Infonitas > Feature >

Meneropong Prospek Bisnis Online di Jakarta Barat

Selasa, 5 Desember 2017 | 13:45 WIB

Editor : Waritsa Asri

Reporter : M Nashrudin Albaany

Ilustrasi Bisnis Online di Jakarta Barat
Foto : Reggy Prawoso

Bisnis online atau e-commerce disebut-sebut akan terus melejit seiring dengan meningkatnya penggunaan internet di Indonesia

PURI - Mungkin kata bisnis online sudah tidak asing lagi di telinga kita. Tak bisa dipungkiri, bisnis online atau yang biasa di sebut e-commerce sudah menjadi tren saat ini. Transaksi dengan sistem online kini tengah menjadi primadona di kalangan masyarakat yang gemar belanja. Hal ini terlihat dari makin maraknya toko online yang bermunculan, mulai dari usaha kecil yang dikelola perorangan hingga perusahan korporasi besar.

Pengamat Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (UI), Rhenald Kasali mengatakan, potensi bisnis online kian melejit seiring dengan meningkatnya pengguna internet di Indonesia. Hal ini terbukti dengan meningkatnya jumlah transaksi e-commerce dari tahun ke tahun, ini juga membuktikan bahwa bisnis online memiliki banyak keunggulan di bandingkan dengan bisnis konvensional atau offline. 

"Dari segi waktu, biaya dan tenaga, sudah jelas bisnis online jauh lebih menguntungkan. Kita lihat saja sekarang, masyarakat sudah banyak yang beralih menggunakan transaksi online dari pada transaksi manual yang menggunakan uang pecahan. Apalagi, ketika masyarakat membeli barang-barang secara online, mereka bisa dapat lebih banyak dibanding harus belanja langsung ke tempat perbelanjaan, misalnya mall," kata dia saat dihubungi melalui sambungan telepon beberapa waktu lalu.

Menurut dia, masyarakat kini cenderung lebih suka transaksi secara online. Sebab, selain cepat dan mudah, transaksi online juga dinilai lebih efisien daripada transaksi manual di pasar-pasar dan toko. Berbagai kemudahan yang ditawarkan itulah yang kemudian membuat banyak pedagang akhirnya membuka bisnis secara online. 

"Kan kalau berjualan di toko, selalu terjadi pasang surut, kita tidak pernah tahu kapan pembeli datang. Tapi kalau online, kita tidak perlu jaga toko terus-terusan. Tinggal menunggu notifikasi di layar smartphone, baru siapkan barang. Apalagi, bisnis online ini juga tidak perlu menguras biaya sebanyak membuka toko ritel," timpalnya.

Hal senada juga diakui oleh Rahmat. Pemilik bisnis elektronik online di kawasan Kembangan, Jakarta Barat ini menilai, untuk memulai bisnis online tak perlu menyediakan modal yang besar untuk keperluan pengadaan toko. Dengan adanya bisnis online, seorang pengusaha dapat memulai usahanya melalui website atau sosial media yang bisa didaftarkan secara gratis. "Apalagi kan jangkauan bisnis online ini tidak terbatas dan jam kerjanya juga lebih fleksibel. Jadi kita bisa menjangkau pasar yang sangat luas jika dibandingkan dengan toko offline," ungkapnya. 

Selama hampir setahun menjalankan bisnis online, Rahmat mengaku diuntungkan dengan makin banyaknya masyarakat yang membeli produk elektroniknya. Disisi lain, masyarakat juga menjadi dimudahkan karena mereka tidak perlu lagi repot keluar rumah dan terkena macet di jalan untuk bisa memiliki kebutuhan yang diinginkan, karena sudah bisa dilakukan dengan cara online.

"Kunci untuk memulai bisnis online adalah pelayanan yang maksimal, karena jika pembeli puas dengan barang yang kita jual, maka akan meningkatkan kepercayaan calon pembeli lain terhadap kita. Selain itu, kita juga harus rajin mempromosikan barang yang kita jual. Paling mudah itu melalui sosial media, karena sekarang kan banyak pengguna sosmed di masyarakat," pungkasnya.

Meskipun belum bisa memprediksi seberapa besar masyarakat yang akan melakukan transaksi online, ia yakin tahun depan masyarakat khususnya di Jakarta Barat akan banyak beralih pada transaksi online dan juga melakukan pemasaran melalui online.

 Dampak Bisnis Online Terhadap Ritel Konvensional

Dengan berbagai kemudahan yang ditawarkan, membuat bisnis yang mengandalkan jaringan internet ini berkembang cukup pesat dan memberikan dampak nyata bagi bisnis ritel konvensional. Ketua DPW Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI) DKI Jakarta, Sespentri menilai, pengaruh bisnis online terhadap bisnis ritel konvensional cukup besar. Menurut dia, yang paling terkena dampaknya adalah para pedagang kecil. "Dengan adanya bisnis online, daya beli masyarakat terhadap ritel konvensional menjadi menurun. Penurunannya sekitar 20 sampai 25 persen," katanya. 

Pria yang akrab disapa Pepen ini mencontohkan, ritel konvensional khususnya industri elektronik terkena dampak langsung dengan hadirnya bisnis online, seperti yang terlihat di Pasar Glodok City. Sentra penjulan barang-barang elektronik yang terletak di Jalan Pancoran, Glodok, Tamansari, Jakarta Barat kini menjadi sepi pengunjung. "Kalau elektronik ini kita lihat kan kompetisinya luar biasa, apalagi kan sekarang e-commercenya juga luar biasa. Tapi ini sebenarnya masalah global, karena dialami semua pedagang," ungkapnya.

Sepinya Pasar Glodok dibuktikan dengan banyaknya kios elektronik yang tutup. Bahkan beberapa kios di lantai 3 keatas banyak yang disewakan atau justru hanya dijadikan sebagai gudang. Menurut data, dari total okupansi Pasar Glodok sebanyak 1.880 kios, ada sebanyak 564 kios kios yang tutup, itu belum termasuk jumlah kios yang hanya buka sewaktu-waktu. "Tercatat hampir 30 persen kios saat ini tutup karena berbagai alasan," ujar Asisten Manajer Usaha dan Pengembangan Pasar Glodok City, Aswan saat ditemui diruang kerjanya.

Pria yang sudah 27 tahun bekerja di PD Pasar Jaya ini mengatakan bahwa penggunaan internet menjadi indikator banyaknya pembeli yang sudah meninggalkan Pasar Glodok City. Dikarenakan, saat ini dengan mudahnya masyarakat membeli segala kebutuhan di internet. Bahkan, bisa diantar hingga ke rumah. "Itu dampak dari sebagian yang punya uang dibelanjakan lewat online, ini untuk masalah yang elektronik. Di luar itu, beli baju, alat kosmetik, aksesoris, mesti di toko, jarang di online. Tapi kalau elektronik, malah ada diskon di online, otomatis mendingan beli online daripada di Glodok," terangnya.

Sementara itu, Ketua Paguyuban Pedagang Glodok City H Umar menyebutkan, beberapa pedagang memilih hengkang dari Glodok City dan pindah ke lokasi lain yang harga sewanya lebih murah. Sebagian lagi mengurangi jumlah karyawan. "Pedagang banyak yang mengeluh karena omsetnya turun, itu terlihat dari sepinya pengunjung dan penurunan pembeli. Bisa dilihat, beberapa kios sekarang banyak yang tutup dan disewakan oleh pemiliknya," ucap H Umar.

