Infonitas > Feature >

Cerita Terdakwa dan Korban Tragedi Bom Thamrin

Senin, 26 Februari 2018 | 15:45 WIB

Editor : Ichwan Hasanudin

Reporter : Wildan Kusuma

Terdakwa Bom Thamrin Aman Abdurrahman berpelukan dengan korban Deni Mahieu dalam persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.
Foto : Wildan Kusuma

Persidangan kasus bom Thamrin atas terdakwa Aman Abdurrahman alias Abu Sulaiman alias Oman Rochman sudah digelar dan saksi-saksi pun dihadirkan.

KEBAYORAN – Kamis, 14 Januari 2016 pukul 10.55 WIB menjadi cerita kelam di Jakarta. Saat itu rentetan tembakan dan bom dari sekelompok teroris menyerang Starbucks Coffee di Gedung Djakarta Theater. Sebuah pos polisi ikut menjadi sasaran serangan bos tersebut.

Jalan Thamrin seketika mencekam. Baku tembak antara polisi dan teroris tampak nyata layaknya film cowboy. Polisi bergerak cepat. Serangan bom dan adu tembak berhasil diredam.

Jalan diamankan dalam radius hampir 200 meter. Namun korban terlanjur berjatuhan. Dalam catatat, 31 orang menjadi korban dan 7 orang di antaranya meninggal dunia.

Sontak, Indonesia dan Jakarta jadi pemberitaan. Bukan hanya media nasional tapi juga internasional. Tersiar aksi ini didalangi oleh jaringan ISIS yang ada di Indonesia.

Dua tahun berlalu. Kabar bom Thamrin kembali bergulir. Tapi kali ini muncul sosok bernama Aman Abdurrahman alias Abu Sulaiman alias Oman Rochman yang diduga sebagai otak dari serangan teror di Jalan Thamrin tersebut.

Pria berusia 45 tahun itu menghadapi tuntutan persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Dalam persidangan, bukan hanya terdakwa yang dimintai keterangan, saksi-saksi juga dihadirkan untuk menuturkan rekaman peristiwa tersebut.

Pada Jumat (23/2/2018), persidangan sudah memasuki tahap memeriksaan saksi serangan bom Thamrin. Jaksa Penuntut Umum (JPU) menghadirkan saksi dari pihak kepolisian, yaitu IPDA Deni Mahieu, seorang polisi bagian Ditlantas Polda Metro Jaya yang turut menjadi korban.

Dalam kesaksiannya, Deni menjelaskan saat dirinya berada di Pos Polisi Sarinah, Salah satu tempat yang menjadi sasaran ledakan bom Thamrin. "Saya kenal dengan saudara terdakwa dari pemberitaan," ajar Deni.

Saat kejadian, lanjut Deni, dirinya sedang bertugas mengatur lalu lintas. Saat itu, kendaraan roda dua masih dilarang untuk melintas di Jalan Thamrin. "Saya bertugas di Jalan Thamrin tapi bukan di pos polisi. Saya sedang mengontrol, tapi saya merasa ada yang aneh di pos polisi," bebernya.

Diceritakannya, peristiwa itu terjadi saat dirinya sedang sarapan. “Saya melihat ada sesuatu yang aneh, begitu langsung pos polisi ada ransel di sebelah kanan warnanya hitam. Kebiasaannya kalau anggota taruh ransel di sebelah kanan tapi ini di ujung," lanjutnya.

Firasat buruk sempat tebersit dihati dan pikirannya. Dugaannya adalah bom. Benar saja, ledakan pertama terjadi di Starbucks Coffee, disusul dengan ledakan di pos polisi, tak jauh dari posisi Deni.

"Kok ini kotaknya ada telinga, itu feeling saya, itu bom. Kemudian bom meledak di Starbuck, setelah itu saya kesetrum sesaat kemudian ada bunyi seperti tawon kemudian bom meledak di pos, tangan saya hancur, kepala, dan paha kena," cerita Deni.

Meski terluka parah, kondisinya tetap sadar. Bahkan Deni mencoba mencabut paku, kaca, dan mur yang menancap di bagian tubuhnya.

Dampaknya hingga saat ini kepalanya masih sering sakit, telinga kanannya total tak bisa mendengar, kondisi badan sudah menurun. Paling miris, Deni tak bisa sujud karena kakinya sudah tak bisa menopang gerakan itu.

Merasa Diikuti
Sebelum ledakan itu terjadi, Deni selalu merasa diikuti oleh orang lain. Bahkan, menurutnya, itu terjadi setahun sebelum tragedi bom Thamrin.

"Setahun sebelumnya saya merasa diikuti. Saya ini kan tugasnya jalurnya antara Semanggi hingga harmoni melakukan pengawasan jalur, saya waktu itu menjadi Pjs unit 843, Saya lihat motifnya sudah lain, sepertinya memberikan informasi," katanya.

Menurutnya, ada segelintir orang yang mencurigakan memakai kendaraan roda dua sedang mengintainya. Hal itu membuat dirinya tidak nyaman dan takut terjadi suatu hal yang tidak diinginkan.

"Yang saya ingat, dia pakai motor bebek, saya lupa plat nomornya, tapi mereka pakai helm. Orangnya hampir sama, kendaraan juga bisa lain. Saya merasa diikuti, ada yang aneh, di dekat BNI daerah Blora. Itu motornya tidak pakai plat," katanya.

Meminta Hak Kompensasi
Tampak raut wajah sedihnya. Luka-luka akibat bom Thamrin itu diobatinya. Sayangnya, tidak ada bantuan maksimal dari pemerintah. Bahkan, Deni harus mengeluarkan dana sendiri untuk mengobati luka akibat ledakan bom tersebut.

"Saya dalam persidangan ini, dengan jujur saya katakan, saya sangat memerlukan kompensasi. Selain saya ada 12 orang yang ingin mengajukan kompensasi. Kalau untuk RS sendiri ada bantuan. Tapi seperti tamping, perban, dan lain-lain, harus bayar sendiri. Kalau dari negara, juga belum ada bantuan langsung jadi saya harus bayar sendiri," katanya.

Bantahan Sang Terdakwa
Aktor di balik aksi teror bom MH Thamrin  Aman Abdurrahman dihadapan majelis hakim menampik adanya keterlibatan dirinya dengan tragedi bom Thamrin. "Saya tidak tahu menahu," ucapnya singkat.

Dilihat dari dakwaannya, Aman merupakan otak yang menggerakkan sejumlah kasus teror yang ada di Indonesia. Itu dilihat dari beberapa orang yang mendatanginya ke Nusa Kambangan. Dari sana, Aman mendoktrin para pengikutnya untuk melakukan teror.