikmati seni rajah dan extention eyelash.

Menurut salah satu pekerja di rumah makan Manado, Harti ada salah satu stan makanan Sedap Malam kerap dikunjungi oleh salah seorang pelawak kenamaan Azis Gagap.

"Di sini ramainya pagi kalau Sabtu Minggu. Hari-hari biasa paling jam makan siang. Biasanya karyawan kantor sekitar sini yang makan di sini," terang wanita asal Banjarnegara, Jawa Tengah ini.

Kondisi di pasar ini super bersih, ada puluhan petugas kebersihan yang rajin membersihkan area pasar dari lantai satu hingga tiga setiap harinya. Keamanan pun, ada petugas keamanan atau satpam yang bertugas di setiap lantai.

Ada tangga berjalan atau eskalator yang menghubungkan antara lantai satu ke lantai lainnya. Lift pun juga tersedia di sini, bagi orang penyandang disabilitas.

Di bawah atau basement ada parkiran untuk kendaraan roda dua dan roda empat. Seperti biasa, area parkiran juga berlaku layaknya mal, mesin parkir meteran dan dikenakan tarif per jamnya.

Untuk sampai ke sini, tak perlu khawatir. Sebab, ada berbagai sarana transportasi umum yang menjangkau Fresh Market. Seperti Transjakarta koridor Monas-PIK yang turun langsung depan pasar ini. Kemudian Angkot KWK Muara Barau-Muara Angke juga melewati pasar modern ini. Atau tidak ingin bersusah payah, bawa kendaraan bermotor sendiri. Selain bisa berbelanja juga dapat menikmati aneka hiburan di PIK, misal Wisata Hutan Mangrove yang lokasinya cukup dekat atau jarak tempuh hanya sekira 10 menit.


 
 
 
Infonitas > Feature >

Dikala Direksi Transjakarta Menjajal Kerja Lapangan

Jumat, 15 Sepember 2017 | 13:45 WIB

Editor : Dany Putra

Reporter : Yatti Febriningsih

Direktur Operasional Daud Joseph menjadi petugas layanan bus
Foto : Yatti Febriningsih

Dalam rangka Hari Pelanggan Nasional direksi PT Transjakarta bertugas menjadi kondektur, sopir, dan kasir. Cara ini untuk mengetahui kekurangan dilapangan.

JAKARTA – Memiliki jabatan tinggi tidak membuat jajarang direksi PT Transjakarta canggung saat terjun langsung melayani para penumpang, di Halte Harmoni, Jakarta Pusat, Kamis (14/9/2017). Kesempatan untuk mendekatkan diri dengan masyarakat di Hari Pelanggan Nasional ini menjadi memomentum perbaikan pelayanan bus Transjakarta.

"Kita turun ke bawah untuk bisa melayani. Kami ada karena bapak/ibu sekalian,” ujar direktur utama PT Transjakarta, Budi Kaliwono di Halte Harmoni Jakarta, Kamis (14/9/2017).

Dalam kegiatan ini Direktur Utama Transjakarta Budi Kaliwono berperan menjadi kondektur bus. Selain itu Direktur Keuangan Widi Widananto bertugas sebagai kasir, Direktur Teknik dan Fasilitas Wijanarko menjadi pengemudi bus, dan Direktur Operasional Daud Joseph menjadi petugas layanan bus.

“Kalau di halte saya sering.  Kalau di dalam bus saya baru sekali ini.  Jadi saya tahu jika melayani orang banyak ternyata lebih bahagia,” kata Direktur Operasional PT Transjakarta Daud Joseph kepada Infonitas.com.

Direktur Utama Transjakarta Budi Kaliwono juga mengaku senang bisa terjun langsung melayani masyarakat. Saat berbaur dengan warga dia mengaku banyak mendapat komplain dari masyarakat pengguna Transjakarta.

“Yang lebih menarik adalah saya justru banyak mendapat complain langsung dari penumpang kami. Disitu juga kami berkesempatan bisa menjelaskan langsung kepada mereka,” ceritanya.