 

Ritel Konvensional Harus Terus Berinovasi

Rhenald Kasali menilai, sepinya pengunjung di Pasar Glodok City disebabkan karena para pedagang tidak bisa berinovasi. Karena tidak melakukan terobosan baru, mereka akhirnya tergerus oleh toko-toko online. Padahal, saat ini adalah era disruption yang mengharuskan setiap pedagang melakukan inovasi yang dapat menciptakan pasar baru.

Agar dapat menghadapi era disruption tersebut, menurut dia, pedagang di Pasar Glodok City harus terbuka terhadap perubahan dan mengikuti perkembangan teknologi. Tidak hanya menyangkut perubahan bentuk, ukuran atau desain tapi juga mengubah seluruh metode, cara kerja dan bahkan produk yang tidak lagi relavan. "Mereka harus memperbaiki diri. Memperbarui pelayanan, fasilitas dan cara promosinya. Semua mesti diperbarui. Kalau tidak, bagi konsumen, buat apa ke sana tapi macet, parkir susah, AC enggak dingin dan enggak nyaman. Mendingan buka internet, langsung pesan," jelasnya. 

Selain itu, pedagang ritel konvensional juga harus lebih memanfaatkan teknologi ketika ingin bisnis mereka tetap bertahan. Apalagi, dengan berkembangnya bisnis online juga menciptakan pasar baru di mana saat ini ketika masyarakat membeli produk elektronik melalui sistem online, masyarakat akan dapat lebih murah. "Mau tak mau, kuncinya adalah inovasi. Konsepnya tak bisa lagi sekadar selling, tapi offline harus bisa menyediakan experience bagi konsumennya, baik berupa konsep toko, penawaran menarik, dan bahkan bisa juga melebarkan sayap dengan promosi melalui online," paparnya.

Seperti yang dikatakan oleh Rhenald, salah satu kunci agar ritel konvensional dapat bertahan dari gempuran bisnis online adalah dengan melek teknologi dan melebarkan usaha ke sistem online. Hal ini juga diakui oleh Adi, pemilik toko elektronik Star Jaya di Pasar Glodok City ini mengaku menyiasatinya dengan melebarkan sayap membuka bisnis online. Ia pun memberdayakan pegawai toko untuk mengelola bisnis online dan promosi di media sosial.

"Daripada harus memecat pegawai, lebih baik saya berdayakan mereka untuk mengelola bisnis online,". Menurut dia, hal ini mau tidak mau harus dilakukan agar tidak kalah dengan pesaingnya dalam bisnis di era modern ini. Selain membuka toko di Pasar Glodok City, Adi pun kini juga berdagang via online dengan memanfaatkan berbagai platform e-commerce yang ada, seperti Bukalapak, Tokopedia dan Shoppe.


 
 
 
Infonitas > Feature >

Klimisnya Bisnis Barbershop di Jakarta Barat

Selasa, 7 November 2017 | 09:15 WIB

Editor : Waritsa Asri

Reporter : Ronald P. Gerson

Bisnis Barbershop semakin meningkat di Jakarta Barat (Fotografer : Reggy Prawoso)
Foto : Reggy Prawoso

Pentingnya penampilan kini tidak hanya terbatas pada kaum wanita saja. Para pria seolah tidak mau kalah terutama saat berbincang mengenai tatanan rambut.

PURI - Menjaga penampilan agar kelihatan rapih bersih dan juga menarik tidak hanya dilakukan oleh kaum hawa, namun kini para pria juga mulai memikirkan bagaimana agar bisa lebih kelihatan menarik dengan melakukan perubahan tatatnan rambut juga cara berpakaian. Untuk bisa mendapatkan semuanya, seorang wanita biasanya akan pergi ke salon, namun bagaimana jika seorang pria juga menginginkan hal yang sama. Dengan pertanyaan tersebut, kini mulai banyak bermunculan tempat potong rambut khusus bagi para pria, yang biasa di kenal dengan barbershop. 

Bisnis Barbershop sendiri, saat ini memang sedang tumbuh dengan pesat. Hal tersebut dilihat dari mulai banyaknya barbershop, yang hadir dengan menawarkan berbagai konsep, fasilitas serta promo-promo menarik untuk para konsumennya. Perkembangan tersebut juga diakui oleh pemilik Roadside Barbershop yang ada di daerah Meruya, Jakarta Barat. Menurutnya, diwilayah Jakarta Barat khususnya Meruya masih sedikit barbershop. "Dulu di wilayah sini masih jarang barbershop hanya sedikit saja, namun sekarang sudah mulai banyak yang buka," ungkap Luthfan Akbar, Pemilik Roadside Barbershop.

Hal senada juga diungkapkan oleh Sandy Adriatin, pemilik D'Bageur Barbershop di daerah Sukabumi Utara, Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Ia mengatakan, perkembangan barbershop tidak lepas dari bagusnya prospek kedepannya. "Bisnis ini perkembangannya cukup pesat, karena prospeknya cukup bagus, sehingga mulai banyak yang membuka bisnis barbershop ini,"  katanya. Peluang bisnis tersebutpun juga dilirik oleh para pebisnis, Seperti yang dilakukan oleh Ricky Andi Wardana berserta Bob Christoper yang mulai merintis Gentology Barbershop sejak November 2014  di daerah Tanjung Duren, Jakarta Barat.

Pilihan tersebut bukan tanpa alasan, mereka berdua melihat bahwa jumlah pria cukup banyak dan mereka juga sudah mulai memikirkan penampilan mereka sebagai sebuah kebutuhan. jumlah pria cukup banyak, dan mereka juga sudah mulai bagaimana memikirkan tampil rapih dan menarik dan itu sudah seperti menjadi sebuah kebutuhan bagi mereka, ujar Ricky Andi Wardana, pemilik dari Gentology Barbershop.

Dengan mulai banyak bermunculan barbershop, diharapkan kedepannya sendiri masyarakat bisa tahu apa yang berbeda dari hadirnya bisnis ini. Karena Barbershop sendiri bukan sebuah tempat cukur rambut biasa, tetapi sebuah tempat yang bisa memberikan sebuah nilai lebih untuk sebuah penampilan. "Mudah-mudah kedepannya, kami ingin masyarakat tahu bahwa kami para pebisnis barbershop memberikan sesuatu yang berbeda," terangnya kembali.


 
 
 
Infonitas > Feature >

Taman dan Lahan Parkir, Akhir dari ‘Drama’ Kolong Tol Kalijodo

Sabtu, 1 Juli 2017 | 14:30 WIB

Editor : Ivan

Reporter : Adi Wijaya

Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat saat meninjau kolong Tol Kalijodo pasca penertiban.
Foto : Adi Wijaya

Penertiban kolong Tol Kalijodo bak sebuah drama. Air mata, bentrokan, hingga tindakan tegas petugas keamanan tumpah di lokasi tersebut.

GROGOL PETAMBURAN – Isak tangis hingga emosi pecah saat warga yang tinggal di bawah Tol Sedyatmo atau yang akrab dikenal dengan kolong Tol Kalijodo, diminta untuk pindah. Mereka yang sudah puluhan tahun tinggal di kolong tol sepanjang 800 meter itu mengambil sikap yang beragam. Mulai dari yang ikhlas menerima keputusan, berusaha melawan, sampai bertahan meski bangunan telah diruntuhkan.

