Infonitas > Feature >

Hotel Berburu Pasar MICE

Rabu, 14 Maret 2018 | 10:30 WIB

Editor : Wahyu AH

Reporter : Adi Wijaya

Hotel Aston Pluit
Foto : Malik Maulana

Prospek MICE di Indonesia sangat cerah kedepannya. Jakarta menjadi kota andalan merebut pasar bersama 4 kota besar lainnya.

PENJARINGAN - Perkembangan bisnis Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition (MICE) Indonesia kian berkembang dalam beberapa tahun terakhir. Data Kementerian Pariwisata menyebut jumlah kunjungan wisatawan mancanegara periode 2015 ke 2016 mengalami peningkatan hampir dua kali lipat.

Bahkan, prediksinya akan terus melesat tajam pada tahun berikutnya. Lihat saja perbaikan infrastruktur yang terus dikebut. Ini menjadi bukti pemerintah sangat serius menggarapnya. Akses yang bagus tentu akan memudahkan para wisatawan yang berkunjung ke Indonesia.

Jakarta menjadi andalan bersama 4 kota besar lainnya yang dinilai punya potensi besar. Seakan tak mau melewatkan kesempatan emas, pengembang hotel mulai melengkapi diri dengan fasilitas ball room dan meeting room.

Menurut General Manager Hotel Aston Pluit dan Fave Pluit, Jack Yaaro, cara ini cukup ampuh guna mendongkrak pendapatan. Terlebih, okupansi hotel pada 2017 masih bertengger di angka 70 persen.

“Kami menyadari okupansi belum maksimal, kenaikannya tidak terlalu tinggi. Jadi, kalau kita bicara misalnya kaya bintang lima, okupansinya itu 55-60 persen. Itu maksimum. Kalau bicara bintang 4, 70-75 persen. Kalau bintang 2 bisa 70-85 persen. Hanya ada beberapa hotel tertentu yang bisa mencapai 90 persen. Itu hotel yang berada di premium area," terang Jack, saat ditemui di Hotel Aston Pluit, Jalan Pluit Selatan No 1, Penjaringan, Jakarta Utara, Kamis (15/2).

Penyebabnya beragam. Antara lain, lokasi wisata. Ibu Kota belum memiliki banyak lokasi yang sangat mumpuni. Dalam arti, yang sesuai dengan selera pebisnis dan wisatawan mancanegara. Lalu, pertumbuhan hotel yang semakin subur.

“Tentu mempengaruhi. Kalau ada penambahan supply yang tidak seimbang dengan penambahan demand yang terjadi kue yang ada akan dibagi. Jadi, hotel yang existing sekarang sebagian diambil oleh hotel-hotel baru. Lebih banyak jumlah kamar dibanding jumlah tamu. Ya, mau tak mau harus punya pilihan lain, yakni dengan mengambil pasar MICE,” tuturnya.

Hotel Aston Pluit memiliki ballroom berkapasitas hingga 700 orang. Sedangkan untuk meeting room terdapat lima type dengan kapasitas berbeda, yakni 30 orang, 50 orang, dan 70 orang.

"Meeting room biasanya banyak digunakan saat hari kerja. Sedangkan ballroom biasanya diisi kegiatan seminar atau wedding pada hari libur. Hampir setiap hari full," jelasnya.

Adapun harga paket meeting terbagi dua non residential dan residential. Untuk non residential, Half Day (min 30 pax) Rp. 280.000,-net/pax, Full Day (min 30 pax) Rp.380.000,-net/pax, dan Full Board (min 30 pax) Rp.480.000,-net/pax. Sedangkan Residential, Twin Sharing (min 30 pax) Rp.650.000,-net/pax dan Single Occupancy (min 30 pax) Rp.1.100.000,-net/pax

Assistant Manager Holiday Inn Express Jakarta Pluit Citygate Murti Kartikasari berpendapat tidak jauh berbeda. Okupansi hotel memang terus meningkat dalam tiga tahun terakhir. Tercatat, pada periode terakhir 2017 closing hingga 75 persen.

Pencapaian yang cukup memuaskan mengingat Holiday Inn Express Jakarta Pluit Citygate baru beroperasi pada 2014. Kendati begitu, bukan berarti hotel mengabaikan sektor MICE. Terlebih, lokasinya berada satu area dengan Emporium Mall Pluit.

Holiday Inn Express Jakarta Pluit Citygate memiliki 3 meeting room yang diberi nama serupa wilayah yang ada di Jakarta Utara, yakni meeting room Pluit dengan luas 9x8 meter berkapasitas 72 orang. Lalu, Priok dengan luas 7x8 meter berkapasitas 56 orang dan Plumpang dengan luas 9x7 meter berkapasitas 63 orang.

“Untuk Pluit dan Priok sekatnya bisa dilepas. Jadi, bisa mengakomodasi hingga 80 orang,” tutur Murti.

Begitupun dengan Grand Mercure Jakarta Kemayoran. Jumlah okupansi Grand Mercure Jakarta Kemayoran selalu meningkat sejak beroperasi pada 2015. Pada tahun pertama okupansi hotel menyentuh angka 78 persen, dan pada tahun kedua naik menjadi 89 persen. Ini tentunya ditunjang juga dari fasilitas ballroom.

"Hingga akhir tahun ini sudah ada 60 wedding, jadi kemungkinan akan tambah lagi sehingga bisa melebihi wedding party tahun lalu," ungkap Marketing Communication Manager Grand Mercure Jakarta Kemayoran Aloysia Sekar.

Untuk wedding party,  para calon pengantin bisa menggunakan lotus sky ballroom di lantai 27 yang berkapasitas 800-1500 tamu undangan atau Magnolia Grand Ballroom yang bisa menampung 2000-2500 tamu undangan. Harga per paket mulai Rp 25 jutaan hingga Rp 68 jutaan. Untuk fasilitas terdapat foto prewedding, penataan ruangan, dekorasi, event organizer, penataan kursi undangan, dekorasi pintu masuk, bridal, hingga yang paling penting adalah sajian menu serta kebutuhan lainnya.