Infonitas > Feature >

Begini Cara Garuda Indonesia Rekrut Dan Didik Awak Kabin

Rabu, 12 Sepember 2018 | 15:00 WIB

Editor : Fauzi

Reporter : Yatti Febriningsih

Fasilitas simulator untuk calon pilot di GITC.
Foto : Yatti Febriningsih

Rangkaian tes yang dilakukan oleh calon awak kabin Garuda Indonesia berjenjang, bertahap dan berkelanjutan. Mulai dari tes tertulis hingga ujian praktik.

JAKARTA – Tak gampang untuk bekerja sebagai awak kabin di maskapai penerbangan, terlebih maskapai yang sudah memiliki standar internasional, seperti yang diterapkan oleh Garuda Indonesia.

Beberapa waktu lalu, Infonitas.com dan sejumlah media lainnya berkesempatan melongok fasilitas pelatihan awak kabin maskapai plat merah ini di Garuda Indonesia Training Center (GITC) yang terletak di kawasan Kosambi, Jakarta Barat.

Dalam pertemuan tersebut VP Training Development GITC Martinus Kayadu, menjelaskan  rangkaian tes yang harus dilalui calon awak kabin Garuda Indonesia. Untuk tes sendiri kata dia, bagi pilot setidalnya ada sebanyak sembilan tahapan seleksi yang mesti dijalani. Beberapa tes itu antara lain, seleksi penimbangan berat badan dan tinggi badan. Ada pula seleksi tes untuk pengetahuan umum, tes Bahasa Inggris, psikotes, kemudian background check, kompetensi check dan mediacal check up.

"Setelah itu mereka masuk ke attitude menerbangkan pesawat, meski mereka sudah punya dua sertifikat sebelumnya (CPLIR dan Multi Engine), setelah itu masuk tahapan akhir (pantauan akhir)," kata Kapten Martinus di lokasi. 

Selanjutnya, seletah melewati serangkaian tes yang diberikan dan dinyatakan lulus, mereka tetap harus menjalani training lanjutaan. Biasanya, training ini dilakukan kurang lebih selama lima bulan. “Dalam training inilah, nantinya para calon pilot ini akan menjalani serangkaian pelatihan sebelum akhirnya melakukan penerbangan perdananya,” kata dia. 

Selanjutnya, mereka juga harus mendalami pendidikan penerbangan lewat beberapa kegiatan, di antaranya pelatihan untuk memahami sistem peralatan pesawatatau Integrated Prosedural Training (IPT), sebelum memulai praktek simulasi menjalankan pesawat. 

Dalam kesempatan yang sama, Senior Manager General Support dan Facility GITC Harry Herlambang menjelaskan, setiap calon pilot yang berada di IPT setidaknya wajib mengikuti 16 sesi pertemuan. Setiap sesi sekitar 4 jam untuk mempelajari secara langsung sistem pesawat bekerja. "IPT pengenalan sistem, sambil menggerakkan. Sementar simulator, ya penggerakan sudah manual full," ungkapnya.

Tidak berhenti di sana setelah menjalani rangkaian tes tersebut, calon pilot akan melanjutkan pendidikan dengan menjalani  sesi pelatihan simulasi penerbangn di ruang simulator. Di sini, ruang simulator, nantinya hampir sama seperti IPT, hanya saja seluruh kontrolnya secara manual. Artinya, calon pilot akan melatih skill-nya untuk mengawaki pesawat secara nyata. "Latihan per satu sesi itu 4 jam. Itu tergantung, untuk yang baru hire selama 1 tahun. Sementara untuk perpanjang (atau pilot berpengalaman) 6 bulan sekali," tutupnya. 

Sebagai tambahan, pelatihan ini tidak hanya berlau bagi calon pilot saja melainkan jyga calon pramugari dan pramugara, alias seluruh awak kabin Garuda Indonesia. Pelatihan tersebut meliputi pelatihan cabine process, announcement dan service dialog. Selain itu ada pula pelatihan greeting, cara berpenampilan hingga pelatihan emergency saat situasi darurat atau bencana.


 
 
 
Berita Terkait
Tidak ada berita terkait