Infonitas > Feature >

Mendengar Curhatan Warga Kampung Akuarium

Jumat, 1 Sepember 2017 | 21:00 WIB

Editor : Nurul Julaikah

Reporter : Nurul Julaikah

Kontrak Politik Jokowi saat kampanye Pilkada DKI 2012 yang diabadikan oleh warga Kampung Akuarium via sablon di kaos
Foto : Nurul Julaikah

Warga Kampung Akuarium kerap terikat kontrak politik dengan calon pemimpin Ibu Kota karena keberadaan mereka yang tinggal di tanah milik Negara.

PENJARINGAN – Keberadaan warga di pemukiman Kampung Akuarium, Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara seakan menjadi tunggangan politik bagi pihak-pihak yang ingin mendulang kemenangan saat pesta demokrasi. Pasalnya, dua kali periode Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) DKI Jakarta, calon pemimpin kerap melakun kampanye di sana. 

Contohnya, Pilkada 2012 lalu, saat Joko Widodo (Jokowi) mencalonkan diri sebagai Gubernur bersama dengan pasangannya Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Kala itu, presiden RI sebanyak tiga kali mengunjungi warga Kampung Akuarium dengan membawa visi misi yang berujung kontrak politik.

Ketua RT 12 Kampung Akuarium, Rini menuturkan pasangan Jokowi-Ahok membuat kontrak politik dengan warga setempat, yang isinya akan menata pemukiman di sana dan membuatkan sertifikat tanah. Mengetahui ada calon pemimpin yang perhatian pada mereka, akhirnya warga Kampung Akuarium terbuai dan memberikan suara penuh ke pasangan tersebut.

Namun, seusai terpilih menjadi pemimpin Ibu Kota, janji Jokowi-Ahok hanya sepenggal kenangan yang menyakitkan buat mereka. Sertifikat tanah bagi warga yang tinggal lebih dari 20 tahun, tak kunjung terbit. Justru Ahok melakukan penggusuran pada April 2016 lalu.

“Pak Jokowi blusukan ke sini ada tiga kali. Kalau hp (handphone) saya enggak rusak, ada foto makan bareng di Ikan Bakar Marina Muara Baru, itu sebelum jadi Gubernur. Kita juga lakukan long march ke Istana pas usai digusur tahun lalu. Saat itu, saya bilang ke pak Tatang yang menerima kami di Istana. Kami minta pak Tatang sampaikan ke pak Jokowi agar pak Jokowi tengokin kami yang ada di Kampung  Akuarium. Tapi, pak Tatang bilang minta undangan resmi, terus kami buat surat resmi dan mengajukan ke kantor Setneg. Tapi enggak ada yang datang,” Jelas Rini yang kini berusia 65 tahun saat berbincang dengan infonitas.com di rumah bedengnya Kampung Akuarium, Jakarta Utara pada pekan lalu.

Rasa kecewa bahkan sakit hati pun muncul kepada Jokowi-Ahok. Akhirnya, mereka nekat mendirikan bangunan kembali berupa rumah-rumah bedeng yang berdiri di atas puing-puing penggusuran pada tahun lalu, atau beberapa hari usai tergusur.

Kontrak Politik dengan Anies-Sandi

Sakit hati atas sikap Ahok yang menghancurkan seluruh bangunan tempat tinggal warga, membuat suara mantan Bupati Belitung Timur ini tak dapat dukungan suara pada Pilkada 2017. Momen kekecewaan warga, menjadi ladang suara bagi lawan politik Ahok. Gubernur dan Wakil Gubernur terpilih, Anies Baswedan-Sandiaga Salahudin Uno dengan apik, gencar melakukan pendekatan terhadap mereka.

“Pak Anies-Sandi mah kontrak politik sebelum Pilkada (2016). Pak Sandi sering mantau ke sini, sebelum Pilkada sudah blusukan ke sini, sudah jadi (Wakil Gubernur 2017-2022) juga datang. Doain saja Idul Adha hadir, barangkali ada bantuan kurban,” kata wanita kelahiran Ambarawa, Jawa Tengah ini.

Rini juga mengaku, pada awal bulan ini (Agustus), Anies-Sandi mengundang mereka ke acara halalbihalal bersama dengan perwakilan 32 warga kampung lainnya yang terikat kontrak politik dengan pemimpin DKI Jakarta periode 2017-2022 di tempat Jaya Suprana, Mall Of Indonesia (MOI) Kelapa Gading, Jakarta Utara. Dalam pertemuan tersebut, Sandi hadir bersama Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dengan rekan-rekan satu faksi.

Sandi pada acara Halalbihalal itu, kata Rini sempat berujar agar warga Kampung Akuarium untuk bersabar, karena ia berjanji usai pelantikan pada Oktober 2017 mendatang bakal mendatangi mereka kembali.

“Janjinya pak Anies setelah dilantik bulan 10 (Oktober), kalau enggak Desember atau 15 hari setelah pelantikan mau ke sini. Memang sering ada pertemuan dengan pak Anies. Kemarin, juga di pak Jaya Suprana, kita ke sana, kira-kira ada setengah bulan di Kelapa Gading, MOI. Ada Agus (AHY), ada pak Sandi terus ada tamu-tamu dari luar, saya enggak kenal, soalnya banyak. Pak Sandi bilang, warga Kampung Akuarium, kamu sabar ya. Kamu tidak sendiri, kamu banyak yang ngawal, sabar ya, sabar. Jangan khawatir,” beber Ibu dari dua anak ini.

Kepercayaan penuh warga Kampung Akuarium terhadap Anies-Sandi, membuat Rini yakin bahwa pemimpin yang mereka pilih tidak akan ingkar janji seperti Jokowi-Ahok. Sebab, dalam kontrak politik menyebutkan, mereka tidak akan tergusur, melainkan rumah dari 400 Kepala Keluarga (KK) lebih akan terbangun kembali.