Kini, drama tersebut nyaris usai. Tindakan tegas petugas keamanan berhasil mencegah perlawanan, serta sikap warga yang bandel untuk tetap bertahan di sana. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta pun segera mewujudkan tujuan dari penertiban kolong tol tersebut, yakni membangun taman dan parkiran resmi untuk Ruang Terbuka Hijau (RTH) serta Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRH) Kalijodo yang memang minim parkiran.

Terkait pembangunan taman dan lahan parkir di kolong tol yang berada di perbatasan Jakarta utara dan Jakarta Barat tersebut, Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat beralasan, jumlah pengunjung RPTRA Kalijodo saat ini tidak sebanding dengan lahan parkir yang tersedia. Makanya, lahan bekas penertiban akan dijadikan area parkir tambahan.

"Lahan parkir di sana (RTH dan RPTRA Kalijodo) kan minim. Hanya sepanjang Jalan Kepanduan I saja," ujar Djarot saat meninjau kawasan kolong Tol Kalijodo, Jalan Kepanduan I, Grogol Petamburan, Jakarta Barat, Jumat (30/6/2017).

Untuk menyukseskan rencananya itu, Djarot mengklaim pihaknya akan melayangkan sejumlah perizinan alih fungsi lahan kepada Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPERA) Republik Indonesia (RI).

"Kami akan meminta Kementerian PUPERA untuk mengambil alih lahan. Kita sinergikan dengan rencana kami," katanya seraya menjelaskan bahwa area parkir yang akan dibangun akan dilengkapi dengan gate atau gerbang masuk dan keluar.

Selain itu, dia juga berencana akan membangun jembatan penyebrangan dari lahan parkir kolong tol menuju RTH dan RPTRA Kalijodo. Hal itu untuk memfasilitasi pengunjung agar dapat langsung menyebrangi kali Angke tanpa berjalan jauh dari depan gerbang.

"Lokasi ini bukan hanya dikunjungi masyarakat Jakarta saja, namun juga seluruh masyarakat Indonesia. Kita harus benar-benar melayani para pengunjung," paparnya.

 

Penjagaan Ketat Tetap Dilakukan

Tak ingin kecolongan dengan kembalinya para pemukim liar di kawasan Kolong Tol Kalijodo, Djarot pun menugaskan aparat gabungan Satpol PP, Polisi, TNI, serta Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) lainnya untuk berjaga di lokasi. Bahkan, pemagaran di sepanjang Jalan Kepanduan I pun mulai dipasang pasca penertiban dua pekan lalu.

 

"Kita terus antisipasi agar mereka tidak kembali lagi menduduki kawasan ini," tegasnya.

Djarot mensinyalir, arus balik libur lebaran Idul Fitri tahun ini akan memengaruhi angka urbanisasi masyarakat ke daerah yang dipimpinnya saat ini. Untuk itu, lokasi ini wajib dijaga ketat selama 24 jam.

"Penduduk liar itu kan seperti keluarga tanpa program KB (Keluarga Berencana). Cepat sekali beranak-binaknya. Tak sampai sembilan bulan, bahkan dua bulan pun bisa cepat bertambah," ungkapnya.

 

Pembentukan Tim Terpadu

Selain mengecek kawasan Kolong Tol Kalijodo, Djarot pun melipir ke RTH dan RPTRA Kalijodo. Dia memberikan arahan kepada para pengelola kedua lokasi wisata masyarakat itu.

Dia mengakui, penelolaan RTH dan RPTRA Kalijodo masih dalam tahap belajar dan penyempurnaan. Untuk itu, perlu adanya sinergi antara kedua pengelola itu.

"Tidak boleh dikelola sendiri-sendiri. Harus saling bersinergis," imbuhnya.

Untuk itu, dia akan membentuk tim terpadu agar pengelolaan lebih solid. Sebab, RTH dan RPTRA Kalijodo ini memiliki keistimewaan dibanding RPTRA di lokasi lainnya.

"Lokasi ini tak sama seperti RPTRA lainnya. Jika RPTRA lainnya hanya dimanfaatkan masyarakat sekitar, maka lokasi ini dimanfaatkan masyarakat Indonesia, bahkan dunia," paparnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pemberdayaan, Perlindungan Anak, dan Pengendalian Penduduk (PPAPP) DKI Jakarta Dien Emmawati menambahkan, tim terpadu itu telah melalui proses pembahasan sebelum Ramadan tahun ini. Rencananya, sebanyak 12 instansi akan tergabung dalam tim tersebut.

"Keduabelas instansi itu, diantaranya Dinas PPAPP, Dinas Kehutanan, Dinas Kebersihan, Dinas Pemuda dan Olah Ragala, Satpol PP, Dinas Perhubungan, Dinas Kesehatan, Dinas Arsip dan Perpustakaan, hingga unsur Camat dan Lurah," ungkapnya.

Dengan adanya tim itu, lanjutnya, segala urusan RTH dan RTPRA Kalijodo akan diangkat ke tingkat Provinsi. Koordinator berada pada Asisten Pemerintahan (Aspem) sehingga dapat dapat membawahi SKPD kedua Walikota, yakni Jakarta Utara dan Jakarta Barat.

"Jadi nantinya, Aspem dapat memerintahkan instansi terkait untuk mengurusi permasalahan di lokasi ini," terangnya.

Selain terus mendorong pembangunan RPTRA di sejumlah wilayah, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga tengah melalukan proses pengasetan lahan. Terutama, pada RPTRA yang telah dibangun pada lahan milik Pemprov.

"Pengasetan terus kita lakukan. Kecuali pada lahan RPTRA milik instansi lain, contohnya PT KAI. Pemprov hanya meminjam lahan, agar lahan dapat bermanfaat bagi masyarakat sekitar," katanya.

 


 
 
 
Infonitas > Feature >

Selamat Tinggal Bemo

Rabu, 14 Juni 2017 | 15:00 WIB

Editor : Dany Putra

Reporter : Wahyu Muntinanto

Jejeran bemo di kawasan Wijaya Kusuma, Grogol Petamburan, Jakarta Barat.
Foto : Wahyu Muntinanto

Sempat berjaya di tahun 1960 an, kini bemo dianggap tidak lagi pantas mengaspal di jalanan Ibu Kota.

CENGKARENG – Khaerudin (56) hanya bisa terpana melihat bemo miliknya diangkut menggunakan truk oleh petugas Suku Dinas Perhubungan (Sudinhub) Jakarta Barat. Dia tak punya daya mempertahankan bemo yang sudah menemaninya mencari nafkah selama puluhan tahun itu.

Sekian lama berargumentasi dengan para petugas untuk mempertahankan bemo kesayangannya itu, Khaerudin hanya bisa menahan tangisnya. Matanya berkaca-kaca seakan tak bisa melepas kepergian bemo satu-satunya. Meski berat hati Khaerudin harus berpisah, perjalanannya mengaspal dengan bemo kesayangannya haru berakhir di kawasan Tamansari, Jakarta Barat, Rabu (14/6/2017).

Khaerudin bingung, tubuhnya lemas, sambil menggenggam uang receh dia duduk di trotoar dan menundukan kepala. Dia bingung harus bekerja apa lagi untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga tercinta. Dia berharap Pemprov DKI memikirkan nasib para supir bemo kedepannya. Sebab tinggal di Jakarta tidaklah mudah seperti membalikan telapak tangan.

