Infonitas > Feature >

Meneropong Prospek Bisnis Online di Jakarta Barat

Selasa, 5 Desember 2017 | 13:45 WIB

Editor : Waritsa Asri

Reporter : M Nashrudin Albaany

Ilustrasi Bisnis Online di Jakarta Barat
Foto : Reggy Prawoso

Bisnis online atau e-commerce disebut-sebut akan terus melejit seiring dengan meningkatnya penggunaan internet di Indonesia

PURI - Mungkin kata bisnis online sudah tidak asing lagi di telinga kita. Tak bisa dipungkiri, bisnis online atau yang biasa di sebut e-commerce sudah menjadi tren saat ini. Transaksi dengan sistem online kini tengah menjadi primadona di kalangan masyarakat yang gemar belanja. Hal ini terlihat dari makin maraknya toko online yang bermunculan, mulai dari usaha kecil yang dikelola perorangan hingga perusahan korporasi besar.

Pengamat Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (UI), Rhenald Kasali mengatakan, potensi bisnis online kian melejit seiring dengan meningkatnya pengguna internet di Indonesia. Hal ini terbukti dengan meningkatnya jumlah transaksi e-commerce dari tahun ke tahun, ini juga membuktikan bahwa bisnis online memiliki banyak keunggulan di bandingkan dengan bisnis konvensional atau offline. 

"Dari segi waktu, biaya dan tenaga, sudah jelas bisnis online jauh lebih menguntungkan. Kita lihat saja sekarang, masyarakat sudah banyak yang beralih menggunakan transaksi online dari pada transaksi manual yang menggunakan uang pecahan. Apalagi, ketika masyarakat membeli barang-barang secara online, mereka bisa dapat lebih banyak dibanding harus belanja langsung ke tempat perbelanjaan, misalnya mall," kata dia saat dihubungi melalui sambungan telepon beberapa waktu lalu.

Menurut dia, masyarakat kini cenderung lebih suka transaksi secara online. Sebab, selain cepat dan mudah, transaksi online juga dinilai lebih efisien daripada transaksi manual di pasar-pasar dan toko. Berbagai kemudahan yang ditawarkan itulah yang kemudian membuat banyak pedagang akhirnya membuka bisnis secara online. 

"Kan kalau berjualan di toko, selalu terjadi pasang surut, kita tidak pernah tahu kapan pembeli datang. Tapi kalau online, kita tidak perlu jaga toko terus-terusan. Tinggal menunggu notifikasi di layar smartphone, baru siapkan barang. Apalagi, bisnis online ini juga tidak perlu menguras biaya sebanyak membuka toko ritel," timpalnya.

Hal senada juga diakui oleh Rahmat. Pemilik bisnis elektronik online di kawasan Kembangan, Jakarta Barat ini menilai, untuk memulai bisnis online tak perlu menyediakan modal yang besar untuk keperluan pengadaan toko. Dengan adanya bisnis online, seorang pengusaha dapat memulai usahanya melalui website atau sosial media yang bisa didaftarkan secara gratis. "Apalagi kan jangkauan bisnis online ini tidak terbatas dan jam kerjanya juga lebih fleksibel. Jadi kita bisa menjangkau pasar yang sangat luas jika dibandingkan dengan toko offline," ungkapnya. 

Selama hampir setahun menjalankan bisnis online, Rahmat mengaku diuntungkan dengan makin banyaknya masyarakat yang membeli produk elektroniknya. Disisi lain, masyarakat juga menjadi dimudahkan karena mereka tidak perlu lagi repot keluar rumah dan terkena macet di jalan untuk bisa memiliki kebutuhan yang diinginkan, karena sudah bisa dilakukan dengan cara online.

"Kunci untuk memulai bisnis online adalah pelayanan yang maksimal, karena jika pembeli puas dengan barang yang kita jual, maka akan meningkatkan kepercayaan calon pembeli lain terhadap kita. Selain itu, kita juga harus rajin mempromosikan barang yang kita jual. Paling mudah itu melalui sosial media, karena sekarang kan banyak pengguna sosmed di masyarakat," pungkasnya.

Meskipun belum bisa memprediksi seberapa besar masyarakat yang akan melakukan transaksi online, ia yakin tahun depan masyarakat khususnya di Jakarta Barat akan banyak beralih pada transaksi online dan juga melakukan pemasaran melalui online.

 Dampak Bisnis Online Terhadap Ritel Konvensional

Dengan berbagai kemudahan yang ditawarkan, membuat bisnis yang mengandalkan jaringan internet ini berkembang cukup pesat dan memberikan dampak nyata bagi bisnis ritel konvensional. Ketua DPW Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI) DKI Jakarta, Sespentri menilai, pengaruh bisnis online terhadap bisnis ritel konvensional cukup besar. Menurut dia, yang paling terkena dampaknya adalah para pedagang kecil. "Dengan adanya bisnis online, daya beli masyarakat terhadap ritel konvensional menjadi menurun. Penurunannya sekitar 20 sampai 25 persen," katanya. 

