Infonitas > Feature >

Akhir Perjalanan Bus Lemhanas di Tanjakan Cisarakan

Selasa, 2 Oktober 2018 | 17:15 WIB

Editor : Muhamad Ibrahim

Reporter : Adi Wijaya

Ilustrasi (Ist)
Foto : istimewa

Perjalanan bus milik Lemhanas berpenumpang puluhan guru asal Jakarta Barat berakhir di Tanjakan Cisarakan, Desa Buniwangi, Pelabuhan Ratu, Sukabumi, Jawa Barat.

PURI - Masih jelas di benak Arsyad (49), salah satu korban selamat bus milik Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhanas) di Tanjakan Cisarakan, Jalan Raya Cibadak-Cikidang, Desa Buniwangi, Palabuhanratu, Sukabumi, Jawa Barat, Jumat (7/9). Bus, yang dia tumpangi bersama 20 penumpang lainnya terjun bebas ke sebuah jurang sedalam 100 meter.

“Delapan kali bus terguling ke dalam jurang. Semua penumpang terpental termasuk saya,” tutur Arsyad saat ditemui di kediamannya, kawasan Palmerah, Jakarta Barat, Jumat (14/9). Dirinya beruntung menjadi korban selamat meski kaki dan wajahnya penuh luka dan memar.

Dia menuturkan, para penumpang bus bernomor kendaraan 1010-00 itu merupakan rombongan guru se-Jakarta Barat yang hendak reuni sembari berwisata budaya ke kawasan Taman Nasional Geopark Ciletuh, Sukabumi, Jawa Barat.

Bahkan, degub jantunya kian mengencang saat bus yang dikendalikan Usup Supriyadi (45) mulai kehilangan kendali. Jalur yang dilalui bus santer dikenal berbahaya. Ruas jalan berkelok-kelok, dengan kedua sisi jurang terjal.

Kondisi penumpang semakin panik tatkala sang sopir justru berteriak rem blong. "Kita pada teriak 'Pak sopir rem pak, rem'. Tapi si sopir malah meneriaki kami kalau remnya itu blong," ingatnya.

Benar saja, ketakutan seisi penumpang termasuk Arsyad terhadap kecelakaan itu terjadi. Bus menabrak salah satu tebing saat melintas di tikungan curam. Laju bus semakin tak terkendali. Hingga akhirnya, bus terpelosok ke dalam jurang sedalam 100 meter. Jam dalam bus saat itu menunjukkan sekitar pukul 23.00 WIB.

“Saya memeluk kursi penumpang di depan saya. Semuanya terpental ke depan bus. Bus tak berhenti terseret ke bawah dan berguling," ungkapnya.

Kondisi serupa dialami seorang guru Sekolah Dasar (SD) di Kawasan Kembangan, Jakarta Barat, Susiana (47). Melalui saudarinya, Rini (35) mengungkapkan kondisi bus yang ditumpangi Susiana sangat mencekam kala itu. Tak lagi ada yang bisa menyelamatkan diri kecuali kuasa Tuhan.

Susiana sempat dilarikan ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Palabuhanratu, Sukabumi, Jawa Barat oleh warga setempat, sesaat kejadian berlangsung. Susiana divonis dokter mengalami patah tulang belakang.

Warga Jalan Jelambar Utara C RT 05/06, Grogol Petamburan, Jakarta Barat itu pun masih menjalani perawatan medis hingga saat ini. Kondisinya sedikit membaik, namun masih kesulitan untuk berbaring. Lebih nyaman bersandar.

“Di RSUD Palabuhanratu hanya sehari saja. Sore hari pasca kejadian, saudari saya dirujuk ke Rumah Sakit Sumber Waras, Grogol Petamburan, Jakarta Barat,” pungkansya.

Rombongan Guru Bertolak Menuju Penutupan Diklat

Sebanyak 18 guru dari berbagai sekolah berkumpul di SD Negeri 08 Kebon Jeruk, Jakarta Barat Jumat (7/9/2018), malam. Bus Dinas milik Lemhanas terparkir manis di salah sudut lapangan. Semua penumpang bermuka ceria. Tak luput memanjatkan doa saat sopir mulai tancap gas. Niatnya, sampai ketempat tujuan, di Taman Nasional Geopark Ciletuh Palabuhanratu, Sukabumi, Jawa Barat. Perlahan tapi pasti, laju bus kian cepat menuju lokasi tujuan.

Rombongan guru tersebut diketahui hendak menghadiri penutupan Pendidikan Kilat (Diklat). Tiap kecamatan hanya diwakilkan seorang guru. Diklat tersebut sudah dilakukan beberapa hari lalu di Kawasan Jakarta.

Kepala Polisi Resor Sukabumi, Ajun Komisaris Polisi Nasriadi menganalisa, kondisi bus dalam keadaan tak layak beroperasi. Dari kesaksian penumpang, bus mengalami “out of control’ atau hilang kendali dengan tak berfungsinya rem. Ditambah, ruas jalan curam dan kondisi jalan licin sehabis diguyur hujan.

“Penyelidikan masih berlanjut. Kita belum memastikan penyebab kecelakaan bus itu,” ungkap Nasriadi saat dikonfirmasi, Info Puri, Sabtu (8/9).

Lanjutnya, sesaat setelah kejadian, korban kecelakaan itu ditolong warga setempat. Seluruh korban terkapai disemak-belukar jurang. Penerangan saat pencarian korban pun minim saat itu. Kondisi bus ringsek tak berbentuk.

Kini, awak bus, sopir tengah dalam pemeriksaan kepolisian. Akibat kejadian itu, satu orang tewas dan 18 orang lainnya luka berat dan ringan. Jumlah itu termasuk sopir bus Lemhannas.

“Kuat dugaan sopir tak mengenal medan jalan yang dilalui. Dia (sopir) memilih jalur alternati Cikadang – Palabuhanratu menuju objek wisata Nasional Geopark Cileutuh Palabuhanratu,” terangnya.

Sementara itu, Gubernur Lemhannas, Letnan Jenderal TNI (Purn) Agus Widjojo memastikan, perjalanan bus dinas tersebut illegal. Sopir tak mengantongi izin perjalanan dari atasan.

Bus itu kata dia seharusnya hanya dioperasikan bagi pegawai Lemhanas dari kantor menuju Kawasan Bekasi, Jawa Barat. Hanya sebagai bus antar jemput pegawai. “Penggunaan bus oleh pengemudi tanpa laporan atasannya. Itu illegal,” tegasnya.

Diakuinya, bus tersebut selalu dibawa sopir pulang ke rumah setiap akhir pekan. Namun bukan berarti untuk disewakan. Kenyataannya, sopir justru mencari penghasilan tambahan dengan menyewakan bus kepada rombongan guru tersebut. Kondisi bus dipastikannya sudah bermesin tua.

“Ya tidak boleh disewakan. Kejadian kemarin merupakan pelanggaran. Sopir coba-coba ngojek,” pungkasnya.