"Saya bingung kemana lagi harus mengadu nasib jadi apa lagi, keahlian saya cuam sopir bemo. Gimana ini saya harus menanggung hidup keluarga saya dan mencukupi kebutuhan sehari-hari. Sebaiknya di carikan solusi bukan main sita bemo saja. Kami kan butuhakan," tuturnya.

Menata Transportasi

Di sisi lain, Pemprov DKI seakan tidak memberikan ampun bagi nasib para sopir bemo seperti Khaerudin. Pemprov melalui Dinas Perhubungan mulai serius menata transportasi. Kendaraan roda tiga bernama bemo itu akan musnah dan akan dilakukan peremajaan.

Bahkan, Pemprov DKI juga sudah melakukan pertemuan dengan instansi terkait guna membahas keberadaan bemo. "Langkah-langkah yang sudah dilakukan Dinas Perhubungann Provinsi DKI Jakarta dengan DPU angkutan lingkungan Organda Provinsi DKI Jakarta, yakni telah melakukan pertemuan untuk sosialisasi ke pangkalan-pangkalan dengan pemilik atau sopir angkutan bemo," kata Kepala Seksi Pengedalian dan Operasional Sudihub Jakarta Barat, Hengki Sitorus, Rabu (14/6/2017).

Dihancurkan

Hengki menjelaskan, pertemuan itu terkait rencana penghancuran atau scrapping dan peremajaannya di lima Lokasi wilayah DKI Jakarta, yang mulai dilakukan bulan september 2016 lalu.

Pemprov DKI beranggapan bemo sudah tidak lagi sanggup bersaing dengan angkutan umum lainya. Selain itu, para sopir bemo juga sudah tidak mengantongi surat ijin kendaraan.

"Rencana kedepan Pemprov DKI,  bemo akan digantikan atau diremajakan dengan angkutan yang lebih layak (Angkutan Pengganti Bemo) APB ataupun dengan Bajaj Berbahan Bakar gas (BBG)," tuturnya.

Kelaikan bemo dalam mengangkut penumpang pun dipertanyakan, selain itu tingkat polusi yang dikeluarkan kendaraan itu juga telah diperhitungkan.

"Sebelumya sudah ada sosialisasi terhadap pemilik atau pengusaha Bemo mengenai hal tersebut, nantinya seluruh bemo akan mendapatkan ganti rugi sesuai dengan Kesepakatan Pemprov DKI dengan pemilik atau pengusaha bemo," imbuhnya.

Berjaya di Era 60an

Kehadiran bemo di Ibu Kota sudah ada sejak tahun 1960 an, kendaraan ini pernah menjadi primadona warga Jakarta. Di masanya bemo merupakan kendaraan yang cukup lincah mengaspal dan menerjang jalan-jalan Jakarta.  Bahkan, bemo pernah menjadi alat transportasi atlet saat pergelaran pesta olahraga Sea Games X tahun 1979 di Jakarta.

Bemo merupakan singkatan becak motor, transportasi ini pertamakali dikeluarkan pabrik otomotif terkenal Daihatsu. Pabrikan ini dulunya populer sebagai produsen truk kecil beroda tiga. Setelah Toyota mengeluarkan truk beroda empat di tahun 1954 (populer sebagai Toyoace), permintaan atas truk roda tiga Daihatsu terus merosot.

Daihatsu kemudian berinovasi mengembangkan kendaraan beroda tiga yang waktu itu boleh dikemudikan pemegang SIM mobil kompak di Jepang. Hasilnya adalah Daihatsu Midget yang mulai dipasarkan tahun 1957. Kendaraan ini berukuran kecil sehingga diberi nama "midget" (kerdil).


 
 
 
Infonitas > Feature >

Dilema Terminal Bayangan

Minggu, 4 Juni 2017 | 10:45 WIB

Editor : Dany Putra

Reporter : Wahyu Muntinanto

Suku Dinas Perhubungan Jakarta Barat menggelar razia terminal bayangan di sejumlah titik di Jakarta Barat.
Foto : Wahyu Muntinanto

Keberadaan terminal bayangan menjadi solusi sekaligus menjadi masalah bagi warga Jakarta.

PALMERAH – Arus mudik Lebaran 2017 sudah mulai dilakukan sebagian warga Jakarta. Mereka memilih pulang kampung lebih awal untuk menghindari macet saat arus mudik menjelang Lebaran.

Pemudik biasanya menggunakan transportasi darat seperti bus agar bisa pulang ke kampung halaman. Mudik menggunakan bus tentu harus melalui terminal yang ditunjuk pemerintah untuk menyelenggarakan mudik. Namun, lokasi terminal yang jauh, ditambah kemacetan Ibu Kota yang membuat stress membuat pengelola bus mengambil kesempatan ini.

Alhasil, muncul lah terminal – terminal bayangan saat bulan Ramadan. Tentu keberadaan terminal bayangan untuk mengakomodir pemudik yang enggan ke terminal bus, dengan alasan jauh dan kemacetan tadi.

Membantu

Meski pemudik harus merogoh kocek lebih dalam untuk membeli tiket dari terminal bayangan, namun hal itu tdak dipermasalahkan oleh calon penumpang tadi.

"Saya males ke terminal resmi, karena kan jauh selain itu padatnya luar biasa. Mending saya ke terminal kecil seperti ini, toh sama aja," ujar pedagang bubur kacang ijo Janur (32) kepada infonitas.com, Sabtu (3/6/2017).

Ayah satu orang anak ini mengaku keberadaan terminal bayangan sangat membatu dirinya saat mudik ke kampung halaman di Kuningan, Jawa Barat.

"Barang bawaanya banyak terus berat, belum lagi ada anak satu masih kecil kalau ke terminal kan jauh ribet banget," tuturnya.

Mengganggu

Namun, keberadaan terminal bayangan tak selamanya bermanfaat. Bagi sebagian orang keberadaan terminal bayangan justru sangat mengganggu. Seperti yang diutarakan Ariyanto (36), menurutnya keberadaan terminal selain merugikan pemerintah, juga membuat arus lalu lintas menjadi macet.

"Ini kalau udah musim mudik macetnya luar biasa, bus keluar kota pada parkir semua di pinggir jalan. Sudah gila ini," ucapnya kesal.

Dirinya berharap agar pemerintah dapat merapikan kesemerawutan yang ada di Ibu Kota khususnya Transportasi. Terlebih menjamurnya terminal bayangan.

"Ini cara cepat orang dapet duit, mereka sudah kerja sama melakukan bisnis yang sebenarnya merugikan orang lain. Saya cuma bisa berharap kepada pemerintah bisa bereskan semuanya," pungkasnya.

Razia Terminal Bayangan

Keberadaan terminal bayangan pun tak luput dari pantauan instansi terkait. Baru-baru ini Suku Dinas Perhubungan Jakarta Barat menggelar razia terhadap sejumlah terminal bayangan di wilayah Jakarta Barat.

Kasudinhub Jakarta Barat Anggiat Banjar Nahor mengatakan, dalam razia tersebut pihaknya mengamankan lima bus Antar Kota Antar Provinsi (AKAP) yang berhenti di luar terminal ditindak petugas.

“Dalam razia ini kami juga menertibkan lima terminal bayangan  Di antaranya yakni terminal bayangan di sekitar Pasar Palmerah dan Jembatan Lima,” katanya, Sabtu (3/6/2017).