“Ya mudah-mudahan jangan (digusur) ya, bagaimana nanti saja. Ya mudah-mudahan minta doanya saja enggak terulang yang kedua kalinya,” ucap dia.

Namun, Rini juga berjanji bakal menagih janji Anies-Sandi jika kontrak politik yang sudah tersepakati tidak terealisasi. Ia bersama ratusan warga di Kampung Akuarium bakal menggeruduk Balai Kota.

“Nagih saja, datang ke Balai Kota. Insya allah punya hati. Kami sudah capek dibohongi terus,” tegas Rini.

Ia berharap, nantinya pemerintahan Anies-Sandi lebih memperhatikan keberadaan Kampung Akuarium yang saat ini hidup di tengah-tengah bekas gusuran Ahok. “Harapannya cuma satu, kami diperhatikan, terus janji-janji semoga tidak ingkar,” kata mantan buruh pabrik ini.

Kembali Mengingat Penggusuran

Sekedar mengingat kembali, pada April 2016 lalu, Ahok yang saat itu menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta mengeluarkan perintah untuk menertibkan bangunan-bangunan yang berdiri di Kampung Akuarium. Sebab, lahan tersebut milik Pemprov DKI yang akan dijadikan kawasan wisata bahari, dengan dibangun alun-alun dan plaza (pusat perbelanjaan).

 Saat itu, kata Rini sebenarnya surat peringatan pertama tanggal 16 April 2016 yang dilayangkan oleh Camat Penjaringan, yakni Muhammad Andri, bahwa pemukiman yang berjarak 7 meter dari bibir Kali pembatan antara Kampung Akuarium dengan Luar Batang. Nantinya, akan ada pembangunan peninggian tanggul agar tidak terjadi banjir, karena kawasan ini kerap menjadi langganan banjir.

“Begitu oke, ditunda, sampai anak-anak warga sini selesai ujian, habis lebaran begitu oke, akhirnya ada yang nyawer, begitu datang dari Camat, lusanya dikasih SP 2, semuanya digusur,” ungkapnya.

Rini juga mengaku, kepemilikan tanah cukup kuat dengan bukti resi pembayaran Pajak Bumi dan Bangunan (PBB). Ditambah, kebanyakan warga di sana mendapatkan pinjaman dari bank dengan sertifikat yang mereka miliki tersebut.

“Kita punya tempat tinggal di sini, bukan melawan ya. Di sini saja laku kok surat rumah buat pinjam ke bank. Itu bu Yani, agen gas, aqua, minuman gelas,” ucap dia.

Padahal, Pemprov menyediakan tempat relokasi berupa hunian di Rumah Susun (Rusun) Marundan dan Cakung. Tetapi, Rini mengatakan warga setempat tidak berminat karena lokasi yang jauh dari tempat kerja, sekolah anak-anak dan transportasi yang kurang memadai. Ditambah, tinggal di Rusun, kata dia hanya bisa dua tahun paling lama.

“Transportasi perjalanan yang macet. Di Rusun itu sama aaja nyewa juga ya. Itu kan hanya dua tahun, enggak bakalan bisa selamanya,” kata dia.


 
 
 
Infonitas > Feature >

Cara Pengelola Mal di Pluit Kapuk Tarik Pengunjung

Rabu, 8 November 2017 | 14:30 WIB

Editor : Nurul Julaikah

Reporter : Adi Wijaya

Salah satu event di Baywalk Mall Pluit
Foto : Malik Maulana

Setiap pengelola mal memiliki cara tersendiri untuk tarik minat pengunjung. Salah satunya menggelar berbagai event hiburan setiap bulannya.

PENJARINGAN - Fenomena penutupan gerai di pusat perbelanjaan pada beberapa waktu belakangan ini dipicu oleh dua faktor. Petama perekonomian Indonesia sedang lesu. Kedua, gaya hidup konsumen beralih ke e-commerce. Berbagai cara dilakukan pengelola pusat perbelanjaan untuk menarik pengunjung dalam berbelanja. Event hiburan hingga promo besar-besaran kerap menjadi cara managemen mal dalam mendatangkan konsumen.

Seperti Baywalk Mall Pluit, pusat perbelanjaan yang berada di pinggir laut ini kerap menggelar kegiatan attractive pada setiap momen hari besar atau libur nasional. Misal, pada Hari Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus lalu, ada acara pengibaran Bendera Merah Putih di tengah laut kemudian peluncuran fasilitas air. Publuc Relations Mall Baywalk Teofilus Okta Puspito mengatakan, pagelaran event berpengaruh dalam menggaet pengunjung. Setiap moment penting tak pernah diewatkan mall yang berada di sisi laut Jakarta ini.

"Event yang paling ditunggu para pengunjung Mall Baywalk seperti Imlek, Libur Sekolah, Natal dan HUT Kemerdekaan RI," kata Teo (sapaan Teofilus-red).

Event yang kerap digelar membuat Baywalk tidak pernah sepi pengunjung. Seluruh tenant pun tak pernah terdengar menurunnya omset penjualan. "Kami pikir pengunjung setia selalu meramaikan mall. Mereka selalu mencari kebutuhan sehari-harinya di sini. Apalagi saat weekend," kata dia.

Berbeda Halnya dengan Pluit Village. Pusat perbelanjaan yang paling dahulu beroperasi di kawasan Pluit Kapuk ini memiliki pengalaman pahit terkait sepi pengunjung. Marketing Communication (Marcom) Manager Pluit Village, Erlangga Agusta mengatakan, sempat mengalami penurunan secara drastis saat krisis moneter pada 2015 lalu.  Tidak sedikit pemilik tenant teriak kepada managemen mal lantaran sepi pengunjung.

