Infonitas > Feature >

Menjaga Budaya Betawi di Era Globalisasi

Kamis, 24 Mei 2018 | 14:00 WIB

Editor : Ichwan Hasanudin

Reporter : Rachli Anugrah Rizky

Budaya Betawi mulai terkikis olah kemajuan zaman. Budaya betawi hanya tampil di acara seremoni seperti ulang tahun Jakarta.
Foto : Azhari Setiawan

Seni budaya Betawi yang dahulu sangat terkenal, kini hanya tampil sesekali saja. Itu pun mungkin ketika Ibukota Jakarta berulang tahun.

KEBAYORAN - Budaya khas Jakarta atau Betawi mulai tergerus zaman. Pada era 80 atau 90-an, bagi warga Jakarta khususnya, mungkin tidak ada yang tidak mengenal seni budaya khas Betawi seperti Ondel-Ondel, Lenong, atau Silat Palang Pintu.

Namun semua itu berubah di era milenium ini. Mungkin hanya sedikit orang yang mengenal, tahu atau pernah menyaksikan seni budaya leluhur Betawi, suku bangsa penduduk asli Ibukota Jakarta.

Kesenian Lenong dan Ondel-ondel adalah seni pertunjukkan khas Betawi ini yang dulu sangat terkenal, kini hanya sesekali saja tampil. Itu pun mungkin ketika Jakarta berulang tahun.

Bukan hanya Lenong dan Ondel-ondel yang tergerus era globalisasi, seni silat yang ada ada dalam tata cara pernikahan yaitu Palang Pintu juga mengalami hasib yang sama. Budaya Palang Pintu juga sedikit banyak telah mengalami penggerusan.

Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Forum Komunikasi Anak Betawi (Forkabi) Mohamad Ihsan mengatakan budaya Betawi sudah tidak boleh lagi menjadi anak tiri di Jakarta.

Pasalnya, sudah ada Peraturan Daerah (Perda) dan Peraturan Gubernur (Pergub) yang mengatur pelestarian budaya Betawi dan penggunaan ikon budaya Betawi.

"Budaya Betawi sejak 2015 sudah bukan anak tiri di Jakarta karena ada Peraturan Daerah Nomor 4 Tahun 2015 tentang Pelestarian Kebudayaan Betawi dan Peraturan Gubernur No.11 Tahun 2017 tentang Ikon Budaya Betawi," katanya kepada Info Kebayoran.

Pria yang akrab disapa Bang Ihsan ini menyatakan isi Perda dan Pergub sangat jelas mengatur usaha-usaha yang diminta ikut serta dalam pelestarian budaya Betawi.

"Dalam Perda (dan Pergub) itu jelas, salah satunya hotel-hotel harus menyuguhkan kebudayaan Betawi. Bukan pemerintah saja, tapi kalangan swasta, sehingga perlu ada penekanan ornamen-ornamen Betawi bisa diterapkan," jelasnya.

Ihsan pun mengakui jika dalam 3 tahun terakhir ini penerapan Perda dan Pergub tersebut belum terlalu "menggigit". Untuk itu, dia berharap kegiatan pelestarian budaya Betawi seperti Festival Palang Pintu Kemang ini bisa muncul di daerah lain di Jakarta.

Hal yang sama juga dirasakan oleh Edy Mulyadi, Ketua Yayasan Padepokan Seni Budaya Betawi Manggar Kelape Kemang, Jakarta. Seingatnya, pada tahun 90-an dan 2000-an, Kemang merupakan daerah santri. Tidak ada aktivitas mabuk-mabukan di jalan.

“Saya melihat budaya lokal semakin terkikis di masyarakat, akhirnya saya buka sanggar,” katanya.

Edy mengistilahkan sanggar ini sebagai karang yang fungsinya menahan kuatnya ombak. Niatnya itu didasarkan agar masyarakat dan budaya terselamatkan, bertahan dan terselamatkan.

“Awalnya memang saya asli orang kemang, peduli terhadap budaya. Terpaan budaya modern kita lawan dengan budaya lokal. Pada 5 Mei 2005 diresmikan (awalnya tahun 2004 akhir) Padepokan Manggar Kelape, di awali dengan pohon-pohon tua dan silat,” ceritanya.

Di sanggar ini, awalnya Edy mengajak  anak-anak dan masyarakat ikut silat gratis. Ini untuk memunculkan dan menumbukan tradisi tradisi tempo jaman dahulu agar masih tetap terasa. Seiring dengan perkembangannya, sanggar ini menambah divisinya, yakni tari.
“Akhirnya saya berfikir kembali dapat pahala, maka saya membuat konsep harus ada art, visi misi, bertujuan menciptakan masyarakat betawi cinta pada budayanya,” terangnya.