Pria yang akrab disapa Pepen ini mencontohkan, ritel konvensional khususnya industri elektronik terkena dampak langsung dengan hadirnya bisnis online, seperti yang terlihat di Pasar Glodok City. Sentra penjulan barang-barang elektronik yang terletak di Jalan Pancoran, Glodok, Tamansari, Jakarta Barat kini menjadi sepi pengunjung. "Kalau elektronik ini kita lihat kan kompetisinya luar biasa, apalagi kan sekarang e-commercenya juga luar biasa. Tapi ini sebenarnya masalah global, karena dialami semua pedagang," ungkapnya.

Sepinya Pasar Glodok dibuktikan dengan banyaknya kios elektronik yang tutup. Bahkan beberapa kios di lantai 3 keatas banyak yang disewakan atau justru hanya dijadikan sebagai gudang. Menurut data, dari total okupansi Pasar Glodok sebanyak 1.880 kios, ada sebanyak 564 kios kios yang tutup, itu belum termasuk jumlah kios yang hanya buka sewaktu-waktu. "Tercatat hampir 30 persen kios saat ini tutup karena berbagai alasan," ujar Asisten Manajer Usaha dan Pengembangan Pasar Glodok City, Aswan saat ditemui diruang kerjanya.

Pria yang sudah 27 tahun bekerja di PD Pasar Jaya ini mengatakan bahwa penggunaan internet menjadi indikator banyaknya pembeli yang sudah meninggalkan Pasar Glodok City. Dikarenakan, saat ini dengan mudahnya masyarakat membeli segala kebutuhan di internet. Bahkan, bisa diantar hingga ke rumah. "Itu dampak dari sebagian yang punya uang dibelanjakan lewat online, ini untuk masalah yang elektronik. Di luar itu, beli baju, alat kosmetik, aksesoris, mesti di toko, jarang di online. Tapi kalau elektronik, malah ada diskon di online, otomatis mendingan beli online daripada di Glodok," terangnya.

Sementara itu, Ketua Paguyuban Pedagang Glodok City H Umar menyebutkan, beberapa pedagang memilih hengkang dari Glodok City dan pindah ke lokasi lain yang harga sewanya lebih murah. Sebagian lagi mengurangi jumlah karyawan. "Pedagang banyak yang mengeluh karena omsetnya turun, itu terlihat dari sepinya pengunjung dan penurunan pembeli. Bisa dilihat, beberapa kios sekarang banyak yang tutup dan disewakan oleh pemiliknya," ucap H Umar.

 

Ritel Konvensional Harus Terus Berinovasi

Rhenald Kasali menilai, sepinya pengunjung di Pasar Glodok City disebabkan karena para pedagang tidak bisa berinovasi. Karena tidak melakukan terobosan baru, mereka akhirnya tergerus oleh toko-toko online. Padahal, saat ini adalah era disruption yang mengharuskan setiap pedagang melakukan inovasi yang dapat menciptakan pasar baru.

Agar dapat menghadapi era disruption tersebut, menurut dia, pedagang di Pasar Glodok City harus terbuka terhadap perubahan dan mengikuti perkembangan teknologi. Tidak hanya menyangkut perubahan bentuk, ukuran atau desain tapi juga mengubah seluruh metode, cara kerja dan bahkan produk yang tidak lagi relavan. "Mereka harus memperbaiki diri. Memperbarui pelayanan, fasilitas dan cara promosinya. Semua mesti diperbarui. Kalau tidak, bagi konsumen, buat apa ke sana tapi macet, parkir susah, AC enggak dingin dan enggak nyaman. Mendingan buka internet, langsung pesan," jelasnya. 

Selain itu, pedagang ritel konvensional juga harus lebih memanfaatkan teknologi ketika ingin bisnis mereka tetap bertahan. Apalagi, dengan berkembangnya bisnis online juga menciptakan pasar baru di mana saat ini ketika masyarakat membeli produk elektronik melalui sistem online, masyarakat akan dapat lebih murah. "Mau tak mau, kuncinya adalah inovasi. Konsepnya tak bisa lagi sekadar selling, tapi offline harus bisa menyediakan experience bagi konsumennya, baik berupa konsep toko, penawaran menarik, dan bahkan bisa juga melebarkan sayap dengan promosi melalui online," paparnya.

Seperti yang dikatakan oleh Rhenald, salah satu kunci agar ritel konvensional dapat bertahan dari gempuran bisnis online adalah dengan melek teknologi dan melebarkan usaha ke sistem online. Hal ini juga diakui oleh Adi, pemilik toko elektronik Star Jaya di Pasar Glodok City ini mengaku menyiasatinya dengan melebarkan sayap membuka bisnis online. Ia pun memberdayakan pegawai toko untuk mengelola bisnis online dan promosi di media sosial.

"Daripada harus memecat pegawai, lebih baik saya berdayakan mereka untuk mengelola bisnis online,". Menurut dia, hal ini mau tidak mau harus dilakukan agar tidak kalah dengan pesaingnya dalam bisnis di era modern ini. Selain membuka toko di Pasar Glodok City, Adi pun kini juga berdagang via online dengan memanfaatkan berbagai platform e-commerce yang ada, seperti Bukalapak, Tokopedia dan Shoppe.