Infonitas > Feature >

Maskapai Penerbangan Legendaris Indonesia Yang Tinggal Kenangan

Rabu, 6 Sepember 2017 | 15:15 WIB

Editor : Fauzi

Reporter :

Kesibukkan bandara di Indonesia tempo dulu.
Foto : istimewa

Mandala, Bouraq dan Sempati sempat mewarnai dunia penerbangan Indonesia, bahkan melegenda sebagai maskapai penerbangan yang ‘tidak terlupakan’.

JAKARTA – Jauh sebelum era low cost carrier (LCC) saat ini, di era penerbangan masih menjadi perjalanan eksklusif, hanya ada segelintir maskapai penerbangan melayani penerbangan Tanah Air. Nama-nama yang begitu melekat, namun kini tinggal kenangan. Ada yang murni milik swasta, subsidi pemerintah, hingga berstatus BUMN. Namun, hanya Garuda Indonesia yang mampu bertahan hingga hari ini. Selain Merpati Airlines, berikut beberapa maskapai penerbangan yang mungkin masih Anda ingat atau bahkan pernah tumpangi, namun kini tinggal kenangan.

1. Sempati Air

Sempati memulai bisnisnya dengan nama PT Sempati Air Transport. Didirikan oleh PT Tri Utama Bhakti (Truba) pada Desember 1968, Sempati awalnya merupakan angkutan sewa pekerja minyak dan gas dengan modal satu unit pesawat jenis Douglas DC-3. Penerbangan perdananya dengan pesawat register DC-3 PK-JDB untuk mengantar karwayan Union Oil pada tahun 1969. Selang beberapa waktu, Sempati memeroleh izin untuk melayani penerbangan ke Singapura, Kuala Lumpur dan Manila, seiring dengan penambahan 6 pesawat jenis Fokker F-27. Menariknya, tidak banyak yang tahu jika maskapai ini pernah dicarter ke sejumlah wilayah konflik, termasuk ke Vietnam dan Kamboja saat Perang Vietnam berkecamuk, hingga sewa ke Brazil.

Di tahun 1989, seiring dengan pembukaan layanan penerbangan ke Pontianak, Bangka, Belitung, Tanjungpinang, Pekan Baru dan Malaka, Malaysia. Sempati yang kian prospektif dilirik investor, salah satunya Hutomo Mandala Putra (Tommy Soeharto), bersama sang ‘paman’ Bob Hasan dengan korporasi Nusamba miliknya, serta Humpuss. Sempati pun memasuki periode baru sebagai penerbangan ekssekutif, dan memperluas rute hingga ke Singapura, Penang, Kuala Lumpur, Taipei, Yangon, Madras hingga Perth (Australi). Hingga akhirnya ‘belang’ Sempati terkuat saat hendak go public dan melantai di Bursa Efek Jakarta (BEJ). Meski sempat mendapat investor tambahan dari ASEAN Aviation Inc. (AAI), Sempati ternyata memiliki hutang setumpuk dan gagal melantai di bursa yang direncanakan pada Oktober 1996. Dua tahun kemudian, tepatnya 5 Juni 1998, Sempati resmi ditutup dan dinyatakan pailit pada 5 Juli 1999. Catatan terakhir, Sempati masih berhutang Rp 1,1 triliun.

2. Mandala Airlines

Sebelum diakuisisi oleh maskapai asal Singapura, Tiger Airways, dan menjadi Tigerair Mandala. Maskapai ini merupakan satu-satunya maskapai non-pemerintah yang sukses melewati masa krisis moneter. Didirikan pada 17 April 1976 oleh Kolonel Sofkar, Mayjen Raden Soerjo, Adil Aljol, Mayor (AU) Soegandi Partosoegondo, Kasbi Indradjanoe dan Darwin Ramli lewat bendara PT Dharma Kencana Sakti. Belakangan, perusahan ini menjadi unit bisnis Yayasan Dharma Putra Kostrad. Mandala memiliki rekam jejak ciamik di dunia penerbangan Tanah Air. Penerbangannya dimulai ke timur Indonesia dengan pesawat Vicker Viscount (VC-8) ke Ambon, Kendari, Makassar, Manado, Gorontalo, serta Yogyakarta, Surabaya dan Denpasar.