Dia melanjutkan, dalam operasi kali ini pihaknya mengerahkan 30 personel gabungan dari Sudinhub Jakarta Barat, kepolisian, dan TNI. “Kami akan terus memantau dan menindak bus yang tidak tertib aturan," tuturnya.


 
 
 
Infonitas > Feature >

Cara Kerja Pencuri dengan Modus Gembos Ban

Kamis, 2 Maret 2017 | 15:00 WIB

Editor : Dany Putra

Reporter : Wahyu Muntinanto

Polres Metro Jakarta Barat meringkus dua pelaku spesialis pencurian dengan modus gembos ban.
Foto : Wahyu Muntinanto

Tiap kali beraksi pelaku beserta kelompoknya selalu mencari jalur yang sepi dilalui kendaraan roda empat.

PALMERAH – Bagi pengmudi kendaraan roda empat kini harus lebih waspada dalam mengendarai kendaaran, terutama saat melintasi di jalan sepi dan minim penerangan. Pasalnya, belakangan ini banyak sekali yang menjadi korban pencurian dengan modus meneriaki pengemudi mobil jika ban kendaraanya gembos.

Salah satu korbanya FH (30), dia sempat menjadi korban oleh komplotan jaringan asal Lampung yang di ketuai oleh Agus Wanto (35) dan Santoso (42). Bahkan, dalam pencurian tersebut korban sempat kehilangan uang sebesar Rp 30 juta.

"Mereka kerap beraksi di wilayah DKI Jakarta terutama di pinggiran Ibu Kota seperti di wilayah Kembangan, Tambora, Cengkareng, dan Grogol," ujar Kasat Reskrim AKBP Andi Adnan didampingi Kanit Krimum AKP Rulian Syauri dan Kasubnit Jatanras Iptu Pradita Yulandi di halaman Polres Jakbar, Kamis (2/2/2017).

Mencari Jalan Sepi

Tiap kali beraksi pelaku beserta kelompoknya selalu mencari jalur yang sepi dilalui kendaraan roda empat. Setelah mendapat target, salah seorang pelaku meneriaki pengemudi sambil menggetuk kaca mobil dan bilang "ban gembos". Ketika korban percaya, korban pun memberhentikan mobilnya.

Setelah itu, pelaku Agus mulai mengajak ngobrol korban untuk mengalihkan perhatian. Sementara pelaku Susanto bertugas untuk ‎mengambil barang-barang berharga korban. "Kebetulan saat itu FH baru mengambil uang dari bank, alhasil tas yang disimpan di belakang kemudi digondol pelaku," tuturnya.

Oleh karena itu, Rulian mengimbau agar pengendara nobil menghindari jalan yang sepi dan minim penerangan. Tak hanya itu, jika ada seseorang yang berteriak ban kendaran bocor, diminta tidak lekas percaya dan menghentikan laju kendaraan.

“Carilah lokasi yang ramai dan baru anda mengecek ban mobil, lalu jika ada yang meneriaki bocer ban sebaiknya kontrol melalui stang lendaraan dengan menggoyangkan stir kendaraan, dan itu akan terasa jika ban kendaraan anda bocor," tuturnya.

Dibekuk

Banyaknya laporan pencurian dengan modus ban gembos membuat Sat Reskrim Polres Metro Jakarta Barat lekas bertindak dan berhasil membekuk dua kapten komplotan spesialis pencurian dengan modus meneriaki ban mobil gembos. Kedua pelaku bernama Agus Wanto (35) dan Santoso (42).  Keduanya merupakan kapten dari dua kelompok jaringan asal Lampung.

"Kami telah membekuk ketua kelompok atau kapten spesialis pencurian dengan cara meneriaki pengemudi mobil jika ban kendaraanya gembos. Kedunya jaringan asal Lampung," ujar Kasat Reskrim AKBP Andi Adnan.
Andi mengatakan, dalam menjalankan aksinya pelaku selalu berkelompok menggunakan motor. Kemudian salah seorang pelaku meneriaki pengendara mobil yang melintas di jalan sepi di wilayah pinggiran Jakarta.

“Mereka meneriaki korbanya dengan ‘ban gembos mengeluarkan api’. Mereka meneriaki secara berulang-ulang, hingga pengemudi percaya dan turun dari kendaraan untuk mengecek ban mobil tersebut. Selanjutnya pelaku lain mengalihkan perhatian korban, sedangkan pelaku lainya mengambil barang korban dan melarikan diri," tuturnya.

Andi melanjutlan, polisi sering kali mendapatkan laporan terkait tindak pencurian seperti ini. Pihaknya langsung menelusuri keberadaan pelaku. Hingga akhirnya ke dua pelaku dapat di lumpuhkan dengan timah panas di tempat berbeda.

"Dua pelaku kami tangkap di Apartemen Rajawali, Jakarta Pusat dan Lampung. Sebelum ditangkap pelaku sempat kabur, tapi kami ambil tindakan tegas dan terukur‎ yang mengenai kaki kanan kedua pelaku," ungkapnya.

Dari tangan kedua pelaku, polisi menyita barang bukti uang Rp 30 juta hasil kejahatan dan dua unit sepeda motor pelaku yang kerap digunakan untuk beraksi. “Untuk mempertanggungjawabkan perbuatanya pelaku dijerat pasal 363 KUHP tentang Pencurian Dengan Pemberatan dengan ancaman 7 tahun penjara,” imbuhnya.


 
 
 
Infonitas > Feature >

Pokemonss Hadir di Puskesmas Kebon Jeruk

Senin, 17 Oktober 2016 | 14:24 WIB

Editor :

Reporter : Adi Wijaya

Fasiltas dan pelayanan Pokemonss di Puskesmas Kebon Jeruk, Jakarta Barat.
Foto : Adi Wijaya

Poli Kesehatan Manula One Stop Service (Pokemonss) hadir untuk melayani kebutuhan para lansia yang membutuhkan perawatan di Puskesmas Kebon Jeruk.

KEBONJERUK – Kesehatan yang semakin melemah saat lanjut usia (Lansia), membuat seseorang bergantung pada orang terdekatnya. Pada umumnya, mereka yang menginjak usia lanjut telah mengidap berbagai penyakit. Berbagai obat pun harus ditelan sepanjang harinya.

Tak bisa dipungkiri, lansia perlu dihormati. Bahkan harus dimanjakan agar memudahkan seseorang yang membantu mereka yang tak lagi bisa mandiri.

"Kategori lansia masuk dalam usia diatas 60 tahun. Mereka perlu dipermudah disetiap aktivitasnya," tutur Humas Puskesmas Kebon Jeruk, Jakarta Barat, Marzunanta, kepada infonitas.com, Senin (17/10/2016).

Pokemonss Hadir di Puskesmas

Dalam meningkatkan pelayanan pada pasien lansia, Puskesmas Kebon Jeruk punya inovasi terbaru. Diambil dari singkatan Poli Kesehatan Manula One Stop Service, Pokemonss memudahkan para lansia berobat.

Marzunanta menjelaskan, lahirnya inovasi tersebut berasal dari ide dan gagasan para wartawan. Hal itu mengalir atas kinerja yang setiap hari dilakukannya.

"Komitmen kami kan melayani masyarakat. Kita evaluasi apa yang kurang. Hasilnya kita sepakat untuk menciptakan inovasi Pokemonss ini pada September 2016 lalu ," ungkapnya.

