Infonitas > Feature >

Menanamkan Nilai Agama dalam Budaya Betawi

Kamis, 24 Mei 2018 | 14:15 WIB

Editor : Ichwan Hasanudin

Reporter : Rachli Anugrah Rizky

Silat Palang Pintu.
Foto : Azhari Setiawan

Yayasan Padepokan Seni Budaya Betawi Manggar Kelape Kemang berupaya menciptakan masyarakat betawi cinta pada budayanya dengan menanamkan nilai-nilai agama.

KEBAYORAN - Yayasan Padepokan Seni Budaya Betawi Manggar Kelape Kemang dibangun atas kegundahan Edy Mulyadi. Dirinya melihat budaya lokal semakin terkikis di masyarakat.

Dengan membuat padepokan diharapkan bisa menjadi karang penahan agar masyarakat tetap bisa mencintai budaya Betawi dengan tetap berpegang teguh pada nilai-nilai agama. “Kalau kita tidak menciptakan rasa cinta budaya, siapa lagi. Itu visinya,” kata Edy.

Sesuai visi dan misinya, padepokan atau sanggar ini berupaya melakukan dakwah melalui seni dan terus melakukan langkah melestarikan seni dan budaya Betawi. Edy menerangkan, lewat seni diharapkan bisa mengubah karakter anak-anak.

“Pertama menguatkan aqidah ahlusunah wal jamaah. Kedua, membangun attitude, ahlak yang benar. Ketiga adalah menciptakan rasa NKRI, rasa kebangsaan . Keempat adalah keahlian, kita kasih di sini,” jelasnya.

Untuk itu, sanggar ini memiliki beberapa divisi budaya seperti Divisi Silat. Di divisi silat ini akhirnya muncul yang namanya Silat Iqro hasil kombinasi dari semua silat.

Ada pula Divisi Tari dengan koleksi sekitar 20 tarian, Divisi Musik dan Divisi Sosial, Divisi Intelektual yang memberikan kajian tentang politik, kebangsaan, budaya, itu kita diskusian dengan anak-anak, Divisi Kreativitas dan Divisi Teknologi, hingga Divisi Pengobatan.

Di sanggar ini, anak-anak dididik tidak disarankan untuk mencari uang di Manggar Kelape. Ini adalah tempat untuk mencari ilmu sebanyak-banyaknya, mencari kreativitas dan menghasilkan karya.

“Begitu juga di manggar, ilmu diambil sebanyaknya dan di luar kembangkan,” ucap Edy.

Dirinya menegaskan Padepokan Manggar Kelape murni untuk membesarkan budaya. Tantangannya tentu menyita waktu banyak, tapi semua itu harus dijalani dengan keikhlasan.

“Halangan itu saya anggap sebagai dinamika dalam sebuah proses. Ada tiga hal yakni bangun rasa cinta, dengan begitu akan ikhlas menjalankannya, lalu attitude,” tegas Edy.

Menurut Edy, untuk mempertahankan rasa cinta budaya pada anak muda bisa dengan cara memberikan kesempatan mereka untuk mengolah acara.

“Fokus membina, mendampingi, memfasilitasi, mengangkat. Saya harapkan lebih banyak para seniman-seniman besar. ketika di situ ada orang besar, maka lebih kuat mempertahankan budaya,” harapnya.