Infonitas > Feature >

Menakar Proyeksi Bisnis Properti di Serpong

Rabu, 27 Desember 2017 | 15:30 WIB

Editor : Galih Pratama

Reporter : Alfi Dinilhaq

Geliat pembangunan properti di kawasan Serpong.
Foto : Geri B

Pembangunan infrastruktur di Serpong, berdampak pada tingginya perminataan properti. Diyakini tahun politik 2018, pasar properti akan lebih membaik.

SERPONG - Tahun 2018, prospek bisnis properti diperkirakan akan mengalami pertumbuhan. Meskipun kondisi ekonomi diprediksi akan mengalami gejolak adanya perhelatan Pilkada serentak di tahun ini, namun bisnis properti akan terus tumbuh. Ini tak lepas dari kebijakan-kebijakan yang diberikan pemerintah terhadap sektor properti.

Tahun lalu, pemerintah menetapkan penurunan suku bunga acuan BI 7-Day Repo Rate. Pascaturunnya suku bunga tersebut, diharapkan ada kebijakan pemerintah terhadap penurunan suku bunga kredit KPR atau KPA pada tahun 2018.

“Kalau dilihat dari suku bunga, pemerintah akan cenderung menurunkan suku bunga tahun ini. Apabila suku bunga turun, demand pasti ada, kecuali ada faktor lain,” ungkap Nurul Yaqin, Pengamat Properti dari Benhokk Property beberapa waktu lalu kepada Infonitas.com.

Menurutnya, suplai properti awal tahun akan lebih banyak dan variatif. Banyak pengembang membangun dan me-aunching produk propertinya di semester pertama 2018. Apa sebabnya? Kata Nurul, psikologis market akan mengalami sensitivitas adanya unsur politik Pilkada serentak. “Tidak mungkin di semester dua, karena ada Pilkada dan juga hadapi Pilpres dan Pileg 2019. Mereka akan ‘jor-joran’ di semester pertama,” ungkapnya.

Melihat prospek bisnis properti di Serpong, Nurul berpendapat, bahwa Serpong akan menjadi salah satu destinasi investasi terbaik di kawasan Jabodetabek. Mengingat lima tahun terakhir pertumbuhan infrastrktur transportasi umum dan akses semakin baik.

“Apalagi ke depannya akan ada tol baru dan Transjakarta yang akan masuk. Pertumbuhan propertinya bukan skala nasional, tapi internasional. Bahkan Serpong jadi etalase pertumbuhan properti di Indonesia,” klaimnya.

Tak hanya itu, lanjutnya, dari sisi daya beli pun, Serpong juga menjadi salah satu wilayah dengan pertumbuhan kelas menengah paling tinggi di Indonesia. Sehingga diyakini produk properti yang dilempar di pasar akan terserap dengan baik.

“Antara supply dan demand, bisa dibilang seimbang. Sementara jenis properti yang akan diburu lebih ke kisaran harga first home, yakni antara Rp 600 – Rp 700 jutaan,” katanya.

Sementara Erni Prijatna, Principal TEOS Property dan Esteem Property  BSD mengatakan, demand properti di Serpong memang sangat tinggi. Daya tarik pembelinya tak lepas dari pertumbuhan pembangunan infrastruktur, seperti akses tol, pusat pendidikan, perbelanjaan, dan lainnya. “Pemasaran di Serpong nggak pusing. Pengembang branding, langsung diburu para pembeli,” katanya.

Namun, kata dia, pembeli kini lebih selektif dalam memilih pengembang properti. Terutama soal rekam jejak pengembang properti. “Misalnya pengembangnya dari mana, land bank besar atau tidak, punya keuangan bagus atau tidak, dan lainnya,” ungkapnya.

Hal yang serupa juga diungkapkan oleh Rita Megawati, Project Coordinator Cambio Lofts Alam Sutera. Menurutnya, kini banyak pertimbangan yang menyelimuti para pembeli untuk memiliki properti. Terutama investor, mereka sangat detail dalam memilih properti.

“Investor lebih detail. Namun untuk pembeli di Serpong, tahun depan tetap didominasi end user. Perbandingannya 70 persen ens user, sisanya investor,” katanya.

Rita optimistis, tahun ini pasar properti di kawasan Serpong akan membaik dari tahun sebelumnya. “Tahun lalu jadi titik properti yang cukup terkoreski. Tahun ini sudah jadi titik time to buy,” kata wanita yang juga menjabat sebagai Prinipal LJ Hooker Gading Serpong ini.