Pengalaman seru juga dialami oleh Direktur Keuangan Transjakarta Widi Widananto yang bertugas sebagai kasir. Widi juga ikut mendapat komplain, bahkan dirinya tidak menyangka pelanggan akan mengomentrainya seperti itu. “Tadi saya kan berperan jadi kasir. Terus ada yang komplain, katanya saya anak magang kok nggak pakai baju hitam-putih,” kata Widi.

Mendengar komplain tadi, Widi yang mengenakan pakaian batik saat jadi kasir cuma bisa tersenyum dan tetap memberikan pelayanan. Meski mendapat komplain, dia justru ketagihan menjadi seorang petugas kasir. “Rasanya pengen mengulangi lagi ini mah, nagih malah ini,” selorohnya.

Direktur Teknik dan Fasilitas Wijanarko menjadi pengemudi bus

Sekaligus Belajar

Turun langsung kelapangan juga dimanfaatkan untuk belajar dan menganalisa pekerjaan petugas yang langsung bersentuhan dengan masyarakat. Dirtur Operasional Daud Joseph yang berperan menjadi Petugas Layanan Bus (PLB) mengaku banyak mendapatkan pelajaran, terutama menjadi seorang onboard.

“Ada dua sisi yah. Yang pertama ada banyak yang bisa kita improvisasi dari seorang onboard yah,  misalnya ada orang-orang yang ada di bus yang bisa disapa. Ini perlu saya kaji sih, apakah orang di bus itu pengen ngobrol nggak sih.  Karena belum tentu juga orang senang di ajak ngobrol loh,” ucapnya.

Dari pengalaman menjadi seorang petugas onboard juga bukan merupakan tugas yang mudah, pasalnya mereka lah garda terdepan layanan bus kebanggaan Jakarta ini. Oleh karena itu dirinya mengapresiasi para karyawan yang turun langsung melayani masyarakat terutama para petugas onboard.

”Sebetulnya, aspek-dari seorang onboard bisa kita olah juga.  Misalnya, mengangkat papan tadi lumayan pegel juga, mungkin salah satu halnya saya tidak biasa kan.  Tapi, onboard yang setiap hari mengangkat itu, bisa dicarikan alternatif lain untuk dia bisa lebih mudah, sehingga bekerjanya bisa lebih nyaman lagi,” katanya.


 
 
 
Infonitas > Feature >

Menanti Geliat AEON MALL Jakarta Garden City

Jumat, 1 Sepember 2017 | 15:30 WIB

Editor : Fauzi

Reporter : Indah Mulyanti

Soft Opening AEON Mall Jakarta Garden City.
Foto : Indah Mulyanti

Ada berbagai keunggulan yang dimiliki AEON MALL Jakarta Garden City. Mulai dari landmark baru kincir ria raksasa, hingga CGV Cinemas terbesar di Indonesia.

BEKASI – Jika tidak aral melintang, AEON Mall akan kembali menambah gerainya di Ibu Kota. Kali ini lokasinya di area Jakarta Garden City (JGC). Mengusung konsep ‘Smile of Life’, mal ini akan mulai beroperasi pada 30 September 2017 mendatang.

General Manager Mall Operation AEON MALL JGC Sri Prayogio mengatakan, AEON MALL JGC menawarkan pengalaman dan tempat baru, sekaligus menambah senyum baru di dalam kehidupan para pelanggan. "Di sini kami akan menyedikan waktu yang mampu mempererat hubungan pelanggan dengan keluarga dan orang-orang terdekat, dengan menyediakan tempat dimana mereka bisa mengahabiskan waktu dengan tersenyum bersama, bukan sekadar belanja,” ujarnya dalam keterangan pers di Ballroom Hotel Santika Premiere Kota Harapan Indah, Rabu (30/8).

