Infonitas > Bekasi > Laporan Utama >

Tol Layang Jakarta Cikampek Tanpa Exit di Bekasi

Rabu, 5 Desember 2018 | 09:05 WIB

Editor : Fauzi

Sumber : DBS

Proyek Tol Layang Cikampek
Pengerjaan proyek Tol Layang Cikampek.
Foto : istimewa

Tidak adanya exit di Bekasi Barat maupun Bekasi Timur pada Tol Layang Jakarta Cikampek, membuat proyek ini diragukan mampu mengurai kemacetan yang ada.

BEKASI – Salah satu alasan pembangunan tol layang pada ruas Tol Jakarta Cikampek adalah, untuk mengurai kemacetan yang sering terjadi di exit Tol Bekasi Barat, Bekasi Timur, Tambun, Cibitung dan Cikarang yang menjadi penyebab utama kepadatan lalu lintas di ruas Tol Jakarta Cikampek.

Ironisnya, proyek tol layang sepanjang 39 kilometer dari Cikunir hingga Karawang Barat tersebut justru tidak memiliki exit di kelima kawasan tersebut. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan berbagai pihak, termasuk Anggota DPR RI Daniel Lumban Tobing.

“Saya baru tahu, itu Dapil (Daerah Pemilihan) saya, ternyata itu tol hanya bisa masuk dari Cikunir dan keluar di Karawang atau sebaliknya. Pas dengar, saya bingung. Berapa kendaraan yang pakai (tol) itu, kalau naik di Cikunir keluar di Karawang, naik dari Karawang keluar di Cikunir? Boleh berdebat sama saya, orang saya tiap hari lewat situ,” ujar Anggota Komisi VI DPR RI ini saat Rapat Kerja dengan Kementerian BUMN di Gedung Parlemen, Senin (3/12).

Daniel menuturkan, kebanyakan pengguna jalan Tol Jakarta Cikampek sehari-hari beraktivitas di Bekasi Barat, Bekasi Timur, Tambun dan Cikarang. Jika tidak ada exit tol di kawasan tersebut, a pesimis tol layang akan mampu mengurai kemacetan yang ada. “Mana mungkin banyak yang pakai, orang pada keluar di Bekasi Barat, Bekasi Timur, Tambun, Cibitung dan Cikarang. Kok bisa ada proyek Rp 16 triliun, naik dari Cikunir keluar Karawang. Itu siapa yang mikir? Otak siapa? Terus di-approve lagi. Saya bingung, apa Kementerian BUMN enggak ngeliat?” cecarnya.

Ia menambahkan, dirinya juga heran dengan anggaran pembangunan tol layang di ruas Tol Jakarta Cikampek yang menelan dana Rp 16 triliun tersebut. Dengan panjang tol layang 39 kilometer, berarti rata-rata tiap 1 kilometer pembangunan ruas tol tersebut menelan dana Rp 400 miliar. Padahal, proyek ini dikerjakan di area Tol Jakarta Cikampek dan tanpa pembebasan lahan.