Lebih jauh, dia menerangkan, Pokemonss hadir dalam meningkatkan pelayanan bagi masyarakat. Di ruang berukuran 15 x 9 meter itu dikhususkan bagi pasien lansia. "Jadi semua fasilitas, mulai dari poli klinik hingga apotek berada di ruang Pokemoss di lantai satu," paparnya.

Pelayanan Ramah dan Fasilitas Memadai

Puskemas Kebon Jeruk memang sempat menjadi viral di media sosial (medsos) akhir pekan ini. Bukan hanya karena Pokemonss saja. Namun, sejumlah fasilitas di Puskesmas ini juga patut diacungi jempol.

Suasana diluar gedung berlantai didominasi cat krem serta corak garis biru dan merah itu dihiasi tanama rindang. Udara segar dapat dinikmati tiap pengunjung. Taman refleksi pun dibuat bagi pasien yang hendak melancarkan peredaran darah. "Puskesmas ini dibangun sekitar 1960an. Direnovasi kembali pada 2007 lalu," ungkapnya.

Kepuasan pelayanan Puskesmas pun dikomentari seorang pasien, Sujono (65). Dia mengatakan, pelayanan di Puskesmas ini sangat bagi. Para karyawan, perawat hingga dokter melayani dengan sangat profesional.

"Sejak masuk sudah disambut ramah para karyawan. Untuk registrasi juga tinggal mengambil nomer antrean digital sesuai tujuan berobat. Sudah seperti di bank," tutupnya.

 


 
 
 
Infonitas > Feature >

Diskotik Miles Ditutup?

Senin, 10 Oktober 2016 | 18:43 WIB

Editor : Wahyu AH

Reporter : Adi Wijaya

Pemeriksaan urine terhadap pengunjung Diskotik Miles saat razia pada April 2016.
Foto : istimewa

Masih menjadi tandatanya, apakah pihak Pemprov DKI Jakarta berani mencabut izin operasi Diskotik Miles di Tamansari, Jakarta Barat.

TAMANSARI – Keberadaan Diskotik Miles di kawasan Lokasari, Tamansari, Jakarta Barat disinyalir menjadi tempat peredaran narkotika. Sekaligus, wadah untuk para pemakai, baik masyarakat sipil, maupun para anggota kepolisian.

Jajaran Polres Metro Jakarta Barat telah membuktikannya. Seorang oknum polisi berpangkat AKP yang menjabat sebagai Kepala Unit 2 Ekonomi Satuan Intelkam Polres Metro Tangerang Kota diciduk saat tengah mabuk di diskotik tersebut, Sabtu (8/10/2016).

Oknum polisi itu juga kedapatan membawa satu paket sabu dan 2 butir ekstasi. Kabid Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Polisi Awi Setiyono memastikan, ”Kalau terbukti, ya akan diberhentikan tidak dengan hormat. Akan disidang  kode etik terlebih dahulu.”

Walikota Jakarta Barat Anas Effendi pun tidak menampik. Diskotik Miles memang sarang peredaran narkotika. Tempat pengedar dan pengunjung bertransaksi atau mengonsumsi narkoba.

"Saya sudah memberitahukan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) terkait hal ini," papar Anas saat dihubungi infonitas.com, Senin (10/10/2016).

Penindakan Tegas Dipersiapkan

Kepala Dinas Pariwisata DKI Jakarta Catur Laswanto pun menyatakan sudah mempersiapkan sejumlah surat terkait penutupan tempat hiburan malam tersebut.

"Kami komitmen dalam berantas narkoba. Hari ini kami akan kumpulkan suratnya. Saya tandatangani sore ini. Besok, surat itu akan kami sebar ke sejumlah instansi terkait termasuk pemilik Miles," ungkapnya.

Sebelumnya, lanjut Catur, pihaknya sudah sempat melayangkan Surat Peringatan (SP) 1 kepada pihak pengelola Miles. Ternyata, masih sama saja. Tidak ada perubahan. Kasus oknum polisi itulah buktinya.

"Batasnya kan hanya dua kali kasus Narkotika. Ini sudah kali kedua, maka terpaksa akan kita tutup nanti. Kita cabut ijin operasional pemilik maupun manajemen. Mereka tidak akan mendapatkan legalitas ijin lagi dari pemprov DKI sekalipun nantinya pemilik ingin membuka kembali dengan nama berbeda,” papar Catur.

Terkait itu, tidak perlu lagi rekomendasi dari kepolisian. Terlebih, Pak Gubernur juga berkomitmen bakal menutup tempat hiburan malam yang menjadi sarang peredaran Narkotika.

“Namun, kami tidak mau gegabah dan tetap melakukannya sesuai SOP. Waktunya memang belum pasti. Kemungkinan besar bulan ini,” tutupnya.


 
 
 
Infonitas > Feature >

Koko Cici Jakarta Merawat Budaya Tionghoa

Senin, 19 Sepember 2016 | 14:31 WIB

Editor : Dany Putra

Reporter : Adi Wijaya

Pagelaran Koko Cici 2016 memecahkan rekor Muri dengan menampilkan kue bulan terbanyak, yakni mencapai 777 buah kue bulan.
Foto : Adi Wijaya

Sejak 2002 silam, Koko Cici Jakarta terus eksis berjuang melestarikan kebudayaan Tionghoa di Jakarta.

GROGOLPETAMBURAN - Lantunan musik disk jockey (DJ) berdegup kencang. Menyedot perhatian para pengunjung Mall Central Park, Jakarta Barat. Pengunjung mall disuguhkan berbagai kreatifitas anak muda seperti tarian, musik tradisional, hingga fashion show yang dilakukan muda mudi etnis Tionghoa yang tergabung dalam Koko Cici Jakarta.

Riuh sorak dan tepukan tangan ribuan pengunjung menambah meriahnya acara. Satu per satu pasangan Koko Cici itu muncul dari bawah panggung bersilang nan minimalis. Dari sana, mereka berlenggak lenggok di cat walk berwarna putih yang diapit para tamu undangan dan para pengunjung mall.

Bagai model sungguhan, mereka percaya diri memperagakan busana milik 7 designer dari Els Clothing Line, Rent A Gown, Belle Marie Couture, Jauw, CHAN, Ardana, dan Batik Aldo. "Mereka Koko Cici pilihan dan terlatih. Ini salah satu kreativitas kami," tutur Ketua aliansi Koko Cici Jakarta, Falentina Cotton kepada infonitas.com, Senin (19/9/2016).

Pecahkan Rekor MURI

Sejak 2002 silam, Koko Cici Jakarta terus eksis berjuang melestarikan kebudayaan Tionghoa di Jakarta. Bahkan hal itu diwujudkannya dengan berbagai macam kreativitas.

Kreasi anak muda Tionghoa di 2016 ini memecahkan rekor dari Museum Rekor Indonesia (MURI) dengan membuat sebanyak 777 buah kue khas tiongkok, yakni kue bulan (moon cake). Jumlah itu dipilih berdasarkan kolaborasi antara Koko Cici Jakarta, Podomoro University, dan Mall Central Park. Angga 7 sendiri dipilih berdasarkan usia tempat acara ini dihelat.

"Kue bulan itu legenda bagi kami. Filosofinya, bentuk kue yang bulat menunjukan ikatan dan kekeluargaan kuat," papar wanita berperawakan tinggi itu.