Terdiri dari lima lantai, mal megah ini nantinya akan terbagi ke dalam berbagai zoan, dimana unsur entertainment dan kuliner masih tetap mendominasi. Di lantai dasar, tersedia beragam pilihan gerai kuliner mulai dari restoran hingga kafe."Ada berbagai pilihan kuliner. Pengunjung dapat menikmati sushi dan okonomiyaki langsung di tempat, eat in corner di area Delicia Zone. Lalu ada Gourmet Terrace, dimana restoran dan kafe yang saling terhubung antara lantai dasar dan lantai 1. Total ada 70 tenant, termasuk 25 tenant yang baru pertama kali dibuka di daerah Jakarta Timur," ungkapnya.

Sedangkan di lantai dua, berpusat di Departement Store AEON, menempatkan Baby & Kids Corner terbesar di kawasan Jakarta Timur. Dan juga, food court yang bertemakan hutan tempat tinggal para binatang yang dapat dinikmati oleh lansia dan anak-anak yang diberi nama Zoo Cafe. Masih di lantai yang sama, terdapat specialty tenant yang menyediakan barang elektronik, telepon genggam, aksesoris elektronik dan lain-lain. “Kemudian di lantai tiga, terdapat food court, cinema, taman hiburan dan kincir ria raksasa terbesar di Indonesia. Ini landmark terbaru di kawasan ini, dimana para pengunjung bisa melihat pemandangan di sekitar JGC,” papar Sri Prayogio.

Ditambahkan olehnya, untuk fasilitas bioskop, AEON Mall Jakarta Garden City memili CGV Cinemas. Ini merupakan teater terbesar dan jumlah kursi terbanyak di Indonesia. “Di area ini juga akan hadir taman hiburan yang menambah pengalaman hiburan untuk anak-anak. Bisa dibilang, lantai ini merupakan lantai yang dapat memberikan kegembiraa  kepada para pelanggan,” tutupnya. Patut ditunggu kehadirannya pada September mendatang.


 
 
 
Infonitas > Feature >

Alina, Perfumer Cantik Bermodal Kimia dan Talenta

Kamis, 31 Agustus 2017 | 14:15 WIB

Editor : Dany Putra

Reporter : Yatti Febriningsih

Alina, perfumer dari Firmenich Indonesia
Foto : Yatti Febriningsih

Kecintaan Alina menjadi perfumer bermula saat dia duduk di bangku perguruan tinggi.

JAKARTA – Menjadi seorang peracik dan pembuat parfum mungkin profesi yang jarang digeluti kebanyakan orang. Pekerjaan ini memiliki tantangannya tersendiri dan tidak sembarang orang bisa menjadi perfumer.

Seperti seorang perfumer bernama Alina. Pekerjaannya itu tidak langsung didapat begitu saja, melainkan banyak hal yang harus dia lewati sebelum menjadi seorang perfumer yang handal seperti saat ini.

Kecintaannya menjadi perfumer bermula saat dia duduk di bangku perguruan tinggi. Dia mengambil jurusan Kimia. Dari situlah mengantarkannya menjadi seorang perfumer. Ditambah dengan bakat yang ada pada dirinya, jadilah wanita berusia 33 tahun ini salah satu perfumer ternama di Indonesia.  

“Kalau pendidikan formal kebetulan saya backgroundnya kimia. Tapi teknik kimia saja tidak cukup untuk profesi ini. Setelah saya selesai dari sekolah kimia, saya masuk ke perusahan saya bekerja. Dan sama mereka saya dilatih untuk menjadi seorang perfumer,” katanya kepada Infonitas.com, di Plaza Indonesia, Rabu (30/8/2017). 

Dara kelahiran Jakarta ini mengatakan, saat ini dia bekerja di PT Firmenich Indonesia dan sudah barang tentu pekerjaannya saat ini berhubungan dengan berbagai macam wangi-wangian. Lulusan Universitas National Of Singapore ini meraciknya wewangian untuk menghasilkan sebuah wangi yang bisa dijual kepada klien. 

