Infonitas > Feature >

Melestarikan Silat Asli Betawi

Kamis, 24 Mei 2018 | 14:20 WIB

Editor : Ichwan Hasanudin

Reporter : Rachli Anugrah Rizky

H. Sabenih (tengah) bersama murid-muridnya di acara Fetival Palang Pintu Kemang XIII, Jakarta Selatan.
Foto : Rachli Anugrah Rizky

Mereka yang ikut belajar silat tidak hanya diajarkan olah gerak dan olah fisik saja. Silat ini mengajarkan akhlak, mental, keberanian, dan kekuatan fisik.

KEBAYORAN - Banyak seni budaya asli Betawi yang perlu dilestarikan. Salah satunya adalah silat asli Betawi yang punya banyak jenis seperti Cingkrik, Beksi atau silat lainnya.

Di kawasan Jagakarsa, ada satu jenis silat Betawi yang dikembangkan oleh seorang pria bernama H. Sabenih Saleh. Dirinya mengembangkan silat yang diberi nama Silat Jalan Lima H. Sabenih.

Menurut sang guru besar Silat Jalan Lima H. Sabenih, kemampuan silatnya didapat dari sang kakek yang diturunkan kepada ayahnya dan kepadanya. Sebagai cucu, dirinya sudah meneruskan sejak tahun 1965 dan sejak tahun 1970, dirinya sudah mulai mengajar.

Awalnya, asal usul silat ini sebetulnya belum memiliki nama. Nama ini diambil dari ajaran sang kakek yang menjelaskan belajar silat itu kuncinya hanya ada lima. “Saya rumuskan Persilatan Jalan Lima ini dan saya lestarikan,” ucap H. Sabenih.

Awalnya, persilatan ini mengajak anak-anak di sekitar Kampung Ciganjur, Jagakarsa karena dipandang kurang memiliki kegiatan. Mereka yang ikut belajar silat tidak hanya diajarkan olah gerak dan olah fisik saja.

Silat ini mengajarkan akhlak, mental, keberanian, dan kekuatan fisik. “Saya mendidik secara gratis, karena kasihan anak putus sekolah. Ini juga untuk bekal mereka,” jelas pria asli Betawi kelahiran Ciganjur, Jagakarsa ini.

Diakui H. Sabenih, untuk melakukan perbuatan baik pasti ada tantangan dan kesulitannya. Mendidik adalah pekerjaan yang tidak mudah dan itu harus dilihat sesuai dengan keinginan dan kebutuhan orangnya. Terlebih, saat ini terpaan budaya asing yang hebat membuatnya hanya bertahan.

“Bertahan dalam artian kata tetap saya lestarikan Betawi asli seperti apa. Itulah yang saya perkuat. Jadi budaya asing sekadar tahu saja tetapi budaya kita ini lebih mendalami lagi,” tegasnya.

Namun, di kawasan perkampungan pinggiran kota Jakarta, lanjut H. Sabenih, anak-anak muda masih mengenal budaya Betawi sebagai kebudayaan asli.

“Kalau di kota mungkin sedikit yang kenal dengan budaya betawi,” tuturnya. Seperti nilai-nilai budaya Betawi yang juga ditanamkan para murid-murid di padepokan Silat Jalan Lima H. Sabenih. “kalau anak muda sekarang memang kebanyakan suka hura-hura, tapi kalau anak didik saya masih bisa dikontrol, terutama dari keagamaan,” terang H. Sabenih.