Sementara itu, Koko Jakarta 2016 Steven Leo menambahkan, setiap tahun pihaknya selalu menggelar perayaan kue bulan. Namun tahun di 2016 ada penampilan kue bulan yang berbeda, lantaran pihaknya berhasil memecahkan rekor MURI.

"Kue bulan melambangkan keutuhan. Harapannya agar Indonesia terus utuh, damai, dan makmur," ungkapnya.

Lenggak – lenggok peserta Koko Cici 2016 di atas catwalk.

Duta Pariwisata, Duta Sosial, dan Duta Budaya

Keberadaan Koko Cici sangat berpengaruh ditengah krisisnya implementasi budaya di tengah masyarakat. Mereka mampu melestarikan kembali berbagai kebudayaan Tionghoa, mulai dari kesenian, adat istiadat, bahkan menjadi ujung tombak pariwisata di Jakarta.

"Kita juga sering mengadakan bakti sosial. Ini menunjukkan kalau kami peduli kepada siapapun tanpa melihat history," ujar Falentina Cotton usai prnutupan acara.

Finalis Koko Cici 2011 ini pun mengungkapkan, keberadaan Koko Cici tentu sangat membantu kemampuan pribadinya dan 319 rekanan finalis lainnya untuk berlatih secara profesional. Di ajang ini mereka diajarkan berbagai peran sesuai dengan bakat dan minatnya.

"Bahkan secara tidak langsung, hal ini juga menjadi ajang berlatih profesionalisme kerja. Peluang kerja menjadi besar jika kita memahami dan menguasai apa yang dikerjakan," ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Suku Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jakarta Barat Linda Enriany yang hadir dalam acara itu mengaku bangga atas kreativitas yang disuguhkan Koko Cici Jakarta. Hal ini tentu harus terus dikembangkan guna melestarikan budaya Tionghoa.

"Mereka harus bisa lebih mempromosikan kawasan bersejarah Tionghoa dengan label duta Pariwisata yang mereka miliki," ungkapnya.

Pihaknya mendukung penuh segala kegiatan positif Koko Cici, meskipun kegiatan itu tak dapat dibiayai oleh Pemprov DKI Jakarta. Pihaknya hanya bisa memberikan dukungan moril dan perizinan selama kegiatan yang dilakukannya positif.

"Kita dukung penuh. Awal terbentuknya Koko Cici juga disetujui Wali Kota Jakarta Barat tahun 2002 silam," tutupnya.


 
 
 
Infonitas > Feature >

Pengabdian Seorang Bintara

Rabu, 7 Sepember 2016 | 20:10 WIB

Editor : Dany Putra

Reporter : Adi Wijaya

Sertu Sapran bersama istri dan kedua anaknya.
Foto : Adi Wijaya

Sertu Sapran bertugas sebagai Babinsa di Kelurahan Cengkareng Timur, dia mengabdi sepenuh hati dalam menjalankan tugasnya menjaga keamanan lingkungan.

CENGKARENG – Azan Subuh berkumandang, padahal baru saja Sertu Sapran Hasibuan (39) memejamkan matanya setelah seharian berkeliling menyapa warga. Dia pun bergegas memakai baju koko, sarung dan tak luput kopiah menuju masjid yang tak jauh dari kediamannya, di Jalan Pedongkelan Raya RT03/13, Cengkareng Timur, Cengkareng, Jakarta Barat.

Bak suling ajaib karya Hans Christian Andersen, sang istri Nurmala Andayani (35), dan kedua anaknya Muhammad Yusuf Hasibuan (11) dan Muhammad Vasyah Hasibuan (7) mengikuti jejak langkah Sapran menuju Masjid. Itu lah rutinitas pagi keluarga seorang Bintara Pembangun Desa (Babinsa) 2 Koramil 04/Cengkareng yang bertugas di wilayah Kelurahan Cengkareng Timur, Cengkareng, Jakarta Barat dalam mengawali harinya.

Lepas Subuh, sang istri menyiapkan sarapan, kedua anaknya besiap menuju sekolah, dan Sapran yang gagah berseragam loreng TNI AD pun siap menjalankan tugasnya kembali. Sudah setahun lebih Sapran bertugas menjaga keamanan dan lingkungan sekitar. "Agama menjadi tonggak kehidupan manusia. Siapa menuai benih, dia lah yang memanennya. Tentu, kita tanam benih yang baik," tuturnya, Selasa (6/9/2016).

Keseharian Sapran dihabiskan bersama masyarakat. Tak banyak waktunya berkumpul dengan keluarga. Tugas utamanya menjaga keamanan dan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dari skup lingkungan terkecil seperti RT dan RW. "Babinsa bertugas mendeteksi dini jika akan terjadi gejolak masalah dimasyarakat. Serta membangun kehidupan masyarakat yang harmonis," ujarnya.

Tak Pernah Absen

Sapran mengaku, dia selalu siap menerima panggilan dari masyarakat yang membuthkan kehadirannya. Dia tak pernah absen menghadiri undangan para tokoh masyarakat di lingkungannya. Deringan telpon dan pesan tak pernah sepi di telepon genggamnya. "Kapan pun mereka menghubungi saya, pasti saya 'merapat'. Kehadiran kami (TNI) di masyarakat sangat dibutuhkan," paparnya dengan mimik serius.

Menurutnya, keamanan lingkungan akan tercipta jika seluruh elemen masyarakat kompak. Mulai dari perangkat pemerintah, tokoh masyarakat, petugas keamanan (TNI-Polri), dan tentu saja kontribusi dari masyarakat.

"Wilayah ini dekat dengan Kampung Ambon (Kampung Narkoba). Tapi benteng yang kita ciptakan kokoh. Seluruh elemen masyarakat menolak keras beredarnya barang haram itu ke wilayah kami," ungkapnya.

Disegani, Bukan Ditakuti

Banyak pengalaman menarik sat bertugas menjadi Babinsa. Salah satunya saat dia mencoba menghilangkan kebiasaan mabuk para pemuda di wilayahnya. Dia menceritakan, malam itu ada segerombolan pemuda yang sedang nongkrong dipinggir jalan. Aroma alkohol sangat menyengat saat melewati tongkrongan itu. Sapran tak langsung memarahinya, justru dia memiliki trik tersendiri dalam menangani permasalahan ini.

"Saya dekati mereka. Pertama saya pastikan dahulu aroma alkohol dari jejeran gelas itu. Lalu, biar mereka sadar, saya perintahkan mereka push up, skot jump, dan lari ditempat. Lantas saya suruh mereka kembali ke rumahnya masing-masing. Sejak kejadian itu, tiap mereka melihat saya, mereka menjadi segan dan tak lagi meminum alkohol," jelasnya.

Cara humanis itu lah yang selalu diterapkannya dalam bertugas. Senyum dan sapa hangat tak pernah luput dilakukannya. Disisi lain, ketegasan pun terpampang jelas dari sikapnya yang selalu konsekuen setiap mengambil keputusan.

"Sering warga meminta pendapat saya dalam mengambil keputusan. Intinya, kalau tujuannya baik maka saya setuju. Kalau itu menyimpang, jelas saya tak segan untuk mengatakan tidak setuju," ungkapnya sembari menyeruput secangkir air di meja.

Sertu Sapran saat berkumpul bersama tokoh dan pemukan agama di Cengkareng Timur.