“Jadi pekerjaan saya adalah mendesign wangi-wangian. Analogi paling gampangnya itu mungkin pemusik yang menciptakan lagu. Jadi tugas aku adalah yang meracik untuk menjadi wangi-wangian gitu yah, sesuai dengan kebutuhan klien,” kata ibu satu anak ini.

Bukan Pekerjaan Mudah 

Alina menjelaskan, menjadi perfumers bukanlah pekerjaan yang mudah. Sebab, jika indra penciumannya bermasalah dia tidak bisa mengerjakan pekerjaannya secara maksimal. 

“Tantangannya menciptakan sesuatu yang baru tapi juga familiar gitu loh, tetap inovatif dan nyaman untuk kita yah. Kesulitannya kalau saya sakit batuk atau pilek misalnya, saya tidak bisa bekrja. Tapi, bukan berarti kita tidak bisa bekerja ke kantor. Karena pekerjaan kita kan selain untuk cium-cium ada yang lain juga. Tapi, kalau saya lagi batuk pilek saya tidak bisa untuk mengcreate wangi-wangian baru,” katanya. 

Saking sulitnya menjadi seorang perfumers profesi ini hanya ditekuni oleh segelintir manusia di muka bumi ini. Sebab, untuk meracik sebuah wewangian membutuhkan teori dan juga bakat. Dengan talenta penciuman yang bagus, hingga saat ini Alena sudah 10 tahun berhasil menekuni perkerjaannya.

 “Saya rasa bukannya orang tidak tetarik yah. Hanya mungkin orang seperti saya ini didunia cuma ada ratusan gitu, tidak banyak. Karena memag sangat susah, karena perlu talenta dan nggak semua orang penciumannya bagus. Memang kesempatannya tidak banyak,” lanjutnya. 

Hingga saat ini, Alina sudah menciptakan berbagai wangi-wangian ternama di Tanah Air. Aroma bunga menjadi salah satu wangi andalan yang paling ia sukai. “Saya suka bunga, Karena bunga itu bagus banget menurut saya dan bunga itu harganya mahal, jadi udah pasti lebih premium gitu,” imbuhnya.


 
 
 
Infonitas > Feature >

Kerja Keras dan Kesabaran yang Terbalut Seragam Oranye

Jumat, 21 Juli 2017 | 16:45 WIB

Editor : Ivan

Reporter : Muhammad Azzam

Petugas PPSU
Foto : Muhammad Azzam

Salah seorang pasukan oranye bilang, menjadi petugas PPSU bukan hanya soal kerja keras, melainkan kesabaran serta keikhlasan.

KELAPA GADING - Pagi belum lama datang. Namun, Sarkam (35) sudah siap dan bergegas keluar rumahnya. Berbekal sapu lidi dengan gagang tongkat, serokan, serta kantong plastik sampah di tangan, pria berbalut seragam oranye itu kemudian menyisir jalan dan saluran air yang ada di wilayah Kelurahan Pegangsaan Dua, Kecamatan Kelapa Gading, Jakarta Utara.

Sarkam tidak sendiri, ia bekerja bersama 62 rekannya di wilayah tersebut. Warga sekitar pun mengenal Sarkam dan kelompoknya sebagai Pasukan Oranye, atau petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU).

Ya, menjadi anggota PPSU adalah pekerjaan yang dilakoni Sarkam sejak Juli 2015. Pekerjaan ini selalu memaksanya bangun lebih pagi dari biasanya. Sebab sebagai koordinator petugas PPSU, ia harus memastikan 'wilayah kekuasaannya' sedap dipandang sejak mentari mulai menyinari kawasan Pegangsaan Dua.

Dalam bekerja, Sarkam dan pasukannya tidak hanya mengumpulkan sampah yang berserakan di jalan, tapi juga membersihkan sampah yang menghalangi laju air di selokan. Ini luar biasa, mengingat saat ini tidak semua orang mau bekerja 'dekat' dengan sampah. Karena hal ini pula, Sarkam menganggap pekerjaannya bukan sebuah beban, melainkan tugas mulia yang harus dijalani dengan ikhlas dan penuh tanggung jawab.