"Waktu itu pernah sepi pengunjung. Hanya beberapa pengunjung saja yang mau mengunjungi mall ini," tutur Erlangga.

Namun, kondisi tersebut berhasil diatasi. Berangsur-angsur pengunjung terus merangkak naik. Para tenant pun kembali mempercayai managemen mal. Perubahan konsep dilakukan oleh pengelola mal. Kini, pusat perbelanjaan yang kerap disambangi oleh Nicholas Sean Purnama, putra sulung Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) ini bukan sekadar lokasi berbelanja saja. Namun, berubah menjadi life syle dan hiburan bagi para pengunjung.

"Ada entertaint di mal. Pengunjung bisa mengajak teman, kerabat, rekan kerja, hingga keluarga datang ke mall," kata Erlangga.

Bicara soal animo kunsumen dalam berbelanja di mal, Pluit Village masih lebih tinggi ketimbang online shop. Tahun ini tercatat total pengunjung naik signifikan sebesar 7% ketimbang 2016 lalu. Kemudian dari 250-300 outlet terisi tenant. “Naik pada kisaran angka 50 ribu hingga 70 ribu pengunjung," kata Erlangga.

Sementara PIK Avenue. Pusat perbelanjaan yang berlokasi di Pantai Indah Kapuk (PIK) yang baru berdiri 10 September 2016 lalu mengalami peningkatan jumlah pengunjung. Tercatat, pada rentang Januari – September 2017 dibandingkan dengan periode yang sama pada tahu sebelumnya, jumlah pengunjung naik 30%. Angkanya mencapai 16.000 saat weekday dan 24.000 pengunjung saat weekend.

Zico R Hansakarya, Marcomm Manager PIK Avenue mengatakan, kenaikan tersebut  dipengaruhi oleh adanya program loyalty atau belanja spesial promo bagi pengunjung. Ditambah promo diskon dari tiap tenant. "Program loyalty itu misalkan, pengunjung yang berbelanja minimal sejuta mendapat voucher, tiket nonton, hingga barang elektronik," kata Zico.

Tak hanya program Loyalty, peningkat jumlah pengunjung mencapai 50% atau sekitar 27.000 – 28.000 saat managemen mal mengadakan event. Angka tersebut tergolog cukup baik untuk mal dengan luas leasebale area 30.000 meter persegi. "Event yang paling ditunggu para pengunjung seperti event pada moment lebaran, akhir tahun, natal, dan liburan sekolah," kata Zico.


 
 
 
Infonitas > Feature >

Menelusuri Kondisi Mal di Pluit

Rabu, 8 November 2017 | 12:45 WIB

Editor : Nurul Julaikah

Reporter : Farid Hidayat

Suasana Pluit Village
Foto : Malik Maulana

Pengelola pusat perbelanjaan harus dapat mengikuti perkembangan pasar saat ini. Sebab, masyarakat sekarang lebih suka selfi atau swafoto di manapun berada.

PENJARINGAN - Beberapa waktu lalu, Bank Central Asia (BCA) mengeluarkan riset tentang pusat perbelanjaan di Jabodetabek. Hasil survei perbankan milik PT. Djarum Tbk ini, menyatakan ada 10 pusat perbelanjaan mengalami penurunan penjualan dan 10 pusat perbelanjaan menanjak atau mengalami peningkatan penjualan dari tahun ke tahun.

Berdasarkan data yang diterima Info Pluit Kapuk, 10 pusat perbelanjaan di Jabodetabek yang mengalami keterpurukan atau dalam riset BCA tersebut dinamai Old Mall, yakni Metro Pasar Baru, Taman Palem Mall, Glodok Plaza, Mangga Dua Mall, Mangga Dua Center, ITC Cempaka Mas, Mangga Dua Pasar Pagi, ITC Roxy Mas, Pasar Atom, Harco Mangga Dua. Kesepuluh mal tersebut tingkat pertumbuhan penjualan (Sales Growth) mengalami minus atau penurunan sepanjang kuartal pertama tahun 2017 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, yakni (-) 59% hingga (-) 16%.

Sementara untuk 10 mal yang pertumbuhan penjualan mengalami peningkatan atau dalam riset tersebut disebut dengan Modern Mall, yakni Gandaria City 20%, Kasablanka Mall 18%, Mall Central Park 14%, Summarecon Mall Serpong 14%, Metropolitan Mall 13%, Plaza Indonesia 12%, Pondok Indah Mall 9%, Karawaci Supermal 9%, Grand Indonesia 9%, Puri Indah Mall 8%. Tingkat pertumbuhan itu, dilihat dari Quatal 1 2017 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Dari hasil survei BCA tersebut, Mal yang berada di kawasan Pluit Kapuk, Jakarta Utara tak masuk dalam daftar. Bisa diasumsikan, empat pusat perbelanjaan yang berdiri di wilayah Kecamatan Penjaringan, seperti Emporium Mall Pluit, Pluit Village, Baywalk Mall Pluit hingga PIK Avenue berada di zona stabil, dalam artian tidak mengalami penurunan maupun peningkatan penjualan. Namun, dari semua itu, tim Info Pluit Kapuk beberapa waktu lalu menyusuri salah kedua mal tersebut saat weekdays sekitar pukul 13.00 WIB.

Dari hasil penyusuran pertama di Baywalk Mall Pluit, pusat perbelanjaan yang berada di pinggir laut ini tak begitu ramai pengunjung. Terlihat dari beberapa karyawan outlet-outlet di sana lebih banyak menganggur daripada melayani pembeli. Sejumlah karyawan outlet hanya berdiri sambil mengobrol sesama rekan kerja lainnya. Ketika ditanya, salah satu karyawan outlet aksesoris asal Jepang, Yohan Setiawan (27) mengatakan mal ini hanya ramai ketika hari Sabtu dan Minggu.