Antara Rumah Tapak dan Hunian Vertikal

Tahun ini, jenis properti rumah tapak atau landed house diyakini akan tetap mendominasi pasar properti di kawasa Serpong. Banyak faktor yang menjadikan rumah tapak sebagai buruan dari pembeli.

Seperti yang diungkapkan oleh Nurul Yaqin, Pengamat Properti dari Benhook Property BSD. “Rumah tapak akan diminati karena filosofi rumah tinggal orang Indonesia punya tanah, bisa menanam pohon dan tanaman, serta mobilnya bisa diletakkan di halaman rumah,” katanya.

Hanya saja, kata Nurul, harga rumah tapak kini semakin tinggi, sehingga para pembeli khususnya first home dipaksa untuk memilih hunian jangkung. “Harga rumah tapak cukup mahal di Serpong, orang seakan dipaksa masuk hunian vertikal yang harganya lebih bersahabat. Saya prediksi, kenaikan pertumbuhan hunian vertikal di Serpong sekira 5 – 10 persen,” ungkapnya.

Sementara Erni Prijatna, Principal TEOS Property dan Esteem Property BSD mengatakan, rumah tapak tetap akan banyak diminati pembeli di kawasan Serpong. Agar mampu bersaing, kata Erni, pengembang harus apik dalam menghadirkan konsep hunian demi menggaet pasar. “Harus ada konsep yang jelas, karena konsumen kritis untuk mengetahui konsep hunian yang akan dihuni,” katanya.

Sedangkan perbandingan antara pasar properti primary dan secondary, kata Erni, perbandingannya cukup menarik. Kata dia, melihat rekam jejak transaksi penjualan di agen property milikinya, karakter pembeli di kawasan Serpong cukup banyak memilih produk secondary. “Pemilihan jenis secondary lebih banyak. Persentasenya 60 persen secondary, sisanya primary. Ini tak lepas dari pertimbangan harga,” tutupnya.

Potensi Pasar Generasi Milenial

Milenial menjadi golongan masyarakat yang paling banyak diperbincangkan saat ini. Banyak kalangan berpendapat, generasi milenial akan menjadi masa depan konsumen di Tanah Air. Salah satunya di sektor properti. Ada beberapa pengembang yang fokus membidik segmen generasi milenial dengan memberikan skema pembayaran yang cukup terjangkau.

Seperti dikatakan Rita Megawati Project Coordinator Cambio Lofts Alam Sutera, kaum milenial cukup unik. Mereka memiliki daya beli yang cukup untuk memiliki properti. Jenis properti yang mengaplikasikan karakteristik hidup serba modern kaum milenial adalah hunian vertikal. “Vertikal akan lebih menark bagi generasi milenial," ujar wanita yang juga menjabat Principal LJ Hooker Gading Serpong ini.

Sementara menurut Nurul Yaqin, Pengamat Properti dari Benhook Property BSD, kaum milenial akan mempengaruhi perilaku konsumen properti saat ini. Terutama soal pemasaran, sebagian pengembang sudah mulai menerapkan pola pemasaran digital. Ini tak lepas dari karakteristik kaum milenial yang serba digital. “Pembeli orang tua mau nggak mau ikut pola pemasaran generasi milenial,”katanya.

Kata Nurul, jenis properti yang mampu mengaplikasikan kehidupan generasi milineal adalah apartemen. Praktis bebas macet, jadi alasan mengapa generasi ini memilih apartemen. “Generasi ini nantinya akan menjadi generasi apartemen. Karena mereka tak mau pergi berjam-jam macet di jalan,” katanya.

Tak jauh berbeda, Erni Prijatna, Principal TEOS Property dan Esteem Property BSD juga berpendapat, bahwa apartemen akan menjadi pilihan kaum milineal tinggal. Banyak pengembang apartemen yang menawarkan cara pembayaran yang menarik. Di mana pembayarannya benar-benar diseusaikan dengan penghasilan mereka. “Sekarang cara bayarnya menarik dan beragam, terutama buat kaum milenial,” ungkapnya.

Berdasarkan survey Rumah123.com per Desember 2016 menyatakan bahwa 94 persen kaum milineal usia 23-37 memiliki gaji dibawah Rp 12 juta. Penghasilan tersebut dirasa masih relevan untuk bisa memiliki properti hunian vertikal di kawasan Serpong.