"Nggak gampang jadi petugas PPSU. Nggak cuma tenaga, tapi pikiran dan hati juga dipakai," ujarnya saat berbincang dengan Infonitas.com di sela-sela waktu istirahatnya, Jumat (21/7/2017).

Sarkam mengaku, butuh kerja keras untuk membuat kawasan Pegangsaan Dua selalu terlihat bersih setiap saat. Sebab, wilayah ini termasuk kawasan padat penduduk. Terlebih, kata Sarkam, sebagian warga di kawasan ini masih memiliki kesadaran yang minim terhadap kebersihan lingkungan.

“Pekerjaan ini bukan Cuma soal tenaga, tapi juga kesabaran. Sering kami terjun ke selokan demi mengambil sampah yang tersangkut, atau naik tembok karena letak selokan yang penuh sampah itu ada di belakang bangunan. Terlebih, masih ada saja warga yang sengaja menumpukkan sampahnya dipinggir jalan, selokan, atau tembok rumah, tidak membuang pada tempatnya. Jadi bau tidak sedap juga seolah sudah jadi 'sarapan pagi’ buat kami,” beber Sarkam.

Dari pengalamannya itu, terselip harapan agar warga Pegangsaan Dua semakin sadar dan ikut ambil bagian dalam menjaga kebersihan lingkungan. Ia juga ingin agar warga tidak hanya mengandalkan petugas kebersihan yang kerap dipandang sebelah mata.

"Buang sampah di tempat yang sudah disediakan. Janganlah lempar sampah ke selokan sebab bikin susah kami. Kan itu juga sebab utama banjir, karena aliran air tersumbat," pungkasnya.


 
 
 
Infonitas > Feature >

Kebangkitan Pemuda RW 02 Pegangsaan Dua

Rabu, 19 Juli 2017 | 14:00 WIB

Editor : Ivan

Reporter : Muhammad Azzam

Pemuda yang merupakan anggota Karang Taruna RW 02 Pegangsaan Dua saat menghias tembok di wilayahnya.
Foto : Muhammad Azzam

Perhimpunan pemuda atau Karang Taruna RW 02 Kelurahan Pegangsaan Dua bangkit dari tidur panjang. Beragam kegiatan pun siap digelar.

KELAPA GADING - Mulanya ini adalah pertanyaan pribadi, 'bagaimana cara membangunkan Karang Taruna di RW 02 Kelurahan Pegangsaan Dua?’. Pertanyaan itu terlontar karena perhimpunan pemuda di RW tersebut telah lama koma.

Pertanyaan tersebut terus bergulir dari mulut ke mulut. Mengarungi waktu hingga tanpa sadar telah tertanam di benak setiap pemuda yang ada di sana. Akhirnya, tiba masa di mana pertanyaan itu berubah menjadi pembahasan umum yang diperbincangkan oleh para pemuda, beserta para tokoh dan pengurus RT/RW di RW 02 Pegangsaan Dua.

“Dalam salah satu perbincangan yang dilakukan, kami para pemuda mengaku tetap bertahan. Bahkan kami memiliki keinginan untuk lebih mengaktifkan karang taruna.  Namun, kita terkendala banyak hal. Mulai dari kurangnya partisipasi anak muda dalam kegiatan RW, hingga kesulitan mencari generasi penerus yang memiliki passion untuk berkecimpung dalam kegiatan kepemudaan,” papar Abdul Maruf, Wakil Ketua Karang Taruna RW 02 Pegangsaan Dua menceritakan awal kebangkitan perhimpunan pemuda di wilayahnya.

Dari perbincangan dengan para tokoh dan pengurus RT/RW tersebut, lanjut Maruf, disepakati ada pemilihan ketua karang taruna baru. Selain itu, perekeutan anggota karang taruna juga dilakukan secara besar-besaran di wilayah RW 02 Pegangsaan Dua.

