Infonitas > Feature >

Dua Sisi Bisnis Hotel Di Kota Bekasi

Sabtu, 22 Sepember 2018 | 09:45 WIB

Editor : Fauzi

Reporter : Leny Kurniawati

Ilustrasi.
Foto : istimewa

Bisnis hotel di Kota Bekasi memiliki dua sisi yang berbeda. Bisa berkembang pesat jika dikelola dengan baik. Hancur lebur jika pelaku bisnis banting harga.

BEKASI – Jarum jam menunjukkan tepat pukul 20.30 WIB, saat Dinda menyelesaikan meeting dengan jajaran pemimpin cabang perusahaan tempatnya bekerja di Kota Bekasi. Mewakili direksi yang berkantor di Dubai, semula Dinda bermaksud untuk langsung terbang ke kampung halamannya di Yogyakarta, mumpung berada di Indonesia. Namun, karena kemalaman, ia memutuskan  bermalam dahulu di Kota Bekasi, dan baru keesokan paginya terbang ke Yogyakarta. “Untung di sini sekarang hotel sudah banyak ya, enggak kayak beberapa tahun lalu. Malah makin enak, banyak hotel sama mal yang terintegrasi,” ujar Dinda.

Dinda hanyalah satu dari sekian banyak pelaku bisnis dan pekerja yang merasakan dampak positif perkembangan bisnis hotel di Kota Bekasi. Sebagai profesional yang sering melakukan perjalanan bisnis ke berbagai negara, Dinda tahu betapa perlunya akses yang mudah dan nyaman untuk mendapatkan penginapan. “Perkembangan kota ini dari segi bisnis dan kegiatan industri, sudah direspon baik oleh pemerintah dengan mengembangkan infrastruktur transportasi. Mudah-mudahan ini didukung juga oleh swasta, khususnya mereka memiliki bisnis di bidang perhotelan,” tandas Dinda.

Unik Dan Potensial

Letak Bekasi yang berbatasan langsung dengan Ibukota Negara, serta kawasan industri di daerah Cibitung – Cikarang, menjadikan kota ini memiliki pangsa pasar bisnis perhotel yang berbeda dengan kebanyakan kota di Indonesia. Jika kota lain mengandalkan kegiatan pariwisata untuk menunjang bisnis hotelnya, pendukung utama bisnis hotel di Kota Bekasi justru perjalanan bisnis dan kedinasan. Contohnya sepeti yang dilakukan oleh Dinda.

“Bisnis hotel di kawasan ini ditunjuang kebutuhan kegiatan bisnis maupun kedinasan. Mulai dari rapat, tempat pertemuan bisnis hingga tempat tinggal ekspatriat dari kawasan industri. Karena itu, perkembangannya cukup baik. Data saya, speanjang 2010-2017 ada pertambahan sekira 30 hotel, mulai dari hotel budget hingga Bintang 5 atau rata-rata empat hotel per tahun. Ini diikuti dengan tingkat okupansi di kisaran 70-80 persen dengan average growth itu 5-10 persen,” jelas GM Aston Imperial Bekasi Hotel & Conference Center Jerry Rolando Sirait.

Pesatnya pembangunan infrastruktur di Kota Patriot juga menjadi alasan pelaku bisnis hotel melirik Bekasi. Misalnya seperti yang dilakukan oleh Manajemen Waringan Hospitality Hotel yang menanamkan investasinya sebesar Rp 42 miliar, untuk menggarap bisnis hotel di wilayah Rawalumbu, Kota Bekasi dengan bendera Hotel 88. Ini merupakan cabang ke-13 di Indonesia.

Direktur Pengembangan Bisnis Waringin Hospitality Herry Suwandi menuturkan, pilihan untuk berinvestasi di Bekasi, tidak terlepas dari kajian perkembangan Kota Bekasi yang memiliki trens positif. “Selain menjelma menjadi metropolitan, posisinya di dekat Jakarta dan menjadi bagian dari perkembangan tata ruang wilayah Jawa Barat, tepatnya kawasan Cirebon Raya yang menyasar Bogor, Depok, Bekasi, Karawang, Purwakarta (Bodebekkapur). Bekasi juga menjadi koridor perlintasan yang menjanjikan dalam sektor bisnis. Misalnya seperti pilihan lokasi kami yang diapit ole Gerbang Tol Bekasi Barat dan Gerbang Tol Bekasi Timur,” paparnya.

Kendati demikian, pesat dan prospektifnya bisnis hotel di Kota Bekasi sebaiknya jangan sampai melenakan, apalagi sampai menyebabkan persaingan tidak sehat yang justru bisa menghambat, bahkan bisa mematikan bisnis hotel itu sendiri.

GM Hotel Santika Premiere Kota Harapan Indah Endy Basuki mengatakan, pertumbuhan bisnis ini juga membuka banyak lapangan kerja, serta menjadi landmark pertumbuhan suatu daerah. “Tapi di sisi lain, kemudahan untuk mendirikan bisnis ini, berpotensi menyebabkan terjadinya over supply yang biasanya diikuti dengan persaingan tidak sehat, terjadi perang harga. Idealnya, persaingan bisnis hotel itu sehat atau blue ocean, dengan meningkatkan kualitas produk dan layanan. Bukan dengan membanting harga jual atau red ocean,” terang Endy.

Ditambahkan olehnya, mengenai persaingan harga, hal ini tidak terlepas dari karakter market bisnis hotel di Kota Bekasi yang dinilainya dengan istilah, high demand low budget atau ekspektasi keinginan tinggi tapi harga murah.