"Kalau di hari biasa paling kalau ada tanggal merahnya saja baru ramai. Kalau di hari biasa seperti ini paling kebanyakan penghuni apartemen," terang Yohan.

Selain itu, Linda Armita (45) penghuni apartemen Green Bay Pluit mengatakan hal sama. Saat hari biasa, Baywalk Mall Pluit tidak terlalu ramai pengunjung dan memang sepertinya kebanyakan dari penghuni apartemen yang biasanya belanja untuk kebutuhan makanan.

"Kalau saya ke sini buat beli belanja kebutuhan makanan karena kan disini ada supermarket jadi dari pada ke pasar mending langsung turun ke bawah," ungkap dia.

Hal yang sama juga terlihat di Pluit Village Mall. Pusat perbelanjaan yang lokasinya tak jauh dari Baywalk Mall Pluit ini juga terhampar pemandangan sepi pengunjung. Mal yang terletak di tengah pemukiman penduduk yang mayoritas peranakan Tionghoa, saat ini sedang ada event salah satu developer ternama yang sedang memamerkan unitnya. Salah satu pengunjung Herman S (45) warga Pluit mengatakan, saat ini datang ke Mal karena ada keperluan penting. Ketika ditanya soal sering tidak ke Pluit Village Mal, dia mengatakan sangat jarang dan menurutnya mal ini dilihatnya sedikit ramai.

"Ya saya jarang sekali kesini, jika ada urusan baru ke sini. Sekarang juga lagi sambil lihat ini ada pameran. Ya kalau dilihat lumayan ramai tempatnya," ujar Herman.

Namun, pendapat berbeda dilontarkan oleh salah seorang karyawan restoran yang berada di lantai 4 Imam (27). Pria ini mengatakan sepi kalau di hari sedangkan, saat akhir pekan selalu ramai dengan pembeli. “Cukup ramai kalau weekend apa lagi libur tanggal merah pasti ramai ditambah lagi kalau sabtu minggu ada event lumayan ramai," terang Imam.

Pengelola Mal Harus Melek Digital

Menanggapi kondisi mal saat ini, Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI), Stefanus Ridwan memiliki pandangan berbeda. Direktur Utama (Dirut) PT. Pakuwon Grup Jati Tbk ini mengatakan, pertumbuhan sales yang menurun sebenarkan tergantung dari inovasi dari pihak pusat perbelanjaan. Dan, dia beranggapan pernyataan old mall atau mal tua yang mengalami penurunan tidak tepat. Sebab, Plaza Indonesia, yang merupakan pusat perbelanjaan kawakan mampu bertengger di jajaran mal yang pertumbuhan penjualannya mengalami peningkatan.

“Saya Cuma enggak setuju yang satu old mall dan satunya modern mall. Mestinya yang satu bisa menyesuaikan dengan situasi pasar yang sedang berubah (digital era),” beber Ridwan saat berbincang dengan Info Pluit Kapuk.

Lantas Ridwan menjelaskan, saat ini pengelola mal harus bisa mengikuti tren yang tengah berkembang di masyarakat. Era digital, semakin membuat orang cenderung memamerkan apa yang telah dilakukan dalam bentuk foto. Kemudian, meng-upload ke media sosial seperti instagram. Minimal, mal saat ini harus instagramable.

Selain itu, Ridwan juga memberikan tips agar mal tetap bertahan di tengah pesatnya pertumbuhan pusat perbelanjaan saat ini. Yakni, pengelola harus  meng-update seluruh informasi terkait mal melalui media sosial, bisa lewat instagram, facebook atau twitter. Tujuannya, agar masyarakat mengetahui kegiatan-kegiatan yang ada di pusat perbelanjaan tersebut. Misalnya, event musik, kuliner, bazar pakaian hingga diskon besar-besaran, bahkan tempat-tempat kuliner terbaru.

“Saat ini, masyarakat sedikit-sedikit update di media sosial. Lagi makan update, lagi jalan update. Jadi pengelola mal harus bisa tangkap ini. Selain itu, barang-barang yang dijual harus update. Jangan barang-barang lama yang dijual,” jelas Ridwan.

Berbeda halnya dengan Andy K. Natanael Vice President Director PT. City Sentul. Ia mengaku . pusat perbelanjaan yang sepi akibat ketatnya persaingan. Ditambah, jumlah pertumbuhan mal di Jakarta dari tahun ke tahun terus meningkat. Untuk itu, pengelolaan pusat perbelanjaan harus lebih jeli dan kreatif agar tetap memikat para pengunjung.

Adapun fenomena penutupan gerai di pusat perbelanjaan pada beberapa waktu belakangan ini dipicu oleh dua faktor. Petama perekonomian Indonesia sedang lesu. Kedua, gaya hidup konsumen beralih ke e-commerce.

Tanda-tanda pusat perbelanjaan akan mengalami kebangkrutan. Diantaranya, banyak toko furniture yang menyewa stan di mal, mengingat untuk membuka toko pasti membutuhkan ruang yang luas, maka harga sewanya turun. Kedua,  showroom mobil mulai masuk mal. Hal ini sama dengan toko furniture, alasannya persoalan space yang besar. Dan ketiga, toko alat ibadah juga mulai menyewa stan di mal, karena peruntukannya untuk menjual peralatan ibadah, maka pengelola mal memberikan harga sewa mal yang murah.


