Infonitas > Feature >

Kisah Para Pebisnis Muda di Pluit Mulai Bertualang

Senin, 4 Desember 2017 | 11:15 WIB

Editor : Wahyu AH

Reporter : Farid Hidayat

Alvin Tanudjaya
Foto : Malik Maulana

Hampir setiap orang memiliki keinginan berbisnis. Termasuk, para kalangan muda di kawasan Pluit, Penjaringan, Jakarta Utara. Mereka mengisahkan awal mula menjadi pebisnis.

PLUIT - Setinggi apapun pangkat yang Anda miliki, Anda tetaplah karyawan. Sekecil-kecilnya apapun usaha, Anda adalah bosnya. Keinginan berbisnis pasti dimiliki oleh setiap orang. Alasannya jelas, seperti pernyataan Bob Sadino tersebut. Prosesnya memang tidak mudah. Ada banyak karyawan yang sudah mencoba tetapi berujung kegagalan. Namun, banyak pula yang berhasil. Paling tidak, berjalan stabil.

Pantauan Infonitas mayoritas yang bisa langgeng adalah yang menyesuaikan bisnis dengan hobinya. Misal, Alvin Tanudjaya. Dia lebih memilih bisnis kuliner karena pengalamannya sebagai chef dessert selama 2 tahun di salah satu restoran di Sydney.

“Sebelumnya, saya hanya karyawan biasa. Part time sambil kuliah di sana. Total, 6 tahun saya menjadi karyawan. Sudah cukuplah. Skill sudah ada. Jadi, kenapa enggak dipakai buat bisnis sendiri,” ucapnya.

Sesampainya di Tanah Air, pria berusia 24 tahun ini langsung meminta restu orangtua. Namun, yang didapat justru pertentangan. Sebab, orangtua lebih menginginkan Alvin meneruskan bisnis keluarga.

Alvin teguh. Dia terus berusaha meyakinkan orangtuanya. “Saya coba jelaskan detail mengenai bisnis yang akan saya jalankan. Mulai dari ide, hingga pemasarannya. Jadi, seperti karyawan persentasi dulu. Ya, akhirnya modal nekat. Kebetulan, saya masih punya tabungan hasil kerja keras di Sydney. Saya ajak beberapa teman join. Saya megang produk dan dapur, ada yang bagian marketing, dan ada yang accounting,” tuturnya.

Berawal dari berjualan dessert di bazar-bazar. Namun, gagal. Berlanjut ke burger. Usaha yang kedua ini lebih meningkat dari sebelumnya. Alvin bisa membuka gerai di Bogor. Sayangnya, hanya bertahan singkat. Lagi-lagi, dia harus merasakan kegagalan.

Tidak ada kata menyerah. Alvin kembali mencoba. Kali ini, dia lebih detail. Mengevaluasi hasil kerja sebelumnya. Kekurangan yang terjadi coba diperbaiki. Hingga lahirlah Latteria Gelato, kedai dessert yang berlokasi di Rukan Crown Golf Blok D, nomor 39 Pantai Indah Kapuk, Penjaringan, Jakarta Utara.

“Sudah jalan 2 tahun.  Saya juga punya brand lain, kedai Up To Date yang sudah punya 3 cabang, Sabore, baru satu cabang, dan coffee shop Kakolaite di Serpong,” kata Alvin.

Jelas, ada perbedaan pola pikir ketika menjadi karyawan dan pebisnis. “Dulu, saya tidak pernah berpikir untung-rugi. Perusahaan mau untung atau tidak, saya enggak pernah terlalu peduli. Yang penting kerja serius. Pulang ke rumah bisa leha-leha. Kalau sekarang, pulang ke rumah pusing mikirin bon, mikirin complain customer, dan hal-hal lain. Ketemu keluarga paling sarapan dan makan malam,” ungkapnya.

Serupa dengan Maria Anggraini owner Engs Resto dan Founder desain baju This Is April. Semasa menjadi karyawan di satu toko roti, restoran chinese food, dan hotel di Sydney, dia pun tidak pernah memikirkan profit perusahaan. “Datang kerja yang penting mengerjakan tugas dengan sebaik-baiknya. Tidak pernah berpikir usaha mau dibawa kemana, bulan ini profit atau tidak, gimana cara menaikkan profit, tidak pernah sama sekali.”

Namun, saat menjajal membuka kuliner, Maria merasakan level stres berbeda. “Harus mengerjakan tugas harian, memikirkan masalah operasional, harga sewa, kenaikan harga bahan baku, pemasaran, pengembangan bisnis, hingga kebijakan pemerintah yang berhubungan dengan bisnis kita. Jadi, tidak ada istilah 9-5, pastinya beban pekerjaan ada setiap saat,” ungkap Maria.

Namun, kata dia, tetap enjoy. Sebab, bisnis yang digeluti yakni di bidang kuliner dan fashion merupakan passion-nya. “Apalagi, suami dan keluarga saya sangat mendukung. Jadi, bisa terus semangat. Malah, semakin tertantang untuk lebih besar lagi.”

Caroline Wong, owner Diverse Movement Crew dan Diverse Muaythai Crew sependapat. Merintis bisnis memang lebih nyaman dari hobi. Wajar, bila Caroline lebih memilih mendirikan tempat berlatih dance.

“Berawal dari berkeliling mengajar dance. Lalu, di rumah sendiri. Lambat laun, jumlah muridnya semakin banyak tidak tertampung lagi di rumah.” Akhirnya, pada Oktober 2014 lahirlah Diverse Movement Crew. Lokasinya pindah ke  Muara Karang Blok O 6 Barat No. 3, RT.2/RW.8, Pluit, Penjaringan, Jakarta Utara.

Proyeksi 2018

Menurut Caroline, bisnis ini seperti mimpi yang terwujud. Tidak pernah terpikir akan sebesar sekarang. Dari hanya 4 murid hingga 180 murid hanya dalam waktu 2 tahun. Kini, tantangan terbesar adalah menjaga agar terus langgeng. Caranya, dengan menjaga kualitas dan fokus. “Nantinya, kita juga akan buat the art of dance, menambah genre, muaythai, dan fitness studio.

Maria Anggraini juga sudah menyiapkan langkah jitu untuk pengembangan bisnis tahun depan. Dia percaya pertumbuhan ekonomi Indonesia akan membaik dan berdampak baik bagi perkembangan bisnis. “Saat ini, saya sudah memiliki team business development yang kerjaannya survey tempat, survey demografi dan segala macamnya. Sebab, untuk retailer dan restoran, location is king.”

Pasalnya, Maria sudah berencana akan membuka 20 gerai baru This is April dan dua restoran lagi. “Kita tidak boleh puas diri. Harus terus belajar mengikuti perubahan.”

Begitupun Alvin, pada 2018, dia akan mencoba mewaralabakan bisnisnya. Serta, mau mencari lokasi baru di mal-mal Jakarta. “Tapi, kita masih survey untuk lokasi. Kita harus lihat dulu traffic mal saat weekday dan weekend atau saat dinner maupun lunch. Terus, kita juga harus pelajari target market mal yang kita incar, dan lain-lain. Semua masih dalam proses.”