Infonitas > Feature >

Mengintip Belasan Anak 'Titipan' di RPATKI Cikeas

Senin, 11 Sepember 2017 | 16:00 WIB

Editor : Nurul Julaikah

Reporter : Ronald Tanoso

RPATKI Cikeas
Foto : Lulus Nurhadi

Tak sedikit para TKW yang bekerja di Timur Tengah harus membawa ‘oleh-oleh’ berupa buah hati dari hasil hubungan gelap dengan majikan saat di perantauan.

CIKEAS - Sekitar belasan anak yang memiliki paras dan perawakan asal Timur Tengah menjadi penghuni Rumah Peduli Anak Tenaga Kerja Indonesia (RPATKI) Cikeas, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Anak-anak tidak berdosa yang harus hidup tanpa figur ayah tersebut, menjalani kehidupan dari bayi atau sejak lahir di tempat penampungan.

Anak-anak yang menempati rumah penampungan ini berasal dari berbagai belahan dunia, umumnya Timur Tengah. Tidak hanya berasal dari Arab Saudi, banyak para lelaki yang tidak bertanggung jawab dari negara lainnya juga ikut meninggalkan jejak haram di dalam rahim para pembantu rumah tangga (PRT) asal Indonesia itu. Sebut saja seperti Oman, Iran, Bangladesh, Uni Emirat Arab dan Pakistan. Alhasil, sekitar belasan anak itu terlahir dari hasil hubungan gelap dan bahkan akibat dari korban pemerkosaan.

Dari belasan anak itu, jumlah (15 anak) diantaranya paling dominan adalah anak laki-laki, sisanya adalah perempuan. Demi kepentingan privasi, pihak penitipan anak tidak menyebutkan satu persatu identitas dari anak-anak ini. Hanya saja kebanyakan dari anak-anak ini masih dalam kategori usia bayi dan balita. Mulai dari usia setengah tahun sampai usia 4 tahunan.

Kulit tubuhnya yang putih, berhidung agak mancung dan memiliki perawakan yang agak tinggi besar, belasan anak keturunan Arab Saudi ini merupakan sekumpulan bocah penghuni kamar di sebuah RPATKI Cikeas.

“Kebanyakan memang anak yang dititipkan disini masih usia balita dan merupakan hasil dari hubungan gelap orang tuanya bahkan ada juga yang mengaku diperkosa,” ujar Yudi Ramdhani, Manager Program RPATKI kepada infonitas.com, Senin (11/9/2017).

RPATKI berdiri sejak Februari 2009. Berlokasi di Jalan Letda Nasir, Cikeas, Gunung Putri, Kabupaten Bogor. Letaknya yang tidak jauh dari tempat tinggal mantan presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Puri Cikeas, Nagrak. Tepat di depan bangunan RPATKI ini berdiri di satu perkarangan dengan Rumah Sehat Cikeas (RSC). Kedua tempat ini dikelola oleh Yayasan Bhakti Suratto (YBS), hanya saja posisi rumah penitipan ini, dibelakangnya.

Berbagai Fasilitas Tersedia untuk Anak-Anak

Pada plang berwarna putih tertulis, ‘Rumah Peduli Anak Tenaga Kerja Indonesia’. Perlu diketahui, selain dikelolah YBS, RPATKI ini merupakan hasil kerjasama Gerakan Nasional Kepedulian Sosial (GNKS) dengan Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) dan juga Kementrian Sosial Republik Indonesia.

Rumah penitipan ini memiliki bangunan dua lantai dengan cat berwarna biru dan putih. Di lantai satu, terdiri dari ruangan tempat bermain dan ruangan bagi para karyawan rumah penitipan ini. Disamping itu juga, untuk menciptakan suasana yang lebih akrab, tersedia juga tempat bermain mereka dan rumput hijau hasil buatan pada halaman belakangnya.

Sedangkan untuk lantai duanya, terdapat beberapa ranjang untuk beristirahat. Di ruangan ini, juga dilengkapi dengan mainan anak, serta delapan perawat asal Banten, Jawa Barat. Para pengasuh anak-anak ini rata-rata berusia sekitar 30 tahunan yang setia mengasuh mereka sepanjang harinya.

Sebut saja, Nina, wanita paruh baya ini mengatakan, hampir rata-rata anak-anak tersebut ditinggalkan oleh ibunya begitu saja disini dan tak pernah mengunjunginya lagi. Mungkin karena mereka merasa malu jika pulang ke kampung halamannya dengan ‘oleh-oleh’ dari hasil merantaunya. “Meskipun kadang mereka (para ibu dari anak-anak ini) hanya menelepon sekedar untuk menanyakan kabar anaknya,” ungkapnya.

Sementara itu, Yudi mengatakan bahwa fondasi didirikannya tempat penampungan ini karena anak-anak pahlawan devisa ini memiliki orang tua yang bermasalah. Diakui olehnya, sebelum berdirinya tempat ini, hampir sebagian besar anak dari para pahlawan devisa itu ditelantarkan begitu saja. Bahkan adapula yang sampai dibuang oleh ibunya. "Kita juga prihatin dengan adanya kasus penjualan anak yang kerap kali terjadi dan belakangan sedang marak terjadi, semoga tempat seperti bisa menjadi solusi dari masalah tersebut," katanya.