 
 
 
Infonitas > Feature >

Enam Bulan di Dalam Penjara, Begini Kabar Keluarga Ahok

Kamis, 2 November 2017 | 12:00 WIB

Editor : Nurul Julaikah

Reporter :

Kebersamaan Ahok dengan istri dan ketiga anaknya pada 2016 lalu (Ist)
Foto : istimewa

Semenjak Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) berada di rumah tahanan Mako Brimob Kelapa Dua, Depok, istri dan ketiga anaknya menjalani kehidupan seperti biasanya.

PENJARINGAN – Pada 9 Mei 2017 lalu, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) harus berada di rumah tahanan Mako Brimob Kelapa Dua, Depok karena divonis bersalah atas kasus dugaan penistaan agama. Enam bulan di dalam penjara, lantas bagaimana dengan kehidupan istri dengan ketiga anaknya?

Dikutip dari akun youtube JAKFm yang diupload pada 23 Oktober 2017 lalu, Veronica Tan, istri Ahok mengaku keluarganya dalam kondisi baik. Bahkan, ia bersama anak-anaknya tidak kesulitan untuk menjenguk Ahok.

“Kalau kita dikasih ketemu, mau berkunjung kapan saja. Kan sering bawa makanan juga, ya nganter makanan, diatur saja. Kalau anak-anak sih weekend,” kata Veronica.

Dalam seminggu, biasanya Veronica menjenguk suaminya bisa sampai tiga kali. Jika awal-awal dipenjara, Veronica sering membawakan bakmi untuk Ahok, kini berbeda. Mantan Gubernur DKI Jakarta itu justru sedang menjaga bentuk tubuh karena di dalam tahanan kurang banyak pekerjaan. Dalam hal ini, aktivitas sebagai Gubernur dengan seorang tahanan jauh berbeda.

“Bakmi. Enggak juga sih. Kalau dulu banyak bakminya, kan banyak karbo. Kalau sekarang kan enggak banyak kerja kan. Jadi jaga badan juga. Kurangi karbo. Biasa mertua masak daging sayur kuah,” kata Veronica.

Berbeda halnya dengan putra sulung mereka, yakni Nicholas Sean Saputra (Nico). Nico yang merupakan mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (UI) lebih intens mengunjungi bapaknya. Hal ini lantaran, Nico tinggal di dekat kampusnya yang berada di Depok. Jarak antara apartemen atau tempat hunian Nico dengan Mako Brimob Kelapa Dua tidaklah jauh.

Kebiasaan berdoa setiap pagi atau waktu subuh bagi keluarga ini tidak berubah. Meski Ahok berada di dalam bui, Veronica tetap membiasakan berdoa setiap pagi bersama ketiga anaknya. Namun, dalam beribadah sedikit berbeda, jika dulunya Ahok yang memimpin, saat ini justru Nico.

“Kan dulu bapak juga cerita setiap pagi, setiap subuh doa bareng. Sekarang anak kedua, kalau dulu bapak kan anak pertama, jadi anak ku ada empat,” kata wanita berdarah Medan ini sembari tertawa.

Meski begitu, Veronica sempat melontarkan rasa rindunya berkumpul bersama Ahok. Ketika ditanya oleh pembawa acara JAKFm, dengan bercanda Veronica mengaku rindu kebawelan suaminya. “bawelnya. Kalau di rumah enggak sih,” ucanya lalu tertawa.

Bermain Musik

Keluarga Ahok ternyata sangat menyukai musik. Dalam hal ini, mereka tidak bernyanyi tetapi lebih terhadap memainkan alat musik. Seperti Veronica Tan dan Nathania Purnama atau disapa Nia kerap bermain alat musik intrumen, yakni Cello dan Piolin. Keduanya juga sempat bermain musik bersama musisi Adie MS. Tak jarang, aktivitas keduanya ini diabadikan melalui akun instagram masing-masing.

Untuk Nico, pria yang gemar bermain air softgun ini lagi belajar permainan gitar. Veronica mengaku bermain gitar tersebut atas permintaannya. Menurutnya, dengan mahir bermain gitar maka mudah menaklukkan hati wanita.

“Nah kenapa si nico gitar, saya bilang nanti kalau ngejar cewek minimal lu main gitar kan klepek-klepek,” katanya.

Sementara, putra bungsu Ahok yang bernama Daud Albeener Purnama (Daud) belum dapat bermain alat musik seperti kedua kakaknya. Daud yang hobi makan dan wajahnya mirip Ahok ini, kata Veronica justru semakin gendut. “Masih doyan makan. Masih melar samping,” kata Veronica lalu tertawa.

Meski begitu, Veronica mengaku tidak memaksa ketiga anaknya dapat bermain alat musik. Tetapi, menurutnya, sebelum berusia 17 tahun, ada baiknya ia selaku orang tua memberikan arahan dan bimbingan yang positif.

“saya sih selalu ngomong. Karena anak-anak itu kita yang bentuk juga ya.walaupun secara natural mereka udah punya karakter sendiri. Tapi saya suka ngomong under seventen you are mind,” kata Veronica.


 
 
 
Infonitas > Feature >

Jejak Kerja Jokowi, Ahok Hingga Djarot di Kota Tua Jakarta

Jumat, 6 Oktober 2017 | 12:45 WIB

Editor : Nurul Julaikah

Reporter : Adi Wijaya

Djarot saat peresmian Kota Tua
Foto : Adi Wijaya

Kini, kawasan Kota Tua semakin menarik wisatawan untuk plesiran sejarah tentang Jakarta lama atau Old Batavia karena revitalisasi telah rampung pengerjaannya.

TAMANSARI – Kota Tua, suatu lokasi sejarah yang menjadi cikal bakal Jakarta terbentuk. Bila menengok ke masa lalu, kawasan ini lebih terkenal dengan sebutan Batavia lama yang terbentang seluas 1,3 kilometer persegi melintasi Jakarta Utara dan Jakarta Barat.

