Infonitas > Feature >

55 Tahun Silam, Penerbangan Perintis Merpati Airlines Dimulai

Rabu, 6 Sepember 2017 | 11:00 WIB

Editor : Fauzi

Reporter :

Armada Merpati Nusantara Airlines di Bandara Kemayoran medio 1970-an.
Foto : istimewa

Berawal sebagai penerbangan perintis di Kalimantan, Merpati mampu mengepakan sayapnya hingga ke mancanegara sebelum berhenti beroperasi di tahun 2014.

JAKARTA – Hari ini 55 tahun lalu, tepatnya 6 September 1962, maskapai penerbangan plat merah Merpati Nusantara Airlines resmi beroperasi. Sebelum berhenti beroperasi pada 1 Februari 2014 silam, Merpati memiliki rekam jejak melayani penerbangan domestik, hingga ke daerah-daerah yang bandaranya hanya bisa didarati pesawat-pesawat berukuran kecil dan penerbangan perintis. Butuh uang yang tidak sedikit untuk menyelamatkan maskapai plat merah yang direncanakan kembali beroperasi pada tahun ini.

“Kementerian BUMN berharap tahun 2017 Merpati sudah bisa terbang, dengan syarat sudah mendapat izin privatisasi dari Kementerian Keuangan dan mendapatkan investor yang bersedia,” kata Deputi Bidang Restrukturisasi dan Pengembangan Usaha Kementerian BUMN Aloysius K. Ro pada 9 September 2016 silam.

Cikal bakal pendirian Merpati bermula pada November 1958, saat Perdana Menteri Indonesia Ir. Djuanda meresmikan ‘Jembatan Udara Kalimantan’ yang menghubungkan daerah-daerah terpencil di Kalimantan. Langkah ini diikuti dengan pendirian Perusahaan Negara Perhubungan Udara Daerah dan Penerbangan Serba Guna Merpati, kemudian disebut PN Merpati Nusantara pada 6 September 1962 berdasarkan PP No.19 Tahun 1962. Tugasnya, menyelenggarakan perhubungan di daerah-daerah dan penerbangan serbaguna, serta memajukan segala sesuai yang berkaitan dengan angkutan dalam arti seluas-luasnya.

Merpati mengawali operasionalnya dengan modal Rp 10 juta, 4 pesawat De Havilland Otter DHC-3 milik AURI (TNI AU) dan dua pesawat Dakota DC-3. Rute awalnya, Jakarta-Banjarmasin, Pangkalan Bun dan Sampit. Serta Jakarta-Pontianak. Di tahun 1963 saat penyerahan wilayah Irian Barat dari Belanda ke Indonesia, maskapai milik Belanda di Irian Barat ketika itu NV de Kroonduif diserahkan ke Garuda Indonesia Airways (GIA). Lantaran Garuda ketika itu fokus menggarap pengembangan flag carrier, semua konsesi penerbangan di Irian Jaya dan fasilitas teknisnya diserahkan ke Merpati. Termasuk di dalamnya 3 Dakota DC-3, 2 Twin Pionerr dan 1 Beaver. Pada tahun 1969, Merpati membagi dua daerha operasinya, yakni Operasi MIB (Merpati Irian Barat) dan MOB (Merpati Operasi Barat yng melipitu Jawa, Kalimantan, Sumatera Selatan, Nusa Tengagra Barat. Di tahun ini pula Merpati bersalin nama menadi Merpati Nusantara Airlines.

Memasuk periode 1970-an, Merpati sudah merambah penerbangan jarak sedang dan jauh, bahkan memiliki rute Pontianak – Kuching (Malaysia) dan Palembang – Singapura. Baru di tahun 1974, penerbangan perintis yang disubsidi pemerintah secara resmi diserahkan kepada Merpati. Ini didasari kesuksesan Merpati memberikan dampak positif sebagai penghubung antar wilayah di Tanah Air. Dan, status Merpati pun ditingkatkan, dari Perusahaan Negara menjadi Persero dengan nama PT Merpati Nusantara Airlines. Pada tahun ini pula Merpati mulai dipercaya untuk mengangkut jamaah haji Indonesia dengan pesawat Boeing 707, menghubungkan 97 kota di 19 provinsi. Serta melayani charter flight untuk rute Manila (Filipina) – Denpasar dan Los Angeles (Amerika Serikat) – Denpasar dengan armada Boeing 707 mulai tahun 1976.

Sejak bergabung menjadi anak usaha Garuda di tahun 1978, bisnis Merpati pun berkembang pesat. Selain armada yang bertambah dan semakin modern, rute penerbangan internasional pun bertambah. Selain itu, Merpati juga bisa membangun Merpati Maintenance Facility (MMF) di Surabaya pada tahun 1991, gedung pusat Merpati di Jakarta pada tahun 1993, hingga Merpati Training Center, bersebelahan dengan MMF pada tahun 1995. Itu semua membuat Merpati bisa Go International pada tahun 1996.

Dan, sejak berpisah dari Garuda kemudian menjadi BUMN sejak 29 April 1997, bisnis Merpati yang sempat mengilap, bahkan meraih ISO 9000, 9001 dan 9002 hingga sertifikasi CASR 141, diikuti berbagai modernisasi pelayanan dan armada. Kondisi Merpati sebagai perusahaan mulai goyah pada tahun 2008. Hingga akhirnya pelopor penerbangan perintis Merpati Nusantara Airlines menghentikan seluruh operasionalnya pada 1 Februari 2014.