Di tahun 1972, Mandala mengambil alih rute Seulawah Air di Banda Aceh, Banjarmasin, Medan, Padang, Palembang dan Pontianak. Bisnis Mandala Air yang terus berkembang, mulai goyah pada tahun 2001, dimana persaingan bisnis penerbangan makin ketat, serta imbas politik yang melarang militer berbisnis (Mandala menjadi anak usaha Yayasan Dharma Putra Kostrad). Maskapai ini pun dijual ke swasta setelah pemerintah enggan mengambil alih, tepatnya ke Cardig International dengan nilai sekira 30 juta US Dollar. Di tahun 2011, Mandala kembali terjerat hutang dan sempat  berhenti beroperasi pada 11 Januari 2011. Masuknya investor Tiger Airways dan PT Saratoga Investment Group sempat memberikan angin segar, sehingga bersalin nama menjadi Tigerair Mandala. Namun, karena terus merugi, maskapai ini pun tutup pada 1 Juli 2014.

3. Bouraq Indonesia Airlines

Maskapai yang satu ini sempat menjadi legenda, lantaran memiliki torehan prestisius, on-time performance penerbangan domestik terbaik di eranya. Maskapai ini didirikan oleh Jerry Albert Sumendap yang berkeinginan mengisi kekosongan rute domestik di Kalimantan sepeninggal Garuda. Persiapan dilakukan sejak April 1969, dan mulai beroperasi pada 1 April 1970 dengn modal 3 unit pesawat DC-3 beregister PK-IBA, PK-IBI dan PK-IBS. Awalnya, Bouraq hanya ditujukan untuk mengantar karyawan perusahaan perkayuan PT Pordisa milik Jerry. Namun, saat Pordisa gulung tikar, Bouraq malah kian berkembang bahkan memiliki ‘adik’ Bali Air. Baru di tahun 1980-an, Bouraq mulai era penerbangan berjadwal dengan base di Jakarta dan Balikpapan. Sementar Bali Air bermarkas di Denpasar. Pesawatnya, 4 unit Vickers Viscount VC-812 dan VC-843, 6 unit Hawker Siddley HS-748 tipe 2A dan 2B dan 3 unit Casa/IPTN NC-212 Aviocar. Adapun Bali Air menggunakan 2 unit Britten Norman BN-2A Islander dan 4 unit Trislander.

Paruh awal 1990-an merupakan masa keemasan maskapai ini. On-time performance terbaik untuk penerbangan domestik diraih. Bouraq juga melakukan terobosan dengan mempekerjakan tiga pilot perempuan, yakni Meriam Zanaria, Lokawai Nkagawa dan Cipluk. Kendati, Bouraq diterpa isu miring mengandalkan pesawat non-jet. Namun, ini dijawab Jerry dengan mendatangkan 3 unit jet tipe Boeing 737-200, serta menyewa 7 unit pesawat sejenis dari Malaysia Air System. Selain penerbanga domestik, Bouraq juga rutin melayani penerbangan ke Singapura, Filipina dan Malaysia. Namun, wafatnya Jerry pada 6 Juni 1995 berdampak pada bisnis Bouraq. Sang putra, Danny Sumendap yang menjadi penerus bisnis ini mengalami berbagai terpaan masalah, termasuk krisis moneter pada tahun 1998. Perlahan armada dan pekerja Bouraq berkurang, hingga berhenti beroperasi pada 25 Juli 2005.

Selain ketiga maskapai penerbangan tersebut, banyak maskapai lainnya yang pernah menghiasi bisnis penerbangan Indonesia. Namun, ketiganya tetap menjadi legenda yang tidak akan terlupakan.