Infonitas > Feature >

Grup WhatsApp, Cara Berkomunikasi Praktis Namun Rentan Hoax

Senin, 4 Desember 2017 | 11:00 WIB

Editor : Ari Astriawan

Reporter :

Ilustrasi WhatsApp Messenger.
Foto : istimewa

Dengan grup WhatsApp, membangun networking dan menjalin silaturahmi jadi lebih praktis. Di sisi lain, penyebaran hoax bisa menjadi lebih cepat dan masif bila penggunanya tak bijaksana.

JAKARTA – Di sebuah coffee shop, jemari seorang perempuan sibuk mengetik di atas keyboard touchscreen ponsel pintarnya. Wanita tersebut ternyata tengah berdiskusi dengan rekan-rekan seprofesinya lewat grup pesan instan WhatsApp Messenger. Pekerjaan sebagai public relation mengharuskannya selalu update soal perkembangan informasi terbaru. Koordinasi terkait pekerjaan pun banyak dilakukan lewat smartphone. Begitulah gambaran sebagian besar pekerja era sekarang. Semua pekerjaan tak luput dari yang namanya smartphone. 

Perkembangan teknologi memang telah membawa kita ke sebuah era baru. Digitalisasi membuat pola dan perilaku manusia mengalami perubahan. Tak terkecuali cara berkomunikasi. Komunikasi tak lagi hanya dilakukan secara verbal dan bertatap muka. Aplikasi instant messenger seperti WhatsApp (WA) kini mengambil porsi besar dalam komukasi kita sehari-hari. Baik dalam kehidupan personal maupun profesional.

Di aplikasi WA, kita dimungkinkan untuk membuat grup. Kita dapat memanfaatkan group tersebut sebagai basis utama komunikasi dengan customer atau relasi. Komunikasi melalui grup WA dinilai banyak orang lebih efektif. Karena semua sudah terkoneksi di smartphone. Jadi dimana saja orang tetap bisa mengakses atau update pesan di WA. Beda halnya dengan cara berkomunikasi di forum atau mailing list di mana kita harus login terlebih dahulu. Di grup WA, semua anggota grup akan mendapat notifikasi langsung begitu ada pesan baru.

“Aplikasi seperti WA sangat praktis dan membantu pekerjaan. Banyak sisi positifnya. Kita bisa tetap terkoneksi di mana pun kita berada. Koordinasi pekerjaan menjadi lebih mudah. Begitu pun dengan membangun networking. WA bisa melampaui keterbatasan jarak dan waktu,” terang Rizka Septiana, S.Sos, M.Si. IAPR, Ketua Bidang PERHUMAS Muda, Perhimpunan Hubungan Masyarakat (PERHUMAS) Indonesia kepada infonitas.com.

Wanita yang juga merupakan Executive Board of ASEAN Public Relations Network (APRN) ini melanjutkan, aplikasi WA juga terus berusaha menambahkan atau menyesuaikan fitur-fiturnya demi memenuhi kebutuhan pengguna.

“Misalnya saat kita sedang sibuk dan tidak sempat mengetik pesan, kita bisa menggunakan voice note. Bagi saya aplikasi WA ini sangat membantu. Saya sendiri saat ini tergabung di puluhan grup WA dan itu membuat pekerjaan kita jadi lebih praktis. Kita juga bisa mendapat informasi dengan lebih cepat,” kata Deputy Head of Media Relation, Corporate Reputation Department London School of Public Relation (LSPR) Jakarta tersebut.

Peter Leeansyah, Pengusaha Kuliner di Kelapa Gading mengamini hal yang sama. Pria yang mengaku tergabung dalam hampir seratus WA Groups ini mengatakan, keberadaan aplikasi ini sangat menunjang pekerjaannya sebagai pengusaha. Ia mempunyai WA Group internal perusahaan yang terbagi dalam berbagai divisi. Jadi meski dia sedang berada di luar negeri sekalipun, ia dengan mudah bisa memantau atau memberikan instruksi kepada karyawannya.

“Komukasi jadi jauh lebih mudah. Tak hanya untuk keperluan internal perusahaan, group WA juga bisa efektif untuk membangun jaringan. Kita bisa bergabung di banyak group WA guna memperluas jaringan pertemanan maupun relasi bisnis,” kata Peter.

Menangkal Hoax

Keberadaan aplikasi WA bukannya tanpa cela. Lazimnya kemajuan teknologi seperti yang lain, aplikasi ini juga bak pedang bermata dua. Di satu sisi sangat positif, di sisi lain bisa membawa dampak negatif. Berita palsu alias hoax contohnya. Di era digital sekarang, penyebaran hoax sangat cepat. Tak terkecuali lewat group-group WA. Maka itu, pengguna dituntut untuk tetap selektif dan cermat menyaring informasi.

“Ya kadang ada anggota group WA yang entah sengaja atau tidak membagikan informasi yang belum jelas kebenarannya. Ini sih tergantung kitanya. Jangan cepat percaya apa yang di-share. Kalau perlu kita cek atau verifikasi lagi. Jangan sampai group WA yang untuk menjalin silaturahmi dan mengembangkan networking malah jadi sarana penyebar hoax,” terang Peter.

Sebagai praktisi PR, Rizka membagi beberapa kiat agar komunikasi di group WA terbebas dari hoax. Menurutnya, sebuah group WA tetap harus mempunyai aturan. Kemudian para anggotanya juga harus bisa menahan ego masing-masing.

“Aturan paling standar misalnya No SARA, No Pornografi. Terkait penyebaran hoax, kita sebagai pengguna harus membiasakan diri untuk melakukan cek dan ricek terlebih dahulu. Jangan asal share informasi yang belum jelas. Memang dengan adanya group WA informasi dari mana pun bisa kita dapat degnan lebih cepat. Tapi tetap kita harus menyaring informasi yang layak di-share,” imbuhnya.

Aplikasi WA, kata Rizka, hanya alat. Maka penggunanya harus bijaksana. Jangan bila ada hoax, tools-nya yang disalahkan. Penggunanya lah yang memainkan peran utama, mau digunakan secara positif atau negatif.