Infonitas > Feature >

Ketika Masa Mudaku Teraniaya Kanker

Kamis, 8 November 2018 | 18:30 WIB

Editor : Wahyu AH

Reporter : R Maulana Yusuf

Mia Deliyanthi.
Foto : R Maulana Yusuf

Kanker menganiaya masa muda Mia. Selama lima tahun terakhir, dia terus melakukan pengobatan.

KELAPA GADING - Usia merupakan teka-teki Tuhan. Tidak ada satupun manusia yang tahu kapan akan mati. Yang harus dilakukan adalah berjuang dan menjadi manusia bermanfaat. Kiranya, komitmen inilah yang diemban Mia Deliyanthi.

Wanita kelahiran Jakarta 22 Mei 1981 ini sempat bekerja di perusahaan multinasional farmasi. Awal kariernya berjalan cukup lancar. Mia menjalani masa mudanya seperti wanita pada umumnya.

Namun, semua berubah seketika.  Pada 2010 atau tepatnya saat Mia berusia 29 tahun, kenyataan pahit muncul.  Kondisi Mia memburuk seiring kemunculan benjolan di lipatan payudara sebelah kanan. Mudah sakit dan badan terasa panas.

Awalnya, dia tidak terlalu menghiraukan. “Mungkin hanya sebatas flu,” ucapnya. Namun, Mia tetap penasaran. “Kenapa bisa ada benjolan di payudara saya?”

Saat berobat, dia sempat menanyakannya ke dokter. “Saat itu, aku hanya mau berobat flu saja, sekalian tanya kenapa ada benjolan. Dokter langsung periksa. Kata dokter, ini tidak bisa didamkan, harus segera diperiksa,” ungkapnya.

Mia langsung dirujuk ke rumah sakit lain. Rasa waswas mulai menyelimuti hatinya. Setelah dilakukan sejumlah pemeriksaan, hasilnya sungguh mengejutkan. 

Mia divonis menderita kanker stadium 2B. Semangat hidupnya perlahan mengendur. Dia tidak pernah menyangka bisa menderita kanker pada usia muda. Menikah saja belum. “Sedih, terus bingung pula. Tapi, mau tidak mau ya harus dijalani.

Perlahan fase itu berhasil dilewati berkat bantuan sang Bunda yang senantiasa berada di sisi Mia dalam proses pengobatan. "Orangtua selalu menemani aku saat berobat, dulu dari jam 7 malam nunggu dokter operasi sampai jam 3 atau 4 pagi baru pulang, orangtua support abis demi kesembuhan aku," tandasnya.

Hingga saat ini, Mia sudah menjalani 6 kali kemoterapi, 25 kali radiasi dan hormon terapi. Efeknya, membuat kecantikannya luntur. Rambut rontok, kuku menghitam, dan wajah terkadang membengkak. Pengorbanan ini menjadi bukti semangat Mia untuk menjadi cancer survivor.

Pada tahun kelima, dokter menyatakan kanker di payudara sudah bersih. Namun, petanda tumor terus mengalami kenaikan. Saat dilakukan pet scan, kanker pindah ketulang yang ada di bahu kiri.

“Kalau nanti ada lagi atau tidak sembuh, itu takdir. Umur tidak ada yang tahu, jangan anggap kanker akhir dari kehidupan kita. Yang penting motivasinya sehat dulu, bebas dari kanker, dan tidak minum obat kanker terus," katanya.

Mia juga merasa beruntung, dia mengetahui ada kanker saat masih stadium dini. “Bila terlambat, aku tidak tahu gimana jadinya,” ucapnya.

Kini, Mia terus berupaya membebaskan pikirannya dari kanker. Beraktivitas seperti biasanya. Menghabiskan waktu dengan beryoga dan kegiatan-kegiatan positif lainnya.

Dia pun bersyukur terkadang bisa menjadi motivator untuk para penderita kanker lainnya. “Kadang ada teman atau orang lain yang juga terdiagnosa kanker bertanya pengobatannya seperti apa. Aku beri arahan sehingga yang awalnya berpikir negatif atau menjadi momok menakutkan, tapi setelah mendengar ceritaku jadi merasa tenang," tuturnya.

Kematian itu takdir. Kuasa Tuhan. Setiap orang pasti akan meninggal. “Jangan menganggap kanker adalah akhir dari kehidupan kita, terus berpikir positif,” tandas Mia.


 
 
 
Berita Terkait
Tidak ada berita terkait