Infonitas > Feature >

Natal, Adat Betawi dan Gereja Katolik Santo Servatius Bekasi

Selasa, 26 Desember 2017 | 07:00 WIB

Editor : Fauzi

Reporter :

Ilustrasi perayaan Natal di Gereja Santo Servatius Kampung Sawah, Kota Bekasi, Jawa Barat.
Foto : istimewa

Pesan kasih dan damai Natal dalam konteks persatuan dan toleransi beragama sangat kental di Gereja Katolik Santo Servatius yang sudah berusia lebih dari seabad ini.

BEKASI -  Mendengar nama Gereja Katolik Santo Servatius, tentu tidak bisa dilepaskan dari kebudayaan Betawi. Menginjak usianya yang ke-121 tahun, gereja yang dipelopori oleh Pastur Bernadus Schweitz asal Belanda ini, tetap memegang teguh ciri khas Budaya Betawi, termasuk dalam pelaksanaan setiap ibadah yang dilakukan.

Seperti pada perayaan Natal 2017 kali ini. Budaya Betawi kental terasa dalam perayaan yang dilakukan oleh gereja yang terletak di daerah Kampung Sawah, Pondok Melati, Kota Bekasi ini. Ada empat kembang mayang khas Betawi yang menggantung di sudut kanan-kiri di bagian depan dalam gereja. Kandang Natal-nya pun didesain seperti rumah adat Betawi, termasuk bagian pagar pembatas kayunya.

Tak hanya sampai disitu, dalam gelaran Misa pada Senin (25/12), seluruh panitia pun mengenakan pakaian ada khas Betawi. Untuk yang perempuan, menggunakan atasan kebaya, selendang, serta dipadukan dengan batik maupun celana. Sementara untuk yang pria, mengunkan baju keseharian Betawi, yakni baju sadarinah atau baju koko, celana panjang, lengkap dengan sarung yang diselendangkan dan peci warna hitam. “Ini merupakan akulturasi antara Gereja Katolik dengan budaya lokal (Betawi),” jelas Wakil Ketua Dewan Gereja Katolik Santo Servatius Matheus Ungin,” Senin (25/12).

Lebih jauh Matheus memaparkan, identitas budaya Betawi kukuh dipegang pengurus dan jemaat gereja ini dalam berbagai kegiatan, sejak lebih dari seabad silam. Bukan hanya saat perayaan besar seperti Natal atau Paskah. Misal, dalam pelaksanaan Misa mingguan, seluruh panitianya menggunakan pakaian adat Betawi. Pun demikian dengan penyampaian khotbah dan lagu puji-pujian pun menggunakan bahasa Betawi. “Setiap minggu pertama setiap bulannya, (khotbah) menggunakan bahasa Betawi, istilahnya inkulturasi,” ungkapnya.

Kendati sama-sama menggunakan budaya Betawi, ada sedikit perbedaan antara penggunaan bahas Betawi di Kampung Sawah, termasuk di gereja ini, dengan yang ada di Betawi Jakarta. Perbedaannya pada penggunaan vokal A, seperti jika di Jakarta ‘Gue’ di sini menjadi ‘Gua’. ‘Aje’ menjadi ‘Aja’ dan seterusnya. Tidak heran, jika saat ini warga asli Betawi yang menjadi jemaat gereja ini sekira 30 persen dari total sekira 11 ribu jemaat yang terdaftar.

Berdasarkan penelusuran berbagai literasi, cikal-bakal inkulturasi budaya Betawi dan Gereja Katolik ini bermula saat Pastur Bernadus Schweitz membaptis 18 ‘anak setempat’ pada 6 Oktober 1896. Peristiwa bersejarah bagi Ummat Katolik di Kampung Sawah ini pun ditetapan sebagai hari lahir gereja ini.

Di tengah kencangnya terpaan ujian toleransi dan kemajemukan di Indonesia akhir-akhir ini, apa yang ‘tersaji’ di Gereja Katolik Santo Servatius sangat indah. Kemajemukan yang ada berhasil dijaga selama lebih dari seabad. Toleransi dengan penduduk lokal yang mayoritas muslim pun berjalan baik. Ini dimungkinkan lantaran masih dijaganya kebiasaan ‘Ngeriung Bareng’ atau kumpul bareng antar warga lintas agama di Kampung Sawah yang rutin diadakan. Terlebih, meski berbeda agama, warga kampung ini rata-rata masih memiliki hubungan kekerabatan.