Pada abad ke-16, pelayar Eropa memberikan julukan Kota Tua sebagai Permata Asia dan Ratu dari Timur. Sebab, Old Batavia merupakan pusat perdagangan untuk benua Asia yang memiliki lokasi strategis dan sumber daya melimpah. Di sini juga, muncul perang perebutan pelabuhan Sunda Kelapa yang masih masuk kawasan Kota Tua antar kerajaan-kerajaan nusantara kala itu.

Dikutip dari wikipedia, pada 1526, Kesultanan Demak mengirim Fatahillah untuk menyerang pelabuhan Sunda Kelapa di kerajaan Hindu Pajajaran, kemudian dinamai Jayakarta. Kota ini hanya seluas 15 hektare dan memiliki tata kota pelabuhan tradisional Jawa. Tahun 1619, VOC menghancurkan Jayakarta di bawah komando Jan Pieterszoon Coen. Kemudian, VOC membangun kota baru bernama Batavia untuk menghormati Batavieren, leluhur bangsa Belanda. Kota ini terpusat di sekitar tepi timur Sungai Ciliwung, saat ini Lapangan Fatahillah.

Penduduk Batavia disebut "Batavianen", kemudian dikenal sebagai suku "Betawi", terdiri dari etnis kreol yang merupakan keturunan dari berbagai etnis yang menghuni Batavia. Tahun 1635, kota ini meluas hingga tepi barat Sungai Ciliwung, di reruntuhan bekas Jayakarta. Kota ini dirancang dengan gaya Belanda Eropa lengkap dengan benteng (Kasteel Batavia), dinding kota, dan kanal. Batavia kemudian menjadi pusat administratif Hindia Timur Belanda. Tahun 1942, selama pendudukan Jepang, Batavia berganti nama menjadi Jakarta dan masih berperan sebagai ibu kota Indonesia sampai sekarang.

Tahun 1972, Gubernur Jakarta, Ali Sadikin, mengeluarkan dekret yang menjadikan Kota Tua sebagai situs warisan. Keputusan gubernur ini ditujukan untuk melindungi sejarah arsitektur kota. Namun, banyak warga yang kurang perhatian untuk melindungi warisan era kolonial Belanda.

Revitalisasi Mulai Era Jokowi, Ahok Hingga Djarot

Saat Joko Widodo (Jokowi) dengan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) menjadi pasangan pemimpin Ibu Kota pada periode 2012-2014 (tidak tuntas, karena Jokowi melenggang ke kursi RI1 atau Presiden), keduanya sepakat untuk melakukan revitalisasi Kota Tua. Tujuannya, Kawasan Kota Tua menjadi ikon DKI Jakarta.

Kala itu, baik Jokowi dan Ahok ingin menghidupkan wisata di Ibu Kota. Sebab, selama ini Jakarta identik dengan Monas, dan tak banyak wisatawan yang mengenal kawasan Kota Tua. Akhirnya, berbagai rencana dan konsep mereka keluarkan, rapat rutin pun kerap menjadi makanan sehari-hari. Jokowi langsung mengeksekusinya dengan terjun di lapangan, untuk melihat kondisi kawasan bersejarah tersebut seperti apa.

Pelan-pelan, keduanya menata kawasan dengan dimulai penataan Pedagang Kaki Lima (PKL) yang berjualan di bahu jalan, tentu saja memberikan kesan kumuh Kota Tua. Langkah selanjutnya, memperbaiki kawasan museum Fatahillah. Terlihat tahun lalu, Ahok yang menggantikan Jokowi sebagai Gubernur meletakkan stan informasi atau dikenal dengan tour guide di sana, sentra penjual makanan dan minuman pun tak boleh masuk ke dalam kawasan Kota Tua, tetapi diletakkan di belakang tepatnya Jalan Cengkeh. Patroli Satpol PP tiap hari digencarkan agar Angkot yang ngetem maupun PKL tidak berjualan kembali di dalam pelataran museum Fatahillah.

Akses transportasi pun juga mudah, Transjakarta hingga Angkot tersedia. Area parkir kendaraan juga tak sembarangan seperti dahulu. Revitalisasi Kali Besar mulai dalam pengerjaan.

Kini, penantian panjang revitalisasi kawasan Kota Tua, Taman Sari, Jakarta Barat semakin temui titik terang. Kemegahan kawasan sarat akan sejarah itu seakan mulai beranjak dari tidur panjangnya. Gedung-gedung tua dengan berbagai fasilitasnya tak lagi dipandang sebelah mata.

Pancaran sinar purnama Kamis malam, (5/10/2017) menjadi saksi siumannya sejarah Batavia kala itu. Sejumlah pembangunan revitalisasi, mulai dari Jembatan Budaya Nusantara, Kali Besar, gedung Kertaniaga, Lima patung karya Dolorosa, Penataan Museum Sejarah Jakarta, pintu masuk barat kantor pos rampung pada tahap pertama.

Bahkan, Lokasi Binaan (Lokbin) Kota Intan atau Lenggang Jakarta Cengkeh mulai ditempati sedikitnya 456 Pedagang Kaki Lima (PKL) binaan.

Berjalan menyusuri lokasi revitalisasi, Gubernur DKI Jakarta Djarot Syaiful Hidayat akhirnya berhenti pada titik tepat di tengah pelataran Museum Sejarah Jakarta atau Museum Fatahillah. Tanpa panggung layaknya acara ceremoni, suara lantang meresmikan hasil revitalisasi itu menggema ketiap sudut kawasan.

