Infonitas > Feature >

Mereka yang Rela Tak Pernah Berlebaran Bersama Keluarga

Kamis, 21 Juni 2018 | 15:45 WIB

Editor : Ichwan Hasanudin

Reporter : Adi Wijaya

Supir AKAP tujuan Madura di Terminal Tanjung Priok.
Foto : Adi Wijaya

Dibalik suka pemudik, ada kisah sedih mereka yang terpaksa tidak bisa ikut berlebaran bersama keluarga,. Mereka adalah para awak angkutan Lebaran.

TANJUNG PRIOK – Raut wajah bahagia tampak dari para pemudik di Terminal Tanjung Priok, Jakarta Utara. Memanggul oleh-oleh yang dibungkus kardus sambil menenteng tas, mereka dengan sabar menunggu bus tujuan ke kampung halamannya tiba. Mereka pun tergesa-gesa ketika melihat bus yang dituju datang. Berebut bahkan tidak segan sikut kanan kiri.

Memang, senang rasanya bisa berlebaran bersama keluarga dan sanak saudara di kampung halaman. Jarak tempt yang lama, kemacetan panjang yang akan dihadapi bukan penghalan untuk memanjangkan niat silaturahmi. Berapapun biayanya akan dikeluarkan, asal bisa untuk pulang ke kampung halaman.

Namun, dibalik kegembiraan itu, terselip rasa sedih dari sejumlah orang. Ya, mereka adalah para awak bus Antar Kota Antar Provinsi (AKAP) yang setia mengantarkan pemudik menuju kampung halaman. Rasa rindu ingin berkumpul bersama istri dan anak serta sanak saudara terpaksa ditunda.

Seperti yang dirasakan Rahmat, supir bus AKAP tujuan Madura. Sudah tidak kali Lebaran dirinya tidak bisa berkumpul bersama istri dan anak.

"Sudah tiga kali lebaran nggak pulang," ungkap Rahmat, saat ditemui di Terminal Tanjung Priok, Jakarta Utara, Kamis (21/6/2018).

Selama tiga Lebaran itu, ia dengan setia bertugas ekstra di belakang kemudi dei keselamatan penumpang hingga tiba di kampung halaman.

Kerinduan berkumpul bersama keluarga harus ditebus setelah Lebaran. Setelah arus balik usai, Rahmat punya jatah satu minggu untuk libur.

"Jatah libur hanya seminggu per tiga bulan. Kalau libur terlalu lama ngga dapet penghasilan. Karena honor hanya diterima usai menyopir pulang-pergi (PP) Jakarta - Madura," terangnya.

Meski terasa sedih, namun akui Rahmat, dirinya cukup terhibur dengan berbagai tingkah laku penumpangnya. Terutama barang bawaan atau muatan yang dibawa penumpang menuju kampung halaman. Selain kerap berlebih (overload), Muatan penumpang beragam dan terkadang diluar nalar.

Salah satunya muatan milik penumpang bernama Romadi (33 tahun). Dia membawa muatan sepasang burung dara menuju kampung halaman. Padahal, burung tersebut diakuinya berasal dari Madura. Dibawa ke Jakarta untuk dilatih. Usai burung dinyatakan 'pintar', kembali dibawa ke kampung halaman.

"Jadi buruh hanya dilatih saja di Jakarta. Dibawa lagi ke kampung kalau sudah 'pintar'," terangnya.

Kondektur awak BUS AKAP tujuan Madura, Edy M (44 tahun) tak lagi terkejut terhadap kelakuan penumpangnya. Bahkan, pernah ditemuinya penumpang yang membawa barang bawaan berupa satu genggam bawang merah.

"Kadang nggak masuk akal. Tapi ya mungkin sudah kebiasaan mereka. Barang bawaan mereka banyak juga karena titipan saudara," paparnya.

Kembali ke sang sopir bus, minimnya kesadaran berlalu lintas kerap menyulitkannya saat mengemudi. Beresiko tinggi untuk menyalip kendaraan berplat nomor kendaraan M (Madura) lantaran tak mau menepi meski sudah diberi kode lampu dan klakson.

"Lebih baik kita yang mengalah saja. Kehidupan mereka keras. Sulit mengerti kita yang mengemudi kendaraan lebih besar," tutupnya.