Dikagumi

Aminudin tokoh masyarakat di wilayahnya pun mengacungkan kedua jempolnya untuk Sapran. Totalitasnya bekerja sebagai Babinsa sangat tinggi. Bahkan dia dipercaya untuk menjadi imam shalat berjamaah di masjid. Padahal, tak pernah ada seorangpun yang diamanatkan untuk menjadi imam itu selain tokoh masyarakat. "Kami butuh sosok seperti dia. Dia sangat memperhatikan keamanan wilayah sangat bermanfaat bagi kami," ungkapnya.

Hal senada juga dilontarkan Lurah Cengkareng Timur Yuli Ardiansyah. Dia sangat mengapresiasi kinerja Sapran. Sebagai prajurit TNI dia tak pernah absen jika diamanatkan mendampinginya dalam berbagai kegiatan di wilayah. Tentu hal itu dapat menjadi contoh generasi muda."Justru masyarakat harus meneladaninya. Dia seorang TNI, tak selamanya dia bertugas di sini. Tapi, Sapran memberikan contoh baik bagi masyarakat," ungkapnya.


 
 
 

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Trying to get property of non-object

Filename: pages/article_feature_page.php

Line Number: 181

Backtrace:

File: /nfs/shared/public/infonitas.com/mobile/application/modules/mobile/views/pages/article_feature_page.php
Line: 181
Function: _error_handler

File: /nfs/shared/public/infonitas.com/mobile/application/third_party/MX/Loader.php
Line: 357
Function: include

File: /nfs/shared/public/infonitas.com/mobile/application/third_party/MX/Loader.php
Line: 300
Function: _ci_load

File: /nfs/shared/public/infonitas.com/mobile/application/libraries/General.php
Line: 21
Function: view

File: /nfs/shared/public/infonitas.com/mobile/application/modules/mobile/views/layout/default.php
Line: 86
Function: load_page

File: /nfs/shared/public/infonitas.com/mobile/application/third_party/MX/Loader.php
Line: 357
Function: include

File: /nfs/shared/public/infonitas.com/mobile/application/third_party/MX/Loader.php
Line: 300
Function: _ci_load

File: /nfs/shared/public/infonitas.com/mobile/application/libraries/General.php
Line: 26
Function: view

File: /nfs/shared/public/infonitas.com/mobile/application/modules/mobile/controllers/Mobile.php
Line: 1270
Function: _render_page

File: /nfs/shared/public/infonitas.com/mobile/index.php
Line: 315
Function: require_once

Infonitas > Feature >

Invasi Minimarket Tak Berizin

Kamis, 9 Juni 2016 | 10:48 WIB

Editor : Dany Putra

Reporter : Adi Wijaya

Ilustrasi.
Foto :

Keberadaan minimarket tidak mengantongi perizinan masih marak di Jakarta. Keberadaannya seperti dibiarkan dan terus menginvasi Ibu Kota.

KEMBANGAN – Keberadaan mini market di Jakarta cukup menjamur. Tak terkecuali di Jakarta Barat. Minimarket bahkan bisa saling bersebelahan. Tentu saja hal ini bisa mematikan usaha warung tradisional milik warga.

Contohnya seperti keberadaan 2 minimarket di kawasan, Palmerah, Jakarta Barat dekat Universitas Bina Nusantara (Binus). Keberadaan minimarket tak sampai puluhan meter. Bahkan ada yang bersebelahan. Jelas hal itu membuat sejumlah warung kecil milik warga kalah bersaing.

Masyarakat Jakarta saat ini lebih memilih minimarket ketimbang warung kecil. Alasan kenyamanan tentu jadi faktor utama masyarakat memilih minimarket. Namun, apabila ditelusuri lebih dalam apakah keberedaan minimarket yang semakin menjamur ini legal?.

Ternyata masih banyak keberadaan minimarket ilegal alias tak mengantongi izin atau memiliki izin tidak sesuai peruntukan.

Berdasarkan data dari Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) Kantor Wali Kota Jakarta Barat, yang berhasil dihimpun infonitas.com menyebutkan, dari 632 minimarket di Jakarta Barat sebanyak 334 minimarket menyalahi peruntukan. Jika dipresentasikan mencapai 52,9 persen.

Sedangkan untuk minimarket yang belum melengkapi izin mencapai 494 minimarket dan 38 minimarket tidak mengantongi izin sama sekali. Dari ratusan minimarket di Jakarta Barat, hanya 100 mini market yang bersih dari masalah perizinan.

Wali Kota Jakarta Barat Anas Efendi tidak menampik data diatas. Dia segera memerintahkan camat dan lurah untuk berkoordinasi dengan RT/RW melakukan pendataan ulang. "Kita tunggu laporan lurah dan camat, kalo ada masalah ya kita ingatkan, kalo masih membandel, ya ditindak," kata Anas kepada infonitas.com, beberapa waktu lalu.

Pengamat perkotaan dari Universitas Trisakti Yayat Supriatna mengatakan, data tersebut menunjukan lemahnya pengawasan perizinan oleh Pemkot Jakarta Barat. Selain itu tidak ada tindakan tegas untuk memecahkan persoalan tersebut.  Dia menyarankan, Dinas Tata Kota untuk bergerak cepat melakukan pengecekan.

Yayat melanjutkan, minimarket yang memiliki tempat tongkrongan pun harus dicek kembali ijin usahanya. "Apakah itu sudah benar pemanfaatan atau peruntukannya akan terlihat jelas setelah dilakukan pengecekan ulang," ucapnya.

Menurutnya banyak juga rumah tinggal yang dialihfungsikan menjadi minimarket dengan tata letak yang salah. Bahkan, banyak minimarket tanpa adanya tempat parkir yang mencukupi. Akibatnya kemacetan di jalanan depan minimarket menjadi tak terhindarkan. "Jadi mau ngga mau, kouta pendiriannya harus dibatasi," lengkapnya.

Rentan Perampokan

Keberaadaan minimarket yang tidak sesuai perizinan tentu mempunyai dampak terhadap keamanan. Banyak minimarket yang akhirnya tidak memiliki standar keamanan yang mumpuni. Pada akhirnya keberadaan minimarket di Ibu Kota pun rentan terjadi tindakan kriminal.

Di Jakarta Barat kasus perampokan minimarket sering kali terjadi. Hal itu disebabkan oleh minimnya pengamanan, mereka tak melengkapi kamera pengintai CCTV dan tentu lemahnya pengawasan dari pihak kepolisian. Dalam kurun waktu 6 bulan tercatat 8 kasus perampokan minimarket di Jakarta Barat. Diantaranya 5 kasus di wilayah Kebon Jeruk, 2 kasus di Kalideres, dan 1 kasus di Cengkareng.

Kapolsek Metro Kebon Jeruk Kompol Lambe Patabang Birana mengatakan, untuk mencegah terjadinya kasus serupa, pihaknya sudah meminta sejumlah minimarket untuk memperketat keamanannya. "Kami juga telah menyebarkan layanan call center yang tersebar di minimarket untuk memproteksi diri terhadap kasus ini," katanya.

Salah satu karyawan yang pernah menjadi korban perampokan di salah satu minimarket Arman (22) menuturkan, para perampok tersebut tak segan mengancamnya dengan menenteng senjata tajam dan senjata api. "Saya lebih baik tidak melawan. Kalau kita melawan bisa tewas sama mereka," tutupnya.