"Syukur Alhamdulillah, malam ini malam yang luar biasa. Lebih istimewa lagi karena malam hari ini kita merasakan keindahan kawasan Kota Tua," kata Djarot saat ditemui di halaman Museum Sejarah Jakarta, Taman Fatahillah, kawasan kota Tua, Kelurahan Pinangsia, Taman Sari, Jakarta Barat, Kamis (6/10/2017).

Jejak Kerja Jokowi, Ahok dan Djarot di Kota Tua Jakarta

Suara lantang itu, dilanjutkan dengan mengisahkan jejak kerja Gubernur Jakarta semasa periode jabatan lima tahun ke belakang. Joko Widodo (Jokowi), Basuki Tjahaya Purnama (Ahok) dan Djarot Syaiful Hidayat menorehkan tinta emas bagi revitalisasi Kawasan Kota Tua. Ketiganya mampu kembali membangkitkan saksi bisu sejarah Batavia yang sempat meredup.

"Revitalisasi Kota Tua ini digagas sejak awal masa awal Pak Jokowi menjabat Gubernur DKI Jakarta. Dikonkritkan oleh Pak Ahok dan saya yang menutupnya," ucap Djarot.

Seperti sejarah tak bisa terulang, Jakarta telah mengukirnya manis dengan adanya tiga gubernur pada masa periode jabatan kali ini. Menjadi satu-satunya sejarah kota, yang sulit diukir kota lainnya di Indonesia.

"Saya bangga menjadi bagian ini. Hanya sekali saja terjadi di jakarta," terangnya.

Jejak manis Jokowi mengukir dalam sejarah Jakarta, hingga menghantarkannya mendiami Istana Negara. Sedangkan Ahok, tak pernah sedikit pun cacat di matanya. Meski tengah menjalani vonis kurungan penjara di Mako Brimob, Depok-Jawa Barat, Djarot yakin keadilan bakal menghampirinya kelak.

"Ahok menerima ikhlas menjalani cobaan ini. Dia tersingkir dalam perjuangannya melawan politisasi. Saat ini dia sedang muhasabah, berdoa seraya berharap mendapatkan pertolongan Tuhan," ucap mantan Wali Kota Blitar ini dengan pandangan menerawang, seakan mengingat masa-masa bersama dengan Ahok.

Pesan Djarot untuk Kawasan Kota Tua

Kawasan Kota Tua Jakarta masih membutuhkan perhatian lebih untuk dapat masuk nominasi sebagai destinasi wisata sejarah dunia. Budaya betawi telah lahir di kawasan ini berabad-abad lalu. Terutama budaya tertib, kerja keras, toleransi, hingga bergotong royong uang patut dilestarikan.

Melihat progres revitalisasi yang signifikan ini, Djarot berpesan agar tetap diperhatikan penuh para pejabat Pemprov DKI. Memperketat pengawasan agar tak lagi kembali semerawut. Para Pedagang Kaki Lima (PKL) binaan maupun pengunjung pun dituntut berpartisipasi tingkatkan kepedulian agar kawasan Kota Tua tetap asri seperti saat zaman kejayaannya dahulu.

"Kuncinya tertib dan disiplin. Bisa ngga? Sepakat ngga? Langgar langsung tertibkan ya. Ini untuk kepentingan dan kebanggaan kita semua, termasuk tertib buang sampah," pesannya.

Deklarasikan Kota Tua Sebagai Kawasan Wisata Kuliner Malam

Peresmian itu dilanjutkan deklarasi Kawasan Kota Tua menjadi Kawasan Wisata Kuliner Malam. Pengunjung dapat menikmati wisata sejarah sambil mencicipi kuliner yang dijajakan di Lenggang Jakarta Cengkeh. Begitu pun lokasi parkir yang berada di lokasi sama menambah kerapian kawasan sejarah itu.

"Jadi ini juga disebut wisata sehat. Pengunjung berjalan kaki menuju ke museum, yang sebelumnya mencicipi kuliner di Lenggang Jakarta Cengkeh," tuturnya.

Untuk para pedagang di Lokbin, disarankannya tak mudah berputus asa pada masa awal peresmian. Terpenting, tetap menjaga cita rasa, kualitas hingga kebersihan lingkungan setiap harinya. Sehingga, pengunjung merasa betah untuk menikmati kuliner dan berbelanja di lokasi itu.

"Pemprov sudah memfasilitasi ini. Hanya bagaimana caranya kalian bangkit melawan nasib," ucap politisi PDIP ini.

Sementara itu, Kepala Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah serta Perdagangan (KUMKMP) Irwandi dan Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta Tinia Budiarti meyakini, revitalisasi kawasan Kota Tua dan berdirinya Lokbin Lenggang Jakarta Cengkeh dapat meningkatkan wisatawan domestik maupun mancanegara.

"Berbagai acara ragam budaya, kreativitas anak muda hingga pameran seni dapat digelar di sini. Cara ini bisa meningkatkan jumlah pengunjung," tutup keduanya.


 
 
 
Infonitas > Feature >

Menyusuri Jan & Elly School PIK, Kursus Bahasa Inggris yang Bikin Peserta Didik Nyaman

Kamis, 5 Oktober 2017 | 19:30 WIB

Editor : Nurul Julaikah

Reporter : Adi Wijaya

Suasana di Jan & Elly Language School PIK
Foto : Malik Maulana

Suasana belajar yang nyaman atau comfortable membikin Jan & Elly Language School di kawasan PIK, Jakarta Utara diminati masyarakat untuk belajar Bahasa Inggris.

PENJARINGAN – Konsep belajar 'fun' atau menyenangkan Jan & Elly English Language School di kawasan Pantai Indah Kapuk (PIK), Jakarta Utara tak hanya sekadar sesuai kurikulum pembelajaran. Namun, suasana ruangan untuk aktivitas belajar mengajar turut menghantarkan para peserta didik semakin nyaman dalam memahami bahasa Inggris.