“Saat itu, para pengurus berharap ketua baru dan regenerasi yang dilakukan dapat membangkitkan Karang Taruna RW 02 Dari ‘tidur panjang’. Sehingga ke depannya, banyak kegiatan positif yang bisa digelar di lingkungan RW 02 ini,” tambahnya.

Maruf juga tidak memungkiri, ada tujuan lain dari kegiatan perekrutan anggota karang taruna secara besar-besaran itu. Tujuan ‘terselubung’ tersebut adalah mendorong pemuda lain agar turut berkecimpung dalam kegiatan kepemudaan. Sebab tidak dipungkiri, kehadiran karang taruna sangat dibutuhkan di lingkungan RW 02 Pegangsaan Dua.

"Kan enggak mungkin kegiatan yang berkaitan dengan anak-anak muda, tapi orang yang tua-tua yang mengurusnya. Tidak nyambung dunianya. Kita kita ini kan yang lebih paham," tuturnya.

Organisasi Sosial, Bukan Komersial

Dalam masa perekrutan, Maruf mengaku pihaknya selalu mengingatkan kepada calon anggota tentang satu hal, yakni karang taruna merupakan perhimpunan yang ada untuk melaksanakan beragam kegiatan sosial, bukan untuk mencari untung atau apapun. Ini dilakukan sebagai bentuk rasa kepedulian sosial para pemuda terhadap lingkungannya.

"Banyak yang nanya ke kita, kenapa masih tetap bertahan di Karang Taruna? Kita jawab, kalau aja anak mudanya seperti kalian (pemuda pasif), siapa lagi yang mau berkarya? dan siapa lagi mau bergerak jiwa sosialnya? mau jadi apa RW 02 ini?” kata Maruf membalikkan pertanyaan yang dilontarkan banyak orang kepadanya.

“Kalau ditanya, pasti banyak dukanya menjadi anggota karang taruna. Tapi, lebih banyak senangnya. Terlebih saat kita bikin acara, terus sukses dan ramai, warga antusias sehingga bermanfaat buat mereka. Itu kesenangan dan kepuasan yang dirasa dalam hati," sambung pria yang masih kuliah di UNJ Jurusan Sosial ini.

Banyak Program Segera dilaksanakan

Kini, perekrutan telah selseai. Karang taruna RW 02 Pegangsaan Dua pun bangkit dengan formasi baru. Perhimpunan pemuda ini juga tidak lagi sebatas perkumpulan saat momen 17 Agustus yang menggelar berbagai perlombaan.

“Karang Taruna RW 02 Pegangsaan Dua sudah jadi tumpuan. Organisasi ini juga diharapkan banyak pihak dapat memberdayaan masyarakat, khususnya anak muda yang nganggur,” kata Maruf.

Ke depan, lanjutnya, banyak hal yang akan dilakukan Karang Taruna RW 02 Pegangsaan Dua. Beberapa di antaranya adalah mengaktifkan kembali kegiatan menjahit, reopening usaha cuci steam, dan memberdayakan bakat tiap anggota karang taruna dalam kegiatan masyarakat, maupun program pemerintah. Sehingga, para pemuda di RW ini tidak benar-benar menganggur saat belum mendapatkan pekerjaan.

 "Terkadang kan masih banyak pemuda di sini yang pengangguran, tidak bekerja. Dari pada mereka tidak jelas, tidak ada kegiatan, mending gabung aktif di karang taruna. Dijamin dapat manfaatnya,” ajak Maruf.

“Kami juga pastinya akan selalu membantu dan memberdayakan, sehingga mereka (pemuda) juga ke depannya dapat memiliki penghasilan dari program yang akan kami kembangkan. Selain itu, dengan seringnya berkumpul dan berorganisasi, akan memperbanyak teman sehingga memperluas jaringan. Hal ini tentunya dapat dimanfaatkan untuk mencari pekerjaan,"pungkasnya.