Dilihat dari ruang atau kelas untuk belajar di Jan & Elly School tak seperti layaknya lembaga kursus bahasa asing pada umumnya. Suasana comfortable terasa kental di setiap ruangan dari mulai lantai satu hingga dua. Ruangan gedung tertata rapi. Tak terlalu banyak kursi, di sana. Sofa empuk dan kursi taman terpampang menempel pada sisi sudut tembok. Rak buku berdiri tegak di sudut ruangan, menambah keasrian suasana.

Staff Operasional Jan & Elly English Language School, Marvel mengatakan, suasana itu sengaja diciptakan agar anak didik dapat merasakan 'fun' dalam belajar. Apalagi, Jan & Jelly school mengedepankan konsep bermain sambil fokus belajar.

"Di lantai dua ini digunakan anak untuk bermain. Mengampar di bawah dengan beralaskan parquet dan karpet kecil," kata Marvel, saat ditemui di lokasi belajar, Pantai Indah Kapuk (PIK), Ruko Metro Centro Broadway Blok A No. 7, Jalan Pantai Indah Utara II, Kelurahan Kamal Muara, Penjaringan, Jakarta Utara, Kamis (5/10/2017).

Bisa Seduh Minuman Sendiri

Sedangkan di lantai tiga gedung, kata Marvel digunakan untuk ruang belajar. Layaknya ruang kelas, sejumlah jajaran meja kecil dan papan tulis menghiasi ruang itu. Beberapa hasil karya anak didik pun menggantung di tiap didinding tembok kelas.

"Satu kelasnya hanya diisi maksimal 10 anak didik," jelasnya.

Tak hanya itu, fasilitas berupa minuman kopi dan susu seduh gratis di lantai dasar gedung tersedia untuk peserta didik maupun orang tua yang mengantar. Terlebih, orang tua atau pengantar dapat menyeduh minuman sendiri sambil menunggu anak didik belajar.

"Kami menciptakan suasana cozy ini agar siapapun yang datang ke lokasi ini dapat merasa nyaman," tutupnya.


 
 
 
Infonitas > Feature >

Lika – Liku Pendirian Bank Sampah Kelurahan Pluit

Rabu, 20 Sepember 2017 | 15:30 WIB

Editor : Nurul Julaikah

Reporter : Farid Hidayat

Bank Sampah Kelurahan Pluit
Foto : Farid Hidayat

Pendirian Bank Sampah di Kelurahan Pluit mengalami kesulitan dalam menjual saat memasarkan hasil produksi pada awal pendirian 2013 lalu.

PENJARINGAN – Sampah di Ibu Kota menjadi persoalan klasik bagi warga maupun Pemerintah. Akhirnya, untuk mengatasinya Pemprov DKI Jakarta berinisiatif agar setiap kelurahan memiliki Bank Sampah. Tujuannya, mereduksi sisa limbah rumah tangga menjadi barang bermanfaat dan memberikan penghasilan bagi warga.

Namun, ada cerita menarik dibalik Bank Sampah. Seperti, Bank Sampah Kelurahan Pluit yang berdiri sejak 2013 lalu memiliki cerita tersendiri saat awal pendirian. Hal ini, terkait penjualan hasil cacahan produksi yang telah dipisahkan oleh para anggota.

Akhirnya Bank sampah yang terletak di Jalan Pluit Karang Permai. Kelurahan Pluit, Kecamatan Penjaringan, Jakarta utara ini mendapatkan bantuan dari PT. Pembangkitan Jawa Bali, dan Aksi Cepat Tanggap (ACT). Perusahaan pelat merah tersebut memberikan mesin pencacah, motor bak serta pelatihan sistem bank sampah.

“Awalnya kami agak tersendat dalam menjual hasil cacahan produksi kita. Tetapi atas pendampingan ACT kami hingga sekarang masih terus berjalan,” kata Risnandar, Ketua Karang Taruna Kelurahan Pluit saat berbincang dengan infonitas.com, Rabu (20/9/2017).

Untuk nasabah, Risnandar mengatakan kebanyakan berasal dari warga Muara Angke terutama di 4 RW, zona kelurahan pluit ada tiga zona muara angke, muara karang dan pluit. Akan tetapi, untuk saat ini, pihaknya fokus merekrut warga RW 01, 11, 20 dan 21 yang masuk dalam kategori masyarakat dengan tingkat ekonomi menengah ke bawah menjadi nasabah bank sampah.

Bagi nasabah baru, dapat mengambil uang tabungan setelah tiga bulan. Nantinya para nasabah akan mendapatkan uang kas

"Kedepannya program kita hasilnya itu tidak uang nantinya kita mau sembako. Jadi hasil dengan nilai tabungan uang itu bisa ditukarkan sembak,”kata dia.

Cara Daftarkan Diri Jadi Nasabah

Bank sampah kelurahan pluit memiliki sub unit di setiap RW. Sehingga, nasabah pun tidak perlu jauh-jauh datang ke kantor karang taruna kelurahan pluit. Warga bisa menabung lewat perwakilan di setiap rw yaitu dikelola oleh ibu-ibu PKK, dan  setiap sabtu akan mengambil sampah di setiap unit-unit yang ada.

Lanjut Risnandar, saat ini bank sampah baru bisa menerima sampah seperti botol plastik, gelas plastik, kardus, dan alumunium.

“Harapannya kegiatan bank sampah bisa menjadi satu kegiatan yang pertama bisa diandalkan dan bermanfaat oleh masyarakat dalam segi ekonomi dan kedua berdampak mengurangi pencemaran sampah di lingkungan. Kegiatan ini bisa bermanfaat buat kita dan masyarakat,” tutupnya.